Key terus memperhatikan Alardo, yang masih terbaring, di ranjang miliknya.
"Kau, khawatir dengannya?" tanya Meida, yang berdiri di sampingnya.
"Kenapa iblis sangat lemah?" tanya Key.
"Semua makhluk pasti punya kelemahan, Key. Apalagi, kata Alder dia baru saja melawan Raja iblis."
"Yeah. Mereka keluarga. Tapi, kenapa tidak akur?"
"Entahlah, mungkin memang sedang ada masalah."
"Tapi, Nek.. aku sudah pernah mengalami ini sebelumnya."
"Hm? Mengalami apa?"
Key menghadap Meida.
"Terjebak di Verden Morke. Bertemu Alardo. Di kejar oleh Raja Duis—aku pernah mengalami semua itu, Nek. Ketika, aku kecil."
Meida hanya tercengang.
"Nek?"
Meida menggelengkan kepala. Menelan ludah.
"Oh.. ma-maaf. Nenek sedikit terkejut."
"Apalagi aku yang mengalami itu, Nek."
"Tapi, bukannya kau sudah mengetahui itu sejak awal?"
"Tidak. Aku baru mengingatnya, saat akan kembali kemari."
"Tapi, Nek—apa Alardo akan baik-baik saja?"
"Dia makhluk abadi. Tentunya, dia memiliki kekuatan yang tak di miliki yang lain."
**
Senja menjelang. Langit semburat oranye, terlihat dari jendela Key. Burung gagak bersenandung, menyambut pekat malam, yang akan datang.
Dan, Key masih saja menatap Alardo.
"Kenapa tidurmu lama sekali? Punggungmu tak lelah?"
"Tidak juga."
"Oh.."
Key melebarkan mata.
"Oh? Kau, sudah bangun?"
Alardo membuka mata dan segera duduk.
"Kau, tidak lelah?" tanya Alardo.
Key menggelengkan kepala.
"Tidak."
"Selama 2 hari, kau menungguku di sini. Kau, tidak mengantuk?"
"Aku tertidur untuk waktu yang lama. Jadi, sekarang energi ku belum habis."
Alardo terkekeh.
"Ah, ada sesuatu yang sebenarnya membuatku penasaran, sejak di Verden Morke," kata Key.
"Apa?"
"Kenapa Raja Duis dan pengikutnya memanggilmu Vandemon. Sedangkan, Belle, pohon itu dan beberapa yang lain, memanggilmu Alardo. Kenapa kau harus memiliki banyak nama?"
Alardo menarik sudut bibir kanannya ke atas.
"Vandemon adalah namaku sejak lahir. Tapi, Alardo— adalah nama panggilan dari Ibuku. Dulu—aku sangat menyukai nama Vandemon. Lebih terdengar keren dan menakutkan. Tapi, setelah Ibuku pergi—nama Alardo menjadi lebih berarti."
"Dan, kau tak suka nama Vandemon—karena, Raja Duis menghabisi nyawa Ibumu?"
"Ya. Setelah itu—aku benci nama Vandemon. Seperti halnya, aku membenci Ayahku."
"Tapi, kau masih beruntung, Alardo. Setidaknya, kau tak kehilangan Ayahmu. Aku—justru rindu dengan sosok Ayahku. Dengan Ibuku juga pastinya. Seandainya—aku bisa memutar waktu, mungkin aku ingin kembali di masa saat mereka belum terbunuh."
"Mereka— di bunuh?"
**
Key masih berusia 11 tahun, saat kejadian itu terjadi. Key kecil adalah anak yang periang sebenarnya. Namun, sejak jiwanya pernah terjebak di Verden Morke—dia berubah murung. Menjadi dingin.
Sesekali, dia menyakiti dirinya sendiri. Rosa :Ibu Key—juga, Stuart : Ayah Key, sangat khawatir dengan kondisi putri semata wayangnya sebenarnya. Namun, mereke berusaha memperlakukan Key dengan sangat biasa. Dan, seperti anak normal kebanyakan.
Memasukkan Key ke sekolah dasar. Yang hanya bertahan beberapa minggu saja. Karena, ia sudah di cap anak aneh oleh teman-teman dan gurunya. Hanya karena, Key mengatakan—jika, banyak anak-anak dengan tanduk di kepala ikut belajar di kelas.
Sontak, gurunya menganggap Key sangat mengerikan. Rosa pun memutuskan untuk memanggil guru ke rumah.
Seperti hari biasa, Rosa dan Key berada di rumah. Bersama beberapa asisten rumah tangga. Sedangkan, Stuart tengah berada di pabriknya.
Stuart adalah seorang pengusaha perabot rumah tangga. Seperti : Sofa, ranjang, lampu hias, meja makan, kursi makan, almari dan masih banyak lagi. Produknya selalu laris terjual. Selain harga yang tak terlalu mahal, barangnya juga berkualitas.
Untuk membersihkan kamar—Rosa selalu melakukannya sendiri. Karena, kamar adalah tempat pribadinya. Jadi, dia tak membiarkan asisten rumah tangga, untuk memasukinya.
Setelah selesai dengan kamarnya—ia beralih ke kamar Key. Di mana sang anak tengah menonton TV. Acara kartun yang super lucu. Tapi, Key tak tertawa melihat itu.
Usai mengelap kaca jendela—Rosa beralih ke kamar, yang berada di sudut sendiri. Kamar yang sebenarnya tidak boleh di buka—perintah Meida.
Rosa mengambil kunci gembok, yang ada di kamarnya. Kemudian, kembali ke atas untuk membuka kamar, yang memang tak berpenghuni.
Angin berhembus kencang dari kamar, setelah pintu terbuka. Aroma lembab, yang membuat d**a sesak pun menyeruak hebat.
Rosa menekan saklar lampu, yang ada di sebelah pintu. Namun, sepertinya lampunya rusak. Rosa mendesah kesal. Berbalik badan. Berniat akan mengambil bohlam baru.
Tapi, ia terkejut—saat melihat Key sudah berdiri di belakangnya. Dengan kedua matanya yang putih.
"Key? Kau—baik-baik saja, kan?"
Key hanya diam. Tak berkutik. Rosa tahu—sesuatu sudah terjadi pada Key. Tapi, ia berusaha untuk memberanikan diri. Berjalan mendekati Key, dengan langkah takut-takut ragu.
"Key? Kenapa dengan matamu?"
Kyaaaaa!
Key tiba-tiba menjerit. Lengkingan suaranya mampu memecahkan kaca jendela di kamar atas.
"Key! Ada apa denganmu? Sadar, nak!"
"MORI!" kata Key, dengan suara yang terdengar ganda.
"Apa?"
Rosa mengernyitkan dahi.
"MORI!"
Key segera berlari. Dan, meloncat ke arah Rosa. Sehingga, membuat tubuh Rosa jatuh ke belakang. Key mencekiknya dengan sekuat tenaga. Wajah Rosa mulai memerah. Dia memegang tangan mungil anaknya.
Bisa saja, ia menancapkan kuku-kukunya yang panjang saat itu, pada tangan Key. Namun, ia tak tega jika harus menyakiti anaknya.
Cekikan Key semakin kencang setiap menitnya. Otot pelipis Rosa yang semula terlihat—kini menghilang. Rosa—tak sadarkan diri. Key berdiri kemudian. Menatap Ibunya, yang terpejam. Lantas, mendorong tubuh Rosa, hingga jatuh ke lantai bawah. Melewati celah-celah pagar tangga.
BUK!
Tubuh Rosa jatuh tertelungkup di lantai bawah. Dengan darah merembes perlahan. Lalu, menggenangi sekitar. Salah satu asisten rumah tangga, melihat kejadian itu. Kemudian, ia menjerit. Dan, keluar dari rumah.
Hingga malam tiba pun, dua mata Key masih berwarna putih. Rumah menjadi sangat gelap. Karena, tidak ada yang menyalakan lampu. Pintu depan terbuka lebar. Membuat Stuart yang baru saja pulang kerja, mengernyitkan dahi.
"Rosa? Kenapa tidak menyalakan lampu? Dan, kenapa pintu depan di biarkan terbuka?"
"ROSA?! ROSA?!"
Stuart berjalan ke ruang tengah, dengan menenteng koper kecil, yang berisi dokumen penting. Menyalakan lampu, dan segera di kejutkan oleh jasad Rosa, yang di sekitarnya darah sudah menggenang.
"Oh, Tuhan! Rosa!"
Stuart meletakkan kopernya begitu saja. Mendekati tubuh Rosa. Tapi, tak berani di sentuhnya. Bisa saja, ini adalah perampokan. Dan, sidik jari si pelaku tertempel di tubuh Rosa.
Stuart meremas kepalanya. Mendesis kesal. Tapi, di detik selanjutnya, ia terbelalak. Mengingat sesuatu. Mendongak.
"KEY!"
Stuart berlari ke lantai atas. Dan, di sambut oleh Key, yang berdiri menghadap Stuart.