Bab 15

1075 Kata

Pagi tidak benar-benar datang di Jakarta hari itu. Cahaya hanya merayap malu-malu di sela awan kelabu, seolah matahari sendiri enggan menjadi saksi. Elara terbangun dengan napas tersendat. Langit-langit kamar kos itu rendah dan bernoda lembap. Catnya mengelupas di beberapa sudut, membentuk pola-pola acak yang biasanya tak pernah ia perhatikan. Namun pagi ini, pola-pola itu tampak seperti simbol. Seperti pesan yang tidak ingin dibaca, tapi memaksa untuk dilihat. Tubuhnya terasa berat, bukan karena kurang tidur, melainkan karena mimpi yang tidak sepenuhnya mimpi. Ia duduk perlahan. Jantungnya masih berpacu, telinganya menangkap suara hujan sisa semalam yang menetes dari talang. Bau kopi basi bercampur debu memenuhi ruangan. Di sudut kamar, sebuah laptop tertutup rapi—terlalu rapi, mengin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN