Pagi datang tanpa cahaya yang ramah. Awan menggantung rendah di atas perkebunan, membuat siang terasa seperti sore yang belum selesai. Elara berdiri di dapur, memandangi air yang mendidih di panci kecil. Uap naik perlahan, mengaburkan pandangannya—seperti pikirannya sendiri. Di belakangnya, Raka masih tidur. Elara tidak menoleh. Ia sudah menghitung napas anak itu sejak subuh. Ritmenya stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang semalam berpindah tempat dan hidupnya berubah arah. Ada orang dewasa yang akan runtuh oleh perubahan sekecil itu. Raka tidak. Dan itu membuat Elara semakin yakin pada satu hal yang mengganggu: anak ini tidak bereaksi seperti korban. Ia menuang air panas ke cangkir, mencampur kopi instan, lalu menyesapnya tanpa gula. Pahit. Tepat seperti yang ia butuhkan. Pons

