Kabut pagi di Cisarua tidak datang perlahan. Ia jatuh sekaligus, seperti keputusan yang diambil tanpa memberi waktu untuk menyesal. Elara terbangun sebelum alarm berbunyi. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 04.37. Tubuhnya terasa ringan, tapi pikirannya padat—terlalu padat untuk tidur kembali. Ada sisa rasa takut dari malam sebelumnya yang belum sepenuhnya surut. Bukan ketakutan yang berisik. Ketakutan yang tenang, seperti air gelap yang pelan-pelan naik. Ia duduk di ranjang, membiarkan kakinya menyentuh lantai dingin. Nama Raka muncul lagi. Bukan sebagai bayangan wajah, tapi sebagai gangguan sistem. Sejak semalam, ORPHEUS terus berjalan di latar pikirannya—mencoba memetakan ulang interaksi, nada suara, bahasa tubuh. Tapi hasilnya tetap nihil. Tidak ada data bermakna yang bisa ditarik

