BAB 6

1227 Kata
Dini dan Diki terus berlari dan menjadi pusat perhatian untuk orang – orang yang melihatnya, namun Diki terus membawa Dini hingga tiba di gang perbatasan jalan. “ Tunggu. Kamu ini siapa?” Tanya Dini. “ Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari Pria itu.” Jawab Diki terengah. “ Tujuanmu apa membantuku, Aku tidak bisa memberi imbalan apa – apa terhadapmu.” Ujar Dini. “ Aku tidak meminta imbalan. Aku hanya kasihan saja terhadapmu.” Ujar Diki. “ Terima kasih atas bantuanmu. Tapi aku tidak butuh belas kasihan darimu.” Ujar Dini. Diki begitu keheranan melihat sikap Dini yang penuh curiga terhadapnya. “ Wanita aneh, sudah di tolong malah marah – marah, untung cantik. Kalau tidak sudah lain urusannya.” Ujar Diki dalam hati. “ Kenapa menatapku seperti itu?” Tanya Dini. “ Tidak, bukan seperti itu. Aku tidak bermaksud memandang yang bukan – bukan.” Ujar Diki. “ Semua laki – laki itu jahat, jadi rasanya sudah benar jika Aku harus menjauhi laki – laki.” Ujar Dini. “ Apa maksudmu?” Tanya Diki. “ Maaf aku bisa pulang ke arah sini. Sekali lagi terima kasih. Dan aku berharap Kita tidak pernah bertemu.” Ujar Dini meninggalkan Diki. “ Wanita aneh.” Ujar Diki. Diki melihat tubuh Dini yang berlari cepat sambil sesekali menoleh ke arah Diki. “ Pantas si bos Bowo sampai tergila – gila. Luar biasa saat berbicara dengannya. Suaranya juga membuat gairahku meninggi.” Ujar Diki. Diki pun kembali berjalan sambil tersenyum kecil, namun Diki kembali terdiam dan teringat karir nya kini sudah lenyap. Bahkan harus bersembunyi dari Bowo yang pasti akan mencarinya. “ Aku harus kemana ini, mungkin tindakan ku tadi bodoh. Tapi jika Aku biarkan Aku ikut berdosa dan merasa bersalah seumur hidup.” Ujar Diki bergegas kembali ke kamar kosnya. Namun begitu sampai di sana, Bowo dan beberapa orang bertubuh kekar sudah menunggu di dalam kamar Bowo. “ Sampai juga. Aku harus bergegas. Tapi kenapa pintu kamar ku terbuka?” Tanya Bowo dalam hati. “ Bagaimana ?, Sudah cukup berlari hari ini?” Tanya Bowo. “ bos, Kenapa bisa ada di sini.” Ujar Diki. “ Harusnya Aku yang bertanya , kenapa Kamu bisa ada di hotel itu dan mengganggu ritualku?” Tanya Bowo. “ Ritual apa Bos.” Ujar Diki. “ Sudah, jangan banyak bicara lagi. Aku sudah tahu jika Kau adalah mata – mata istriku, dan sepertinya ada sedikit hadiah dariku untukmu.” Ujar Bowo. “ Tidak usah Bos, saya mau pergi saja.” Ujar Diki membuka pintu. Tanpa Aba – aba Orang – orang berbadan kekar seketika menghujaninya dengan tangan besarnya dan membuat Diki terkapar penuh dengan luka lebam. “ Nikmat Kan?” tanya Bowo. Diki mengangguk. “ dasar gila, sudah sekarat pun kau masih saja seperti itu.” Ujar Bowo. “ dan ingat. Jika aku melihatmu di daerah sini atau orang – orangku melihatmu lagi. Jangan harap kau bisa bernafas.” Ujar Bowo meninggalkan Diki. Diki hanya terdiam. Badannya terkapar dengan beberapa luka terlihat mengeluarkan darah. “ Aku sudah tahu akan berakhir seperti ini.” Ujar Diki. Perlahan dirinya mencoba untuk bangun dan membawa sedikit pakaian, dan keluar dari kos itu. “ Aku harus membersihkan darah ini dulu.” Ujar Diki. Setelah badannya bersih, Dia pun mencari cara dan mencari tempat untuk tinggal, sementara Dia memikirkan cara agar dia bisa bertahan hidup dan mendapatkan kembali pekerjaan di tempat lain. Di sisi lain Dini kembali ke rumahnya dengan wajah dan rambut yang kusut, tidak sedikit pun kata keluar dari mulutnya. Hal itu membuat Ibu Ida curiga dengan putrinya. “ Kamu kenapa lagi Nak?” Tanya Ibu Ida. “ Tidak Bu, Dini sudah mendapatkan pelajaran berharga.” Ujar Dini. “ Pelajaran apa?” Tanya Ibu Ida. “ pelajaran, jika memang pilihan Dini sudah tepat.” Ujar Dini. “ Apa maksudmu. Ibu tidak paham?” Tanya Ibu Ida. “ wajah cantik, kulit halus bukan lah menjadi suatu kebanggaan untuk Dini, Namun hanya menjadi bahan perebutan orang – orang hidung belang di luar sana.” Ujar Dini. “ Kamu kenapa lagi Nak?” Tanya Ibu Ida. “ Bu, Dini tidak mau melamar pekerjaan lagi. Dini akan mencari uang di rumah saja.” Ujar Dini. “ Sejak awal pun Ibu tidak pernah memintamu untuk bekerja di luar sana, Apa pun yang akan kamu lakukan Ibu hanya bisa mendukungmu, semua pilihan kini ada di dirimu.” Ujar Bu Ida “ Ia Bu, Dini tadi hampir saja di perlakukan tidak baik, tapi ada Pria yang menyelamatkan Dini.” Ujar Dini. “ Tapi Kamu tidak apa – apa kan?” Tanya Ibu Ida. “ Tidak Bu, Dini berhasil selamat. Di bantu seorang Pria yang entah siapa namanya.” Ujar Dini. “ Itu salah satu bukti di luar sana masih banyak Pria yang baik.” Ujar Ibu Ida. “ Tapi tetap saja, pasti Dia meminta imbalan dari Dini, Dini tidak punya apa – apa. Dan pasti dia meminta yang bukan – bukan. Buktinya tadi saja dia melamun sambil melihat ke bagian tubuh Dini.” Ujar Dini. “ Kamu menanyakan dia melakukan hal Itu?” Tanya Ibu Ida. “ Sudah pasti Dia menginginkan yang lain dari Dini.” Ujar Dini. “ Sudah, tenangkan saja dirimu.” Ujar Bu Ida. “ Dini lelah bu dengan semuanya. Bagaimana caranya agar wajah Dini tidak menarik ya Bu,?” Tanya Dini. “ Kamu ini ngaco, semua wanita itu ingin terlihat cantik bukan malah terlihat kusam dan jelek.” Ujar Ibu Ida. “ jika Dini tidak menarik, mungkin tidak akan ada yang memperhatikan Dini, Dini tidak suka jika orang – orang melihat Dini begitu tajam.” Ujar Dini. “ sudah, kamu sudah terlalu sering berpikiran yang bukan – bukan.” Ujar Ibu Ida. Bu Ida membawakan minum untuk Dini. “ Sudah, memang sulit rasanya untuk memaafkan , tapi kamu harus tenang, bersihkan pikiranmu dari firasat buruk.” Ujar Ibu Ida. Di saat Dini mulai tenang, tiba – tiba Hpnya berdering dan tertuliskan nomor tidak di kenal. “ Angkat Hpmu?” Ujar Bu Ida. “ Tidak Bu, Dini takut orang itu lagi.” Ujar Dini. “ Sini Ibu yang angkat.” Ujar Bu Ida. “ Jangan Bu, nanti dia berbuat jahat sama ibu.” Ujar Dini menolak panggilan telepon itu. Dalam hati kecil Bu Ida pun menangis. “ Maafkan Ayahmu dulu nak, yang membuat Kamu seperti ini. Maafkan Ibu juga yang tidak bisa mendidik dan menjagamu setiap saat.” Ujar Ibu Ida meneteskan Air mata. “ Ibu kenapa menangis?” tanya Dini. “ Ibu hanya bangga saja padamu, sudah cantik ,baik. Tapi sayangnya tidak mau memberi cucu untuk Ibu.” Ujar Ibu Ida. “ Ibu ini terus saja membahas itu, nanti kan bisa adopsi atau apa pun, yang penting dan yang utama Dini akan kukuh pada pendirian Dini. “ Ya sudah, Ibu mau keluar dulu sebentar, ada orang yang nyuruh Ibu buat nyuci sama membersihkan rumahnya.” Ujar Ibu Ida. “ Dini Ikut.” Ujar Dini. “ Jangan. Di sini saja, jaga rumah.” Ujar Ibu Ida. “ Memangnya jauh Bu?” Tanya Dini. “ Lumayan, alamatnya si di tengah kota.” Ujar Bu Ida. “ Ibu jangan terlalu cape juga.” Ujar Dini. “ Tidak, Di sana uangnya lumayan. Bisa buat kita makan dan nabung juga.” Ujar Bu Ida. Bu Ida pun pergi, dan meninggalkan Dini sendiri di rumah dengan kondisi yang belum stabil, namun sebenarnya orang yang memberikan Bu ida pekerjaan adalah dalang dari semua kesulitan yang di alami oleh Dini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN