BAB 7

1226 Kata
Di sisi lain Pak Munadi kini tengah berada di sebuah gubuk, tinggal bersama dengan seorang Kakek tua. Kakek Itu kerap di sapa Mbah Kukut, Di sana Pak Munadi layaknya orang kebingungan, Dia tidak tahu nama bahkan asal di mana Dia tinggal. Pak Munadi saat bertemu dengan Mbah Kukut terlihat sangat lusuh dengan Baju yang compang – camping, Mbah Kukut pun perlahan mulai merawatnya dan mulai mencari tahu asal Dia berada. “ Sudah lama Kamu tinggal di sini, tapi Mbah belum tahu nama Kamu.” Ujar Mbah Kukut. Pak Munadi tersenyum. “ Aku tahu penyebab Kamu menjadi seperti ini, gagal mencoba ilmu hitam dan terlalu berat memikirkan semuanya. Coba belajar tenang dan kosongkan pikiranmu.” Ujar Mbah Kukut. Mbah Kukut sendiri hanya tinggal sebatang kara, namun Mbah Kukut memang di kenal sebagai orang yang selalu bisa menyembuhkan orang, terutama dalam hal gangguan kejiwaan. Hingga di suatu hari Mbah Kukut, meminta Pak Munadi untuk Ikut bersamanya mencari Kayu bakar, sudah lama sekali Pak Munadi tidak menghirup udara segar, Dia enggan untuk keluar gubuk dan hanya menghabiskan waktunya untuk terdiam dan melamun dalam beberapa tahun terakhir. “ Apa Kamu tidak bosan tinggal terus di sini. Lebih baik Kamu ikut Mbah saja, bantu Mbah sekali – kali.” Ujar Mbah Kukut. Pak Munadi tersenyum dan mengangguk. Mereka berdua pun perlahan mulai mengumpulkan ranting dan batang pohon yang mulai mengering. “ Mbah terima kasih.” Ujar Pak Munadi untuk pertama kalinya. “ Itu yang Mbah tunggu sejak lama. Cobalah untuk tenang dan nikmati udara segar di sekitar sini.” Ujar Mbah Kukut. Pak Munadi mengangguk. “ Mbah, bisa panggil saya Munadi.” Ujar Pak Munadi. Mbah Kukut tersenyum. “ Maaf saya merepotkan Mbah selama ini.” Ujar Pak Munadi masih dalam tatapan kosong. “ Sudah, jangan terlalu banyak bicara.” Ujar Mbah Kukut sambil terus memungut ranting pohon. Pak Munadi tiba – tiba duduk dan menceritakan yang Ia Ingat. “ Mbah, saya ingat kenapa saya bisa jadi seperti ini.” Ujar Pak Munadi. Mbah Kukut berhenti mengambil ranting pohon dan duduk bersama Pak Munadi. “ Memangnya kenapa, Mbah sebenarnya tahu penyebab yang sebenarnya. Tapi Mbah ingin mendengar langsung dari mulutmu.” Ujar Mbah Kukut. “ Saya ingat jika dulu saya pernah putus asa yang sangat luar biasa, hingga membutakan mata saya Mbah.” Ujar Pak Munadi. “ Ia, lalu?” Tanya Mbah Kukut. “ saya sangat terlalu takut jika keluarga saya akan mengalami kesusahan, saya dulu memiliki anak wanita yang masih kecil , saya begitu sayang kepadanya. Namun hal buruk terjadi dan membuat saya ikut dan mencari jalan pintas.” Ujar Pak Munadi. “ Ia Mbah sudah tahu, lalu apa lagi?” Tanya Mbah Kukut. “ Saya di ajak seorang teman bertemu dengan seorang dukun, dan meminta saya untuk terus bertapa. Saat itu pula saya merasa tekanan dalam hidup saya begitu besar, saat bertapa pun saya selalu di ganggu oleh makhluk tinggi besar. Saya tidak kuat dan tidak sanggup menghadapi itu Mbah.” Ujar Pak Munadi. “ Ia, Mbah Sudah tahu juga tentang hal itu, memang tidak semua orang bisa berhadapan langsung dengan sosok seperti itu. Lalu lanjutkan lah ceritamu.” Ujar Mbah Kukut. “ dan saat itu juga , emosi saya selalu tidak dapat di jaga. Dan yang terakhir saya ingat saya pergi dari rumah dan di sana saya mulai gelap dan tidak mengingat apa – apa lagi, hingga akhirnya Mbah menyelamatkan saya.” Ujar Pak Munadi. “ Boleh Mbah jujur padamu?” Tanya Mbah Kukut. Pak Munadi mengangguk. “ Sejak awal pun Mbah mengetahui apa yang Kamu rasakan. Mbah bisa lihat dari sorot matamu, Jadikan saja ini sebagai pelajaran hidup yang berharga untukmu.” Ujar Mbah Kukut. “ Apa saya bisa kembali sembuh Mbah?” Tanya Pak Munadi. “ Tentu saja bisa. Hanya satu yang perlu Kamu ingat, jangan mengingat masa kelammu dulu, dan coba mulai jadi Munadi yang baru.” Ujar Mbah Kukut. Pak Munadi terdiam, dan kembali melakukan aktivitasnya. Mbah Kukut begitu telaten, menyembuhkan Pak Munadi, dengan pengalaman yang Ia miliki Mbah Kukut perlahan membuat Pak Munadi semakin baik setiap harinya. Tepat malam menjelang, Mbah Kukut meminta Pak Munadi melepaskan pakaiannya dan menyuruhnya untuk ke luar. “ Kenapa Mbah, Di luar itu dingin. Kenapa saya harus membuka pakaian saya.” Ujar Pak Munadi. “ Ada sesuatu yang harus kamu lakukan, demi kesembuhan Kamu juga.” Ujar Mbah Kukut. “ Apa itu mbah?” Tanya Pak Munadi. “ Liat saja nanti.” Ujar Mbah Kukut. Mbah Kukut meminta Pak Munadi berdiri di depan rumah. “ kenapa saya harus berdiri di sini Mbah, anginnya juga cukup kencang . semakin dingin rasanya.” Ujar Pak Munadi. “ kamu bisa merasakan dinginya?” Tanya Mbah Kukut. “ Ia Mbah dingin sekali.” Ujar Pak Munadi. “ Sekarang Mbah mau pergi dulu, kamu jangan pergi meninggalkan rumah atau ke dalam . sebelum Mbah datang.” Ujar Mbah Kukut. “ Ada apa sebenarnya ini Mbah.?” Tanya Pak Munadi. Mbah Kukut hanya terdiam dan membalasnya dengan senyum. “ Mbah Kukut ini ada – ada saja.” Ujar Pak Munadi. Tercium wangi mawar dan wewangian seperti kemenyan dan dupa. “ Sepertinya Aku tidak asing dengan bau ini.” Ujar Pak Munadi. Semakin lama semakin kuat pula aroma yang menusuk hidung Pak Munadi. “ kepalaku pusing menghirup aroma ini.” Ujar Pak Munadi. Namun hal yang tidak ter bayangkan oleh Pak Munadi saat itu terjadi, sosok hitam besar begitu jelas berdiri di depan mata Pak Munadi dan membuat Pak Munadi ketakutan hingga kehilangan kesadaran. Di saat Pak Munadi kehilangan kesadaran, dirinya melihat sang anak semata wayang yang bernama Dini begitu sedih dan terpukul, tatapan matanya memperlihatkan begitu jelas tekanan yang di alami Dini kecil saat itu. “ Dini.” Ujar Pak Munadi berteriak. “ Sudah sadar?” Tanya Mbah Kukut. “ Mbah sengaja mendatangkan makhluk tadi?” Tanya Pak Munadi dengan wajah yang pucat. “ tidak, Mbah hanya ingin Kamu mengingat semua masa lalumu.” Ujar Mbah Kukut. “ Ia Mbah, Saya ingat anak saya, dulu saat saya pergi umurnya masih kecil. Mungkin sekarang Dia sudah dewasa.” Ujar Pak Munadi. “ Semakin kamu mengingat , semakin cepat pula Kamu akan sembuh.” Ujar Mbah Kukut. “ Saya sekarang boleh masuk?” Tanya Pak Munadi. “ Masuk dan beristirahat lah.” Ujar Mbah Kukut. “ Ia Mbah, saya juga bersyukur. Perasaan saya setiap hari semakin ringan dan kondisi badan juga semakin lama semakin baik. Imbalan apa yang harus saya berikan untuk membayar semua ini.” Ujar Pak Munadi. “ Mbah tidak memiliki siapa – siapa di sini, Mbah merasa ada teman saat Kamu ada di sini, Mbah juga sudah tua, tidak perlu repot – repot mencari dan meminta imbalan dari orang lain, selama Mbah masih sehat itu yang utama, asal bisa makan setiap hari juga itu sudah cukup bagi Mbah.” Ujar Mbah Kukut tersenyum. “ sekali lagi terima kasih Mbah.” Ujar Pak Munadi. “ Terima kasih juga, sudah bertahun – tahun Kamu menemani Mbah, Ya meskipun Kamu baru bisa di ajak berbicara sekarang ini, tapi Mbah merasa ada teman beberapa tahun ke belakang. “ Saya masuk dulu Mbah, badan saya tidak kuat lagi menahan dingin.” Ujar Pak Munadi. Mbah Kukut hanya tersenyum. “ semakin cepat, semakin baik. Semua rencanaku berjalan dengan mulus.” Ujar Mbah Kukut. Mbah Kukut pun ternyata memiliki tujuan tertentu kepada Pak Munadi, namun rahasia itu akan Mbah Kukut simpan dan kubur dalam – dalam hingga waktu yang tepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN