Berminggu – minggu kejadian pahit yang di alami Dini pun berlalu, pikirannya lebih tenang dan hatinya pun kini sedikit berdamai dengan masa lalu, tepat saat itu hari senin. Jam 7 pagi Bu Ida tengah bersiap menuju tempat kerjanya yang baru, sebagai asisten rumah tangga di rumah salah satu orang terpandang dan sekaligus rumah dari istri tua Bowo.
“ Din. Ibu pergi dulu ya, jaga rumah baik – baik.” Ujar Bu Ida.
“ ia Bu.” Ujar Dini tersenyum.
Berat dalam hati Dini , melihat sang Ibu masih terus berjuang mencari nafkah untuk dirinya. Namun Dini pun tidak menampik jika dirinya masih dalam keadaan trauma berat atas kejadian itu.
“ Aku harus mencari cara lain. Untuk membantu Ibu.” Ujar Dini.
Terdengar suara ketukan pintu.
“ Permisi” sahut dari luar rumah.
Dini terkejut dan mulai merasa cemas.
“ Permisi, bisa tolong buka pintu.” Sahut dari luar rumah.
“ Siapa?” Tanya Dini.
“ Buka saja, Saya bukan orang jahat.”.
Dini mengintip dari dalam rumah, terlihat seseorang yang seperti tidak asing baginya.
Dini memberanikan diri untuk membuka pintu.
“ Dini, masih ingat saya?” Tanya Diki.
“ Kamu yang dulu menolong saya saat di sekap kan?” Tanya Dini.
“ Ia betul.” Ujar Diki.
Dini melihat pakaian Diki yang lusuh dengan memeluk erat tas gendong kecil di dadanya.
“ Kamu kenapa?” Tanya Dini.
“ Aku sekarang jadi buronan Bos Bowo.” Ujar Diki.
“ Orang itu?” Tanya Dini.
Diki mengangguk.
“ Lalu untuk apa Kamu ke sini?” Tanya Dini.
“ Aku ingin meminta imbalan darimu Din.” Ujar Diki.
“ Imbalan apa, jangan macam – macam kamu.” Ujar Dini.
“ dengarkan dulu.” Ujar Diki.
“ Sudah pasti kamu meminta yang penting dari diriku, jangan harap. Sudah pergi Kamu dari rumah ini.” Ujar Dini.
“ Bukan, dengarkan dulu.” Ujar Diki.
“ Semua laki – laki itu sama, termasuk dirimu.” Ujar Dini.
“ Dengarkan dulu, Aku ingin meminjam sejumlah uang padamu. Bisa?” Tanya Diki.
“ Kau pikir aku sebodoh itu apa?, tidak. Aku tidak bisa membantumu.” Ujar Dini.
Diki pun tertunduk lesu, dan meninggalkan Dini. Dengan perut kosong Diki mencoba mencari suaka ke tempat lain.
“ Ternyata jadi orang baik itu belum tentu di balas dengan baik pula.” Ujar Diki.
Dini menutup pintu, tubuhnya gemetar. Batinnya pun berperang, antara rasa kasihan dengan rasa takut dirinya yang sangat mendalam terhadap laki – laki.
“ Entah perbuatanku itu salah atau tidak, yang jelas Aku takut akan terjadi sesuatu ke depannya.” Ujar Dini.
Diki pun memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya, jarak yang cuku jauh harus rela Diki tempuh agar selamat dari ancaman Bowo.
Dengan perut kosong Diki pun memaksakan Kakinya, hingga sampai di depan Rumah Ibunya.
“ Bu. Ini Diki.” Sahut Diki.
“ Diki, kenapa pulang tidak mengabari Ibu?” Tanya Bu Suci.
“ Tidak apa Bu, Diki hanya ingin membuat kejutan untuk Ibu.” Ujar Diki.
Bu Suci mengerutkan dahi, melihat Kondisi anaknya yang seperti tidak dalam keadaan Baik.
“ Ya Sudah masuk dulu, mandi, lalu makan.” Ujar Bu Suci.
Diki mengangguk.
“ Kenapa lagi anak itu, pasti sedang ada masalah. Anak muda sekarang memang susah di tebak. ”Ujar Bu Suci menggelengkan kepala.
Diki menyimpan semua barang miliknya di kursi, hingga terdengar suara telepon dari dalam tasnya.
“ Diki!, Ini ada yang telepon.” Ujar Bu Suci.
Diki tidak merespon.
“ Aku angkat saja siapa tahu penting.” Ujar Bu Suci membuka tas Diki.
Tertulis Bos Bowo di telepon genggam Diki.
“Bos Bowo?” Ujar Bu Suci dan menerima penggilan itu.
“ Halo.” Ujar Bu Suci.
“ Mana Diki?” Tanya Bos Bowo.
“ Ada Pak, Ini saya dengan Ibunya.” Ujar Bu Suci.
“ bilang pada anakmu, Aku tunggu Dia di resto sekarang juga.” Ujar Bowo menutup panggilan.
Bu Suci kebingungan.
“ Orang kaya kalo ada perlu harus selalu di segerakan.” Ujar Bu Suci menggelengkan kepala.
“ Ada apa Bu?” Tanya Diki.
“ Bos mu telepon.” Ujar Bu Suci.
Diki terdiam dan terlihat wajah gelisah.
“ Kenapa Kamu?”
Diki menceritakan semuanya dengan rinci dan jelas, hingga Bu Suci paham dan khawatir terhadap nasib anaknya.
“ Ya Sudah biarkan saja, Ibu Khawatir jika Kamu pergi Bos mu itu akan mencelakaimu lagi.” Ujar Bu Suci.
Diki terdiam, dan menuruti permintaan sang Ibu.
Di sisi lain Bowo tengah dalam amarah yang sangat memuncak. Hingga orang – orang di sekitarnya pun menjadi bahan pelampiasannya termasuk pula Bu Ida yang kini sudah menjadi asisten rumah tangga keluarga Bowo.
“ Anak itu benar – benar sudah membuatku jengkel.” Ujar Bowo sambil memukul meja.
Tepat saat itu jam 8 malam, Bowo datang ke kediamannya dengan wajah tertekuk.
Bu Asih melihat Bowo dan menghampirinya.
“ Kamu ini kenapa lagi?, Akhir – akhir ini seperti sedang banyak masalah?” Tanya Bu Asih.
“ Tidak , Sudah buatkan Aku kopi hitam pahit.” Ujar Bos Bowo.
“ Bu Ida, Minta Kopi untuk Bapak seperti biasa.” Sahut Bu Asih.
“ Ia Bu.” Jawab bu Ida dan lekas membuatkan sesuai permintaan Bu Asih.
Bowo tidak mengetahui, Jika Bu Ida adalah ibu kandung dari Dini. Dia pun sempat melampiaskan kekesalannya pada Bu Asih.
“ Ini Pak, Kopinya.” Ujar Bu Ida menaruh kopi di atas meja.
“ terima kasih Ya Bu.” Ujar Bu Asih tersenyum.
“ Bu, Ini Sudah malam. Saya mau Ijin pulang.” Ujar Bu Ida pamit.
“ Boleh Bu, Semuanya sudah bereskan?, Besok datang seperti biasa ya Bu.” Ujar Bu Asih.
“ Sebentar.!” Ujar Bowo dengan nada tinggi.
“ Ia Pak?” Tanya Bu Ida keheranan.
“ Kamu ini harusnya menginap di sini, percuma Saya bayar Kamu mahal di atas rata – rata.” Ujar Bowo kesal.
“ Kan memang biasanya juga seperti ini Pak?, dan di awal pun saya sudah bilang Jika saya tidak bisa tinggal di sini.” Ujar Bu Ida keheranan.
“ Kamu ini mulai berani membantah.” Ujar Bowo dengan nada tinggi.
“ Bukan saya membantah Pak, hanya saja ini sudah di luar kemampuan saya dan di luar perjanjian saya dengan Bu Asih.” Ujar Bu Ida.
“ Aku tidak menerima alasan lagi, Kamu harus menginap atau besok jangan kembali lagi bekerja di sini, masih banyak yang butuh pekerjaan selain Kamu.” Ujar Bowo ketus.
Bu Ida terdiam dan menahan tangis.
Melihat hal Itu Bu Asih mencoba menenangkan Bu Ida dan suaminya.
“ Kamu ini kenapa Mas?, Bu Ida ini juga Aku yang Bayar. Bukan Kamu!” Ujar Bu Asih membela Bu Ida.
Bowo semakin kesal dengan perkataan Bu Asih
“ Sudahlah, memang semua orang yang ada di sini tidak bisa Aku harapkan. Semuanya senang membantah saja.” Ujar Bowo pergi meninggalkan Mereka berdua.
Bu Asih hanya terdiam dan menggelengkan kepala.
“ Sudah Bu, Jangan di ambil hati. Dia memang seperti itu gara – gara kecapean banyak kerjaan.” Ujar Bu Asih.
“ Tapi Apa saya masih bekerja di sini Bu?” Tanya Bu Ida.
“ Masih, Hanya saja sebaiknya Ibu besok jangan masuk kerja dulu, Biarkan Hati suami saya dingin dulu.” Ujar Bu Asih.
“ ia Bu, terima kasih sebelumnya.” Ujar Bu Ida.
Bu Ida pun pulang, dengan wajah lelah dan takut. Sepanjang perjalanan pulang pun Bu Ida selalu meneteskan air mata.
“ Kenapa Aku selalu seperti ini, Selalu menjadi bahan amarah orang lain.” Ujar Bu Ida sambil terus melangkahkan kakinya menuju rumah, setelah sampai di depan rumah, Bu Ida mencoba menghapus air matanya, mencoba untuk tidak terlihat sedih di hadapan anaknya nanti, mencoba bersabar dan Kuat demi keluarga.
Perkataan Bowo masih terus terngiang, membuat Bu Ida sedih ketika mengingatnya, namun sambutan hangat Dini membuat Bu ida kembali Kuat dan mencoba bertahan dengan keadaan.