“Aku pasti sedang kerasukan.”
“Aku pasti sudah gila.”
“Pikiranku pasti sedang kacau.”
“Arrghh!!!”
Pria berkemeja hitam itu membanting beberapa map yang ada di meja. Lantas dia duduk dan menutup wajah sambil menggeram. Merasa belum cukup hanya berteriak, dia mulai menarik-narik rambutnya. Dia tidak memedulikan rasa sakit yang ditimbulkan. Itu tidak sepadan dengan kesalahan yang dia lakukan.
Otak Barra terasa mendidih ketika mengingat kejadian siang tadi. Dia mengutuk dirinya yang tidak bisa mengontrol perkataan. Bayangan Zaina yang menatapnya penuh tanya membuat kepala pria itu berdenyut-denyut. Dia mengembuskan napas panjang demi memberikan ketenangan pada hatinya.
Tetap saja, Barra tidak bisa menahan gejolak kuat yang ada di d**a. Dia berteriak sekali lagi sambil melempar map ke lantai. Siapa peduli kalau ada yang mendengar hal itu dari luar. Toh, mereka hanya bawahannya dan tidak mungkin menimbulkan gosip-gosip murahan mengenai dia yang mengamuk di kantor.
“Kamu keterlaluan, Barra!” kata Barra pada foto dirinya yang ada di atas meja.
Detik selanjutnya, Barra meraih foto dirinya yang tengah tersenyum lebar sambil menyilangkan tangan di d**a. Dia ingat kalau Zaina yang memberikan foto itu padanya. Entah kapan Zaina mengambil gambarnya. Meski diambil dari samping, wajahnya tetap terlihat tampan.
Zaina memang mahir menggunakan kamera. Jika ada momen-momen tertentu, dia selalu suka berperan sebagai fotografer. Tidak ada yang meragukan kemampuannya dalam mengotak-atik kamera. Karena itu, pada ulang tahunnya tahun lalu, Barra memberi hadiah sebuah kamera keluaran terbaru.
Selalu begitu. Barra selalu memberikan yang terbaik pada Zaina. Dalam hal apa pun. Baginya, Zaina adalah prioritas utama dalam hidup. Gadis itu menempati urutan pertama dalam panggilan di telepon selulernya. Bahkan dia menggunakan foto Zaina sebagai latar telepon genggam miliknya. Pastinya tidak ada yang dia izinkan untuk melihat kenyataan itu.
“Apa kamu tidak bisa melihat bagaimana wajah bingung gadis itu? Siapa kamu berani mengatakan hal seperti itu padanya? Apa kamu kerasukan iblis atau setan? Kamu sudah melewati batas yang jelas-jelas kamu buat sendiri,” gumam Barra pada dirinya.
“Apa kamu lupa kalau dia bahkan belum genap berumur dua puluh tahun? Dia masih sangat muda dan kamu malah meracuni pikirannya.” Barra kembali bergumam. Kali ini dengan suara yang lebih kecil.
“Seharusnya kamu ....”
Sebuah ketukan pintu memutuskan kalimat Barra. Dia hampir mengeluarkan makian pada siapa pun yang akan masuk ke ruangannya. Akan tetapi, dia tidak melakukan itu. Meski dalam keadaan marah sekali pun, dia harus tetap bermartabat. Setelah berdeham, dia menyuruh si pengetuk pintu.
Seorang pegawai pria masuk. Pria yang mengenakan setelan jas abu-abu tua itu memperhatikan ruangan Barra sekilas. Dia mengerutkan kening ketika melihat meja Barra yang berantakan. Bahkan ada sebuah map yang berserakan di lantai. Jelas tidak seperti ruangan Barra biasanya.
Semua orang tahu kalau Barra menggilai kerapian. Meski tidak separah sang bos, dia tidak akan membiarkan ruangannya berantakan begini. Hanya ada satu alasan kenapa keadaan kantor Barra begitu tidak teratur. Barra sedang dalam emosi yang tidak baik dan itu membuat sang karyawan menelan ludah.
“Ada apa?” tanya Barra. Dia tetap berada di posisinya.
“Ada beberapa dokumen yang harus Bapak periksa.” Barra melirik map yang dibawa pegawainya itu. Mungkin ada sekitar lima atau enam berkas.
“Letakkan di atas meja saja,” ujar Barra.
“Di atas meja?” tanya si pegawai sambil melihat kondisi meja Barra yang berantakan. Barra sepertinya baru menyadari hal itu.
“Letak di meja sana saja. Nanti saya periksa.”
“Baik, Pak. Saya letakkan di sini, ya.” Dengan takut-takut, pegawai pria itu meletakkan map di meja dekat sofa. “Apa Bapak perlu bantuan untuk membereskan ruangan?” tanyanya ragu. Barra menghela napas.
“Sebaiknya kamu segera keluar. Saya sedang ingin sendiri,” ujar Barra sambil mengibaskan tangan, menyuruh sang pegawai keluar.
Tidak mau mendapat masalah, pegawai itu segera keluar setelah berusaha tersenyum pada Barra. Dia sudah biasa kena marah oleh Barra saat pekerjaannya tidak sesuai keinginan. Namun, kali ini berbeda. Barra tidak pernah emosi seperti itu. Barra terkenal dengan sifat sabarnya. Kalau ada yang membuatnya marah, tentu sesuatu yang sangat penting.
Setelah kembali sendiri, Barra memejamkan mata beberapa saat. Dia tahu kalau pegawai tadi merasa heran dengan sikap dan ruangannya. Ini pertama kalinya si pegawai menyaksikan pemandangan yang tidak biasa. Kalau besok sampai ada gosip yang tidak-tidak, Barra hanya perlu mencarinya.
“Kamu sudah selesai menghancurkan kantor?”
Tidak sekarang. Barra sedang malas berbicara dengan siapa pun. Tidak terkecuali dengan sahabat sekaligus bosnya, Khafi. Dia memberikan tatapan tajam pada Khafi yang dengan santai berjalan di ruangannya, lalu duduk di sofa. Kepalanya mengangguk-angguk sambil memperhatikan seluruh sudut ruangan.
“Cukup bagus. Aku harap kamu mengganti kerugian kalau ada barang kantor yang rusak,” kata Khafi, tidak memedulikan Barra yang siap melemparkan apa pun pada dirinya.
“Bisakah kamu tidak mengganggu di saat seperti ini? Aku sudah cukup lama mengalah. Apa kamu sedikit pun tidak punya hati nurani?”
“Wah! Seorang Barra membicarakan hati nurani,” cibir Khafi. “Kalau mau meluapkan kemarahan, jangan di kantor. Rumahmu cukup besar untuk dihancurkan. Aku jamin kamu pasti puas setelah menghancurkan rumah kesayanganmu itu.”
“Aku sedang tidak ingin berbicara padamu. Pergilah.”
“Sejujurnya, aku juga tidak bermaksud datang ke sini. Hanya saja ....” Khafi melirik pintu ruangan Barra yang terbuka. “apa kamu tahu kalau semua karyawan di luar ruangan itu sedang berbisik-bisik karena mendengar kegaduhan di sini?”
Ini di luar perkiraan Barra. Dia tidak menyangka kalau suaranya akan sekeras itu. Yah, mau bagaimana lagi. Dia benar-benar marah dan ingin melampiaskannya dengan segera. Benar kata Khafi, seharusnya dia pulang ke rumah, bukan malah kembali ke kantor dan membuat keributan di sana.
Tadi, pikiran Barra sedang kalut dan letak kantor lebih dekat. Jadi, setelah mengantar Zaina pulang, dia kembali ke kantor. Dia juga tidak menyangka kalau dia bisa semarah tadi. Kalau diperhatikan, ruangannya memang cukup mengerikan. Apa dia benar-benar melakukan semua itu?
“Sorry. Aku hanya sedang kacau,” ujar Barra. Dia berjalan ke pintu dan menutupnya.
“Terlihat jelas dari wajah kamu.”
“Tidak bisakah kamu menunjukkan sedikit saja simpati padaku?”
“Memangnya kamu butuh?”
Rasanya ingin sekali memberi pelajaran pada si muka datar yang duduk di sofa itu. Barra tidak mengerti bagaimana para wanita dulu berlomba-lomba mendekati si dingin itu. Tentu saja dia tahu mengapa Khafi bersikap sangat ketus pada semua orang. Kalau bisa dibilang, mereka bersahabat sejak dalam kandungan.
Orang tua Barra dan Khafi bersahabat. Saat ayah ibu Barra meninggal dalam kecelakaan, keluarga Khafi yang merawat Barra. Karena itu, Barra selalu merasa berutang budi pada Khafi dan keluarganya. Apa pun yang dia lakukan tidak akan pernah bisa menggantikan kasih sayang orang tua Barra dan sang nenek, Hilya.
Kalau ada yang menyaksikan kehidupan Khafi yang katanya penuh tekanan, orang itu tentu Barra. Dia melihat bagaimana Khafi menjadi sosok yang dingin setelah kepergian kedua orang tuanya. Khafi juga cukup tegas kepada kedua adiknya. Meski semua itu tidak berakhir baik.
“Aku serius, Khaf. Aku sedang tidak ingin berdebat. Kalau kamu ke sini hanya untuk melihat aku mengamuk, kamu bisa pergi sekarang.”
“Kenapa harus buru-buru? Aku masih belum puas duduk.” Khafi menoleh pada Barra yang bersandar di meja. “Tidak berniat untuk cerita, bukan?”
“Kamu sudah tahu jawabanku. Kenapa bertanya lagi?”
“Entahlah. Aku juga tidak tahu kenapa harus bersikap baik padamu.” Khafi meraih map yang ada di meja, lalu membolak-balik tanpa minat.
“Tidak usah sok perhatian. Aku tahu kalau kamu ketularan Arisha yang baik hati itu.”
“Kenapa membicarakan istriku seperti itu?”
“Apa aku salah? Arisha memang sudah menularkan kebaikannya padamu.”
Mata Khafi memberikan tatapan peringatan. Dia mengembuskan napas dengan keras. Topik pembicaraan mengenai Arisha tidak pernah menarik bagi dirinya. Dia tidak suka orang lain membicarakan sesuatu tentang istrinya. Bahkan kalau itu adalah sahabat satu-satunya, Barra.
Menyadari kalau sekarang Khafi mulai kesal membuat Barra tertawa. Satu sama untuk Barra. Dia tidak suka jika kalah sendirian. Akan lebih bagus Khafi juga dipojokkan. Itu baru tindakan yang tepat. Semua orang punya batasan untuk privasi mereka. Begitu juga dengan dirinya dan Khafi.
Tidak ada yang suka saat privasi mereka dimasuki oleh orang lain. Barra tahu dengan pasti kalau kelemahan Khafi adalah Arisha. Jujur saja, dia senang karena pada akhirnya ada yang membuat Khafi melemah. Sebelum menikah, Barra belum pernah mengalahkan Khafi semudah ini.
“Kamu pikir aku akan terprovokasi? Jangan meremehkan aku.”
“Tentu saja. Mana mungkin aku meremehkan bosku yang baik hati ini.”
Senyum Barra melebar. Khafi kembali memberi tatapan peringatan. Dia tidak mudah dipengaruhi oleh siapa saja. Yah, kecuali Arisha tentunya. Wanita yang berhasil menaklukkan hati sang pangeran es. Benar-benar harus diberi penghargaan yang sangat tinggi. Semua pasti setuju mengenai ini.
“Kalau kamu bicara omong kosong lagi, aku mungkin tidak akan datang di acara ulang tahun yang kalian rencanakan itu.”
“Sepertinya ada yang salah. Bukan kalian. Aku tidak terlibat sama sekali. Ulang tahun itu disiapkan oleh Zaina dan nenek. Meski begitu, aku yakin kalau istrimu juga terlibat dalam rencana itu. Dia sering mondar-mandir di rumah nenek.”
“Apa maksudmu dengan mondar-mandir?”
“Maksudku, dia sering berkunjung ke rumah nenekmu. Apa itu saja harus aku jelaskan? Kamu harus mengulangi pelajaran bahasa Indonesia,” ujar Barra sambil mencibir pada Khafi.
“Nilaiku selalu yang terbaik di setiap angkatan. Apa aku perlu mengingatkan kamu?”
“Oh! Aku lupa kalau kamu si bintang kelas yang punya julukan tembok es.” Mata Khafi melebar mendengar julukan yang paling dia benci itu.
“Hati-hati kalau bicara. Aku mungkin akan memangkas habis gajimu.”
“Aku yang memegang keuangan perusahaan kalau kamu lupa.”
Khafi tahu itu. Dia hanya menggertak Barra yang hari ini menjadi lebih berani. Biasanya, dia tidak mau repot-repot membantah perkataan Khafi. Kalau Khafi boleh menebak, sepertinya masalah Barra sudah berada di level yang sangat mengkhawatirkan. Apa kira-kira yang membuat Barra lepas kendali.
Selama berteman dengan Barra, Khafi tidak pernah sekali pun melihat Barra marah. Dia terlalu pandai menyimpan emosi. Khafi sempat berpikir kalau urat marah Barra tidak ada. Barra menyembunyikan sifat itu rapat-rapat dan berusaha tidak ketahuan. Khafi tidak menyangka kalau akan ada waktu di mana Barra bisa meluapkan kekesalan lewat kemarahan.
Kalau ada yang membuat seorang pria berubah, itu adalah cinta. Sama seperti Khafi dulu. Kemunculan Arisha mengubah kehidupannya. Khafi menyipitkan mata. Mungkinkah Barra juga menyukai seseorang. Lalu, kenapa dia sampai mengamuk seperti ini? Sebuah pikiran melintas di benak Khafi.
“Apa wanita yang kamu sukai menyukai pria lain?”
Pertanyaan telak itu membuat Barra mematung. Dia tidak berkedip atau pun bernapas untuk beberapa waktu. Kenapa Khafi bisa memiliki pemikiran seperti itu? Dia merasa terjatuh dalam jurang gelap yang tidak berujung. Dingin dan sepi.