Bab 3: Main-main

1708 Kata
“Kenapa kita ke sini?” Kedua mata bulat Zaina memperhatikan suasana di sekitarnya yang sangat ramai. Gadis itu melirik Barra yang tersenyum lebar. Seolah apa yang dia lakukan sekarang ini adalah sesuatu yang sangat mengesankan. Padahal di sampingnya, Zaina sudah berulang kali mendengkus. Apa gunanya membawa Zaina ke tempat bermain seperti ini. Setelah mengganggu acara kaburnya, Barra dengan santai menyeret Zaina ke sini. Memang bukan benar-benar menyeret, tetapi lebih dengan memaksa. Dia bahkan dengan santai memanggil kakak Kamila dan memintanya menjaga sang adik. Apa lagi alasannya kalau supaya dia bisa membawa Zaina pergi. “Bukannya kamu selalu suka kalau menghabiskan waktu di sini?” tanya Barra sambil menunjuk beberapa permainan yang suka dilakukan oleh Zaina. “Iya, sih. Aku, kan, cuma tanya kenapa Kakak ajak aku ke sini sekarang?” Saat ini, Zaina tidak berminat memainkan permainan apa pun. Dia hanya ingin menghibur diri sebentar saja. Suasana hatinya sedang tidak bagus. Terutama jika harus berlama-lama di dekat Barra. Dia sudah cukup tersiksa karena kelakuan Barra yang sok cool itu. “Memangnya butuh alasan untuk mengajak adikku ke sini?” “Siapa yang Kakak sebut adik? Aku?” “Memangnya siapa lagi? Aku hanya membawa kamu.” Perkataan itu membuat Zaina mendengkus. Dia memandang wajah tampan di depannya. Barra sama sekali tidak menyadari dan malah melenggang ke salah satu tempat permainan basket. Dia mengambil bola dan melemparkannya tepat sasaran. Senyum mengembang di wajah Barra. Momen seperti inilah yang selalu Zaina suka. Ketika Barra melakukan sesuatu dengan serius dan tidak menyadari sekelilingnya. Dia bahkan tidak menyadari kalau ada seorang gadis yang terus memperhatikan. Zaina menyilangkan tangan di d**a sambil terus menatap sosok Barra. Dilihat dari samping, hidung Barra terlihat lebih mancung. Bibirnya yang terus tertarik membuat lesung pipi di bagian kiri pipinya terlihat samar. Sekarang, poninya bergerak-gerak seiring dengan lompatan Barra. Padahal pria itu tidak perlu melompat karena jarak ring tidak jauh dari tempatnya berdiri. “Kamu mau bengong terus di situ?” tanya Barra setengah berteriak. Zaina mengerjap, lalu berjalan mendekati Barra. “Kakak sedang banyak pekerjaan?” Zaina balik bertanya. “Memangnya kapan aku tidak banyak pekerjaan? Pekerjaanku selalu menumpuk.” “Aku tahu itu. Jadi, kenapa Kakak masih bekerja pada Kak Khafi?” Mendengar pertanyaan aneh dari Zaina, Barra yang akan melempar bola menoleh. Dia memandangi wajah mungil gadis di depannya. Namun, segera memalingkan wajah karena Zaina balik menatap. Hari ini, dia sedang tidak ingin beradu tatap dengan Zaina. Pikirannya sedang kacau. “Kamu mau aku berhenti bekerja pada kakakmu?” “Ya ... enggak juga. Aku, kan, cuma tanya. Apa Kakak sebegitu sukanya sama Kak Khafi sampai mau ngikuti dia terus?” Zaina berdeham untuk mengusir rasa tak nyaman yang tiba-tiba memenuhi d**a. “Menurutmu aku mengikutinya karena aku menyukainya?” “Memangnya apa lagi alasannya?” “Apa kakakmu itu orang yang mudah disukai?” tanya Barra sambil mengangkat sebelah alisnya. Senyum pria itu mengembang lebar. Itu pertanyaan jebakan. Barra tahu betul jika Zaina salah satu orang yang diam-diam mengagumi sang kakak. Meski begitu, dia tidak mau menunjukkannya pada orang lain. Untuk apa? Supaya mereka tahu kalau Khafi mengabaikannya? Atau supaya mereka bisa menertawakan karena rasa sukanya tidak berbalas. “Mana mungkin. Cuma orang tertentu yang bisa suka sama dia.” Barra mencoba menahan tawa yang sudah siap meledak. “Kakak sedang menjelekkan kakakku?” “Kamu juga menjelekkannya, kan?” Melawan orang yang pandai mendebat seperti Barra tidak ada gunanya. Zaina heran kenapa dia bisa menyukai pria tua itu. Kalau dipikir-pikir, lebih banyak sikap Barra yang menyebalkan dari pada menyenangkan. Zaina adalah orang yang menyaksikan sendiri bagaimana Barra bisa membuat kesal sampai ke ubun-ubun. Ditambah dengan sikap percaya diri tingkat tinggi. Barra benar-benar menganggap dirinya di atas awan karena banyak yang mengelilinginya. Jujur saja, kebanyakan wanita mendekatinya karena ingin mengenal Khafi. Akan tetapi, mereka yang kecewa terkadang berpindah haluan menyukai Barra. Bukankah itu sangat aneh? “Kak Khafi bakal datang malam ini?” “Entahlah. Aku sudah memberi tahunya. Kamu tahu kalau hanya Arisha yang dia dengarkan. Kenapa tidak meminta Arisha untuk membujuk?” “Aku sudah minta bantuan Kak Arisha. Apa kali ini akan berhasil?” “Berdoa saja. Ini ulang tahun pertamanya setelah menikah. Kalaupun ingin merayakan, mungkin dia hanya ingin berduaan dengan Arisha. Kenapa kamu dan nenek sibuk menyiapkan kejutan?” “Justru karena ada Kak Arisha, makanya aku berani melakukan ini,” ujar Zaina setengah menerawang. Sejak dulu, Khafi tidak pernah menyukai ide untuk merayakan ulang tahun. Menurut dia, pesta atau semacamnya hanya membuang-buang waktu. Ada banyak hal yang bisa dilakukan dari pada menghabiskan waktu untuk hak tidak berguna seperti itu. Khafi adalah orang yang sangat disiplin dalam hal apa pun. Kalau mau jujur, Zaina juga tidak mengerti kenapa dia harus repot-repot mempersiapkan acara ulang tahun sang kakak. Apa lagi acaranya akan berlangsung di rumah sang nenek. Lengkap sudah. Tempat dan momen yang tidak disuka oleh Khafi. Apa yang akan terjadi? Memikirkan itu membuat Zaina menekuk wajah. Dia dikelilingi oleh pria tampan, tetapi tidak ada yang terlihat normal. Khafi yang super sempurna dan memiliki wajah tanpa ekspresi. Dzaky yang suka bermain-main dan tidak pernah serius menyikapi apa pun. Terakhir, ada Barra yang suka mengatur semua kegiatan Zaina. Banyak teman yang iri pada Zaina dan itu membuatnya tertawa. Jika saja tahu bagaimana hidup dengan dikelilingi oleh pria-pria itu, mereka akan memohon untuk tidak dilahirkan sebagai seorang Zaina. Karena itulah yang dia rasakan selama ini. Dia tidak memiliki kepintaran atau keahlian baik seperti kedua kakaknya. Dan itu terus mengganggunya dari hari ke hari. Bukan sekali dua kali Zaina menghindari semua pertanyaan mengenai keluarganya. Dia tidak suka ada orang yang menilai kehidupan pribadinya dengan santai. Bukan. Mereka tidak merendahkan orang-orang yang dia cintainya. Sebaliknya, mereka membanjiri keluarganya dengan pujian. Yang akan terlihat paling buruk tentu saja Zaina. Dia tidak berusaha untuk merendahkan diri. Begitulah kenyataan yang dia lihat selama ini. Pernah suatu hari dia bertanya pada sang nenek kalau-kalau dia hanya anak pungut. Neneknya malah tertawa terbahak-bahak dan menyebut dia tidak masuk akal. “Bagaimana dengan kamu?” Pertanyaan Barra menyadarkan Zaina dari pemikiran buruk mengenai dirinya. Zaina menoleh pada pria yang kini menundukkan wajah. Gadis itu menahan napas begitu merasakan kalau posisi mereka terlalu dekat. Untuk menyelamatkan jantungnya yang seperti akan melompat keluar, dia mundur. “Aku kenapa?” tanya Zaina setelah berdeham. “Kamu lupa kalau sebentar lagi kamu juga ulang tahun,” kata Barra mengingatkan. “Oh, itu ... aku enggak terlalu ingat.” “Serius? Berarti aku tidak perlu menyiapkan hadiah?” “Terserah. Aku haus, mau cari minum.” Panggilan Barra yang cukup keras tidak Zaina pedulikan sama sekali. Perkataan pria itu entah mengapa membuatnya kesal. Dia berjalan tanpa memperhatikan tujuan. Tempat bermain selalu saja ramai dikunjungi oleh orang. Bukan hanya anak-anak. Bahkan orang dewasa juga ikut bermain. Mungkin mereka juga ingin melepas penat setelah seharian bekerja atau belajar. Ketika menemukan sebuah kursi kosong, Zaina duduk. Dari jarak yang cukup jauh, dia masih bisa melihat Barra. Dia menarik sebelah sudut bibir. Lihatlah betapa santainya pria itu setelah membuat dia kebat-kebit. Mengapa Barra terkadang seperti tidak berperasaan begitu. Benarkah jika Barra tidak menyukainya? Karena itu, dia berpura-pura mengabaikan perasaannya? Pertanyaan itu sungguh mengganggu pikiran Zaina. Dia menghela napas berulang kali. Kebisingan pengunjung yang bermain di sampingnya sedikit membantu. Setidaknya tidak ada yang mendengar kalau dia mengeluh. Lagi pula, dia tidak melihat ada orang yang dikenalnya selain Barra. “Katanya haus.” Sebotol minuman rasa jeruk disodorkan. Zaina mendongak. Dia memutar bola mata begitu melihat Barra. “Sudah enggak haus lagi,” ucap Zaina sambil memalingkan wajah. “Sebenarnya ada apa denganmu hari ini?” Barra duduk di samping Zaina. Dia membuka botol dan meminumnya. “Aku tahu kalau ada yang mengganggu pikiran kamu dan aku pastikan itu bukan tentang ujian.” “Kakak berisik,” ujar Zain seraya memberi tatapan tajam. “Wah! Kamu benar-benar keterlaluan. Kamu pasti menyembunyikan sesuatu. Ayo, katakan. Apa kamu melakukan kesalahan?” “Kakak enggak bakal berhenti ngomong?” “Kalau kamu katakan apa yang kamu pikirkan, aku bisa berhenti.” Kepala Zaina menunduk. Dia memandangi sepasang flat shoes biru tua yang dikenakan. Bibirnya mengerucut. Rasanya ada yang memberontak keluar dari dalam tubuhnya. Dia ingin sekali melayangkan tinju pada pria yang sedang menatapnya. Atau sebuah pukulan juga tidak apa-apa. Ingin sekali menyadarkan Barra bahwa dialah sumber masalahnya saat ini. Apa dia perlu mengatakan isi hatinya? Mungkin saja dia bisa beruntung dan mengetahui tanggapan Barra. Lalu, perkataan Kamila menciutkan nyalinya lagi. Dia masih belum siap dengan penolakan Barra. Bagaimana kalau dia patah hati? Masih ada ujian panjang yang harus dilewati oleh Zaina. Dia tidak mau berada dalam suasana hati yang buruk di saat itu. Mengerjakan ujian saat senang saja dia masih mendapat nilai pas-pasan. Apa jadinya kalau dia ujian ketika sedang patah hati. Bisa-bisa semua nilainya terbakar. “Ayolah. Katakan saja. Selama kamu tidak menyukai seseorang, aku bakal memaafkan kamu. Cepat katakan,” desak Barra. Matanya menyipit melihat Zaina yang tampak terkejut dengan mata membesar. Walaupun gadis itu tidak melihat langsung ke arahnya, dia dengan jelas menemukan kenyataan itu. “Kamu ... menyukai seseorang?” tanya Barra ragu. Zaina mendongak. Dia menantang mata Barra yang selalu tampak indah di matanya. “Apa salahnya kalau aku suka sama cowok?” “Kamu sebentar lagi ujian. Apa ini waktu yang tepat untuk memikirkan laki-laki?” “Apa Kakak perlu kayak gini?” tanya Zaina sambil berkacak pinggang. Dia tidak peduli dengan pandangan orang yang bermain di sekitarnya. “Maksud kamu apa?” “Aku sudah cukup dewasa buat suka sama cowok. Kenapa Kakak enggak suka kalau aku pacaran?” Akhirnya pertanyaan itu meluncur dari mulut Zaina. Meski sedikit menyesal karena mengajukan pertanyaan itu, Zaina tidak bisa menarik kembali. Dia masih menatap mata Barra yang tampak tenang di hadapannya. Mengapa Barra tidak bereaksi seperti harapannya saat mereka membahas mengenai rasa suka? Zaina tidak bisa mengerti Barra. “Sudah cukup dewasa?” tanya Barra meyakinkan. “Jadi, kamu berpikir kalau kamu sudah cukup dewasa? Kalau kamu memang sudah dewasa, kamu akan tahu apa alasanku melarangmu untuk pacaran.” Hanya begitu. Barra mengusap pipi kiri Zaina seperti biasa. Lalu, dia tersenyum manis. Membuat jantung Zaina semakin menggila di dalam sana. Dia baru saja akan protes saat Barra tiba-tiba beranjak dari duduknya dan pergi tanpa menoleh. Jadi, apa sebenarnya maksud Barra? Zaina sama sekali tidak mengerti. Apa dia sedang bermain-main?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN