Bab 30: Jalan-jalan

1832 Kata
“Kamu baru bangun dan masih menguap?” tanya Hilya saat Zaina kembali menguap. Mata bulat Zaina melirik tajam pada Barra yang asyik melihat taman bugenvil milik sang nenek. Karena perkataan Barra semalam, dia jadi semakin sulit terlelap. Dia melakukan segala cara agar bisa tidur setelah Barra pergi. Jurus merajuk sangat ampuh digunakan pada pria menyebalkan itu. Salah siapa mengganggu malam-malam. Setelah menggoda Zaina sampai malam, Barra masih sempat-sempatnya mengunjungi dia ke kamar. Pria itu benar-benar berniat untuk membuatnya kesal. Apa dia bisa pergi dengan tenang setelah mengeluarkan semua ide gilanya mengerjai Zaina? Setelah dipikir-pikir, mana mungkin Barra tahu kalau Zaina menyukainya. Zaina sangat menyangsikan hal itu. Barra lebih terlihat ingin menghalanginya untuk jatuh cinta pada pria mana pun. Tentu saja karena Khafi yang memberikan perintah dan Barra begitu patuh pada sang sahabat. Meski merasa sangat kesal karena perbuatan Barra, Zaina tidak bisa protes. Apa lagi setelah Barra berkata kalau dia akan pergi. Ke mana sebenarnya Barra hendak pergi? Pria itu memang beberapa kali bepergian untuk urusan pekerjaan. Paling lama satu bulan. Namun, setahun dua tahun sangat lama. Mana bisa Zaina bertahan selama itu berpisah dari Barra. Dua tahun kemudian, dia sudah lulus kuliah. Apa Barra tidak mau membimbingnya sampai menyelesaikan status sebagai mahasiswi? Dari yang dia dengar, tahun terakhir akan sangat mengerikan. Lalu, bagaimana dia bisa melewati tanpa Barra di sampingnya? Semua pemikiran itu membuat Zaina menghela napas berat. Dia kini memperhatikan Barra yang sibuk berbicara di telepon selulernya. Pria berambut cepak sama sekali tidak menyadari kalau ada yang mengamati gerak-geriknya. Keberadaan Zaina mungkin tidak terlalu penting bagi Barra. Jadi, dia berpamitan dengan sangat mudah. Tidak masalah jika sebulan dua bulan. Zaina masih bisa menahan diri. Lain lagi kalau Barra pergi sampai dua tahun. Bukankah akan banyak yang berubah dalam waktu sepanjang itu? Bagaimana kalau perlahan Barra melupakannya? Hidup sang gadis pasti sangat merana saat Barra benar-benar tidak mengingatnya. “Kenapa lihat Barra sampai begitu?” Hilya ikut mengamati Barra. “Kak Barra bilang kalau dia mau pergi,” ujar Zaina dengan suara pelan. “Pergi? Untuk urusan bisnis?” Zaina mengangguk. “Bukankah sudah biasa. Barra sering sekali melakukan perjalanan bisnis ke berbagai tempat. Apa yang sangat mengganggumu?” tanya Hilya yang kini sudah beralih pada Zaina. “Kak Barra bakal pergi satu atau dua tahun.” “Apa? Benarkah? Itu ... memang sedikit mengejutkan.” Hilya berdeham. Mata tuanya melihat Barra yang mengobrol entah dengan siapa. “Sedikit mengejutkan? Ini sangat mengejutkan, Nek. Bagaimana bisa dia pergi selama itu?” Zaina menggembungkan kedua pipinya. “Kamu merasa kehilangan?” Pertanyaan dari Hilya menyadarkan Zaina. Dia memang terlalu takut untuk kehilangan Barra. Bagaimana jika Barra bertemu dengan wanita lain dan tidak pernah kembali? Bagaimana dia bisa menjalankan sisa hidupnya? Bagaimana cara dia melupakan Barra yang sudah sangat dicintainya? Ini mungkin sedikit berlebihan. Mengingat Barra sebenarnya hanya orang luar yang tiba-tiba berubah menjadi keluarga Zaina. Jika mereka ditakdirkan hanya sebagai kakak dan adik, apa Zaina bisa menerimanya? Cinta gadis itu sudah begitu dalam. Dia bahkan sudah membayangkan masa depan mereka kelak. Kalau Barra pergi seperti ini, bagaimana Zaina bisa merelakan. Dia perlu penyesuaian diri agar terbiasa tidak melihat Barra. Yang terpenting adalah dia harus menerima kenyataan kalau Barra sama sekali tidak terbebani dengan kepergiannya. Dari cara pria itu menyampaikan berita, dia memang ingin meninggalkan Zaina. Berpisah dengan Barra merupakan hal yang tidak pernah Zaina bayangkan. Dia tahu kalau ini sangat egois. Barra sudah menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk menjaganya selama ini. Pria itu membantunya dalam berbagai hal. Dia tidak pernah mengalami kesulitan berarti karena Barra selalu menyelesaikan semua masalahnya. Bukannya tidak paham jika Barra juga memiliki kehidupan sendiri. Bukan sebuah kesalahan kalau dia ingin mengejar kebahagiaan di tempat lain. Harusnya dia bisa mengerti posisi Barra di keluarga mereka. Tidak ada yang akan mengubah fakta tersebut. Meski Zaina ingin ditemani Barra seumur hidup. Memikirkan Barra bersanding dengan wanita lain di pelaminan begitu menyakitkan. Zaina sudah sejak lama memimpikan hal itu. Dia ingin Barra menjadi pria yang akan mengucapkan janji suci atas nama dirinya. Apa dia terlalu tamak? Padahal Barra sudah berbuat ini itu demi kebahagiaannya. Sekarang mungkin adalah waktu yang tepat untuk melepas Barra. Tentu saja ini sangat berat. Zaina mencoba menguatkan hati agar tidak menangis di hadapan Hilya. Mungkin kepergian Barra akan menyisakan kesedihan mendalam, tetapi dia tidak boleh egois dan menahan pria itu tanpa alasan yang tepat. Cinta sepihak yang Zaina rasakan pasti akan membebani Barra. Jadi, Zaina harus mulai belajar menerima takdirnya dan melepaskan pria itu. Allah tentu sudah memiliki perencanaan khusus. Kalau dia tidak menerima ketentuan yang telah ditetapkan oleh-Nya, bukankah sama saja dengan dia tidak percaya pada kekuasaan Allah? “Selama ini sudah terbiasa dengan kehadiran Kak Barra. Kalau dia tiba-tiba pergi, pasti bakal ada rasa kehilangan. Benar, kan, Nek?” “Iya. Nenek sangat mengerti apa yang kamu pikirkan. Tapi, ada beberapa hal yang tidak bisa kamu kendalikan, Zai. Barra sudah lama mengorbankan diri demi keluarga kita. Kamu pasti mengerti maksud Nenek, kan?” Zaina mengangguk sambil menundukkan kepala. “Tapi, aku pasti bakal ngerasa kesepian. Kak Barra itu segalanya buat aku. Kenapa dia harus pergi dengan cara kayak gini?” Hilya tersenyum mendengar kata-kata yang diucapkan oleh sang cucu. “Itu karena kamu sangat dekat dengan Barra. Wajar kalau kamu merasa seperti itu. Lagi pula, Barra pergi untuk urusan pekerjaan. Dia tidak selamanya meninggalkan kamu. Masa kamu tidak bisa menunggu sebentar? Kamu juga sudah cukup dewasa sekarang. Mau sampai kapan terus mengandalkan Barra?” Zaina mengerucutkan bibir. “Itu karena Kak Barra selalu ngelakuin semua hak buat aku, jadi aku sudah terbiasa.” “Sekarang kamu menyalahkan Barra? Dia sudah banyak bantu kamu, lho, Zai.” “Aku tahu, Nek. Aku cuma enggak rela saja Kak Barra pergi selama itu. Apa aku terlalu egois? Apa seharusnya aku biarin Kak Barra pergi?” “Dia mengatakan hal ini padamu, tentu karena sudah mempertimbangkan dengan baik. Dia pasti berpikir kalau kamu bisa mengerti posisinya. Makanya, dia tidak sungkan untuk berpamitan. Kamu masih belum memahami situasi ini?” “Memangnya apa yang harus dipahami?” “Artinya kamu orang yang sangat penting bagi Barra.” Kalimat itu membuat Zaina mematung. Dia kembali melirik Barra yang masih berbicara di telepon selulernya. Apa dia sungguh sangat penting bagi Barra? Dia sungguh ingin tahu, apa posisinya di hati pria itu. Andai saja Barra bisa memberikan kepastian sebelum dia pergi, mungkin Zaina bisa sedikit tenang. Bisakah harapan Zaina itu terpenuhi? Dia tidak yakin. Barra tampaknya tidak suka membahas mengenai masalah mereka. Bahkan setelah menggodanya habis-habisan. Semua akan berakhir sama. Segala hal yang Barra katakan hanya sebuah gurauan. Dia tidak benar-benar serius dengan ucapan dan tindakannya. Meski begitu, Zaina sungguh menyukai Barra yang sekarang. Dia suka saat Barra menggodanya. Tidak peduli kalau akhirnya dia terbawa perasaan. Toh, rasa itu sangat nyata. Barra benar-benar sangat dekat dengannya belakangan ini dan itu menimbulkan kegembiraan luar biasa. Kenangan ini bisa menjadi obat kala Barra pergi. Mungkinkah itu tujuan Barra melakukan semua ini? Dia tidak mau Zaina bersedih setelah kepergiannya. Jadi, dia berusaha membuat momen indah yang bisa mereka kenang. Lalu, menyimpan dan menjadikannya sebagai penawar rindu saat nanti berpisah. “Sedang mengobrolkan apa? Sepertinya serius sekali.” Barra tahu-tahu sudah berada di antara Zaina dan Hilya. “Urusan cewek. Cowok enggak boleh tahu,” ujar Zaina sewot. Barra tertawa. “Aku mau pergi ke supermarket di depan itu. Ada yang mau titip?” tanya Barra sambil menunjuk sebuah bangunan yang cukup besar. “Nenek di rumah saja.” Hilya menoleh pada Zaina, lalu tersenyum. “Oh, ya, katanya kamu mau beli pembersih wajah. Ikut Barra saja.” “Malas banget pergi sama Kak Barra,” kata Zaina, masih dengan wajah masam. Kali ini, Barra tertawa melihat tingkah Zaina yang kekanakan. “Jangan marah terus. Ayo, aku belikan cokelat mede kesukaan kamu.” “Dua puluh batang.” Semangat Zaina yang mendadak muncul kembali membuat Barra tertawa. Di sampingnya, Hilya menutup mulut. Gadis itu menatap tajam Barra yang sudah berhasil menyogoknya dengan cokelat. Zaina mulai menyalahkan diri. Kenapa dia harus menyukai cokelat mede? Kenapa juga Barra bisa mengetahui kalau cokelat itu akan meruntuhkan pertahanan yang dia bangun? Saling mengenal sejak kecil terkadang membawa kerugian. Zaina tidak bisa menghindar lagi sekarang. Baiklah. Zaina akan membuat Barra bangkrut dengan membeli semua hal yang dia sukai. Siapa peduli kalau Barra nanti mengomel karena Zaina lagi-lagi menghancurkan uang tidak jelas. Lagi pula, dia sudah biasa memeras Barra. Jadi, tidak masalah kalau kali ini pun dia membuat Barra meradang. Dilihat dari wajah Barra yang semringah, sepertinya dia akan memberikan semua keinginan Zaina. Hal ini justru membuat Zaina khawatir. Benar kata Barra sebelumnya, bagi sang gadis, pria itu memang seperti ATM berjalan. Barra bersedia membelikan apa pun untuk Zaina. Tidak peduli seberapa mahal atau sulitnya mencari barang yang diinginkan oleh Zaina. Khafi dan Dzaky bahkan tidak pernah memperlakukan Zaina seistimewa itu. Seolah Barra memang kakak kandung yang selalu menjaga dan menuruti semua kemauannya. Dulu, dia sangat menyukai kenyataan ini. Namun, sekarang dia tidak menginginkan status sebagai seorang adik. “Siap, Tuan putri. Kita pergi.” Tanpa merasa sungkan pada Hilya, Barra merangkul pundak Zaina dan menuntunnya. Gadis itu mencoba untuk membebaskan diri, tetapi tidak berhasil. Tenaga Barra terlalu kuat untuk dilawan oleh gadis lemah seperti dirinya. Jadi, dia mengikuti langkah Barra yang lumayan panjang. “Bisa enggak jalannya pelan saja? Aku tahu kalau kaki Kakak itu panjang. Tapi, apa enggak lihat kalau aku cuma setinggi ini?” Sudah payah, Zaina menghentikan Barra setelah sampai di luar gerbang. “Jadi, sudah sadar kalau kamu pendek?” sindir Barra. Zaina mendelik. “Enggak usah ngajak berantem. Lagian, kenapa Kakak pakai acara pergi ke supermarket? Jalan kaki lagi. Kita, kan, bisa naik mobil.” “Ya, ampun, Zai. Sedekat ini mau pakai mobil. Jangan begitu, dong. Lagi pula, sudah lama kita tidak jalan-jalan berdua seperti ini. Iya, kan?” “Jangan mulai. Kita sudah terlalu sering jalan berdua.” “Benarkah?” Barra pura-pura berpikir. “Sepertinya memang begitu,” ujarnya seraya tersenyum lebar. Zaina memutar bola mata. Jarak antara rumah dan supermarket hanya sekitar sepuluh menit jika ditempuh dengan berjalan kaki. Jalanan tidak begitu ramai, jadi tidak ada kemacetan. Meski begitu, tempat belanja itu lumayan padat. Kebanyakan adalah ibu-ibu yang berbelanja kebutuhan rumah tangga. Barang yang disedia oleh pihak supermarket sangat beragam dan lengkap. Zaina mengamati sayur dan buah yang berjajar rapi di rak. Di sampingnya, ada beberapa showcase yang terisi penuh dengan berbagai jenis minuman. Setelah merasa puas mengamati, dia langsung menuju ke pusat camilan cokelat. “Benaran mau borong?” tanya Barra setelah melihat Zaina memasukkan semua jenis cokelat ke dalam keranjang belanja. Zaina tidak menjawab. “Jangan kebanyakan makan cokelat. Sebentar lagi kamu ujian, kalau sampai sakit gigi, siapa yang akan menyelamatkan kamu?” “Cerewet banget, sih,” ujar Zaina. Dia mengerucutkan bibir. Meski begitu, dia mulai mengembalikan beberapa cokelat ke rak. “Nah, begitu, dong. Aku suka sama calon istri yang penurut,” kata Barra sambil tersenyum. Dia lantas mengusap rambut Zaina sebelum pergi meninggalkan gadis itu. Zaina mengepalkan tangan. “Pria tua itu benar-benar perlu diberi pelajaran!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN