Pria berkemeja hitam itu berjalan santai sambil tersenyum lebar. Saking lebarnya, dia bahkan hampir tertawa. Berusaha menjaga martabat di antara banyak orang, dia menutup mulut rapat-rapat agar tawanya tidak meledak. Kalau dia sampai tertangkap bertingkah aneh, bisa turun harga dirinya.
Barra mulai bertanya-tanya apakah Zaina bisa mencerna ucapannya tadi. Dia sungguh ingin menahan diri, tetapi melihat Zaina yang terus menggembungkan pipi sambil mengambil berbagi jenis cokelat membuat kehilangan akal sehat. Pikirannya dipenuhi dengan wajah menggemaskan Zaina.
Sepertinya Barra memang sudah tidak dapat mengontrol diri lagi. Dia harus lebih berhati-hati agar Zaina tidak nekat mengungkapkan cinta padanya. Bukan tidak mau mendapat ungkapan dari Zaina. Hanya saja, tugas itu sudah pasti merupakan bagiannya. Jadi, dia yang akan berinisiatif menyatakan cinta.
Kapan? Saat Zaina benar-benar sudah siap untuk menerima Barra apa adanya. Dia tidak meragukan cinta Zaina padanya. Justru dirinyalah yang dia ragukan. Bisakah dia menjaga dan melindungi Zaina sebagai seorang suami? Menjadi imam dalam rumah tangga bukalah hal yang mudah.
Bagi pria matang seperti Barra, pacaran bukan lagi hal diinginkan. Dia sudah hampir tiga puluh dua. Mencari pacar tidak ada lagi dalam keinginannya. Jika dia menjalin hubungan, maka akan berakhir di pelaminan. Karena itu, dia ingin meredam perasaan di antara dirinya dan Zaina.
Meski menjauh bukan pilihan terbaik, setidaknya Barra bisa merenungkan masa depan bersama Zaina. Tentu saja dia tidak akan membiarkan Zaina menyukai pria lain selama kepergiannya. Kalau perlu, dia bisa menambahkan penjaga untuk gadis itu agar tidak ada pria yang mendekat.
Atau perlukan Barra mengungkapkan perasaan sebelum pergi? Dia menggeleng berkali-kali. Jika dia pergi setelah menyatakan cinta, Zaina pasti akan lebih menderita. Jadi, tetap diam menjadi alternatif sempurna. Lalu, bagaimana dia bisa mengontrol keinginan untuk selalu dekat dengan Zaina?
Kepala Barra masih dipenuhi oleh berbagai kemungkinan ketika dia merasakan ada sesuatu yang menyentuh pipi kirinya. Dia menoleh sambil membelalakkan mata begitu menyadari apa yang terjadi. Tangannya mengusap rasa hangat yang menyapu pipi beberapa saat lalu. Apa dia tidak salah lihat?
Bagaimana bisa Zaina melakukan hal seperti itu? Di sini? Di tempat yang dipenuhi oleh orang. Barra mengedarkan pandang ke sekeliling. Beberapa orang sedang memperhatikan mereka dengan berbisik-bisik. Pria itu menghela napas. Dia memiringkan kepala dan memandangi Zaina yang tersenyum lebar.
Berusaha tidak memedulikan tatapan orang-orang di supermarket, Barra menarik tangan Zaina ke kasir dan membayar belanjaan dengan gerakan cepat. Setelah selesai, dia kembali menggandeng tangan Zaina. Langkahnya setengah berlari saat keluar dari tempat perbelanjaan itu.
Tidak dipedulikannya protes yang dilayangkan oleh Zaina. Barra hanya ingin membawa Zaina ke sebuah tempat untuk membicarakan mengenai perbuatan gadis itu tadi. Bisa-bisanya Zaina mencium Barra di tempat ramai. Bagaimana kalau ada yang mengenal mereka? Bagaimana kalau ada mata-mata Khafi yang memperhatikan? Usahanya untuk bersembunyi akan sia-sia.
“Apa kamu akan menjelaskan mengenai hal ini?”
“Kenapa? Itu cuma ciuman di pipi, kan? Lagian, bibirku cuma menempel sebentar.” Zaina menyilangkan tangan di d**a sambil menatap Barra dengan berani.
“Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan? Bagaimana kalau ada yang melihat?”
“Ya, ampun, Kak. Kakak terlalu lebay. Ini bukan pertama kalinya aku mencium Kakak, kan?” Barra mendelik saat mendengar pertanyaan itu.
“Bisakah kamu berpikir sebelum mengatakan sesuatu?”
“Aku benar, kan? Itu bukan ciuman pertama kita, kan?” Zaina tidak mau kalah.
“Tapi itu sudah lama sekali, Zai. Waktu itu kamu masih sangat kecil. Sekarang kamu sudah dewasa. Tidak bisakah kamu memikirkan akibat dari tindakanmu?”
“Apa yang sebenarnya mau Kakak bilang?”
“Bagaimana kalau ada yang melihat kita dan mulai bergosip? Yang lebih parah, bagaimana kalau keluarga kamu tahu? Bagaimana aku bisa menghadapi mereka?"
“Kakak berlebihan!” teriak Zaina.
Sungguh. Zaina sadar kalau kelakuannya tadi sedikit keterlaluan, tetapi Barra tidak harus semarah itu, bukan? Lagi pula, pemikiran Barra terlalu berlebihan. Memangnya kenapa kalau dia mencium pipi Barra? Dia bisa mengatakan pada semua orang kalau dia memang menyukai Barra. Atau jika tidak memungkinkan, dia bisa berkata kalau itu hanya ungkapan cinta dari seorang adik kepada kakaknya.
Zaina hanya menempelkan bibirnya sebentar. Kenapa Barra bersikap seperti ini? Apa dia takut kalau wanita yang disukainya melihat? Zaina memejamkan mata. Dia memang tidak berpikir dulu sebelum bertindak. Saat mencium Barra tadi, dia tidak memikirkan masalah ini sama sekali.
Niat untuk menggoda Barra membuat Zaina lupa diri. Dia tidak menyangka kalau Barra akan marah seperti ini. Otak kecilnya hanya memikirkan bagaimana cara untuk membuat Barra berhenti menggoda Zaina. Gadis itu sudah cukup merana karena cinta tak berbalas. Barra tidak perlu menambahnya dengan memberi harapan palsu.
“Aku berlebihan?” Barra berusaha menekan gejolak api yang kini membakar kepala. Dia tidak boleh emosi di saat seperti ini.
Kedua mata Zaina sudah memerah sekarang. Dia tidak ingin membuat gadis manis itu bersedih atau bahkan menangis. Meski begitu, perbuatan Zaina kali ini memang sudah kelewat batas. Dalam hati, dia berharap kalau hanya dirinya yang pernah diperlakukan begini oleh Zaina.
Mana mungkin Barra rela melihat Zaina mengecup pria lain. Menyaksikan gadis itu dekat dengan seseorang saja sudah membuat kepalanya berdenyut-denyut. Apa lagi sampai ada yang menyentuh Zaina. Bisa-bisa dia akan menghancurkan apa pun yang terlihat olehnya. Dia tidak bisa membiarkan orang yang mengganggu miliknya.
Akan tetapi, perbuatan Zaina sedikit berbeda. Barra sungguh tidak bisa menerima kenyataan ini. Kalaupun ada yang mengecup duluan, itu adalah dirinya, bukan Zaina. Tidak bisakah Zaina menahan diri? Bercanda pun ada batasannya. Bagaimana bisa Zaina memikirkan hal seperti ini?
“Aku ingatkan padamu. Kita sedang di tempat ramai, bagaimana bisa kamu menciumku tanpa beban seperti itu?”
“Siapa bilang kalau aku ngelakuin itu tanpa beban?” gumam Zaina lirih. Barra menyipitkan mata, tetapi tidak menangkap kalimat Zaina.
“Apa yang kamu katakan? Kenapa bisik-bisik begitu?”
“Kakak bakal ceramah sampai kapan? Aku lapar, mau pulang.” Barra meraih bahu Zaina saat gadis itu membalikkan badan.
“Mau melarikan diri?” Zaina mendengkus. Dia berbalik pada Barra.
“Mau ngomong apa lagi? Bukannya sudah selesai marah?”
“Zaina, apa kamu tidak sadar apa yang sudah kamu lakukan?”
“Memang apa yang sudah aku lakuin? Aku cuma nyium Kakak. Itu pun di pipi. Perlukan aku ngelakuinnya di tempat lain?”
Kedua mata Barra melebar mendengar perkataan Zaina. Dari mana gadis itu mendapatkan keberanian yang begitu besar. Barra sungguh telah kehilangan sosok Zaina yang kekanakan. Orang yang berdiri di depannya terlihat berbeda. Dia tahu kalau Zaina pemberani, tetapi tidak dalam tahap ini.
Langkah yang diambil Zaina sudah terlalu berani. Kalau sudah begini, Barra akan lebih sulit untuk bertahan. Di supermarket tadi, dia menahan diri sangat keras. Zaina tidak pernah tahu bagaimana inginnya dia memberikan kecupan balasan. Dia nyaris kehilangan kontrol dan menyerang gadis itu.
Di sisi lain, Zaina masih terus menyalahkan diri sendiri. Dia melirik Barra takut-takut. Terus terang saja, dia tidak mengerti apa alasan Barra marah sebenarnya. Hati kecilnya berkata kalau ada yang salah dengan ekspresi pria itu. Meski begitu, dia tidak punya keberanian untuk mengajukan pertanyaan.
Setelah melakukan hal memalukan tadi, Zaina jadi seperti seorang tahanan. Dia seperti penjahat yang ketahuan sedang beroperasi. Rasa bersalah itu menjalar ke seluruh tubuh. Padahal dia hanya mencium pipi Barra. Bukan sesuatu yang berlebihan, bukan? Kecuali jika Zaina menyasar bibir pria itu.
Omong-omong soal bibir, saat ini Zaina sedang memperhatikannya. Barra memiliki Bibir yang sedikit tebal, tetapi warnanya sangat menarik. Mungkin karena Barra tidak merokok dan selalu melakukan perawatan. Di mata Zaina, Barra begitu mengagumkan. Pria itu merawat diri dengan baik sekali. Zaina bahkan jarang memperhatikan penampilan. Haruskah dia mulai mempertimbangkannya?
“Kamu berani melakukannya?” tanya Barra sambil mendekatkan diri.
“Kakak nantang aku?” Zaina ikut-ikutan mendekat. “Kakak pikir aku enggak bisa ngelakuin itu?” ujarnya dengan senyum lebar.
“Coba saja. Aku mau lihat seberapa beraninya kamu.”
“Jangan nyesal kalau aku benaran bisa ngelakuin itu.”
“Kita lihat saja. Apa kamu bisa seberani itu,” kata Barra mengejek.
Wajah Zaina mulai mendekat. Dia bisa merasakan bagaimana jantungnya berdebar kencang. Setelah memejamkan mata, dia meremas kedua sisi bajunya. Sebuah perasaan aneh perlahan mengganggu. Dia tidak mengerti apa itu. Yang pasti dia merasa kalau ada sesuatu.
Kenekatan Zaina terhenti karena keningnya tertahan. Gadis itu membuka mata dan mendapati Barra yang menahan bahunya. Yang membuat aneh, Barra sekarang tengah tersenyum lebar. Bukan jenis senyuman biasa. Zaina rasa, seluruh pertahanannya akan segera runtuh di hadapan Barra.
Sebelum sempat memikirkan apa pun, Zaina dikejutkan dengan tindakan Barra yang di luar dugaan. Pria itu mengecup lembut kedua pipinya. Tidak berhenti di situ, Barra bahkan mendaratkan ciuman di kening dan hidungnya. Tidak lama, hanya sekilas. Zaina mendongak untuk melihat wajah tampan Barra.
“Itu ungkapan kasih sayang seorang Kakak pada adiknya,” ucap Barra. Senyumnya masih belum meninggalkan wajah.
Entah bagaimana Zaina harus menanggapi. Dia baru saja melayang karena mendapatkan serangan bertubi-tubi dari Barra. Lalu, pria itu menyadarkannya. Hubungan mereka tidak lebih dari sekadar kakak beradik. Barra seakan ingin menegaskan kalau mereka tidak bisa melewati batasan tersebut.
Kalau Barra hanya menganggapnya sebagai adik, kenapa dia mencium Zaina seperti itu? Kenapa membuat Zaina terus berharap? Baiklah. Salahkan dia yang menggoda Barra terlebih dahulu. Barra bahkan bisa melakukan yang lebih dari dirinya. Dia pasti sudah membangkitkan keberanian Barra yang sempat tersembunyi.
Ketika melihat Barra kembali mendekatkan wajah, Zaina mundur dua langkah. Dia terlalu takut untuk menerima permainan yang Barra pilih. Semestinya dia tidak menantang Barra seperti ini. Pikirannya tentu tidak berjalan dengan benar. Masalah kecupan itu bukanlah yang dia takutkan. Dia hanya tidak ingin kalau Barra melakukan untuk menegaskan statusnya sebagai seorang adik.
Sementara Barra tersenyum penuh kemenangan. Dia tidak akan pernah membiarkan Zaina menang darinya. Terutama untuk hal-hal yang sensitif seperti ini. Pemandangan di hadapannya kini sangat menarik. Wajah Zaina memerah dan tampak tidak memiliki keberanian lagi untuk membalas perbuatan Barra.
Memang sudah semestinya begitu. Barra tidak mau Zaina terus mempermainkan dirinya dan membuat pria itu hilang kendali. Tembok tinggi yang dia bangun untuk membentengi hati perlahan mulai runtuh. Semua gurauan ini harus segera dihentikan. Kalau tidak dia bisa melangkah lebih jauh dari sekarang.
Cukup untuk main-mainnya. Barra memalingkan wajah agar tidak melihat ekspresi menggemaskan Zaina. Dia bisa kembali khilaf dan melakukan kejahatan lagi. Hari ini sudah cukup melelahkan. Mereka harus beristirahat untuk menenangkan diri dan perlahan membangun pertahanan kembali.
“Jangan bengong terus. Katanya lapar. Ayo, pulang. Tadi aku mencium aroma perkedel kesukaan kamu dari dapur.”
“Kakak pikir, aku masih bisa lapar sekarang?”
“Kenapa? Karena aku menciummu?” Zaina memberikan tatapan peringatan.
“Cara Kakak balas sangat kekanakan,” kata Zaina sambil menatap tajam Barra.
“Kekanakan? Aku rasa itu cara yang paling keren.” Barra mendekat. “Tidak perlu buru-buru. Kita harus melakukannya dengan perlahan, kan?” ujarnya. Zaina mengerutkan kening mendengar perkataan Barra. Apa coba maksud pria itu?