“Serius, Zai? Kamu enggak lagi mimpi, kan?” Kamila menggoyang-goyangkan tubuh Zaina yang hanya bisa tersenyum sambil memandangi langit cerah di pagi ini.
“Kamu pikir aku enggak bisa bedain mimpi sama kenyataan?” tanya Zaina setelah mengalihkan perhatian pada sang sahabat. “Ini benaran terjadi.”
“Tapi ... Gimana ceritanya? Kamu sama Kak Barra?”
“Dia terus bilang kalimat-kalimat aneh yang enggak aku ngerti. Tapi, aku rasa dia memang suka sama aku.”
“Zai, jangan berkhayal ketinggian. Takutnya kalau jatuh bakal sakit.”
“Kamu enggak percaya sama aku?” Zaina mulai kesal.
Semua kejadian yang dilalui Zaina bersama Barra sudah diceritakan oleh gadis itu. Sayang, Kamila tidak begitu percaya dengan kisah mereka. Wajar saja. Zaina yang telah mengalami momen membahagiakan juga masih belum bisa mempercayai hal ini. Dia selalu bertanya-tanya, apakah dia sedang bermimpi?
Sejak pulang dari rumah lawas Hilya, Barra belum menampakkan batang hidungnya sama sekali. Kalau mau jujur, Zaina sempat mengkhawatirkan hal ini. Dia takut jika Barra tiba-tiba pergi tanpa pamit dan membuatnya patah hati. Setelah semua yang mereka lalui, apa Barra tetap akan pergi?
Memang, Zaina terlalu bersemangat. Meskipun Barra mengatakan kalau kecupan itu hanya bukti kasih sayang dari seorang kakak pada adik, dia tetap senang. Harapan yang hanya setitik itu membuat sang gadis menginginkan Barra lebih dari seharusnya. Dia terus membayangkan Barra setiap saat.
Tidak mengapa jika Barra pergi untuk perjalanan bisnis, asal kisah bersama Zaina bisa dituntaskan dulu. Zaina tidak mau ditinggal dengan status yang menggantung. Dia tidak berpikir sedikit pun kalau Barra mungkin tidak berniat mengikatnya. Lagi pula, sudah dua hari berlalu dan Barra seakan menghilang.
Untuk menenangkan hati, Zaina sudah menyelidiki mengenai kepergian Barra. Pria itu baru akan pergi dua atau tiga bulan lagi. Saat ini, dia sedang sibuk mempersiapkan program baru guna menaikkan penjual perusahaan. Jadi, Zaina tidak mempermasalahkan ketidakhadiran Barra belakangan.
“Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau Kak Barra bilang itu ciuman ungkapan kasih sayang kakak ke adik? Bukan dari cowok ke cewek, Zai. Kamu sadar enggak, sih?” Kamila masih berkeras.
“Kamu pikir Kak Barra bakal ngaku semudah itu? Kamu enggak lihat gimana wajahnya, Mil. Kedua matanya teduh banget. Aku yakin kalau dia suka sama aku.”
“Semua orang tahu kalau dia suka dan sayang sama kamu. Tapi, cuma sebagai kakak. Kamu juga ngerti itu, kan, Zai?”
“Tapi, Mil, kali ini beda. Dia jelas cinta sama aku.”
“Kayaknya enggak ada yang bisa buat kamu sadar.” Kamila meraih kedua pundak Zaina dan menatap sahabatnya itu. “Kalian cuma saling usil, Zai. Apa setelah kejadian itu dia ngomong something?”
“Seperti?” Zaina tidak mengerti maksud Kamila.
“Dia enggak nembak kamu, kan?”
“Memang enggak, tapi ... dia nyium aku, Mil. Masih kurang bukti apa coba?”
“Aku bilang ini bukan karena enggak percaya atau enggak sayang sama kamu, Zai. Aku enggak mau kamu kecewa. Kak Barra cuma balas keusilan kamu. Itu saja. Enggak lebih. Kenapa kamu jadi kebawa perasaan gini?”
Kedua pipi Zaina mengembung. Dia membebaskan diri dari Kamila dan mulai menarik napas beberapa kali. Apa yang dikatakan oleh Kamila memang sangat masuk akal. Awalnya, dia juga ingin mempercayai pemikiran itu. Akan tetapi, semakin dipikirkan, semakin dia meragukan status di antara dirinya dan Barra.
Mulut Barra terus mengatakan kakak adik, tetapi tidak berhenti menggoda Zaina. Gadis itu sungguh tidak bisa memahami jalan pikiran Barra. Dia selalu memberikan kejutan pada Zaina setiap saat. Rasanya, ada hal lain yang belum dia katakan dan itu berhubungan dengan sang gadis.
Ini terdengar sedikit narsis. Namun, Zaina punya kepercayaan tinggi mengenai perasaan Barra padanya. Dalam setiap momen, pria itu selalu hadir untuknya, membantu dalam banyak hal. Zaina benar-benar akan sulit melepaskan diri dari bayangan seorang Barra.
“Apa memang gitu, ya?” Zaina juga mulai meragukan kesimpulan yang diambil. “Kayaknya aku terlalu suka sama Kak Barra sampai jadi bego gini.”
“Jangan gitu, Zai. Lagian Kak Barra ngapain pakai acara nyium kamu coba? Kalau jadi kamu, aku juga bakal kebawa perasaan.”
“Tapi, Mil, benaran. Kak Barra itu enggak kayak biasanya. Apa dia benaran tahu kalau aku suka sama dia? Jadi, sebelum pergi, dia mau buat aku senang.”
“Terus dia pergi gitu saja? Buat kamu patah hati?”
“Kok, kedengarannya kejam banget, sih.” Zaina menengadah. “Aku tetap berharap Kak Barra bakal suka aku suatu hari nanti.”
“Kamu, kan, sudah bilang kalau dia suka sama seseorang.” Mata Zaina melirik tajam Kamila. Sang sahabat hanya mengusap tengkuk dilihat seperti itu.
“Gimana kalau orang yang dia sukai itu aku?” Kamila mendengkus.
“Mulai lagi, deh. Aku pikir kamu sudah sadar,” ujar Kamila menyindir. Zaina tersenyum. Membayangkan Barra menjadi kekasihnya bukan kesalahan, bukan?
Mendapatkan balasan kasih sayang dari orang yang dicintai memang sangat menyenangkan. Zaina sempat merasakan hal itu saat Barra terus menggoda dirinya. Sikap Barra yang berubah-ubah membuat Zaina salah mengerti. Sekarang, dia sama sekali tidak dapat membedakan perasaan Barra padanya.
Terkadang, Barra begitu dekat dan perhatian pada Zaina. Di saat lain, dia mengabaikan keberadaan gadis itu. Seperti yang terjadi saat ini. Zaina sudah beberapa kali mencoba mengirim pesan pada Barra, tetapi tidak ada yang dibalas. Padahal jelas-jelas pesannya terkirim dan dibaca.
Mungkinkah ini pertanda kalau Barra sedang menghindar? Benarkah hanya Zaina yang memiliki rasa suka? Apa Barra akan tetap pergi? Mengapa Barra bersikap keterlaluan? Atau Zaina yang tidak bisa menerima kenyataan kalau Barra tidak menyukainya? Mengapa cinta begitu membingungkan?
Menahan perasaan dalam waktu yang lama ternyata tidak baik. Ada saatnya kita tidak akan mampu memendam lagi dan kehilangan kendali. Sama seperti Zaina. Perhatian Barra membuatnya semakin menggilai pria itu. Dia haus akan cinta yang berbalas. Sang gadis ingin selalu diperhatikan dan dijadikan nomor satu.
“Kamila, apa kamu pikir aku terlalu sayang sama Kak Barra?” tanya Zaina dengan wajah ditekuk. Kamila memutar bola mata.
“Kenapa tanya kalau sudah tahu jawabannya.” Zaina menghela napas.
“Buat mastiin kalau aku memang kayak gitu.” Bukannya bersimpati, Kamila malah tertawa. Hal itu membuat Zaina mengerucutkan bibir.
“Senang kalau aku enggak disukai sama Kak Barra?”
“Bukan gitu, Zai. Aku cuma enggak nyangka kalau kamu bisa sampai titik ini.”
“Titik apa?” tanya Zaina dengan wajah masam.
“Titik di mana kamu ngerasa enggak percaya diri.” Kamila meraih tangan Zaina, lalu mengusapnya perlahan. “Kamu itu Zaina. Cewek paling percaya diri yang aku kenal. Gimana bisa cowok kayak Kak Barra ngalahin kamu? Kamu harus lebih semangat biar bisa menang dari dia. Ngerti?”
“Kayak kamu tahu saja. Memang kamu pernah ngalamin situasi kayak gini?”
“Pernah, dong. Kamila gitu, lho.”
“Oh, ya? Kapan kamu pernah ada di posisi kayak gini? Ceritalah sama aku.”
“Waktu ...,” Kamila sengaja menggantung kalimatnya. “aku baca novel,” ujarnya lantas tertawa terbahak-bahak.
“Apa? Berani banget kamu ngerjain aku di saat kayak gini. Sini kamu!”
Tangan Zaina meraih Kamila dan mulai menggelitik pinggang sang sahabat. Dia tidak memedulikan rengekan Kamila yang meminta untuk dilepaskan. Salah siapa bercanda di saat yang tidak tepat? Sudah tahu dia sedang bersedih karena Barra tidak membalas perasaannya, Kamila malah cari masalah.
Di tempat yang tidak jauh dari kedua sahabat, Barra memperhatikan. Dia menghela napas saat melihat tawa Zaina yang lepas. Sudah dua hari dia menghindari gadis itu. Rasa takut memenuhi hatinya setiap kali bertemu dengan Zaina. Dia khawatir akan memberikan luka pada Zaina setelah kepergiannya.
Harapan Zaina tidak mungkin Barra penuhi. Dia tidak bisa mengungkapkan perasaan sebelum pergi untuk perjalanan bisnis. Mengenai hal ini, dia sangat menekan dirinya. Pendapat pria itu masih sama. Meninggalkan Zania setelah menyatakan cinta bukanlah pilihan yang tepat. Zaina akan lebih terluka.
Untuk saat ini, Barra hanya ingin Zaina menyelesaikan kuliah tepat waktu. Dengan begitu, dia juga bisa lebih tenang. Ketika waktu itu tiba, dia akan melakukan apa pun agar Zaina mau menerimanya. Apa pun. Tidak peduli jika dia harus bertingkah seperti anak muda demi meraih hati sang bidadari.
Tidak tahan menyaksikan tawa bahagia Zaina, Barra membalikkan badan. Akan tetapi, ketika dia mulai melangkah, seseorang menghalangi. Dia mendongak dan melihat Daniel yang berdiri di depannya. Melihat pemuda itu, dia mendengkus. Kenapa Daniel muncul di saat yang tidak tepat?
“Mengintai mangsa diam-diam?” tanya Daniel sambil tersenyum.
“Mangsa? Bukankah kata-kata itu terlalu kasar untuk seorang gadis? Aku tidak tahu kalau mahasiswa cerdas seperti kamu bisa berkata seperti ini.”
“Aku hanya tidak suka kalau ada yang menyakiti Zaina,” kata Daniel tegas.
Perang dimulai. Barra salah menilai Daniel. Dia pikir pemuda itu tidak akan bersikap seberani ini. Meski begitu, dia sudah kebal menghadapi berbagai jenis orang. Jadi, hanya seorang Daniel tidak akan bisa mengintimidasi dirinya. Apa lagi, dia sudah mengetahu bagaimana keluarga Daniel.
Berasal dari keluarga yang sangat berkecukupan dan menjadi putra satu-satunya. Daniel mungkin sudah terbiasa selalu mendapatkan apa dia inginkan. Pemuda itu tidak bisa dianggap remeh. Dia memiliki semua hal yang disukai oleh gadis. Mungkin mulutnya menjadi sedikit berlebihan karena tidak ingin ada yang menyakiti orang yang dia sukai. Pemuda yang sangat menarik.
Sebelum ini, tidak ada yang terang-terangan menyatakan perang dengan Barra. Tentu saja mengenai keputusan untuk menyukai Zaina. Biasanya, kalau pun ada yang suka pada gadis itu, mereka hanya melakukan diam-diam. Bukan sengaja menantang Barra seperti Daniel. Entah apa yang ada di kepala Daniel saat menantang Barra.
“Apa yang Kakak lakuin di sini?”
Suara Zaina membuyarkan semua rencana yang Barra susun. Dia membalikkan badan dan berusaha tersenyum pada gadis itu. Keinginan untuk menghindar terpaksa dia tahan. Kalau dia lari ketika Daniel ada di depan mata, apa yang akan dipikirkan oleh saingannya tersebut? Dia bukan lagi pemuda labil.
“Aku mau menjemputmu. Ada sesuatu yang mendesak.” Barra melirik Daniel dan Kamila bergantian. “Sebaiknya kita berangkat atau kita akan telat.”
“Tapi aku mau ngerjain tugas sama mereka. Apa enggak bisa nunggu sebentar.”
“Mana bisa begitu? Ini sangat mendesak. Kalau tidak pergi sekarang. Mungkin kamu akan sangat kecewa.” Barra menoleh pada Kamila. “Tidak apa-apa, kan, kalau hari ini Zaina tidak ikut? Aku benar-benar harus membawanya pergi.”
Ditanya begitu. Kamila jadi gelagapan. Dia melirik Daniel yang tersenyum.
“Kalau untuk masalah itu, aku enggak masalah. Iya, kan, Niel?”
“Oh, kebetulan aku ke sini memang buat batalin rencana kita. Tiba-tiba aku harus pergi. Gimana kalau kita ganti waktunya besok?”
“Bagus banget. Kalau gitu, aku pergi dulu.”
Zaina menarik Barra dengan cepat. Pria itu memperhatikan tangannya yang digenggam oleh Zaina. Dia kembali dipenuhi oleh keinginan untuk meraih Zaina. Bagaimana ini? Apa yang harus dia lakukan agar hatinya tidak tergoda pada setiap perlakuan Zaina yang berlebihan begini?
Menyukai gadis yang sangat tidak peka seperti Zaina ternyata sangat merepotkan. Ditambah lagi dia juga suka sekali menggoda Barra. Dalam beberapa kesempatan, dia seolah sengaja memancing reaksi Barra sebagai seorang pria. Kalau sudah begitu, bagaimana Barra bisa menahan diri?