“Ngapain kita ke sini?”
Zaina memandang ngeri bangunan yang ada di hadapannya. Dia menoleh pada Barra yang hanya mengangkat bahu sambil menaikkan alis. Harusnya dia tahu kalau Barra mencari, pasti ada yang tidak beres. Apa yang dia lihat sekarang adalah bukti nyata bahwa Barra sama sekali tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh gadis itu.
Pergi ke toko buku di saat seperti ini? Zaina benar-benar tidak mengerti Barra. Ketika hubungan mereka lebih dekat, kenapa Barra justru seolah mengabaikan? Zaina mulai berpikir mungkin apa yang dikatakan Kamila ada benarnya. Hanya dia yang berbunga-bunga. Sementara Barra tidak terpengaruh oleh semua kejadian belakangan ini.
Tidak sesuai harapan, Zaina mendengkus. Dia menatap tajam Barra yang sedari tadi hanya menahan tawa. Kalau bukan karena ada banyak orang, dia pasti sudah memberi pelajaran kepada pria itu. Kabur juga bukan solusi yang tepat. Jika melakukan itu, dia mungkin akan mendapatkan masalah yang lebih besar.
Demi menyelamatkan diri sendiri, sebaiknya Zaina menuruti keinginan Barra. Gadis itu mencoba mengukir senyum meski hatinya dipenuhi rasa kesal. Dia mengalihkan perhatian ke papan nama besar di depannya. Toko Buku Sejuta Ilmu. Jelas sekali kalau tempat ini berguna untuk meningkatkan kecerdasannya.
Hidup memang sungguh adil. Khafi terlahir dengan kecerdasan luar biasa, tetapi kaku dan sulit bergaul. Dzaky hanya mengerti bagaimana cara menghabiskan uang dan melukis. Walaupun begitu, dia sangat mudah diajak berteman. Sementara si bungsu, Zaina, tidak memiliki kecerdasan di bidang tertentu.
Kelebihan Zaina yang sangat menonjol adalah paras cantiknya. Dia juga berhati baik, tidak pernah membedakan orang dalam hal apa pun. Jika saja Khafi dan Barra tidak terlalu ketat menjaga lingkup pertemanan gadis itu, dia pasti sering berkumpul dengan teman-temannya. Mempunyai penjaga seketat mereka sedikit merepotkan.
“Bukankah sebentar lagi kamu ujian? Tidak sampai dua bulan, kan? Kamu harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Jadi, kita akan membeli beberapa bacaan buat kamu. Bagaimana? Aku sudah bersedia mengeluarkan ATM lagi demi kamu.”
“Enggak usah ngelucu. Kita bisa gunakan ATM itu bukan shopping di mal.”
“Kita akan melakukan itu saat kamu selesai ujian nanti. Kalau kamu tidak mendapatkan nilai yang cukup, aku tidak akan mengeluarkan sepeser pun buat kamu. Jadi, belajarlah dengan rajin supaya kamu bisa memerasku.”
“Menyebalkan!” Zaina memasuki toko sambil mengerucutkan bibir. Di belakangnya, Barra mengikuti sambil tertawa pelan.
“Jangan cepat-cepat. Kamu perlu meneliti buku sebelum membelinya.”
“Bukannya itu tugas Kak Barra. Memang aku tahu gimana buku yang aku butuhkan?”
“Ah, benar juga. Aku lupa kalau otakmu itu tidak cukup baik untuk memilih buku yang tepat,” cibir Barra, lalu berjalan cepat menuju ke sebuah rak buku sebelum Zaina memberikan pukulan padanya.
Jujur saja, saat ketahuan Daniel tadi, Barra sudah memutar otak. Dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bahkan ketika menarik Zaina ke dalam mobil, dia masih belum memiliki rencana apa pun. Lalu, dia tiba-tiba membelokkan mobil di depan toko buku tanpa berpikir panjang.
Sebenarnya bukan sesuatu yang mengherankan membelikan buku untuk Zaina. Barra sering sekali melakukan hal ini. Jadi, Zaina pasti tidak akan curiga. Dia berharap kalau Daniel cukup jantan untuk tidak membocorkan kelakuannya tadi. Kalau Daniel yang hanya orang luar bisa melihat perasaannya pada Zaina, apa orang lain juga bisa mengetahui rahasia pria itu?
Menyadari kalau rasa di hatinya semakin sulit dikendalikan, Barra menjadi khawatir. Hari ini, dia sudah menyetujui perjalanan bisnis perusahaan secara resmi. Dua hari menghindari Zaina ternyata tidak berguna. Dia tetap memikirkan gadis itu meski sudah memutuskan untuk tetap memendam perasaan.
Pergi selama itu, apa Barra bisa bekerja dengan baik di sana. Dia memang hanya pergi ke provinsi lain, tetapi tetap saja tidak bisa bertemu dengan Zaina setiap hari. Apa lagi dia akan sibuk dengan kantor cabang baru di sana. Ada banyak hal yang harus dia lakukan agar bisa diterima oleh orang-orang di sekitar sana.
Di pihak lain, Zaina juga akan sibuk dengan kuliahnya. Mengingat kemampuannya dalam belajar kurang baik, Barra sudah memastikan untuk tetap menjaga gadis itu. Kalau perlu, Barra bisa mencari guru terbaik agar Zaina menyelesaikan belajar dengan baik. Biar bagaimana pun, dia bertanggung jawab pada masa depan Zaina.
Sejak menyadari perasaannya pada Zaina, Barra berjanji pada diri sendiri untuk terus memastikan keamanan Zaina. Dia juga bertekad membantu Zaina setiap ada masalah, termasuk dalam hal belajar. Itu sebabnya, dia memiliki kewajiban membimbing Zaina agar bisa menyelesaikan kuliah dengan baik dan tepat waktu.
“Kakak akan benar-benar pergi?” Tangan Barra yang bermaksud mengambil sebuah buku terhenti, dia menoleh dan mendapati wajah mendung Zaina menunduk.
Ini adalah kelemahan Barra. Ketika melihat Zaina berekspresi seperti itu, dia akan menjadi luluh. Kalau bisa, dia ingin melakukan apa pun demi menghilangkan mendung di wajah cantik sang gadis. Sayang, dia harus lebih tegas menghadapi Zaina. Kalau tidak, dia benar-benar akan menjadi pria jahat.
“Kenapa? Merasa sedih karena berpisah denganku?” Zaina mendongak.
“Apa Kakak enggak bisa lihat kalau aku butuh Kakak di sini? Kenapa Kakak harus pergi?” Barra menghela napas, lalu menghadap pada Zaina.
“Karena di sanalah orang tuaku menghabiskan masa kecil mereka. Aku ingin melihat tempat asal mereka dan mengenang mereka berdua. Akhir-akhir ini, rasanya aku mulai melupakan mereka.” Barra mencoba mencari alasan.
Itu bukan alasan yang dibuat-buat. Orang tua Barra memang besar di kota tujuannya kali ini. Sedari dulu, dia tidak pernah punya kesempatan untuk berkunjung ke sana. Jadi, dia bisa mengenal kedua orang tercintanya lebih baik. Ditinggal di saat usianya masih kecil membuat Barra nyaris melupakan mereka.
Untuk menjaga kenangan bersama orang tuanya, Barra bahkan selalu punya rutinitas setiap pagi sebelum keluar rumah, memandangi foto mereka selama lima menit. Dia juga melakukan hal yang sama setelah pulang dari mana pun. Baginya, kehadiran mereka bisa dirasakan saat melihat kenangan itu.
Meski tidak begitu mengingat wajah kedua orang tuanya, Barra tetap ingin mengenang mereka. Biar bagaimanapun, mereka adalah sosok penting dalam hidupnya. Mana bisa dia melupakan mereka begitu saja. Orang tua tetaplah orang tua. Dia harus menghormati dan mendoakan mereka, bukan?
“Jadi, Kakak akan pergi ke ....”
“Iya. Benar sekali. Jadi, jangan berlebihan begitu. Kamu bisa mengunjungiku saat libur kuliah. Bagaimana? Sekarang kamu merasa lebih baik?” Barra bisa melihat senyum Zaina yang mulai mengembang.
“Aku pikir, Kakak akan pergi ke luar negeri."
“Maunya juga begitu. Bertemu dengan wanita-wanita bule yang cantik pasti sangat menyenangkan,” ujar Barra, sengaja ingin membuat Zaina kesal dan berhasil.
“Bukannya Kakak bilang kalau ada yang Kakak sukai. Kenapa masih mau melirik sana sini?” protes Zaina tidak terima. Barra menahan diri sekuatnya agar tidak tertawa.
“Memangnya kenapa? Toh, kami belum pacaran atau menikah. Jadi, aku masih boleh memilih. Iya, kan?” Barra mencondongkan tubuh agar lebih dekat dengan Zaina. “Menurut kamu, wanita seperti apa yang cocok buat aku?”
Senyum di paras ayu Zaina menunjukkan keganjilan. Barra bisa menebak kalau gadis itu akan mengatakan sesuatu yang aneh atau gila. Walau begitu, dia tetap mempertahankan ekspresi serius. Dia tidak ingin mengurangi kesenangan Zaina untuk mengerjainya. Sesekali, dia juga harus mengalah. Benar, bukan?
“Orang gila,” kata Zaina dengan suara yang cukup keras. Barra langsung menjauhkan diri. Beberapa orang yang ada di sekitar mereka sempat menoleh dan memperhatikan. Membuat Barra mengusap tengkuk sambil tersenyum meminta maaf.
Zaina benar-benar tidak mudah diatasi. Barra salah karena memberikan kesempatan pada sang gadis untuk memojokkannya. Padahal dia sudah menduga kalau hal seperti ini akan terjadi. Anehnya, dia tidak keberatan sedikit pun karena sudah dipermalukan begitu. Dia sungguh sulit ditolong lagi.
Demi menjaga harkat dan martabat, Barra sekali lagi meminta maaf pada orang-orang yang masih memandangi. Dia melirik Zaina yang menutup mulut dengan kedua tangan. Tidak sulit untuk mengetahui kalau Zaina sedang sangat senang karena merasa menang dari dirinya. Pria itu tersenyum samar.
Melihat kebahagiaan di kedua mata Zaina menimbulkan getaran di hati Barra. Dia cepat-cepat menoleh ke tempat lain untuk menghindari kesalahan lagi. Wajah Zaina menjadi berkali-kali lipat cantiknya ketika sedang gembira begitu. Bagaimana jika dia kembali terpesona oleh tingkah gadis itu?
“Kamu yakin mau mengajakku perang di sini?” tanya Barra setelah berhasil menguasai diri. Dia mendekati Zaina dan mengurungnya dengan kedua tangan. Kini, gadis itu tidak bisa pergi ke mana-mana.
“Kakak mau apa?” tanya Zaina sambil menoleh ke kanan kiri. Semua orang yang tadi memperhatikan sudah kembali ke aktivitas masing-masing.
“Menurutmu?” Barra maju satu langkah.
“Jangan macam-macam. Kakak mau aku teriak?”
“Coba saja. Mereka mungkin akan berpikir kalau kita sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Bagaimana menurutmu? Apa kita cocok menjadi pasangan?”
“Kakak bercanda? Yang benar saja.” Zaina mencoba mendorong d**a Barra, tetapi pria itu tetap tidak beranjak dari tempat. “Kak Barra,” bisiknya sambil melotot.
“Hmmm.”
“Kita lagi di toko buku, lho. Kakak mau aku nekat lagi?”
Barra berdeham mendengar pertanyaan Zaina. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dia melepaskan gadis itu. Dia sudah menyaksikan kenekatan Zaina dan tidak bermaksud mengulang. Tempat ini lebih ramai dibandingkan supermarket di dekat rumah Hilya. Ditambah lagi, mereka berada di lingkungan yang cukup berbahaya. Bagaimana kalau Khafi, Dzaky, atau Hilya tiba-tiba muncul.
Toko buku yang dikunjungi tidak terlalu jauh dari kampus Zaina, kemungkinan besar yang akan muncul adalah Dzaky. Mata Barra mengawasi sekeliling. Tidak ada orang yang patut dicurigai. Orang yang berjalan di dekatnya hanya orang asing. Tak satu pun dari mereka yang dia kenal.
Hari ini, Barra kembali kehilangan kendali. Dia benci harus mengakuinya, tetapi itu memang benar. Setiap kali Zaina menyangkal perasaan yang dimiliki, dia sangat kesal. Padahal dia sendiri berusaha menyembunyikan. Lalu, untuk apa dia berharap Zaina menunjukkan kasih sayang?
“Baiklah. Kali ini kamu menang. Aku akan memilihkan buku untukku. Sebaiknya kamu duduk atau membaca komik kesukaanmu.” Barra membalikkan badan dan mulai membaca beberapa judul buku di rak di hadapannya. Dia berusaha keras menyingkirkan Zaina dari kepala.
“Aku di sini saja sama Kakak. Aku lagi malas baca komik.” Jawaban Zaina membuat Barra menghela napas. Sepertinya pria itu harus berjuang lebih keras.
“Selama aku pergi, sebaiknya kamu tidak mendekati pria mana pun,” ujar Barra tanpa menoleh. Dia sungguh tidak dapat menahan amarah mengingat perkataan Daniel di depan pintu kelas Zaina tadi.
“Aku rasa Kakak salah. Bukan aku yang ngejar mereka, tapi mereka yang ngejar aku.”
“Apa pun itu, jangan tertarik sama mereka.” Barra mengambil sebuah buku, lalu memberikannya pada Zaina yang langsung mengerucutkan bibir.
“Kenapa aku harus nurutin Kakak?”
“Kamu lupa kalau kakakmu yang melarang kamu untuk berpacaran selama kuliah?” tanya Barra meminjam nama Khafi. Padahal dia yang mengusulkan hal itu pada sahabatnya. Cara jitu untuk melindungi orang yang disukai.
“Iya, iya. Lagian, dekat belum tentu pacaran, kan?”
“Jangan coba-coba, Zai. Aku dan Khafi akan menjaga kamu lebih ketat. Lagi pula, kalau terlalu dekat dengan pria, kamu mungkin bisa jatuh cinta dan ingin berpacaran.”
“Sepertinya memang gitu,” gumam Zaina. Barra yang baru saja hendak mengambil sebuah buku, menoleh pada gadis itu lagi.
“Kamu bilang apa?”
“Bukan apa-apa. Aku baca komik saja. Nungguin Kakak di sini bikin aku bosan.”
Tanpa menunggu persetujuan Barra, Zaina melangkah cepat meninggalkan pria itu. Dia merenungkan kalimat Barra selama berjalan. Barra benar. Dia bahkan sudah jatuh hati pada pria yang sangat dekat dengannya. Untuk apa Barra mengkhawatirkannya? Toh, Barra yang telah membuatnya mengalami perasaan yang asing. Barra juga yang sudah menjebak dirinya dalam cinta ini. Bisa-bisanya dia berkata begitu. Sungguh menyebalkan.