Bab 34: Kakak Ipar?

1831 Kata
Barra masih memandangi tempat Zaina berbelok. Dia menghela napas dan terdiam beberapa saat. Firasatnya tidak begitu baik. Tentu saja dia mendengar gumaman Zaina tadi, tetapi terlalu pengecut untuk mengakui. Gadis seperti Zaina memang tipe yang mudah menyukai seseorang yang sangat dekat dengannya. Hal itu juga yang membuat Barra sedikit ragu untuk maju. Dia khawatir jika Zaina hanya “merasa” menyukai dirinya, bukan benar-benar suka. Menjaga jarak dan waktu untuk Zaina adalah pilihan terbaik. Dengan perpisahan sementara, Zaina akan lebih mudah menentukan hati dan perasaan. Meski ada kemungkinan Barra akan kecewa, dia tidak peduli. Kebahagiaan Zaina adalah segalanya bagi pria itu. Ketika nanti Zaina ternyata tidak menyukainya, dia mungkin bisa menumbuhkan rasa. Untuk saat ini, dia hanya ingin menikmati wajah menggemaskan Zaina saat digoda. “Masih memperhatikan Zaina?” Nyaris saja Barra menabrak rak yang ada di depannya saat mendengar suara yang sangat dia kenal. Dia menoleh dan langsung terbelalak. “Apa yang kamu lakukan di sini?” “Memangnya apa lagi yang bisa aku lakuin di sini? Beli bukulah.” Mata Barra memperhatikan Dzaky yang menyeringai sambil mengamati dirinya. Melihat dari ekspresi wajah itu, dia bisa menebak kalau Dzaky sudah memergoki aksinya. Yang lebih parah, Dzaky mungkin juga sudah mengetahui kalau dia menyukai Zaina. Hari yang sangat tidak beruntung baginya. “Kamu mau apa?” tanya Barra tanpa basa-basi. “Sepaket cat baru yang lengkap?” Mata Dzaky berbinar-binar. “Kamu mencoba memerasku?” “Itu enggak banyak, kan? Pelit sekali, sih. Atau Kak Barra mau berita ini sampai ke telinga Kak Khafi?” Barra mencibir. “Sejak kapan kamu akur sama kakakmu?” tanya Barra sambil menyilangkan tangan. “Aku bisa lakuin apa pun demi alat lukis yang aku mau.” “Aku bisa membelikanmu kalau kamu meminta dengan baik.” “Kurang baik apa coba aku? Biar bagaimana mana pun, aku akan menjadi kakak ipar Kak Barra nanti.” Mata Barra melebar mendengar kalimat Dzaky. “Apa maksud kamu?” Barra masih berusaha menghindar. “Kakak pikir aku sebodoh Zaina. Tatapan Kak Barra itu sudah jelas sekali. Enggak usah pura-pura di depanku. Aku sudah pengalaman masalah begini.” “Benarkah? Jadi, kamu mengancamku sekarang?” “Mana bisa hal kayak gini dibilang ngancam. Aku cuma mau kita bertukar keuntungan. Aku nyembunyiin perasaan Kakak sama Zaina. Kakak beliin aku cat. Cukup adil, kan?” “Sekarang kamu sedang tawar menawar denganku? Jangan bercanda. Aku tahu semua trik licikmu itu. Kalau kamu lupa, rahasiaku yang aku pegang jauh lebih banyak. Bagaimana? Masih berani mengancam?” Dzaky menatap tajam Barra yang tersenyum penuh kemenangan. Dia tahu kalau mengalahkan Barra adalah sesuatu yang nyaris mustahil. Sejak berjalan menghampiri Barra tadi, dia sangat sadar akan hal itu. Meski begitu, dia tetap memilih untuk mengambil risiko diceramahi panjang lebar. Selain kecerdasan luar biasa, Barra seakan memiliki mata di mana-mana. Dia mengetahui semua hal yang dikerjakan Dzaky dan Zaina. Bukannya tidak melihat berapa banyak orang yang mengawasi, Dzaky hanya malas mengakui. Sampai kapan Khafi akan terus menganggap mereka anak kecil? Rasanya tidak percaya kalau Barra ternyata menyukai Zaina. Dzaky sungguh tidak pernah memikirkan hal itu. Bagi pria dewasa yang memiliki segalanya seperti Barra, aneh jika jatuh hati pada sang adik. Dua orang yang berbeda karakter. Dzaky tidak bisa menemukan alasan mengapa Barra bisa menjatuhkan pilihan pada Zaina. Kalau saja tidak melihat langsung, Dzaky juga tidak akan percaya. Dia pikir, Barra hanya dekat dengan Zaina karena perasaannya sebagai seorang kakak. Benar-benar tidak menduga kalau hal seperti ini bisa terjadi. Zaina sangat beruntung karena disukai oleh pria sebaik Barra. “Ayolah, Kak. Uangku sudah habis buat jalan kemarin,” rengek Dzaky. “Jalan? Kamu yang bersenang-senang, kenapa aku harus ikut menanggung akibatnya?” Barra menghela napas. “Jadi, sebaiknya kamu menabung untuk membeli peralatan yang kamu inginkan. Kurangi acara tidak berguna dengan teman-temanmu. Kamu sudah dewasa, apa tidak bisa lebih bertanggung jawab?” “Kakak enggak capek setiap ketemu aku selalu ceramah?” “Wah! Mau mulai lagi?” Barra maju selangkah. “Kamu sudah menyelesaikan karya untuk ujian akhir?” Dzaky berdeham. “Aku kekurangan bahan. Makanya aku minta bantuan Kakak buat beli cat itu. Gimana? Kakak bakal beliin, kan?” ujar Dzaky sambil mengedip-ngedipkan mata. Barra bergidik melihat kelakuan kekanakan itu. “Minta saja pada kakakmu. Lagi pula, apa kamu sudah menghabiskan semua uang yang dia berikan padamu?” Dzaky meringis sambil mengusap tengkuk. “Kakak tahu, kan, kalau mahasiswa seni kayak kami harus punya inspirasi? Jadi, aku pergi ke banyak tempat buat cari inspirasi tugasku.” “Ah, pergi jalan-jalan untuk mendapatkan inspirasi? Bagus sekali.” Barra tertawa pelan sesaat, lalu memasang wajah serius. “Kamu pikir aku percaya? Kamu hanya menghabiskan waktu tidak berguna bersama teman-temanmu.” “Bukan gitu, Kak. Kami hanya bosan.” “Siapa yang sedang kamu bohongi sekarang?” tanya Barra tajam. Dzaky menatapnya sekilas, kemudian menunduk dalam-dalam. “Oke. Aku ngaku. Aku memang salah. Jadi, Kakak bakal beliin aku cat itu, kan?” “Jangan mimpi. Minta saja pada Khafi.” Giliran Dzaky yang menatap tajam Barra. Dia tidak mengerti mengapa sekarang Barra lebih susah dibujuk. Padahal Barra sangat menuruti semua kemauan Zaina. Setelah tahu kalau Barra menyukai sang adik, akhirnya dia sadar. Inilah alasan Barra terus mengabulkan keinginan-keinginan Zaina. Bahkan untuk hal-hal yang di luar nalar. Cinta memang bisa mengubah seseorang. Barra yang sangat perhitungan bisa memberikan segalanya pada Zaina tanpa berpikir dua kali. Dzaky mendengkus begitu melihat senyum lebar Barra. Dia harus mencari cara agar Barra mau membelikannya cat yang diinginkan. Meminta uang tambahan pada Khafi sama saja dengan perang. Dia sudah pernah mencoba sekali dan tidak berniat mengulangi lagi. Khafi itu begitu dingin dan tegas. Dia tidak akan menerima alasan apa pun untuk setiap kesalahan yang dilakukan oleh seseorang. Termasuk kedua adiknya, Dzaky dan Zaina. Kemudian, Dzaky mendapatkan ide saat melihat Zaina yang berjalan ke arahnya. Dia melirik Barra yang juga menyadari kehadiran gadisnya. Pria itu mendengar tanda peringatan bahaya saat menyadari senyum Dzaky. Tampaknya dia terlalu meremehkan orang yang mengaku sebagai kakak ipar tersebut. “Halo, Zai. Kamu enggak milih satu buku pun?” tanya Dzaky ketika melihat Zaina tidak membawa apa-apa. Dia masih menyunggingkan senyum. “Kakak pikir aku bisa milih semua buku yang aku butuhkan?” Zaina bertanya balik dengan wajah yang ditekuk. “Oh, iya. Aku lupa kalau kamu itu enggak tahu apa-apa.” “Mengibarkan bendera perang?” Zaina mengepalkan tinju di hadapan sang kakak. Dzaky melirik Barra yang hanya diam. “Aku justru mau bantu kamu,” kata Dzaky. Dia melangkah mendekati Zaina. “Kamu mau tahu siapa cewek yang disukai Kak Barra?” “Sebaiknya jangan mengatakan apa pun,” sela Barra memperingatkan. Dzaky menoleh padanya sambil tersenyum miring. “Kenapa? Ini kabar baik. Bukannya harus diumumkan?” “Kakak tahu siapa cewek yang disukai sama Kak Barra?” tanya Zaina memastikan. “Tentu saja. Aku baru saja melihat mereka sedang bermesraan.” Zaina menatap Barra penuh selidik. Kedua pipinya menggembung beberapa saat. Dia mulai menyesal kenapa harus meninggalkan Barra. Kalau saja terus bersama pria itu, mungkin dia sudah melihat sendiri bagaimana rupa wanita yang disukai oleh pujaan hatinya. Kenapa dia tiba-tiba merasa sesak? Melihat Barra yang hanya diam sambil memandang Dzaky, sepertinya tidak ada kebohongan di sana. Bodoh sekali Zaina karena sempat mengira Barra menyukai dirinya. Jelas-jelas Barra mengatakan kalau semua yang dilakukan hanya sebagai bentuk tanggung jawab sebagai kakak. “Siapa dia?” tanya Zaina serius. Dia mengalihkan perhatian penuhnya pada Dzaky. “Kamu benaran enggak tahu?” Dzaky sengaja mengulur waktu agar Barra bisa bertindak sesuai keinginannya. Dia mulai kesal karena Barra yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan melakukan hal itu. “Enggak usah mutar-mutar, deh. Jadi, siapa cewek itu?” “Kenapa kamu enggak tanya langsung? Kalau kamu lebih berani, mungkin Kak Barra bakal bilang ke kami siapa cewek yang dia sukai.” Mendengar saran dari Dzaky, Zaina mengerucutkan bibir. Dia sudah pernah melakukan itu dan tidak berhasil. Mengapa harus Dzaky yang memergoki Barra bermesraan dengan wanita yang disukai? Mengapa bukan dia saja? Namun, dia menggeleng keras. Kalau dia yang menyaksikan, apa dia masih bisa berdiri di depan Barra seperti sekarang? Dia pasti memilih lari dan menangis di kamar. “Aku sudah pernah ngelakuin itu, tapi Kak Barra enggak mau ngasih tahu.” “Oh, ya? Mungkin Kak Barra malu karena cewek yang dia sukai itu enggak menarik sama sekali. Cuma cewek biasa yang beruntung bisa dapatin hati Kak Barra.” “Kamu tidak akan berhenti?” tanya Barra menyela. “Kakak enggak mau kasih tahu Zaina yang sebenarnya?” “Jangan pernah melakukan apa yang sedang kamu pikirkan saat ini!” kata Barra memperingatkan. Dzaky tersenyum lebar. “Aku bukan Zaina. Aku enggak bakal mempan sama tipuan Kakak.” Dzaky menoleh pada Zaina. “Dengar aku, Zai. Cewek yang Kak Barra sukai itu adalah ....” “Bukannya kamu mau membeli cat untuk membuat karya akhir? Ayo, aku belikan.” Dengan cepat, Dzaky membalikkan badan sepenuhnya pada Barra. Dia tersenyum sangat lebar, nyaris memperlihatkan semua gigi. Barra mengerutkan kening melihat tingkahnya. Tidak ada pilihan lain selain membungkam mulut Dzaky. Barra tidak mau mengambil risiko dan membuat Zaina mengetahui perasaannya. Sementara Zaina melongo menyaksikan cara Barra dan Dzaky bertatapan. Dia belum pernah melihat pemandangan seperti ini. Sejak kapan Barra sangat perhatian pada Dzaky? Biasanya Dzaky akan mendekati Barra kalau ada maunya. Zaina merasa kali ini juga sama. Sang kakak pasti ingin memeras Barra. Zaina sungguh tidak mengerti mengapa Barra begitu baik. Untuk apa menuruti Dzaky yang hanya menghabiskan uang untuk bersenang-senang. Lalu, dia sadar kalau dia juga melakukan hal yang sama. Biarpun begitu, dia tidak bisa terima jika Barra juga menuruti keinginan Dzaky. “Kakak meras Kak Barra lagi?” tanya Zaina sambil menyipitkan mata. “Aku? Meras Kak Barra? Enggak, kok. Coba kamu tanya Kak Barra, apa dia terpaksa beliin aku cat itu.” Dzaky mengedikkan dagu ke arah Barra. “Kenapa, sih, Kakak nurutin maunya Kak Dzaky?” “Kenapa? Aku juga menuruti keinginanmu, kan? Apa salahnya kalau aku sesekali memenuhi kemauan Dzaky? Dia juga bukan orang lain, kan? Dia kakak kamu.” Kalimat terakhir Barra membuat Dzaky tertawa. Dia refleks menutup mulut begitu sadar kalau sedang berada di toko buku. Hanya saja, dia merasa kalau Zaina sungguh keterlaluan. Dengan petunjuk yang begitu jelas, bagaimana bisa gadis itu tidak mengetahui perasaan Barra padanya. Sang adik benar-benar polos. Untung saja ada Barra yang nanti akan mendampingi Zaina. Dzaky bisa merasa tenang karena percaya Barra bisa melindungi adiknya dengan baik. “Kenapa kamu tertawa?” protes Barra tak suka. Dzaky berdeham dan berusaha untuk menahan tawa. Dia tidak mau Barra berubah pikiran dan malah pergi. “Enggak. Aku cuma ... cuma apa, ya? Cuma enggak ngerti saja. Kenapa aku bisa punya adik seperti Zaina. Polos sekali.” Saat mengucapkan dua kata terakhir, Dzaky sengaja menoleh pada Zaina. Menyadari kalau Zaina mungkin akan meradang, Barra menarik tangan gadis itu dan mengajaknya ke bagian alat lukis. Saat ini, dia harus segera menyingkirkan Barra. Setelah itu, dia akan merasa sedikit tenang. Jika Dzaky terlalu lama di sini, dia bisa berada dalam bahaya. Apanya yang kakak ipar coba?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN