“Kenapa masih marah?” Barra mengikuti langkah Zaina yang sangat cepat. Saat marah, gadis itu memang bisa berubah secara tiba-tiba.
Sungguh. Barra tidak mengerti di mana letak kesalahannya. Dia hanya membelikan Dzaky sepaket cat untuk membuat karya akhir di kampus. Kenapa Zaina sampai semarah itu? Apa dia merasa iri karena tidak dibelikan? Tidak mungkin. Zaina sudah cukup lama tidak menyentuh kanvas.
“Ayolah, Zai. Kenapa kamu marah? Aku jadi bingung harus minta maaf karena apa.”
“Kakak benaran enggak tahu?” Zaina mendadak berhenti dan membuat Barra nyaris menabraknya. Barra berdecap karena perbuatan Zaina itu. Meski begitu, dia berusaha memasang senyum agar sang gadis tidak merasa kesal lagi.
“Karena aku membelikan Dzaky cat itu, kan?” tanya Barra sambil mengusap tengkuk. Zaina menghela napas, lalu mengalihkan perhatian dari Barra.
“Kenapa Kakak harus beliin Kak Dzaky cat-cat itu?”
“Karena dia kakak kamu. Dia juga sudah seperti adikku.”
“Juga?” ulang Zaina sambil mengadu gigi-giginya. Dia memberikan penekanan pada kata itu agar Barra bisa mengerti apa yang dia maksud.
Zaina benar-benar meradang sekarang. Jadi, Barra memang sungguh menganggapnya sebagai adik, sama seperti Dzaky. Dia sudah menemukan kebenaran ini diucapkan oleh Barra berkali-kali. Tetap saja, dia merasa sangat sedih saat kembali mendengar hal ini dari mulut pria itu.
Menerima kenyataan kalau pria yang kalian sukai tidak membalas perasaan kalian sangatlah sulit. Itulah yang Zaina rasakan sekarang. Dia sudah menekankan pada dirinya sendiri bahwa jodoh sudah ditentukan oleh Allah. Jadi, untuk apa dia bersedih karena mengetahui Barra menyukai wanita lain.
Tidak berhasil. Zaina menggelengkan kepala berkali-kali. Sekeras apa pun dia menyangkal hal itu, fakta tidak akan pernah berubah. Dia hanya adik kecil dalam pandangan Barra dan tidak akan berubah. Mengapa rasanya begitu menyakitkan saat mengakui kenyataan ini?
“Ya, ampun, Zai. Aku juga sudah membelikanmu buku, kan? Ada lima buku. Apa masih kurang? Kita bisa membelinya lagi. Tadi aku menawarkan ingin membeli komik atau tidak. Kamu bilang kamu tidak mau. Lalu, salahku di mana?”
“Kalau Kakak mau ngajak jalan cewek yang Kakak sukai, kenapa harus ngajak aku? Aku cukup pengertian, kok. Aku bisa pergi kalau Kakak memang pengin bermesraan sama dia.” Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Zaina.
Kata-kata Zaina yang cukup panjang membuat Barra terdiam. Dia memperhatikan Zaina yang kini menyilangkan tangan di d**a sambil menatapnya penuh amarah. Jadi, itu yang dipermasalahkan oleh Zaina sejak tadi. Ternyata sang pujaan hati sedang cemburu. Lucu sekali menyadari jika Zaina iri pada dirinya sendiri.
Barra mulai memaki Dzaky dalam hati. Ucapan pemuda itu sudah membuat Zaina salah paham. Untuk apa Dzaky berkata kalau dia memergoki Barra bermesraan dengan seseorang. Barra sungguh ingin meremas mulut Dzaky. Omong kosongnya bisa menimbulkan masalah bagi kemajuan hubungan antara Barra dan Zaina.
Lagi pula, apa Zaina tidak memahami orang seperti apa Barra itu. Bagaimana mungkin pria seperti dia bermesraan di tempat umum? Dia pria dewasa yang bisa menjaga perilaku. Senyumnya mengembang begitu menyadari yang dia lakukan pada Zaina beberapa waktu lalu di toko buku.
Apa memojokkan Zaina di rak buku termasuk menjaga perilaku? Namun, saat berhadapan dengan orang yang disukai, sulit sekali mengontrol keinginan. Seperti yang Barra alami. Dia kehilangan semua kehormatan dan tata krama yang dijunjung tinggi-tinggi setiap melihat betapa menggemaskannya Zaina. Lalu, tiba-tiba saja dia sudah kehilangan kendali. Jadi, siapa yang salah?
“Kamu lagi cemburu?” tanya Barra, tidak bisa menahan tawa. Zaina mendelik melihat kelakuan Barra yang berani menertawakannya.
“Kakak tertawa?”
“Maaf. Kakak tidak bermaksud begitu. Hanya saja, kamu terlihat lucu saat cemburu.”
“Aku bukannya cemburu. Aku cuma sebal karena Kakak ngajak orang lain waktu kita jalan. Kalau mau kencan, kencan saja. Ngapain ngajak aku?”
“Yang bilang aku kencan itu siapa?”
“Jelas-jelas tadi Kak Dzaky bilang kalau Kakak lagi mesra-mesraan sama cewek.”
Senyum Barra mengembang melihat jejak-jejak cemburu di wajah Zaina. Dia tidak menyangka kalau saat cemburu Zaina akan bertingkah seperti ini. Jika mereka benar-benar berkencan, sepertinya dia harus banyak bersabar. Apa bedanya dengan yang dia lakukan selama ini?
Sikap Zaina yang terkadang masih sangat kekanakan sering membuat Barra mengelus d**a. Pria itu tidak mengerti bagaimana bisa Zaina bersikap begitu di usianya yang sudah tergolong dewasa. Mungkin ini akibat karena dia terlalu memanjakan Zaina sejak kecil.
Meski begitu, Barra sama sekali tidak keberatan dengan semua sifat yang dimiliki oleh Zaina. Gadis yang dia sukai memang sudah manja dari awal. Jadi, untuk apa dia mempermasalahkan hal itu. Stok kesabarannya sangat luas untuk menghadapi ketidakdewasaan Zaina selama bertahun-tahun ke depan.
“Sudahlah. Sepertinya kamu lapar. Kita makan dulu. Setelah itu, aku antar kamu pulang.” Barra memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah ini. Kalau dia terus menggoda Zaina, gadis itu akan benar-benar marah padanya.
“Aku enggak mau makan. Aku enggak mau pulang,” ujar Zaina sambil mengentak-entakkan kaki. Dia lantas berjalan, bukan, lebih tepatnya setengah berlari menuju tempat mobil Barra diparkir.
Begitu melihat mobil milik Barra, dia berniat untuk segera masuk dan bersembunyi. Kekesalan yang sudah berada di puncak kepala bertambah saat dia tidak bisa membuka pintu mobil. Dia menoleh pada Barra yang berjalan begitu santai. Pria itu pasti sengaja melakukan ini padanya.
“Buruan buka. Panas tahu.” Zaina mengibas-ngibaskan tangan ke wajahnya. Cuaca menjelang siang memang sangat terik.
“Makanya jangan terburu-buru. Sudah tahu kalau kunci mobilnya aku bawa. Masih juga nekat buka pintu mobil,” kata Barra begitu sampai di hadapan Zaina.
“Mau buka enggak?” tanya Zaina tegas.
“Kita makan, ya. Kalau kamu tidak mau makan, aku tidak akan membukakan mobil.”
“Kalau begitu, aku akan naik taksi.” Barra menarik tangan Zaina yang berniat pergi. Dia tidak mengira kalau Zaina akan serius menanggapi ucapannya.
“Aku hanya bercanda.” Barra menekan kunci mobil. “Ayo, masuk.”
***
“Gimana, dong, Mil?” tanya Zaina dengan wajah mendung. Kedua matanya sudah mulai berkaca-kaca. Dia sungguh tidak dapat menahan sesak yang sejak tadi mengimpit d**a. Rasanya ada sesuatu yang mendesak ingin dikeluarkan.
“Sabar, ya, Zai. Aku sudah bilang, kan, jangan terlalu tinggi terbangnya. Kalau jatuh bakal sakit. Nah, sekarang baru kerasa, kan?”
“Kok, kamu malah nyalahin aku, sih? Aku ini lagi sedih, hibur, dong. Bukan dipojokin gini. Tega banget kamu. Kamu itu temanku atau bukan?”
Wajah Zaina semakin ditekuk. Dia sudah hampir menangis, tetapi ditahan. Untuk apa menangisi hal seperti ini? Lagi pula, dia nyaris tidak pernah mengeluarkan air mata selain saat mengingat orang tuanya. Mengapa dia harus menangis karena seorang pria? Memangnya Barra sepenting itu?
Ada satu sisi hati Zaina yang memberontak. Dia dengan berat mengakui bahwa Barra adalah orang paling penting dalam hidupnya. Pria itu sudah menemani dirinya sepanjang tahun. Bagaimana bisa Barra tidak “sepenting itu”? Meski begitu, dia tidak Sudi menangis hanya karena masalah percintaan seperti ini.
Kamila yang tengah menepuk-nepuk punggung Zaina mengamati sang sahabat yang mengerucutkan bibir. Dia sudah membaca banyak novel, tetapi masih belum memahami apa itu cinta. Banyak yang bilang kalau cinta bisa membuat seseorang bahagia. Lalu, apa yang dia saksikan sekarang. Dia justru melihat Zaina yang tulus mencintai Barra sangat sedih dan tersakiti.
“Sudahlah. Enggak usah nangis gitu,” ujar Kamila. Dia menepuk pelan pundak Zaina.
“Siapa yang nangis?” Kamila menunjuk pipi Zaina yang sudah basah.
Tampaknya gadis berambut pendek memang tidak menyadari kapan dia mulai menangis. Begitu tahu kalau sampai mengeluarkan air mata, dia menghapusnya dengan gerakan cepat. Matanya menyelidiki sekeliling. Dia tidak melihat keberadaan Barra di mana pun. Baguslah.
Akan sangat menyedihkan kalau Barra sampai tahu Zaina menangisi dirinya. Pria itu pasti tidak akan berhenti tertawa. Zaina bisa jadi bahan ejekan Barra selama berhari-hari, atau bahkan berbulan-bulan. Barra selalu menemukan celah di mana kelemahannya diperlihatkan.
Setelah kembali dari toko buku tadi, Zaina langsung meminta Barra mengantarnya ke kampus. Dia menolak ajakan Barra untuk makan dulu. Bagaimana bisa dia makan dalam kondisi terbakar api cemburu? Bisa-bisanya Barra bermesraan dengan wanita yang dia sukai saat mengajak Zaina. Keterlaluan sekali.
“Kak Dzaky enggak bohong, kan? Atau dia salah lihat?”
“Enggak mungkin, Mil. Kak Barra juga enggak nyangkal waktu Kak Dzaky bilang gitu. Berarti dia memang ngaku, kan, kalau lagi mesra-mesraan sama cewek?”
“Masuk akal juga.” Kamila mangut-mangut. “Gimana kalau kamu mastiin ke Kak Dzaky?” Dia mencoba mengusulkan jalan keluar yang terlintas di kepala.
“Kamu sadar apa yang barusan kamu bilang itu?”
“Kenapa? Memang apa salahnya mastiin soal ini ke kakakmu?”
“Aku juga pengin mastiin ini, Mil. Tapi, kalau harus tanya sama Kak Dzaky, aku enggak mau. Aku bisa kena masalah kalau sampai nanyain hal ini.”
“Aku enggak ngerti maksud kamu.”
“Kak Dzaky itu tipe orang yang enggak mau ngasih apa pun secara percuma.”
“Tapi kamu, kan, adiknya. Masa dia juga bakal perhitungan sama kamu?”
“Kamu enggak percaya? Wajar, sih. Kamu enggak kenal sama kakakku, jadi kamu enggak bakal percaya hal ini. Dia itu Cuma kelihatan keren di luar. Padahal dalamnya bobrok banget. Lebih baik kamu enggak terlibat sama dia.”
Kamila meringis mendengar Zaina menjelekkan sang kakak. Dia memang sudah mendengar kalau hubungan Zaina dengan Dzaky tidak begitu akur. Mereka sering saling ejek dan saling berebut. Mungkin karena jarak usia mereka yang hanya dua tahun. Jadi, mereka lebih mirip teman ketimbang adik-kakak.
Selama mengenal Zaina dua tahun ini, Kamila belum pernah sekali berbincang dengan Dzaky. Dia hanya melihat pria itu dari jauh. Atau kalaupun tidak sengaja bertemu, dia hanya tersenyum singkat. Jadi, dia memang tidak mengenal Dzaky dengan baik. Lagi pula, untuk apa dia dekat dengan pemuda itu?
“Kamu haus? Mau aku beliin minum?” tawar Kamila mengalihkan pembicaraan. Masalah Barra terlalu menguras tenaga. Dia butuh pendingin agar bisa tetap berpikir waras. Begitu juga dengan Zaina yang sudah berasap sejak kedatangannya ke kelas.
“Boleh. Aku seperti biasa, ya.”
“Oke. Kamu tunggu sebentar. Aku ke kantin sebentar.”
Sebelum pergi, Kamila memandangi Zaina yang mulai memainkan telepon seluler. Dia menghela napas. Saat ini, Zaina sangat membutuhkan hiburan untuk menghilangkan semua dukanya. Sebagai sahabat yang baik, dia akan menemani Zaina melewati masa sulit bersama.
Saat melewati pintu kelas, Kamila nyaris terjengkang. Beruntung ada tangan yang menahan sehingga dia tidak harus mempermalukan diri. Ada begitu banyak orang di depan ruangan itu. Kalau dia sampai terjatuh, itu akan sangat memalukan. Dia mendongak untuk berterima kasih, tetapi malah terkejut.
“Kak Dzaky?”
“Iya. Ini aku. Kenapa?” Dzaky melepaskan tangan Kamila yang masih dipegangnya.
“Makasih. Tadi aku buru-buru sampai enggak memperhatikan jalan.”
“Lain kali hati-hati. Kalau jatuh, kan, bakalan sakit.” Kamila meringis. “Zaina ngapain lagi itu?” Dzaky melongok ke dalam kelas yang hanya berisi Zaina.
“Bukannya Kakak sudah tahu?” Kamila balik bertanya. Dzaky menoleh padanya.
“Kamu ... suka baca novel, kan?” tanya Dzaky tiba-tiba. Kamila mengerutkan kening mendapatkan pertanyaan yang tidak biasa itu.
“Aku memang suka baca novel. Terus kenapa?” Dzaky tertawa. Dia bertepuk tangan dan membuat beberapa mahasiswa memperhatikan.
“Aku salut banget. Kamu dan Zaina sama saja.” Selesai berkata begitu, Dzaky pergi dan membuat Kamila terpaku di tempat. Apa maksud Dzaky?