“Kenapa jawabannya banyak yang salah?” tanya Barra setelah memeriksa lembar jawaban latihan Zaina.
Untuk memastikan hal itu, Barra kembali meneliti pertanyaan dan jawaban yang ada. Dia bahkan mengulang dua kali. Tidak ada yang salah dengan penilaiannya. Jawaban Zaina memang salah. Padahal Zaina mengerjakan tepat waktu. Barra bahkan memberikan tambahan waktu setengah jam.
Merasa ada yang tidak beres, Barra menoleh pada Zaina. Dia cukup terkejut saat menyadari kalau Zaina tengah menatapnya dengan tajam. Keningnya berkerut mendapatkan perlakuan seperti itu. Dalam kesempatan ini, bukankah dia yang semestinya marah? Kenapa justru Zaina yang mengeluarkan tanduk?
Apa lagi yang sekarang ingin Zaina perdebatkan? Ujian sebentar lagi dan hasil yang diinginkan Barra malah semakin menjauh. Kalau sudah begini, Barra yang harus lebih pengertian. Dia menghela napas, lalu duduk di samping sang gadis yang masih belum mengalihkan tatapannya.
“Ada apa ini? Apa kamu tidak mengulang pelajaran belakangan ini? Atau kamu sedang tidak berkonsentrasi saat mengerjakan soal tadi?”
Masih belum ada jawaban dari Zaina. Barra berdeham saat gadis itu masih saja melihatnya dengan tatapan mengerikan. Dia tidak merasa berbuat salah. Mereka juga tidak berselisih pendapat sebelum ini. Jadi, apa yang membuat Zaina bersikap begitu padanya? Apa secara tidak sengaja dia melukai Zaina?
“Bicaralah. Aku akan mendengarkan.”
“Kalau aku gagal dalam ujian, apa Kakak akan tetap pergi?” tanya Zaina tiba-tiba. Barra mengerjap, tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu.
“Kenapa? Masih belum rela berpisah?” Barra mencoba mencairkan suasana. Zaina menggembungkan pipi, lalu mulai mencoret-coret buku tulis di meja.
“Aku sudah biasa ngelihat Kakak tiap hari. Aneh saja kalau Kakak tiba-tiba enggak ada,” ujar Zaina. Dia menghela napas beberapa kali, masih asyik membuat garis-garis tidak beraturan di kertas.
“Jangan buat aku ragu, Zai. Aku hanya pergi sebentar. Bukannya aku sudah bilang, kita bisa ketemu kapan saja. Kalau aku terlalu sibuk, kamu bisa terbang ke tempatku. Semudah itu,” kata Barra, lebih kepada dirinya sendiri dibandingkan pada Zaina.
Bukan sesuatu yang mudah meninggalkan Zaina selama dua tahun. Meski begitu, Barra tidak mau gadis itu membuat keputusannya berubah. Dia memperhatikan Zaina yang menggambar pola tak beraturan di buku yang baru dibelikannya. Sifat kekanak-kanakan Zaina terkadang sedikit menyulitkan sang pria.
Bukan sedang mempermasalahkan Zaina yang tidak bisa bersikap dewasa. Barra hanya merasa berat jika Zaina terus memengaruhinya seperti ini. Lihatlah betapa polos wajah cantik Zaina saat menggabungkan pipi begitu. Bagaimana mungkin dia tega menyakiti Zaina yang berekspresi semacam itu?
Jadi, Barra menghela napas, lalu meraih tangan Zaina perlahan. Dia mengelus pelan punggung tangan Zaina dengan ibu jarinya. Menyenangkan sekali bisa melakukan hal ini. Zaina yang merasakan hal itu menoleh dan menatapnya dengan wajah mendung. Tanpa diduga, sang gadis menghambur ke dalam pelukannya.
Entah bagaimana Barra harus bereaksi dengan tindakan Zaina. Untuk beberapa saat, dia hanya terdiam. Kemudian, dia mengerjap dan mulai membalas pelukan sang pujaan hati. Dia menepuk-nepuk lembut punggung Zaina penuh sayang, lalu meletakkan dagu di atas kepala gadis itu.
Ada perasaan hangat ketika Zaina mengeratkan pelukan. Barra tersenyum menyadari betapa Zaina selalu ingin bersama dirinya. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya membiarkan Zaina menikmati waktu seperti ini. Mungkin sang gadis benar-benar bersedih karena rencana kepergiannya.
“Ngomongnya memang enak. Aku yakin kalau Kakak bakal sibuk di sana dan ngelupain aku,” ujar Zaina sambil mendongak. Tangannya masih melingkari pinggang Barra. Dia masih belum rela melepas pria yang disukai itu.
“Gimana kalau Kak Khafi nyiksa aku lagi setelah Kakak pergi?” Barra tertawa. “Aku serius. Aku enggak mau kalau harus diajar sama Kak Khafi.”
“Dia itu kakakmu, Zai. Lagi pula, sekarang dia sudah banyak berubah.”
“Tetap saja. Kak Khafi masih sedikit kaku. Dia cuma bersikap lembut sama Kak Arisha. Apa menurut Kakak dia bakal baik sama aku?”
“Entahlah. Aku tidak yakin. Kamu mau aku mencarikanmu guru privat?”
“Lupakan saja. Aku enggak mau guru lain selain Kakak.”
“Jangan keterlaluan begitu. Bukannya kamu senang karena tidak ada yang mengaturmu lagi setelah aku pergi?”
“Itu juga menyenangkan. Tapi, aku juga enggak mau Kakak pergi lama-lama.”
“Jangan manja.” Barra menarik ujung hidung Zaina. “Ada banyak orang yang sayang sama kamu di sini. Mereka akan menjagamu selama aku tidak ada di sini.”
“Kakak juga sayang sama aku?”
“Tentu saja,” jawab Barra cepat. Sangat cepat. “Memangnya apa lagi alasanku menjagamu sejak kecil. Itu karena aku menyayangimu. Apa kamu perlu bertanya?”
Bibir Zaina mengerucut. Dia melepaskan diri dari Barra, lalu bersandar di sofa sambil menyilangkan tangan. Tangannya menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi kening dan pipinya. Jujur saja, dia masih ingin berada dalam pelukan Barra. Namun, perkataan pria itu sungguh merusak suasana.
Bukankah kalimat itu memperjelas perasaan Barra pada Zaina. Sang gadis kembali menggembungkan pipi. Dia sebal karena Barra merusak momen yang sangat istimewa ini. Padahal dia sudah berusaha membicarakan hal-hal manis yang bisa menciptakan keromantisan. Tetap saja, Barra menghancurkannya.
Setelah melirik tajam Barra, Zaina meraih telepon seluler dan mulai menjelajahi sosial media miliknya. Dalam keadaan seperti ini, dia tidak mungkin bisa berkonsentrasi. Mengerjakan tugas mudah saja dia tidak akan bisa, apa lagi memandangi sederet angka yang panjang itu. Dia tidak sanggup.
“Kakak akan terus bilang gitu? Memang aku minta Kakak jaga aku?”
“Kamu lupa siapa yang terus menangis dan merengek minta dibelikan cokelat?”
“Aku, kan, masih kecil banget waktu itu.”
“Tapi kamu terus menempel, bahkan sampai hari ini. Iya, kan?” Zaina melayangkan tatapan protes. Meski begitu, dia membenarkan ucapan Barra barusan.
“Jadi, Kakak benaran sudah bosan aku ikuti?” tanya Zaina sambil memberengut.
“Kamu tahu kalau itu tidak mungkin terjadi, kan? Walaupun kamu masih kekanakan ... Jangan protes!” sergah Barra saat melihat Zaina ingin memotong pembicaraannya. “Kamu memang masih kekanakan. Tidak usah menyangkal lagi.”
“Kapan aku bersikap kayak anak-anak? Aku sudah cukup dewasa sekarang.”
“Baiklah. Apa pun itu, bagiku kamu masih tetap bocah imut yang menggemaskan.” Barra mencubit kedua pipi Zaina yang tembam.
“Enggak mau berhenti?” Zaina sudah mulai kesal dengan sikap Barra yang menganggapnya seperti anak kecil.
Mana yang sikap Zaina menyerupai anak kecil? Minum s**u? Banyak orang dewasa yang masih meminumnya demi menjaga kesehatan. Makan es krim? Bukankah tidak terhitung berapa lagi pasangan yang berkencan dengan menikmati minuman dingin itu. Merajuk? Memangnya orang dewasa tidak boleh marah?
Soal otak yang miliki kapasitas kecil, itu bukanlah kesalahan Zaina. Lagi pula, ada yang lebih buruk daripada dirinya. Jadi, minimnya pengetahuan tidak menunjukkan seseorang tersebut masih kekanakan. Lalu, kenapa Barra masih saja menganggapnya seperti bocah?
Cara berpakaian? Awalnya Zaina memang tidak begitu suka memperhatikan apa yang dikenakan. Asal nyaman dan lantas, dia akan memakainya. Akan tetapi, belakangan ini dia sudah banyak belajar bagaimana cara berbusana seorang mahasiswi. Dan hasilnya cukup bagus. Hilya bahkan memuji penampilannya yang anggun.
“Pipimu sudah bertambah chubby,” ujar Barra, masih mencubit pipi Zaina sesekali.
“Kakak enggak bakal ngelepas tangan Kakak?”
Karena tidak ada tanggapan dari Barra dan pria itu masih juga mencubiti pipi Zaina, jadi sang gadis memutuskan melakukan tindakan. Dia menyingkirkan tangan Barra dengan sedikit keras. Biar saja Barra merasa sakit. Salah siapa terus memperlakukannya seperti anak-anak begitu.
“Kamu sekarang sudah bertambah kuat. Apa kamu diam-diam ikut kelas bela diri?”
“Itu ide bagus. Apa aku harus ikut kelas bela diri, ya?”
“Jangan buang-buang waktu. Kalau kamu cukup luang, gunakan waktumu untuk belajar dan membaca. Kamu tidak perlu belajar bela diri? Ada banyak orang yang menjagamu. Jadi, sebaiknya kamu menjaga dirimu sendiri saja.”
“Kakak enggak bakal nyuruh para penjaga itu berhenti, kan?”
“Justru mau aku tambah,” ucap Barra sambil tersenyum lebar. Mata Zaina melebar.
“Sudahlah, Kak. Sampai kapan Kakak bakal nyuruh mereka?”
“Hmmm, entahlah. Aku belum yakin. Untuk sementara sampai kamu lulus kuliah.”
“Sementara?” ulang Zaina tidak percaya. “Kakak mau ngawasin aku seumur hidup?”
“Kamu mau aku awasi seumur hidup?”
Selepas melontarkan pertanyaan itu, Barra langsung menyumpahi dirinya. Dia berhadap Zaina tidak mendengar apa yang baru saja dia katakan. Atau kalau pun sudah didengar, semoga Zaina tidak memahami maksud tersirat dalam perkataan tersebut. Atau Zaina akan salah paham lagi.
Ketika Barra menoleh dan melihat Zaina, dia mengucap syukur berkali-kali dalam hatii. Gadis itu sedang sibuk melihat entah apa yang ada di telepon seluler. Hampir saja jantungnya meledak karena kembali mengatakan hal aneh pada Zaina. Dia sungguh harus mengontrol mulut agar tidak menimbulkan petaka.
Merasa penasaran karena Zaina terus tersenyum pada layar telepon seluler, Barra ikut melihat. Pria itu menghela napas saat tahu apa yang dilakukan sang gadis. Apa yang dipikirkan oleh otak kecil Zaina? Mereka sedang belajar untuk mempersiapkan diri Zaina dalam ujian. Zaina justru memilih berbagai macam belanjaan di sebuah toko daring. Apa dia sedang main-main sekarang?
Dengan nilai seperti ini, Zaina pasti tidak akan bisa menyelesaikan ujian dengan baik. Barra melirik kertas jawaban Zaina yang penuh dengan coretan buatannya, lalu mengalihkan perhatian pada gadis itu lagi. Dia tahu kalau Zaina sengaja tidak mengerjakan latihan dengan serius.
“Apa yang kamu lakukan? Kita sedang belajar.”
“Aku lagi milih hadiah-hadiah buat ulang tahunku.”
“Membeli dari toko online?” tanya Barra sambil menunjuk telepon seluler milik Zaina. Sang gadis mendongak. Melihat ekspresi Barra yang tidak enak dilihat, dia meletakkan benda pipih itu dan tersenyum. Kedua tangan dia tangkupkan di depan d**a. Sementara matanya mengedip-ngedip manja.
“Dasar kekanakan,” ujar Barra mengejek.
“Bukannya Kakak yang minta aku buat mikirin soal ulang tahun?”
“Iya. Tapi bukan saat belajar seperti ini. Lagi pula, kenapa tidak langsung beli di mal atau butik saja? Kamu bisa melihat barangnya dan menilai. Bukankah lebih puas?”
“Kakak yang bakal bayar, kan?”
“Menurutmu? Sejak kapan kamu belanja dengan uangmu sendiri kalau ada aku yang menemani?” Zaina tersenyum lebar dan membuat Barra berdeham, lalu memalingkan wajah. Pria itu tidak mau khilaf lagi.
Belum juga bisa menenangkan diri, Barra merasakan Zaina yang bersandar di lengannya. Dia melirik gadis itu, lalu memejamkan mata. Godaan yang diberikan terlalu berat. Bagaimana dia bisa melalui hal ini tanpa membuat sebuah kesalahan. Zainalah yang selalu memancing dia melakukan kegilaan.
Terlalu sulit untuk meminta Zaina kembali ke posisinya. Jadi, Barra tetap diam sambil terus menenangkan detak jantungnya yang mulai berulah. Jangan sampai Zaina mendengar dan meledek. Kalau sudah diprovokasi, dia bisa lebih nekat. Bahaya jika dia melewati batas, bukan?
“Saat di sana nanti, Kakak bakal tetap ingat aku, kan?” tanya Zaina, suaranya pelan sekali. Barra bahkan tidak yakin kalau gadis itu tengah bertanya padanya.
“Jangan mulai lagi,” ujar Barra sambil menengadah.
“Aku pasti bakal mirikin Kakak sepanjang waktu. Jadi, Kakak juga harus ngelakuin hal yang sama. Jangan pernah lupa sama aku.”
“Tenang saja, Zai. Aku pasti akan selalu memikirkanmu.” Barra mengatakan dengan tulus, bukan demi membuat Zaina senang. Sebelum ini, dia juga selalu memikirkan Zaina. Gadis itu tidak tahu apa-apa. Padahal dia sudah lama melakukannya.