Bab 37: Siap!

1775 Kata
“Sudah siap ujian?” tanya Barra saat sudah menghentikan mobil di tempat parkir kampus. Di sampingnya, Zaina mengembuskan napas berulang kali. “Enggak kerasa sudah mau ujian. Kakak bakal nunggu aku, kan?” “Kapan tradisi nunggu ujian di hari pertama akan berakhir?” “Ini terakhir kali, kan? Kakak enggak bakal bisa nemanin aku setelah pergi.” “Kata-katamu itu seolah aku pergi selamanya.” “Hush! Apaan, sih, ngomongnya? Jangan ngaco.” Barra tertawa melihat ekspresi Zaina yang tampak khawatir dengan ucapannya. Padahal jelas-jelas dia masih memikirkan ujian. Kedua kaki gadis itu bergerak-gerak cepat di bawah sana. Sementara jari-jarinya dia ketukan ke tas berulang kali. Mata sang gadis mengawasi setiap mahasiswa yang melewati mobil Barra. Tradisi mengantar Zaina saat ujian pertama sudah Barra lakukan sejak gadis itu masuk sekolah. Setiap akan melaksanakan ujian, Zaina pasti akan gugup. Bahkan sampai sekarang masih sama. Padahal sudah sangat lama berlalu. Dia belum juga mengubah kebiasaan yang satu ini. Meski begitu, mendengar jika ini adalah kali terakhir Barra menemani Zaina, pria itu merasa sedikit bersedih. Dia memang tidak bisa memastikan akan hadir dalam ujian Zaina setiap semester. Di tempat barunya, dia pasti memiliki banyak kesibukan. Mencari waktu luang tentu tidak mudah. Jarak yang hanya terpisah provinsi juga tidak bisa dibilang dekat. Jika sudah memiliki kesibukan sendiri, apa Barra bisa mendampingi Zaina seperti ini lagi? Kalau bisa, dia ingin terus melakukannya. Zaina adalah gadis yang sangat penting. Dia akan berusaha untuk tetap memperhatikan Zaina meski mereka terpisah tempat. “Jadi, mau ujian atau tetap di mobil? Aku sengaja datang lebih awal karena tahu kamu akan seperti ini. Bisakah kamu sedikit tenang?” “Tapi aku bakal ujian, Kak.” “Ini bukan pertama kalinya kamu ujian, kan?” Zaina terdiam, lalu menoleh pada Barra. Sang pria membingkai wajah gadis itu dengan kedua tangannya. “Tenanglah, Zai. Kamu bisa melalui ujian ini dengan baik, jadi jangan mencemaskan apa pun.” Zaina memandangi wajah tampan Barra beberapa waktu. Dia membiarkan Barra melakukan apa saja yang diinginkannya. Melihat senyum manis di wajah sang pria membuat hatinya menghangat. Dia membalas senyuman Barra untuk memastikan kalau dia baik-baik saja. Ujian kali ini harus lebih baik dari sebelumnya. Zaina ingin memperlihatkan pada Barra jika dia bukan lagi anak kecil. Dia adalah wanita yang mampu berusaha untuk menjadi bintang. Meski bukan yang paling terang, dia tetap akan melakukannya dengan penuh semangat. Barra sudah ada di sini bersamanya. “Ayo. Aku akan mengantarmu ke ruangan.” Barra bersiap untuk membuka pintu, tetapi Zaina menahan. Pria itu menoleh sambil mengerutkan kening. “Tunggu dulu,” ujar Zaina. Dia menggenggam erat tangan Barra. “Kenapa? Ada yang mau kamu katakan?” “Sebaiknya Kakak enggak ikut turun.” Kerutan di kening Barra semakin bertambah. “Tidak apa-apa, Zai. Kamu bisa melakukannya. Semangat!” Zaina mengangguk. “Aku tahu. Kalau Kakak turun, mungkin aku enggak bakal bisa konsentrasi.” “Maksud kamu apa?” Barra benar-benar tidak mengerti maksud Zaina. “Kali ini Kakak tetap di sini. Aku turun sendiri.” “Kenapa begitu? Biasanya aku juga menemani kamu sampai kelas, kan?” Senyum Zaina mengembang. Dia mengangguk. “Tapi kali ini berbeda,” katanya. “Berbeda bagaimana? Bukannya ujian itu sama saja?” “Kalau kali ini Kakak ikut turun, aku enggak bakal konsentrasi.” Barra menunggu Zaina mengatakan sesuatu lagi. “Aku bakal kepikiran tentang kepergian Kakak dan itu buat aku enggak tenang. Kalau aku enggak bisa tenang, gimana aku bisa ngerjain semua soal ujian?” Ada mendung yang menggantung di kedua mata Zaina. Kalau Barra terus bertanya, gadis itu mungkin akan menangis di sini. Jadi, walaupun merasa terkejut, dia tetap membiarkan Zaina keluar dari mobil tanpa dirinya. Mungkin seperti itu akan lebih baik. Lagi pula, cepat atau lambat, mereka harus terbiasa sendiri. Pandangan Barra tidak beralih dari sosok Zaina yang melangkah menjauh. Sekarang dia semakin berat meninggalkan Zaina. Apa lagi, gadis itu justru berusaha menjaga jarak darinya. Saat dia bertanya kenapa tiba-tiba berubah. Zaina dengan entengnya menjawab kalau ingin melatih dirinya sebelum benar-benar ditinggalkan. Untuk beberapa saat, Barra tidak mengizinkan Zaina melakukan itu. Namun, dia sadar kalau Zaina memang perlu melatih diri. Setidaknya Zaina bisa lebih mandiri dan tidak selalu mengandalkannya. Seperti yang sekarang Zaina lakukan. Sang gadis berusaha membangun tembok pertahanan agar bisa kuat setelah kepergian pujaan hati. Baru saja akan membuka telepon genggam, Barra melihat Daniel menyapa Zaina dengan senyum lebarnya. Dia membuka pintu mobil dengan cepat dan berniat menarik jauh Daniel. Lalu, dia tersadar jika perbuatannya sangat kekanakan. Tidak perlu sampai semarah itu. Dia harus tenang. Daniel bukan siapa-siapa. Zaina hanya menyukai dirinya. Barra terus menggumamkan kalimat itu. Dia percaya pada pemikirannya. Jika Zaina memang suka padanya, sang gadis tidak akan tertarik pada pria lain. Sebaiknya dia tidak membuat masalah dan mempermalukan diri sendiri. “Enggak nemanin Zaina?” Barra menoleh dan mendapati Dzaky yang bersandar di mobilnya dengan tangan dilipat di d**a. “Kamu enggak ada ujian hari ini?” Barra bertanya sambil memandangi penampilan Dzaky yang berantakan. “Aku baru saja selesai melukis,” ujar Dzaky saat sadar Barra memperhatikan. “Bisakah kamu lebih rapi sedikit? Kamu punya banyak koleksi pakaian, kenapa pakai yang ini? Itu lebih cocok dipakai ke kebun,” cibir Barra. “Tadi aku buru-buru.” Karena Dzaky berkata begitu, Barra jadi menyadari sesuatu. Ini masih jam delapan pagi dan Dzaky sudah selesai melukis? Kapan Dzaky tiba di kampus? Yang lebih penting, sejak kapan Dzaky menjadi pria yang rajin? Meski dia selalu bersemangat saat mengerjakan sebuah lukisan. Dia tidak pernah serajin ini. Sejujurnya, Dzaky merupakan pemuda yang sangat mudah untuk diajak berbicara. Dia juga orang yang penurut. Ketika kehilangan kedua orang tua, dia hanya menangis sebentar. Setelah itu, dia sudah bisa bermain seperti biasa. Seolah tidak ada yang terjadi. Dia lebih mudah dibujuk ketika kecil. Ketika Dzaky berselisih dengan Khafi, Barra yang menjadi penengah. Awalnya, Dzaky juga tidak bisa menerima penjelasan Barra mengenai sikap sang kakak. Barra tidak memaksa. Pria itu memutuskan untuk mendampingi Dzaky, sebagaimana dia juga menemani Zaina selama ini. Jadi, sebenarnya Barra dan Dzaky sudah dekat sejak dulu. Hanya saja, setelah beranjak remaja, Dzaky mulai mandiri. Dia tidak mau lagi merepotkan Barra, apa lagi untuk hal-hal kecil. Berbeda dengan Zaina yang terus bersandar dengan Barra. Bahkan sampai hari ini pun masih begitu. “Punya saingan baru?” “Jangan mencampuri urusanku. Lebih baik kamu memikirkan ujianmu. Kalau kamu tidak berhasil, sia-sia saja aku membujuk Khafi dan Nenek.” “Tenang saja. Aku sudah nyiapin beberapa lukisan.” Dzaky berdeham dan memasang wajah serius. Kalau sudah begitu, pasti ada hal yang penting. “Katakan saja. Kalau itu hal baik, aku akan membantumu,” kata Barra ketika Dzaky tak kunjung mengantarkan keinginannya. “Sebenarnya aku lagi ngerencanain sesuatu, tapi aku enggak tahu apa Kak Khafi dan Nenek bakal setuju.” Dzaky menatap Barra, lalu menghela napas. “Apa yang kamu rencanakan?” “Itu ....” Dzaky seakan ragu untuk menyampaikan rencananya tersebut. “Cepat katakan. Kalau kamu terus ragu begitu, aku mungkin tidak akan mendengarkanmu. Ayo, apa yang sedang kamu rencanakan?” “Aku pengin ngadain pameran kecil-kecilan. Gimana menurut Kakak?” “Bagus, dong. Kenapa hanya pameran kecil-kecilan? Kamu cukup berbakat dan kakakmu juga tahu itu. Dia bisa mempersiapkan pameran besar untukmu.” “Benarkah?” tanya Dzaky ragu. Dia mengusap tengkuk sambil menunduk. Saat menyampaikan keinginannya untuk mengambil jurusan seni, Khafi sempat menentang. Sebagai adik, sudah bukan rahasia umum kalau dia akan meneruskan perusahaan sang kakak. Jika Dzaky memilih melukis sebagai jurusan, sudah pasti dia tidak akan bisa membantu Khafi. Sempat terjadi perdebatan panjang antara Khafi dan Dzaky. Sang nenek juga sudah mencoba menengahi, tetapi tidak berhasil. Lalu, Barra maju karena merasa bertanggung jawab telah mendorong Dzaky memilih jurusan. Dia mati-matian membujuk Khafi agar mau memberikan izin pada sang adik. Tidak semudah itu membujuk Khafi. Barra juga bukannya tidak perang dingin dengan sang sahabat. Dia bahkan sempat mogok dan membuat Khafi meradang. Pada akhirnya, Khafi mengalah dengan satu syarat. Barra harus bertanggung jawab pada pilihan yang diambil Dzaky dan dia setuju. Belakangan ini, Khafi sudah mulai menanyakan perkembangan Dzaky. Jika tahu sang adik sedang mempersiapkan pameran, dia pasti akan senang. Tentu saja ujian Dzaky harus diutamakan. Apa pun yang sedang direncanakan oleh pemuda itu, Barra harap tidak akan mengganggu konsentrasi Dzaky belajar. “Mau aku bantu?” Dzaky mendongak. “Maaf karena ngerepotin Kakak lagi.” Barra tersenyum. Setelah sering berselisih dengan Khafi, Dzaky tumbuh dewasa lebih cepat. “Bukan apa-apa. Tentu saja ini tidak gratis.” Barra menaikkan alis. “Kakak enggak nyuruh aku buat ngawasin Zaina, kan?” Dzaky bergidik ngeri. “Kamu memang sangat pengertian. Aku anggap kamu setuju. Masalah Khafi dan Nenek, serahkan saja padaku. Aku akan berusaha membujuk mereka.” “Bukannya Kakak sudah nyuruh orang buat ngawasin Zaina? Kenapa aku juga harus ngawasin dia? Dia itu menyebalkan. Kakak tahu kalau kami enggak pernah damai, kan? Gimana bisa aku ngelakuin tugas ini?” “Maka ubah kebiasaan kamu.” Barra mengatakan kalimat itu dengan serius. “Aku menitipkan Zaina padamu selama aku pergi.” “Kakak bakal benar-benar pergi?” “Begitulah. Tempat kali ini sangat penting untuk perusahaan. Akan lebih baik kalau aku yang pergi sendiri ke sana.” Barra berdeham di akhir kalimat. “Tapi enggak harus Kakak yang pergi, kan?” Sebenarnya memang tidak harus begitu. Dia bisa saja hanya sebentar di sana untuk mengawasi kerja tahap awal. Kemudian, dia menyerahkan sisanya pada bawahan. Entah apa yang benar-benar membuatnya ingin pergi. Dia sendiri tidak yakin seratus persen. Namun, hatinya berkeinginan keras untuk tetap meninggalkan kota ini. Meninggalkan Zaina dan Dzaky sungguh menyisakan hal mengganjal di hati Barra. Dia sudah pernah berjanji untuk menjaga keduanya. Sekarang, dia merasa tidak bisa lagi menjaga janji itu. Dia harus mencari cara lain agar bisa tetap menjaga mereka walaupun tidak lagi bersama. Mendamaikan kakak beradik itu merupakan cara Barra untuk membuat mereka saling menjaga satu sama lain. Dia tahu kalau keduanya sama-sama menyayangi, tetapi terlalu egois untuk mengakui. Jadi, dia bisa memanfaatkan kepergiannya untuk menyatukan mereka. “Memang tidak. Tapi, aku tetap ingin pergi. Lagi pula, aku tidak harus ada di sana setiap saat. Kalau punya kesempatan pulang, aku akan mengunjungi kalian.” “Kakak bakal ninggalin Zaina kayak ini? Enggak mau bilang apa-apa?” Barra tersenyum, lalu menggelengkan kepala. “Zaina harus fokus kuliah dulu. Kalau aku bilang hal-hal konyol, dia bisa terus memikirkanku. Iya, kan?” Barra mencoba untuk tertawa. “Kakak pasti nyuruh aku ngawasin Zaina biar dia enggak pacaran. Iya, kan?” “Sudah aku bilang kalau kamu yang paling pintar.” “Sebaiknya Kakak enggak main-main sama Zaina. Biarpun itu terlalu polos. Aku enggak mau dia kecewa setelah menunggu Kakak selama ini.” “Tenang saja. Aku akan memastikan untuk bisa menjadi adik iparmu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN