Bab 38: Serba Salah

1790 Kata
“Kamu akan terus cemberut begitu?” tanya Barra sambil memperhatikan Zaina yang mengaduk-aduk jus alpukat miliknya. “Lagian kenapa Kakak enggak nunggu aku? Aku nyariin Kakak ke mana-mana. Ditelepon juga enggak cepat diangkat.” “Aku tadi lagi ada meeting, Zai. Bukannya tadi kamu bilang aku tidak perlu menemani. Jadi, aku pikir kamu tidak membutuhkan aku lagi di sana.” “Aku, kan, sudah bilang buat nunggu di mobil,” ujar Zaina tak mau kalah. “Baiklah. Aku yang salah. Maaf. Tadi tiba-tiba Khafi telepon. Ada masalah di kantor, jadi aku ke sana buat memastikan keadaan.” Zaina tetap mengaduk minumannya. Bibir gadis itu mengerucut. Ketika tidak menemukan Barra di tempat parkir, dia sangat takut. Apa lagi panggilannya tidak dijawab berkali-kali. Dia pikir, Barra pergi tanpa mengatakan selamat tinggal. Dia bahkan sudah menangis di depan Kamila. Kalau saja Barra tidak cepat-cepat menghubungi kembali, Zaina pasti sudah membanjiri seluruh kampus dengan air mata. Dia sampai sesenggukan dan kesulitan mengendalikan diri. Beruntung Kamila cukup kuat memeluk sang sahabat sehingga Zaina tidak sampai meronta-ronta. Karena sudah membuatnya terlihat konyol di depan Kamila, Zaina ingin belas dendam. Kepalanya yang sudah penuh dengan kekhawatiran mendadak berubah jadi kemarahan. Belum juga ditinggalkan, dia sudah seperti ini. Bagaimana kalau nanti Barra benar-benar pergi? Apa dia akan menangis setiap hari? “Jangan marah terus. Bagaimana kalau kita beli es krim?” tawar Barra. “Cokelat jumbo dengan toping lengkap,” gumam Zaina. Meski sedang kesal, dia tidak bisa menolak makanan kesukaannya. “Setuju. Kita pergi sekarang?” “Urusan Kakak di kantor sudah beres? Aku enggak mau ditinggal lagi.” Barra menghela napas. Sejujurnya, dia langsung pergi begitu saja setelah permasalahan kantor selesai. Dia bahkan tidak mengatakan apa pun pada Khafi. “Tenang saja. Aku akan menebus kesalahanku dengan mentraktir es krim.” “Setelah itu, Kakak balik ke kantor?” Nah, pertanyaan seperti itu terdengar horor untuk Barra. Dilihat dari ekspresi Zaina, dia tahu kalau sang gadis ingin ditemani sepanjang hari. Akan tetapi, pekerjaan di kantor masih sangat banyak. Dia harus mempersiapkan segala hal untuk perjalanan bisnisnya yang hanya tinggal sebulan lagi. Mengatakan alasan tersebut pada Zaina bukanlah pilihan tepat. Pagi ini, Barra sudah melihat wajah mendung Zaina saat membahas masala kepergiannya. Dia tidak ingin membuat gadis itu semakin bersedih. Bagaimana dia bisa menjelaskan pada Zaina untuk tidak mengkhawatirkan perpisahan mereka. Gadis polos yang masih belum dewasa sangat sulit untuk diberi penjelasan. Setiap kali Barra berniat untuk menjelaskan, Zaina akan menghindar atau menutup kedua telinga. Pria itu sudah kehabisan cara. Jadi, dia hanya diam dan berusaha tidak membicarakan hal ini dengan Zaina. Mungkin ini malah terkesan indah di awal, tetapi akan terluka di akhir. Barra sungguh tidak dapat memikirkan cara untuk membujuk Zaina. Meski begitu, sebelum pergi, dia ingin Zaina, setidaknya, bisa mengerti alasannya meninggalkan gadis itu. Waktunya hanya tinggal sebulan dan dia tidak boleh sampai gagal. “Iya. Ada banyak pekerjaan yang masih harus diselesaikan. Aku akan ke rumah makan ini untuk memantau kamu belajar.” Zaina mendengkus. “Kamu juga perlu istirahat, supaya nanti malam bisa belajar dengan baik.” “Aku ngerti. Aku akan pulang setelah kita makan es krim.” “Kamu tidak mau makan dulu?” Zaina menggeleng. “Bagaimana dengan cake cokelat?” Mendengar itu, dia langsung mengangguk. Barra tersenyum puas. “Aku pesankan dulu.” Zaina mengangguk lagi. Barra senang sekali saat melihat senyum sudah menghiasi wajah cantik Zaina. Dia memanggil seorang pelayan dan meminta pesanan sang gadis. Menemani Zaina memang butuh banyak waktu. Dia sudah terbiasa sibuk, jadi tidak masalah kalau tidak bisa beristirahat dengan cukup. Bagi Barra, bisa menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik adalah suatu kebahagiaan. Apa lagi jika ditambah dengan melihat kepolosan Zaina dan keusilan Dzaky. Keberadaan Hilya dan ketiga cucunya sangat penting. Mereka adalah keluarganya. Di dunia ini, hanya mereka yang dia miliki. Keputusan untuk tinggal sendiri setelah kuliah bukanlah keinginan tiba-tiba. Dia sudah cukup lama mempertimbangkan hal ini. Lagi pula, rumah milik orang tuanya berada tepat di depan rumah Hilya. Jadi, sebenarnya dia tidak benar-benar pergi. Dia juga menghabiskan lebih banyak waktu di rumah Hilya ketimbang di tempatnya. Saat itu, Barra sudah mulai menyadari kalau ada yang lain pada dirinya. Dia mulai memikirkan Zaina yang selalu tersenyum polos. Padahal Zaina masih baru menikmati sekolah dasarnya. Apa yang akan dipikirkan orang lain ketika tahu dia menyukai Zaina. Dia bisa dibilang p*****l, bukan? Selama bertahun-tahun, Barra meyakinkan diri kalau perasaan itu tidak baik. Dia berusaha menghilangkannya berkali-kali, tetapi tidak berhasil. Untuk menekan perasaan, dia bahkan menerima beberapa wanita yang mengakui cinta padanya. Hasilnya nihil. Dia tetap kembali memikirkan Zaina. Jadi, Barra memutuskan untuk menyimpan perasaan itu. Dia mulai belajar mengendalikan diri agar tidak ketahuan oleh siapa pun. Siapa sangka kalau orang pertama yang memergoki adalah Dzaky. Mungkin Hilya dan Khafi juga sudah menduga hal ini, tetapi memilih diam. Tidak masalah. Selama Barra tidak melanggar batasan, semua bisa diatasi. Penantian yang sudah sangat lama ini akan segera berakhir. Dia sudah terbiasa menunggu. Jadi tidak apa jika harus menunggu sebentar lagi. Beruntungnya, Zaina tidak pernah ingin berpacaran dengan siapa pun. Kalau Zaina sampai menyukai orang lain, entah bagaimana Barra akan menjalani hidup. Bertahun-tahun dia sudah menyerahkan hatinya pada Zaina. Jika gadis itu pergi, dia mungkin akan sangat terluka. Tuhan benar-benar baik dan memberikan Zaina perasaan yang sama dengannya. Dia sangat bersyukur akan hal ini. “Kamu yakin masih bisa menghabiskan es krim porsi jumbo?” tanya Barra saat melihat Zaina menghabiskan jus alpukatnya. Belum sempat dijawab, pesanan cake cokelat sudah dihidangkan. Tanpa menunggu, gadis itu juga tidak menyisakan apa pun di piring saji tersebut. Barra melongo. “Kamu ... sudah kenyang?” “Aku masih bisa makan satu porsi cake lagi sebelum makan es krim,” ujar Zaina sambil meringis. Barra menaikkan alis. Dia melirik piring dan gelas Zaina yang kosong. Tidak ingin membuat Zaina kecewa, Barra kembali memesan cake cokelat kesukaan gadis itu. Dia melirik Zaina yang memperlihatkan deretan giginya yang putih sambil mengangkat sendok. Sepertinya suasana hati sang gadis sudah membaik. Kalau menuruti keinginan Zaina bisa membuatnya bahagia, Barra akan melakukan apa pun. “Bagaimana dengan ujianmu tadi?” “Aku yakin kalau aku bakal dapat nilai bagus. Pertanyaan yang muncul cukup mudah.” “Aku harap begitu. Kamu masih harus berjuang untuk ujian selanjutnya.” “Iya, iya. Aku tahu. Apa Kakak perlu ngingetin aku kayak gini?” “Harus, dong. Kamu itu muridku, jadi aku bertugas buat mengingatkan kamu setiap saat. Belajar itu sangat penting.” “Oke, oke. Enggak usah mulai ceramah. Aku sudah pusing banget ngerjain ujian. Jangan tambah les lagi. Biarin aku tenang dulu.” “Baiklah. Aku akan berhenti di sini.” *** “Jadi, kamu sudah memutuskan?” tanya Hilya pada Barra yang duduk di hadapannya. “Iya, Nek. Aku hanya pergi dua tahun. Kalau ada waktu luang, aku akan berkunjung.” “Nenek mengerti. Nenek tidak mempermasalahkan hal itu, Bar. Kamu tahu kalau Nenek selalu mendukung keputusanmu. Kali ini juga begitu. Hanya saja ....” “Hanya saja apa, Nek?” “Mengenai Zaina. Apa kamu ....” “Aku akan berusaha membujuknya. Dia pasti akan baik-baik saja.” “Maaf karena sikap Zaina yang kekanakan. Dia jadi menempel terus sama kamu.” “Nenek tahu kalau aku tidak pernah keberatan dengan hal itu, kan?” Hilya menatap Barra sambil menghela napas. Tentu saja dia mengetahui semua itu. Barra tidak pernah mengharapkan balasan apa pun saat melakukan segala hal untuk keluarga Hilya. Wanita sepuh sudah melihat kesungguhan Barra selama beberapa tahun. Dia tidak mungkin tidak menyadari. Sama dengan Hilya, Khafi juga sangat menghargai usaha Barra untuk menjaga kedamaian dalam rumah mereka. Tanpa Barra, entah bagaimana nasib perusahaan dan keluarga Hilya. Sikap Barra yang tenang dan berhati-hati mendatangkan banyak kebaikan. Hilya bersyukur bisa memiliki Barra di saat krisis. Khafi, yang walaupun memiliki tingkat kecerdasan tinggi, dia sedikit sulit bergaul dan mengelola emosi. Terutama beberapa tahun setelah kematian orang tuanya. Kalau tidak ada Barra yang mendukung dan mengendalikan sikap Khafi, perusahaan tidak akan bisa semaju sekarang. Pada dasarnya, Hilya dan Barra sudah terikat budi yang tidak akan berujung. Mereka saling merangkul dan membantu. Kedua belah pihak juga mendapatkan keuntungan masing-masing. Meski Hilya merasa kalau Barra lebih banyak berkorban. Pria itu mengorbankan sebagian masa mudanya untuk mengurusi masalah keluarga Hilya. “Bukankah sudah saatnya kamu memikirkan pernikahan?” tanya Hilya mengalihkan pembicaraan. Barra mematung di tempat. “Kamu sudah punya calon?” “Aku masih mengusahakannya, Nek. Aku ... mungkin butuh restu dari Nenek agar bisa segera menikah,” ujar Barra seraya memandang mata tua Hilya. Untuk sesaat, Hilya mengerutkan kening. Dia lantas tersenyum ketika menyadari satu fakta dalam tatapan Barra saat ini. “Apa kamu masih membutuhkannya?” “Tentu saja. Pernikahan akan lebih berkah jika mendapatkan restu orang tua, kan?” Hilya mengangguk berulang kali, lalu tertawa singkat. “Jadi, kapan kamu berencana melamar?” “Dua tahun lagi, Nek. Bagaimana menurut Nenek?” “Waktu yang sangat baik. Tenang saja, restu Nenek selalu ada buat kamu.” “Aku senang mendengarnya.” Barra ikut tersenyum. Dia melirik ke belakang Hilya, bertanya-tanya kenapa Zaina belum muncul. Seperti biasa, setiap malam ujian, Barra selalu datang untuk menemani Zaina belajar. Ketika ada yang tidak dimengerti, Barra bisa langsung menjelaskan. Tahun ini juga sama, pria itu tetap datang. Momen seperti ini mungkin akan sulit diulang pada semester mendatang. Mengurusi cabang baru tidak semudah perencanaan. Akan ada banyak tugas yang harus Barra kerjakan. Karena kali ini memutuskan untuk menjadi penanggung jawab, dia akan lebih sibuk. Dia tidak begitu yakin apakah bisa bebas dengan mudah seperti keinginannya. Semoga saja semua hal berjalan sesuai rencana. “Zaina tidak mungkin ketiduran, kan?” tanya Barra tanpa menoleh. “Tidak mungkin. Kamu susul saja dia di kamar. Dia mungkin masih bermalas-malasan sambil melihat gosip di handphone.” Barra menoleh pada Hilya yang tersenyum. “Kenapa? Apa perlu Nenek yang memanggil?” “Tidak, Nek. Biar aku saja.” Merasa sudah mendapatkan izin, Barra berjalan pelan menuju kamar Zaina. Dia memandangi pintu kamar bertulisan “Ini Wilayah Kekuasaanku. Jangan Berani Mengganggu”. Saat membuat tulisan itu, Barra menertawakan Zaina karena gadis itu terlalu kekanakan, tetapi yang diprotes hanya diam. Kejadian itu sudah berlalu selama tiga tahun. Barra ingat betul kalau Zaina memintanya sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Dia terpaksa menuruti karena sudah terlanjur berjanji. Wajah ceria Zaina saat memasang tulisan tersebut tidak akan pernah dia lupakan. Tangan Barra baru saja terulur untuk mengetuk pintu Zaina. Namun, gadis itu sudah muncul terlebih dahulu. Malam ini, dia mengenakan overall model celana panjang hitam. Dipadukan dengan kaos merah muda. Dia bahkan menggunakan flat shoes hitam untuk menyempurnakan penampilan. “Kamu ... akan memakai baju ini untuk belajar?” tanya Barra ragu. Biasanya, Zaina hanya menggunakan sepasang baju tidur atau kaos dan celana panjang. Kenapa malam ini berbeda. Barra tidak sempat bertanya lagi karena gadis itu sudah pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN