Untuk ke sekian kali, Zaina melirik Barra yang asyik memainkan jari di atas layar telepon genggam. Dia menghela napas, lalu kembali membalikkan buku yang dibaca sejak setengah jam tadi. Gadis itu berusaha untuk berkonsentrasi belajar atau dia bisa gagal pada ujian besok.
Ketika mendengar pembicaraan Hilya dan Barra tadi, sang gadis memikirkan banyak hal. Bagaimana bisa Barra akan melamar seseorang? Dua tahun lagi? Kenapa harus menunggu selama itu? Juga, siapa yang akan Barra lamar sebenarnya? Jadi, dia benar-benar akan kehilangan pria itu?
Setelah kebahagiaan yang dialami belakangan ini, Zaina selalu berpikir kalau Barra tidak serius mengenai perkataannya dulu. Dia tidak ingin menerima kenyataan kalau pria itu menyukai orang lain. Namun, mendengar bagaimana Barra berbicara serius mengenal lamaran, tampaknya dia benar-benar akan terluka.
Jika dipikirkan lagi, Hilya kemungkinan besar tahu mengenai wanita yang disukai oleh Barra. Nyatanya, sang nenek memberikan restu. Sekarang, Zaina sungguh harus menyerah pada cintanya atau dia akan semakin terluka. Lagi-lagi, dia melirik Barra dan membesarkan mata saat tidak melihat Barra di tempat.
Kepala Zaina celingukan ke sana sini, mencari sosok Barra yang tiba-tiba hilang. Dia mengerucutkan bibir ketika tidak menemukan pria itu di mana pun. Hatinya mendadak hampa. Berapa lama dia akan mengalami hal seperti ini? Dia sedikit lega karena Barra akan pergi sebentar lagi. Itu bisa memberikannya waktu untuk mulai melupakan perasaan. Dia harus sadar diri dan menyerah.
“Apa yang membuatmu tidak berkonsentrasi belajar?”
Kalau Bara tidak segera menangkap kursi di mana Zaina duduk, gadis itu pasti sudah terjatuh ke lantai. Sekarang, dia malah bisa menatap Barra dari jarak yang sangat dekat. Jantungnya langsung berdetak kencang. Apa lagi Barra juga mengarahkan mata kepadanya. Suasana menjadi begitu tenang.
Hal itu hanya berlangsung sebentar karena Barra buru-buru memperbaiki posisi duduk Zaina agar kembali normal. Dia berdeham, lalu tersenyum manis pada Zaina yang masih terpaku. Dari jarak sedekat ini, dia bisa merasakan betapa dinginnya tangan sang gadis yang dipegang.
Kalau terus berada di posisi sedekat ini, Barra tidak akan bisa menjamin apa yang terjadi selanjutnya. Jadi, dia melepas tangan Zaina, kemudian berdiri di samping gadis itu. Dia melirik Zaina yang masih belum bergerak. Sebenarnya apa yang mengganggu Zaina sehingga melamun saat belajar.
“Mau mengatakan sesuatu?” tanya Barra. Dia duduk di sebuah kursi di depan Zaina.
“Aku ... Aku ....” Zaina sungguh tidak tahu apa yang harus dikatakan. Pikirannya masih kosong dan belum bisa memikirkan apa pun di kepala.
“Tenang dulu.” Barra melebarkan senyum. “Apa kamu baik-baik saja?”
“Aku enggak apa-apa. Cuma ... lagi agak ngantuk saja. Tadi mau tidur siang susah.”
Meski tidak sepenuhnya percaya pada perkataan Zaina, Barra tidak ingin memperpanjang masalah ini. Dia yakin kalau ada yang disembunyikan oleh si gadis berambut pendek. Sikap Zaina aneh sejak dia bertemu tadi. Zaina berpakaian rapi dan melamun saat sedang membaca buku.
Tidak pernah ada kejadian begini. Meski selalu main-main saat belajar dengan Barra, Zaina akan serius begitu tiba waktunya ujian. Barra sudah hafal bagaimana kebiasaan gadis itu. Kalau ada yang membuat sang gadis berubah, pasti sesuatu di luar masalah belajar. Mungkinkah Zaina mendapat permasalahan di kampus?
Kepala Barra menggeleng. Tidak ada laporan dari para pengawas. Itu artinya Zaina baik-baik saja. Lagi pula, saat mereka bertemu tadi siang, Zaina masih belum bertingkah aneh. Barra sungguh tidak bisa menebak jalan pikiran Zaina kali ini. Sekarang, Zaina semakin pintar menutup diri.
“Mau istirahat sebentar? Aku tunggu di sini.”
Zaina menggeleng lemah. “Enggak perlu. Aku mau ambil s**u cokelat saja. Mungkin setelah minum, aku bisa semangat lagi,” ujarnya. Barra menghela napas.
“Aku saja yang ambilkan.”
Tanpa menunggu persetujuan Zaina, Barra sudah melangkah keluar. Zaina menatap sosok yang semakin menjauh itu, lalu memejamkan mata. Dia ingin sekali menanyakan mengenai hal yang didengar, tetapi terlalu takut untuk menerima kebenaran. Jadi, sementara ini, dia akan menunggu. Mungkin Barra akan mengatakan sesuatu padanya sebagai penenang.
***
“Masih perlu berapa lama lagi?”
Barra hampir menjatuhkan kotak s**u yang dipegang. Dia menoleh, lalu menutup pintu lemari pendingin dengan sedikit keras. Matanya meneliti Dzaky yang sekarang lebih sering terlihat di rumah. Sejak kapan Dzaky jadi anak rumahan? Apa dia sedang merencanakan sesuatu untuk mengejutkan semua orang?
“Kalau mau ngelamun, jangan di depan kulkas, dong. Kasihan, kan, yang pengin minum,” protes Dzaky sambil menggeser tubuh Barra. Dia mengambil sebotol air mineral dan langsung menegak setengah.
“Tumben kamu ada di rumah?”
“Aku lagi belajar buat jadi cowok pelindung,” kata Dzaky. Membuat Barra mengerutkan kening karena kalimat aneh yang diucapkan sang pemuda.
“Jangan memakai bahasa kiasan. Katakan saja apa maksudmu.”
“Bukankah Kakak bakal pergi sebulan lagi? Jadi, aku yang bakal jagain Nenek dan Zaina selama enggak ada Kakak.” Barra tersenyum lebar.
“Sepertinya aku bisa mengandalkan kamu.”
“Tentu saja. Kalau Kakak bisa jaga mereka dengan baik. Aku juga bisa.”
“Baguslah. Aku tidak akan terlalu khawatir kalau begitu.”
Dzaky memutar-mutar botol yang dia pegang. Sejujurnya, dia penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh Barra saat ini. Melihat ekspresi wajahnya saat menatap lemari pendingin tadi, dia yakin kalau ada yang terjadi. Mungkinkah Barra berdebat dengan Zaina karena masalah siang ini.
Saat selesai ujian, Dzaky mendapatkan berita kalau adik perempuannya menangis di tempat parkir karena tidak menampilkan Barra di sana. Dia benaran tidak bisa memahami sikap Zaina yang sangat kekanak-kanakan itu. Meski belum genap dua puluh tahun, semestinya Zaina tidak sepolos itu, bukan?
Sang adik memang suka menyimpulkan sesuatu seorang diri. Entah apa yang ada di otaknya saat menangis di tempat parkir. Apa dia sama sekali tidak malu jika nanti ada yang menggosipkan dirinya? Beruntung, menurut informasi, tidak banyak orang yang menyadari kejadian itu. Apa lagi Kamila berhasil menyeret sahabatnya ke tempat yang cukup tersembunyi. Jadi, dia bisa aman.
Menghadapi sikap kekanakan seperti itu bukanlah perkara mudah. Sebagai kakak kandung, Dzaky bahkan sering merasa tidak sabar saat menghadapi Zaina. Dia harus belajar bersabar dari Barra. Kekaguman pada pria itu semakin besar. Bagaimana bisa Barra bertahan selama bertahun-tahun mendampingi adiknya?
Tidak cukup sampai di situ, Barra bahkan memutuskan untuk menyukai sang adik. Merawat Zaina selama ini saja pasti sudah sangat berat. Bagaimana Barra akan menghabiskan sisa hidupnya untuk menjaga Zaina? Melihat keseriusan di kedua mata Barra, Dzaky akhirnya menyerah. Dia merestui hubungan mereka. Anggap saja Zaina adalah gadis beruntung yang bertemu dengan Barra.
“Apa ada yang enggak beres sama Zaina?” Dzaky masih penasaran.
“Entahlah. Dia sedikit aneh malam ini.”
“Bukannya dia memang selalu aneh?” Dzaky berdeham saat menyadari tatapan Barra yang tajam. “Maksudku dia memang sering gitu, kan? Tiba-tiba ngelakuin sesuatu yang enggak biasa. Ini bukan pertama kalinya.”
“Apa sebenarnya yang mau kamu katakan?”
“Aku ....” Dzaky menatap Barra. “Kok, kesannya malah aku yang jelekin adikku sendiri?” gumamnya, lalu tertawa. “Memang apa yang dia lakuin malam ini?”
“Dia dandan. Dia juga pakai baju yang rapi. Tidak hanya itu, dia bahkan menggunakan flat shoes. Bukannya itu aneh. Iya, kan?”
“Apanya yang aneh? Bukannya malah jelas, ya?”
“Jelas apanya?” tanya Barra, masih belum mengerti maksud Dzaky.
“Dia mau ngerayu Kakak.”
“Tidak mungkin. Dia bahkan tidak mengatakan apa-apa. Dia juga melamun saat sedang belajar. Bukankah jelas kalau ada yang dia pikirkan?”
“Kakak yakin dia enggak lagi mikirin Kakak?”
“Kenapa dia memikirkan aku? Kami sudah baik-baik saja siang ini.”
“Oh, ya? Terus, kenapa dia bertingkah aneh gitu? Kenapa Kakak enggak tanya langsung sama dia?” Barra menghela napas.
“Aku juga berniat untuk bertanya, tapi tidak jadi. Sepertinya dia sedang sedih.”
“Mungkin dia lagi mikirin kepergian Kakak. Bisa jadi, kan?”
“Aku harap dia tidak punya masalah lain.”
“Memangnya masalah apa yang bisa dia lakuin? Kalaupun dia ngelakuin kesalahan, Kakak pasti bakal dapat laporan, kan?”
Barra mengangguk. “Benar juga. Sepertinya aku terlalu berlebihan.”
“Berlebihan seperti biasa,” ujar Dzaky. Barra mendelik. “Sori. Gitu saja marah. Lebih baik Kakak cepat balik. Dia pasti nungguin Kakak.”
Dzaky menyemangati Barra tanpa suara. Hiburan dari Dzaky sedikit mengurangi beban di benak pria itu. Dia melangkah cepat ke ruang belajar Zaina. Sang gadis sudah sibuk mencoret-coret di kertas. Dia bahkan tidak menyadari kedatangan Barra. Ketika si pria meletakkan s**u kotak di meja, dia mendongak sambil tersenyum.
Suasana hati Zaina tampaknya sudah membaik. Barra melirik kertas yang penuh dengan coretan. Gadis itu benar-benar sedang belajar. Si pria tampan jadi bingung apa yang harus dilakukan. Awalnya, dia ingin menghibur Zaina yang murung. Namun, sekarang Zaina sudah membaik. Jadi, dia memutuskan untuk duduk di sofa.
Kesunyian membuat Barra bisa merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang. Dia tidak mengerti untuk alasan apa hal itu terjadi. Hanya saja, ketika membayangkan Zaina yang tersenyum lebar, dia tanpa sadar mengukir senyum. Dia sama sekali tidak melihat bagaimana cara Zaina memandanginya.
"Benarkah Kakak bakal nikah? Sama siapa? Kenapa? Apa Kakak benaran suka sama dia? Kenapa aku enggak dikasih tahu? Apa kakak benaran nganggap aku ini anak kecil yang enggak boleh tahu apa-apa?”
Semua pertanyaan itu hanya berputar di kepala Zaina. Dia tidak cukup berani untuk bertanya. Dilihat dari sikap Barra yang seolah tidak terjadi apa-apa, dia sangat kecewa. Ketika ada berita besar, kenapa tidak ada seorang yang memberi tahu dirinya? Jangan-jangan hanya dia yang tidak tahu mengenai rencana ini.
Sekali ini, Zaina ditampar oleh kenyataan. Mengikhlaskannya Barra belum bisa dia lakukan. Ini terlalu dini. Dia bahkan masih bisa mendengar perkataan Barra dengan jelas. Pria itu sungguh ingin melamar seorang wanita dua tahun lagi. Dadanya semakin sesak membayangkan Barra tersenyum bahagia dengan balutan jas pengantin. Bisakah dia menyaksikan semua itu?
“Kapan Kakak pergi?” tanya Zaina memecahkan keheningan. Barra mendongak.
“Sebulan lagi. Aku ....”
“Baguslah. Setidaknya Kakak bakal pergi setelah acara ulang tahunku, kan?”
“Kamu sudah memutuskan untuk membuat sebuah acara?” mata Barra berbinar.
“Enggak juga. Aku cuma mau acara kecil-kecilan. Cuma kita.”
Saat mengatakan “kita”, Zaina benar-benar berharap hanya merayakan dengan Barra seorang. Namun, melihat ada gurat keterkejutan di wajah Barra, dia memperjelas kalimatnya. Dia tidak ingin membuat Barra mengetahui isi hatinya dan malah meninggalkannya lebih cepat.
“Maksudku Nenek dan kakak-kakakku. Aku mungkin juga bakal ngundang Kamila. Enggak masalah, kan?”
“Tentu saja. Kamu bebas mengundang siapa pun. Apa kamu punya tema buat acara ulang tahunmu kali ini? Aku akan mempersiapkan semuanya.”
“Enggak perlu. Aku cuma mau kue tingkat dua yang penuh cokelat. Makanannya harus berbau cokelat semua. Gimana?”
“Boleh saja. Kenapa tiba-tiba pengin acara kayak gitu? Sebegitu sukanya sama cokelat sampai harus memaksa kami memakannya juga?”
Zaina menengadahkan kepala. “Karena hari itu aku mungkin bakal sedih. Jadi, aku perlu cokelat buat nenangin diri,” ujarnya tanpa menoleh pada Barra yang kini menatap penuh keterkejutan. Pria itu semakin ingin tahu apa yang ada di kepala Zaina saat ini?