“Jadi, Kak Barra benaran punya pacar?” tanya Kamila memastikan. Zaina mengangguk lemah. Gadis itu menghela napas, lalu bersandar di kursi.
“Kayaknya aku memang enggak ada harapan lagi.”
“Ya, sudahlah, Zai. Dia juga bukan satu-satunya cowok di dunia ini, kan?”
“Tapi dia satu-satunya cowok yang aku suka.”
Ada perasaan getir saat mengakui hal itu. Zaina memejamkan mata sambil menahan napas sesaat. Dia sungguh ingin menghapus semua bayangan mengenai Barra, tetapi selalu gagal. Sosok Barra terus muncul dalam benaknya. Bahkan saat dia ingin membuang kenangan-kenangan yang mereka miliki.
Terlalu banyak momen yang dilewati bersama Barra. Tidak akan mudah menghancurkan semua hal yang sangat Zaina cintai selama bertahun-tahun. Sejak menyadari kalau dia menyukai Barra, gadis itu tidak pernah melirik pria lain. Fokusnya hanya pada satu pria, Barra.
Jadi, rasanya ada yang kosong ketika Zaina memaksa Barra keluar dari dalam hati. Dia merasa kalau sampai kapan pun, Barra akan terus bertahan di sana. Kenangan mengenai pria itu begitu kuat, bagaimana bisa dia menghapus dengan mudah? Setidaknya dia butuh waktu bertahun-tahun, bukan?
“Aku ngerti, Zai. Pasti sakit buat terima kenyataan kayak gini. Tapi kamu enggak bisa nangisin dia terus, kan?” Zaina menoleh. Tadi dia memang sempat menangis beberapa saat ketika bercerita pada Kamila.
“Tapi aku benar-benar enggak bisa percaya ini, Mil. Rasanya aku kayak dipermainkan. Sebelum dengar pengakuan dia kemarin, aku masih berharap dia bakal suka sama aku. Aku enggak peduli kalau dia suka sama cewek lain dulu karena aku bakal buat mereka pisah. Tapi ....”
“Tapi kamu enggak bakal ngelakuin itu, kan?”
“Mana mungkin, Kamila. Dia sudah berniat ngelamar. Masa iya aku ngerebut dia?”
“Masih lama banget, kan? Dua tahun lagi, lho. Kamu masih punya waktu buat balikin keadaan. Dia mungkin bisa suka sama kamu.”
“Jangan ngaco, deh. Kalau dia sudah niat ngelamar, artinya dia serius sama cewek itu. Gimana kalau aku cuma bikin malu diri sendiri?”
“Ya ... kamu, kan, belum coba.” Tiba-tiba Kamila memiliki pemikiran. “Gimana kalau kamu nembak dia saja? Kita lihat gimana reaksi dia.”
“Enggak usah kejauhan kalau ngayal. Kamu pikir ini cerita novel dan aku peran utamanya? Ini dunia nyata, Mil dan aku cuma peran pembantu.”
“Aku, kan, cuma kasih saran. Mana tahu kamu pengin ngungkapin perasaan gitu sama Kak Barra. Siapa tahu habis dengar pengakuan kamu, dia bakal ....”
“Bakal ngejek aku? Makasih, ya, sudah ngasih saran yang enggak banget.”
Mendengar kalimat sindiran itu, Kamila hanya meringis. Dia memperhatikan Zaina yang sibuk mengotak-atik telepon seluler. Sang teman pasti sedang melihat barang-barang baru di toko favoritnya. Kalau sedang kacau, Zaina memang selalu mengalihkan perhatian dengan membeli sesuatu yang disukai.
Bukan membeli barang mewah. Zaina hanya akan memilih semua makanan yang berbau cokelat. Gadis itu selalu menyukai jenis camilan tersebut. Baginya, cokelat benar-benar ampuh untuk mengusir segala kegundahan dalam hati.
“Apa yang kamu rencanakan buat ngerayain ulang tahun kali ini?”
“Aku buat pesta kecil-kecilan di rumah. Kamu bakal datang, kan?”
“Tumben. Biasanya kamu enggak suka pesta. Kamu lebih suka pergi berdua sama Kak Barra ke suatu tempat. Kali ini enggak mau gitu?”
“Menurutmu aku bisa ngelakuin itu lagi?”
Kalau mau jujur, Zaina sudah merencanakan sesuatu di hari ulang tahunnya. Dia ingin mengajak Barra menghabiskan waktu bersama. Mulai dari bermain, berbelanja, makan, sampai memotong kue berdua. Setelah itu, dia baru kembali ke rumah untuk merayakan dengan keluarganya.
Setelah mendengar rencana melamar yang disampaikan Barra, mana berani Zaina meminta pria itu menemaninya. Lebih tepatnya dia tidak mau terluka lebih dalam dengan membuat kenangan baru yang manis. Menghapus kenangan lama sudah cukup sulit, dia tidak mau menyulitkan diri dua kali.
Jika Barra serius menjalin hubungan, apa Zaina berhak untuk merusak. Hanya karena menyukai Barra, bukan berarti dia bisa menghancurkan kehidupan pria itu, bukan? Dia tahu akan sangat sulit merelakan Barra, tetapi dia bisa mencobanya. Betapa pun sulitnya, dia harus bisa melepaskan Barra.
Meski begitu sebelum membiarkan Barra pergi, Zaina sudah merencanakan sesuatu. Setelah bertahun-tahun hanya memandang pria itu, dia tidak bisa melepas dengan mudah. Sedikit banyak, Barra bertanggung jawab atas perasaannya saat ini. Jadi, akibat yang dia terima harus Barra rasakan juga.
“Kenapa kamu senyum-senyum enggak jelas gitu?” tanya Kamila saat melihat Zaina yang tadinya bengong, malah tersenyum tidak jelas.
“Sepertinya aku perlu ngasih pelajaran sama Kak Barra,” ujar Zaina. Kamila mengerutkan kening mendengar kalimat yang cukup aneh itu.
“Ngasih pelajaran? Maksud kamu apa?”
“Bukannya dia ikut tanggung jawab karena ngelarang aku pacaran selama ini?”
“Itu perintah kakakmu, kan?”
“Awalnya iya, tapi dia yang ngendaliin semua orang. Kalau dia bisa ngasih aku celah sedikit saja, aku enggak bakal tergantung banget sama dia. Iya, kan?” Kamila terdiam.
“Entahlah, Zai. Aku enggak yakin. Tapi, kamu bakal ngelakuin apa buat ngasih pelajaran sama cowok kayak Kak Barra? Kamu tahu kalau dia enggak mudah kalah, kan? Dia punya kekuasaan.”
“Aku tahu. Jadi, aku bakal manfaatin itu.”
“Maksud kamu?” Zaina tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil terus memandangi layar telepon seluler. Kepalanya penuh dengan rencana.
***
Barra memandangi Zaina yang asyik memakan cake cokelat di depannya. Saat masih rapat tadi, gadis itu terus mengirimkan pesan dan meminta banyak hal. Dia bilang ingin meminta semua hadiah ulang tahun lebih awal. Sebagai pembuka, dia mau dibelikan segala sesuatu yang berbau cokelat.
Untung saja Khafi tidak menyadari kalau layar telepon seluler Barra terus menampilkan pesan masuk. Sang sahabat terlalu serius membahas mengenai perkembangan produk terbaru mereka dengan para kolega. Jadi, dia sama sekali tidak melirik ke arah lain selain map yang ada di hadapannya.
Begitu rapat selesai, Barra langsung menghubungi Zaina dan memastikan permintaan gadis itu. Dia sedikit terkejut karena Zaina malah memintanya datang untuk membeli semua di pusat perbelanjaan. Padahal semalam Zaina masih bersikap aneh. Demi mengobati rasa penasaran, dia menuruti keinginan sang gadis.
“Kakak tidak ikut makan?” tanya Zaina. Mulutnya masih penuh dengan cake. Barra menghela napas, lalu membersihkan sekitar mulut Zaina yang penuh krim.
Perbuatan Barra membuat Zaina terdiam sebentar. Hanya sekian detik. Karena gadis itu sudah bertekad untuk menjadi lebih kuat. Jadi, sebelum Barra menyadari jantungnya yang berdetak kencang, dia menepiskan tangan sang pria. Dia lantas membersihkan mulutnya dengan tisu yang ada di meja.
“Aku bisa bersihin sendiri. Kakak enggak perlu repot gitu. Abaikan saja kalau aku lagi belepotan gini. Lagian, kita di rumah. Jadi, enggak masalah.”
“Apa maksud kamu "enggak masalah"?”
“Enggak ada yang lihat, kan? Cuma ada Kakak di sini. Jadi, aku enggak perlu jaga penampilan. Iya, kan? Kakak, kan, sudah tahu kalau aku kayak gini.” Barra menyipitkan mata. Ada yang tidak beres dengan Zaina, tetapi entah di bagian mana.
“Maksud kamu apa? Kamu tidak bermaksud menjaga reputasimu di depanku?”
“Buat apa? Lagian Kakak enggak mungkin naksir aku, kan?” Zaina tertawa. Sementara Barra tersentak untuk beberapa saat.
Bagaimana bisa Zaina berkata begitu? Dengan dirinya yang apa adanya, Barra sudah menyukai gadis itu. Barra memang tidak pernah mempermasalahkan sifat buruk Zaina. Baginya, Zaina sudah sangat baik sebagai seorang gadis. Dia tidak mengharapkan Zaina menjadi siapa pun.
Tidak peduli bagaimana Zaina menilai dirinya sendiri, Barra selalu menganggap gadis itu istimewa. Cinta memang sangat menakjubkan. Tidak perlu menjadi sempurna untuk jatuh cinta pada seseorang. Karena cinta bisa menyempurnakan kita. Setidaknya, begitulah yang Barra rasakan.
Melihat Zaina tersenyum setiap hari sudah cukup bagi Barra. Dia hanya menginginkan kebahagiaan Zaina, bukan hal lain. Gadis itu tidak perlu menjadi orang lain untuk menarik perhatiannya. Karena sejak awal dia sudah terpikat. Kepolosan Zaina sudah memenjarakan hatinya. Dia tidak bisa ke mana-mana lagi sekarang.
Barra tersenyum melihat Zaina yang meneruskan acara makannya. Gadis itu benar-benar tidak berniat untuk menjaga harga diri di depannya. Aneh sekali karena sang pria sama sekali tidak terganggu. Dia malah senang. Jika Zaina menjadi diri sendiri di depannya, berarti si gadis merasa nyaman, bukan?
“Sepertinya sudah tidak terlalu stres lagi,” ucap Barra. Zaina berhenti memakan cokelat kacang medenya, lalu mendongak.
“Siapa bilang kalau aku lagi stres?”
“Kalau begitu, apa yang membuat kamu melamun saat belajar semalam?” Barra memikirkan penyebab hal itu semalaman. Bahkan sampai bertemu dengan Zaina siang ini. Dia senang karena Zaina sudah kembali ceria seperti sedia kala.
“Aku sudah bilang kalau aku ngantuk, kan? Kakak saja yang mikir aneh-aneh.”
“Baiklah. Aku akan percaya alasan itu. Tapi, kenapa sekarang kamu tiba-tiba makan semua cokelat ini? Bukannya kamu cuma banyak makan saat kamu merasa tertekan atau kecewa pada sesuatu?”
“Aku memang lagi tertekan dan kecewa.”
“Karena apa? Coba cerita sama aku.” Zaina mendengkus.
“Justru Kakak yang sudah buat aku tertekan dan kecewa.”
Itu adalah kalimat paling jujur yang dikatakan oleh Zaina. Dia sangat tertekan karena Barra menyukai orang lain. Dia juga kecewa sekali saat tahu bahwa pria itu berniat melawat pujaan hatinya. Kalau dia sudah menyukai seseorang, seharusnya dia tidak menggoda gadis lain yang masih polos.
Kalau saja Zaina tidak mendengar pembicaraan tadi malam, dia masih akan mengira kalau Barra menyukai dirinya. Pria itu terus mengganggunya, bahkan memberikan kecupan. Bagaimana mungkin dia tidak salah paham pada perbuatan Barra? Dan ternyata semua hanya ilusi.
Sekarang, si gadis malang hanya bisa meratapi kebodohannya. Padahal Barra sudah menegaskan alasannya melakukan semua itu. Dia saja yang tidak mau mempercayai. Bahkan dengan percaya diri mengira Barra suka padanya. Sungguh pemikiran yang konyol. Zaina memang perlu meningkatkan kecerdasan otak.
“Jadi, aku penyebabnya?” tanya Barra hati-hati. Zaina mengangguk dengan penuh keyakinan. “Kenapa bisa begitu?”
“Karena Kakak seenaknya buat keputusan. Apa Kakak enggak pernah mikirin aku?”
“Kamu membicarakan masalah kepergianku?” Zaina tidak menjawab, jadi Barra meneruskan. “Justru kamu orang pertama yang aku pikirkan.”
Zaina tersenyum miris. Dia tidak mengerti mengapa Barra terus membuatnya merasa nyaman. Pria itu seakan ingin dia tahu kalau dialah yang menjadi prioritas. Padahal asa orang lain yang selalu dipikirkan oleh Barra. Sikap sang pria justru semakin memperdalam luka di hatinya. Tidak bisakah Barra lebih jujur?
Memangnya Zaina bisa menghalangi rencana lamaran Barra dua tahu yang akan datang? Gadis itu memejamkan mata. Kenapa Barra harus menunggu selama itu? Kenapa tidak sekarang saja? Setidaknya Zaina bisa langsung mengetahui siapa sosok yang telah menaklukkan pangerannya.
Lagi-lagi Zaina menarik kedua sudut bibirnya. Dia tidak yakin akan menerima wanita yang disukai Barra dengan mudah. Pasti sulit untuk menerima kenyataan itu. Berapa kali pun dipikirkan, dia sudah tentu akan merasa sakit hati. Dia tidak sekuat wanita lain saat melihat pria yang dicintai pergi.
“Kamu tidak percaya?” Pertanyaan Barra membuat Zaina mengerjap.
“Enggak tahu. Kalau Kakak mirikin aku, harusnya Kakak tetap di sini. Kenapa Kakak harus pergi? Kalau Kakak pergi, aku mungkin bakal ngelupain Kakak.”
“Benarkah? Memangnya kamu bisa melupakanku?” Zaina menahan napas saat wajah Barra mendekat. “Apa kamu yakin bisa melupakanku semudah itu?”
“Tentu saja enggak. Kakaklah yang sudah ngelupain aku dengan sangat mudah.”