Bab 41: Rencana untuk Zaina

1800 Kata
“Aku enggak tahu kenapa harus ngelakuin ini?” gumam Dzaky. “Karena kamu satu-satunya orang yang sok tahu mengenai hubunganku dan Zaina.” “Sok tahu? Aku memang tahu.” Barra melirik Dzaky sebentar. “Kakak benaran enggak mau ngaku saja sama Zaina? Kalian bisa pacaran jarak jauh, kan?” “Tidak usah memberi saran yang konyol. Aku akan melakukannya setelah dia mendapatkan gelar sarjana.” “Berdoa saja dia enggak tergoda buat pacaran sama cowok lain.” “Bukannya kamu yang akan memastikan kalau hal itu tidak bisa terjadi?” “Aku? Kapan aku ngomong gitu?” Bukannya menjawab, Barra malah mendelik pada Dzaky yang langsung meringis. Dia menghela napas, lalu memperhatikan semua daftar rencana yang disiapkan untuk Zaina. Ulang tahun kali ini harus berbeda dari yang sebelumnya. Zaina harus bisa mengingat kenangan yang dia ukirkan. Sebelum meninggalkan Zaina, Barra bertekad akan membuat banyak kesan manis di antara mereka. Apa lagi tujuannya kalau bukan untuk mengikat hati gadis itu. Kalau Zaina terus mengingat kenangan mereka, dia akan merasa lega. Artinya, Zaina bisa tetap menjaga perasaan yang dia miliki untuknya. Apa pun yang terjadi, Barra tidak akan pernah mengizinkan Zaina mengubah orang yang disukai. Gadis cantik itu harus tetap menyukai dirinya. Ini memang terdengar egois, mengingat dia yang tidak mau mengungkapkan cinta. Namun, dia sudah memutuskan alur cerita mereka. Dua tahun mungkin terasa lama, tetapi sebenarnya tidak. Barra akan lebih sabar agar bisa mengendalikan diri. Zaina harus bisa konsentrasi pada kuliahnya agar bisa lulus tepat waktu. Dengan begitu, rencana lamaran yang Barra gadang-gadang tidak perlu mundur atas bahkan gagal. “Tapi, Zaina sedikit berbeda beberapa hari ini,” ujar Barra sambil menerawang. “Beda gimana? Kayaknya biasa saja.” “Kamu memang tidak bisa melihat Zaina dengan teliti. Aku heran kenapa kamu bisa menjadi kakak kandungnya. Kamu sepertinya tidak tahu apa-apa mengenai dia.” “Jangan ngeremehin aku. Wajar kalau Kakak lebih paham dia ketimbang aku. Selama ini, dia terus menempeli Kakak. Dia enggak mau nuruti orang lain selain Kakak.” “Bukannya itu karena kamu dan Khafi yang tidak bisa mengambil hati Zaina?” “Kalau itu ... memang benar. Mau gimana lagi. Sejak kecil, dia lebih nyaman sama Kakak ketimbang kami.” Dzaky terdiam sejenak. “Kalau dipikir-pikir, Kakak adalah segalanya buat Zaina. Dunia dia pasti cuma terisi segala hal soal Kakak.” “Cukup mengagumkan, kan?” Barra merapikan kerah bajunya sambil tersenyum penuh kemenangan. Dzaky mencibir. “Jadi, apa aku perlu jadi mak comblang?” Dzaky menaik-turunkan alis. “Urus saja masalahmu sendiri. Memangnya kamu punya pengalaman apa soal cinta. Kamu bahkan tidak pernah menyukai seseorang, apa lagi pacaran.” Kalimat yang sedikit menyakitkan itu membuat Dzaky melirik tajam pada Barra yang malah mengangkat dagu. Dia memang belum pernah menyukai seseorang secara berlebihan. Melukis sudah menghabiskan banyak waktu, jadi dia tidak begitu sempat memperhatikan lawan jenis. Bukan berarti dia tidak menyukai wanita. Sekali dua kali, Dzaky pernah merasa berdebar saat didekati oleh seorang gadis. Namun, dia belum pernah melangkah lebih jauh. Dunia melukis jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan berkencan. Begitulah menurut Dzaky selama ini. Mungkin karena dia belum bertemu sosok yang tepat. Mengenai keakuratan Barra dalam memahami, Dzaky tidak akan bertanya. Bukan hanya Zaina yang diawasi, tetapi dia juga. Dia sadar betul jika ada yang terus mengintai dari suatu tempat dan itu pasti orang suruhan sang kakak. Selama tidak mengganggu, dia tidak masalah. Toh, dia tidak pernah melanggar batasan. Kedekatan Zaina dan Barra saat ini, sedikit banyak memang akibat pengaruh Khafi. Sejak orang tua mereka meninggal, Khafi hanya fokus belajar untuk mendapat nilai terbaik. Dia sangat jarang berbicara dengan orang lain, termasuk kedua adiknya. Karena itu, Barra yang penyayang mengisi kekosongan posisi Khafi. Belum lagi tekanan yang Khafi berikan kepada Dzaky dan Zaina membuat hubungan mereka semakin keruh. Tragedi di antara kakak beradik sulit untuk dihindari. Kalau bukan karena Barra, Dzaky tidak tahu apa yang akan terjadi pada keluarga mereka. Mungkin tidak akan sedamai sekarang. “Bukannya Kakak yang ngelarang kami pacaran sebelum lulus kuliah?” “Itu peraturan dasar di keluarga kalian, kan? Kalian harus mencontoh Khafi yang memegang teguh peraturan itu.” “Apa perlu aku ingatkan kalau Kak Khafi enggak pernah pacaran? Jangankan pacaran, ngelirik cewek saja enggak pernah.” “Nah, bukannya dia orang yang sangat hebat?” Mendengar perkataan Barra, Dzaky menyadari sesuatu. Dia mengamati wajah Barra yang masih terlihat muda saat usianya sudah hampir tiga puluh dua tahun. “Apa Kakak enggak mau bilang suka sama Zaina karena Kak Khafi?” Barra tidak langsung menjawab. Dia menelengkan kepala. “Itu menjadi salah satu alasannya. Aku dan Khafi sudah sepakat untuk menjaga kalian. Tentu saja dengan cara kami masing-masing. Sebelum kalian lulus kuliah, kami masih akan menganggap kalian anak-anak.” “Jadi?” desak Dzaky tidak mengerti. “Apa menurutmu aku mau pacaran dengan anak-anak?” Dzaky tertawa. “Tapi, Zaina memang masih anak-anak, kan?” Dzaky tiba-tiba memikirkan sesuatu. “Sejak kapan Kakak suka sama Zaina?” “Sebaiknya kamu tidak menanyakan itu,” jawab Barra setelah berdeham. Mana mungkin dia mengaku kalau rasa itu sudah ada sejak masa remajanya. “Jangan-jangan ....” Dzaky mendekatkan diri pada Barra yang mencoba untuk tetap tenang. Dia pura-pura tidak memedulikan Dzaky yang terus menatapnya. “Pulanglah. Aku akan menemui Zaina.” Tidak mau repot menunggu jawaban Dzaky, Barra beranjak pergi. Dia bisa mendengar tawa Dzaky di belakangannya. Meski begitu, dia tidak berniat untuk menoleh ataupun menanggapi hal itu. Wajahnya pasti sudah sangat merah saat ini. Memalukan sekali kalau sampai Dzaky tahu yang sebenarnya. Seakan sengaja ingin membuat Barra benar-benar malu, Dzaky berteriak, “Jangan bilang kalau Kakak naksir dia sejak lama?” Barra menulikan telinga. Dia terus berjalan, sekarang semakin cepat. Kalau dia tidak cepat-cepat pergi, Dzaky bisa mengejeknya sampai pagi. Yang harus dia lakukan adalah menghilang dari pandangan Dzaky. Beginilah risiko memiliki calon kakak ipar yang masih kekanak-kanakan. Muka mesti ditebalkan. Siapa yang memutuskan untuk menjadi adik ipar dari pemuda kekanakan seperti Dzaky? Barra menghela napas berkali-kali. Untuk beberapa hari ini, dia akan menghindari Dzaky. Bukan karena takut atau apa. Dia hanya tidak ingin tenggelam sebelum sempat sampai di tujuannya. *** “Kenapa Kakak ke sini?” Zaina memandang Barra yang menatapnya tak berkedip. Gadis itu tersenyum dalam hati. Dia batu saja menata rambut di salon bersama Kamila. Kali ini, dia mewarnai rambut dengan warna cokelat muda, sangat cocok dengan kulit putihnya. Wajahnya juga sudah diberi make up natural yang menonjolkan kecantikan alami seorang wanita. Dia benar-benar bisa membuat siapa pun terpesona. Pria yang berdiri di depan juga mengakui kecantikan Zaina. Gadis itu memang sudah cantik sejak dulu. Namun, penampilan sekarang membuatnya semakin mengagumkan. Apa lagi dengan baju yang dikenakan. Zaina menggunakan tulle skirt hitam di bawah lutut, dipadukan dengan kemeja jeans panjang yang dilipat sedikit. Kalau berhasil membuat Barra terpesona sukses, itu artinya keinginannya sudah menjalankan misi dengan benar. Ada banyak hal yang ingin dia lakukan untuk memberi pelajaran pada Barra. Selain meminta segala hal yang diinginkan, dia juga akan memperlihatkan diri pada pria itu. Meski terdengar konyol, Zaina ingin Barra tahu kalau dia bukan lagi gadis kecil yang kekanakan. Dia bisa menjadi wanita dewasa yang cantik dan menarik. Dengan begitu, Barra akan sedikit merasa menyesal karena terus menganggapnya sebagai adik kecil yang perlu untuk dijaga dan dilindungi. “Kenapa kamu berdandan seperti itu?” Barra terang-terangan melihat Zaina dari atas ke bawah. Sementara sang gadis tersenyum manis. “Kenapa? Aku jarang banget, kan, dandan kayak gini. Kebetulan ada diskon di salon. Jadi, sekalian saja aku perawatan.” “Kamu hanya berdua dengan Kamila atau ada orang lain yang bersama kalian?” “Sekarang, sih, kami cuma berdua,” ujar Zaina sambil melirik Kamila yang masih belum keluar dari salon kecantikan. “Sekarang? Apa kamu punya rencana lain setelah ini?” “Memangnya Kakak pikir aku dandan kayak gini buat apa? Tentu saja aku punya rencana.” Zaina terkikik sebentar. “Aku mau makan sama teman-teman kampus.” “Apa? Dengan penampilan seperti ini?” Bukan hanya bertingkah aneh dengan berdandan di salon, Zaina bahkan akan menghadiri acara makan dengan teman kampusnya. Yang benar saja? Bagaimana bisa Barra membiarkan gadis itu pergi dengan penampilannya sekarang? Bagaimana kalau ada pria yang melirik dan suka padanya? Tingkah Zaina belakangan ini memang sedikit berbeda. Dia tidak lagi menghubungi Barra terus-menerus seperti sebelumnya. Membuat pria itu merasa kehilangan sosok yang mengganggu. Zaina juga seakan menjauhi dirinya dengan berbagai alasan. Sulit sekali untuk bertemu. Entah apa yang sebenarnya direncanakan oleh Zaina. Menurut para penjaga, Zaina hanya sibuk berbelanja dan bermain dengan Kamila setelah selesai ujian. Mereka sengaja pergi berdua dan tidak mau diganggu oleh siapa pun. Barra sangat keheranan. Di saat seperti ini, bukankah seharusnya Zaina menghabiskan waktu dengan dia? Dialah yang akan pergi dalam beberapa hari. Barra benar-benar dibuat frustrasi dengan sikap Zaina yang terus sok sibuk. Ketika dia ingin mengajak pergi, gadis itu selalu memberikan alasan. Dia bahkan menyiapkan kejutan dengan sangat hati-hati, tetapi Zaina tidak pernah mau mendengarkannya lagi. Apa Zaina sengaja berbuat begitu untuk membuatnya kesal? “Memang kenapa? Kata kakak salon itu aku kelihatan cantik,” kata Zaina sambil memilin rambutnya. Dia tersenyum lebar dan membuat mata Barra membesar. “Kamu benar-benar akan pergi dengan teman-teman kampusmu?” “Iya. Aku pergi bareng Kamila. Jadi, kenapa Kakak ada di sini? Mau perawatan juga?” “Aku?” Barra menunjuk dirinya sendiri, lalu tertawa. “Mana mungkin. Aku datang untuk menjemputmu. Sebaiknya kamu membatalkan rencanamu untuk makan.” “Kenapa? Aku sudah cantik gini, lho. Percuma, dong, aku ke salon kalau rencanamu batal.” Zaina menggembungkan pipi. Barra mendengar alarm tanda bahaya di kepalanya. Kalau Zaina terus bersikap seperti itu, dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya pada sang gadis. Setelah berhari-hari kesulitan menatap wajah cantik Zaina, Barra sangat merindukan keceriaan gadis itu. Tangan Barra tergoda untuk mencubit kedua pipi Zaina yang menggembung, tetapi dia menahan diri. Dia harus bertindak tenang agar bisa membujuk Zaina pergi dari tempat ini dan membatalkan rencana makannya. Dengan penampilan secantik itu, bagaimana bisa Barra membiarkan Zaina pergi. Dia tidak akan membiarkan ada orang lain yang melihat betapa memesona gadisnya. Untuk menjaga hati Zaina, dia harus melakukan apa pun, termasuk menjauhkannya dari tempat berbahaya yang dipenuhi oleh pria. “Bukankah sama saja. Aku akan mengajakmu makan. Jadi, riasanmu tidak akan sia-sia. Bagaimana? Adil, kan?” Barra mengeluarkan jurus andalannya, merayu Zaina. “Tapi, aku sudah terlanjur bilang bakal datang. Terus, Kamila gimana?” “Tidak perlu mengkhawatirkan Kamila. Aku sudah menyuruh seseorang untuk menjemputnya,” ujar Barra sambil melirik sebuah mobil yang terparkir tepat di samping mobilnya. Zaina menatap pria itu tak mengerti. “Siapa yang bakal jemput Kamila? Kakaknya?” “Sudahlah. Ayo, pergi. Aku sudah memesan tempat di restoran seafood.” “Benarkah? Aku mau udang crispy.” “Kamu bebas memesan.” Barra menggandeng tangan Zaina tanpa ragu. Membuat gadis itu menoleh padanya. Barra tidak mengatakan apa pun, hanya tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN