Bab 42: Rencana yang Terlupakan

1771 Kata
“Wah! Kakak benaran pesan semua ini?” Zaina memandangi meja yang penuh dengan makanan menggiurkan. Saat menemukan udang crispy kesukaannya, dia langsung mengambil dan menikmati. Kedua mata gadis itu melebar begitu merasakan kelezatan udang yang dipadukan dengan saus sambal pedas. Di hadapan sang gadis jelita, Barra tersenyum penuh kemenangan. Setelah beberapa hari tidak melihat senyum kebahagiaan Zaina, kini dia merasa sangat puas. Makanan memang lebih ampuh untuk merayu gadis itu ketimbang barang-barang mewah. Hanya saja dia tidak memiliki kesempatan untuk melakukan itu karena Zaina entah bagaimana berubah menjadi gadis paling sibuk sedunia. Rasa rindu yang bersarang di d**a perlahan menghilang. Wajah ceria Zaina ketika menikmati aneka macam masakan berbahan udang sangat menghibur Barra. Pria itu tidak pernah mengalihkan perhatian sedikit pun dari Zaina. Bahkan ketika pelayan datang mengantarkan minuman. Dia tidak berterima kasih seperti biasa. “Kakak enggak apa-apa?” Barra sedikit terkejut saat Zaina berada dekat sekali dengan dirinya. Dia meneliti setiap jengkal paras cantik gadis itu. “Kak Barra.” Bukannya menjawab, Barra malah mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Zaina yang terlihat lebih menggemaskan. Rona merah di pipi gadis itu bertambah saat dia mulai menggerakkan ibu jarinya secara perlahan. Pandangannya berpindah pada bibir mungil Zaina yang berwarna merah muda. Kalau saja Zaina tidak menjauh, mungkin Barra sudah melakukan hal gila. Mereka berpandangan sebentar sebelum Barra berdeham dan memutar tubuhnya menghadap meja. Sang pria mencoba mengendalikan jantungnya yang ikut menggila. Dia menoleh pada Zaina dan pura-pura tersenyum. “Duduklah. Makanannya masih banyak. Kalau kamu terus bengong begitu, semua akan dingin dan tidak enak lagi,” ujar Barra, lalu mulai melahap udang crispy. Dengan pandangan tak percaya, Zaina memperhatikan Barra yang menikmati makanan. Dia memalingkan wajah. Ternyata menghindari pria itu berhari-hari tidak mengubah apa-apa. Saat melihat Barra, fantasinya berlarian di kepala dan dia tidak mampu mengendalikan pikiran tersebut. Apa lagi jika Barra terus melakukan kebiasaannya menyentuh Zaina tanpa permisi. Seluruh tubuh gadis itu menegang begitu tangan Barra menempel di kulitnya. Dia bisa merasakan ada aliran listrik yang menyengat begitu mereka bersentuhan. Sensasi yang mendebarkan, sekaligus juga menegangkan. “Apa kita bakal belanja setelah makan?” “Kamu ingin membeli sesuatu? Apa stok makananmu sudah habis?” “Aku enggak mau beli cokelat lagi.” Makan cokelat tidak ada gunanya lagi. Ini semua karena Barra. Usahanya berhari-hari menjadi tidak berguna. “Apa tabungan Kakak cukup banyak untuk dihabiskan?” “Kenapa? Kamu mau meminta sesuatu yang mahal? Aku bahkan bisa membuatkan pesta pernikahan impianmu kalau kamu mau.” “Jangan bercanda. Kenapa Kakak harus nyiapin pesta pernikahan buat aku?” “Kenapa? Bukankah sudah wajar kalau aku yang menyiapkan segalanya?” Zaina memandang Barra yang tersenyum lebar. Dia mendengkus. “Enggak perlu. Kakak siapkan saja pernikahan Kakak sendiri. Bukannya Kakak sudah cukup tua a buat main-main?” Kening Barra mengerut saat Zaina mengatakan semua itu dengan wajah tanpa dosa. Dia tahu betul kalau saat ini Zaina tidak sedang bercanda. “Ngeliatnya biasa saja. Memang aku salah, ya?” “Apa menurutmu aku sudah tua?” Zaina mendongak. Matanya langsung bertatapan dengan Barra yang memandang lurus padanya. “Katakan, Zai. Apa aku terlihat tua di matamu?” ulang Barra, masih dengan wajah tegas. “Aku enggak bilang gitu,” ujar Zaina setelah mengalihkan mata. “Maksudku, Kakak sudah cukup umur buat nikah, jadi ....” “Tenang saja. Kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah menyusun rencana masa depanku. Begitu juga dengan pernikahanku. Kamu hanya perlu menunggu.” “Nunggu buat diundang?” tanya Zaina polos. Barra tertawa dan membuat gadis itu melemparkan tatapan membunuh padanya. Dia sedang serius dan Barra malah menjadikan pernikahan sebagai bahan candaan. Keterlaluan! “Kenapa aku harus mengundangmu?” “Kakak enggak bakal ngundang aku?” Barra memandang paras kecewa Zaina. Mana mungkin dia mengundang Zaina jika sang mempelai wanitanya adalah gadis itu sendiri. Nama mereka akan terukir di undangan pernikahan. Barra sungguh ingin mengeluarkan semua kalimat yang kini memenuhi kepala. Dia tidak tahan melihat wajah gadisnya. Meski begitu, Barra tidak boleh gegabah. Dia terlalu memberi kelonggaran pada dirinya sendiri. Ketika berbicara dengan Zaina, dia jadi sulit mengontrol apa pun. Seakan mulutnya sudah tidak sabar untuk mengungkapkan segala kebenaran. Namun, dia bersyukur karena hatinya masih teguh berpegang pada prinsip. “Kamu yakin ingin aku undang?” Zaina memandang Barra tak mengerti. “Kenapa Kakak tanya gitu? Kakak bakal ngadain pernikahan diam-diam?” “Kenapa aku harus melakukan itu? Aku akan menikah dengan gadis baik-baik. Keluarganya juga sangat baik. Lalu, kenapa aku harus menikah diam-diam?” Penjelasan Barra membuat Zaina menelan ludah. Dia mulai menciut lagi. Dari kalimat yang diucapkan oleh Barra, jelas sekali pria itu sangat mencintai calon istrinya. Sang gadis sungguh iri tanpa tahu apa-apa. Dia merasa semua makanan di meja mendadak menjadi gambar. Selera makannya pergi entah ke mana. “Kelihatannya Kakak suka banget sama dia?” “Rasanya kata suka terlalu sederhana. Dia terlalu berharga sampai aku tidak rela melepaskannya seumur hidupku. Aku akan menggenggam dia selamanya.” Zaina menghela napas. “Aku enggak tahu kalau Kakak bisa romantis?” “Benarkah? Bukankah kamu sudah sering melihatku merayu banyak wanita?” “Memang. Tapi Kakak enggak pernah seserius sekarang.” “Tentu saja. Karena dia gadis yang sangat istimewa. Mana bisa dibandingkan dengan wanita-wanita yang aku goda selama ini.” “Oh, ya? Aku jadi penasaran. Kakak enggak bakal ngenalin kami?” “Aku akan mengenalkannya pada kalian nanti. Dia masih belum siap untuk diperkenalkan,” kata Barra. Matanya menatap lekat Zaina yang menunduk. “Padahal kalian mau nikah. Kenapa dia belum siap?” gumam Zaina pelan, tetapi Barra masih bisa mendengar. Pria itu menghela napas. “Karena gadis itu kamu, Zai.” *** Gadis berambut panjang melirik pemuda yang duduk di sebelahnya. Dia menghela napas lagi. Entah sudah yang ke berapa. Berada di tengah-tengah orang yang tidak begitu dia kenal membuatnya gelisah. Terutama karena rencana yang dia susun sejak berhari-hari lalu harus terlupakan begitu saja. “Kenapa kamu gugup gitu? Ini, kan cuma acara makan bareng,” ujar si pria, Dzaky sambil mengangkat sebuah gelas berisi jus jeruk. “Aku bukannya gugup. Aku cuma enggak nyaman. Kenapa Kakak maksa aku pergi?” “Tolong kalimatnya diralat, ya. Kamu yang mau aku antar dan temani ke sini.” “Itu karena Kakak bilang kalau Zaina sudah pergi duluan,” ucap Kamila tak mau kalah. “Aku enggak salah, kan? Dia memang sudah pergi duluan.” “Iya. Tapi bukan ke tempat ini.” “Memang aku bilang kalau dia pergi ke sini. Kamu saja yang buat kesimpulan sendiri.” Kamila mengepalkan kedua tinjunya di bawah meja. Mana berani dia menunjukkan pada Dzaky yang kini asyik mengobrol dengan seseorang. Dia memperhatikan setiap wajah yang ada di sekelilingnya. Ada beberapa orang yang dia kenal. Meski begitu, dia jarang sekali berkomunikasi dengan mereka. Bukankah akan terasa canggung kalau Kamila mengajak mereka mengobrol? Padahal biasanya dia sangat banyak bicara. Bergaul dengan Zaina membuatnya sedikit kaku. Dia pasti ketularan Zaina yang lebih suka menyendiri. Untuk ke sekian kali, dia melirik Dzaky yang tampak menikmati perjamuan. Seorang pemuda yang duduk di belakang lawan bicara Dzaky melambai pada Kamila. Kedua mata gadis itu melebar. Dia bergidik ngeri sambil mengerjap-ngerjap. Dzaky yang menyadari hal itu menoleh ke arah si pemuda dan memberikan tatapan peringatan. Berani sekali menggoda gadis yang datang bersamanya? “Apa aku boleh pulang sekarang? Aku benaran enggak nyaman di sini.” “Enggak bisa nunggu sebentar lagi? Aku lagi asyik ngobrol, nih.” Dua orang masih saling berbisik. Kamila tidak mengerti mengapa Dzaky tiba-tiba muncul di hadapannya. Ketika dia keluar dari salon, Zaina sudah tidak ada. Dzaky bilang kalau Zaina sudah pergi terlebih dahulu. Dia pikir, sang sahabat pergi ke acara ini. Siapa tahu kalau Zaina ternyata punya acara dengan Barra. Semua ini pasti sudah diatur. Yang Kamila tahu, Zaina sudah bertekad untuk memberi pelajaran pada Barra. Termasuk pertunjukan petak umpet yang dilakukan oleh Zaina. Kamila tidak mengerti apa yang membuat sahabatnya tergiur kali ini. Padahal selama beberapa hari, Zaina sudah cukup berhasil. “Santai, dong, Mil. Nikmati dulu makanannya. Jarang-jarang kamu bisa pergi sama cowok ganteng kayak aku, kan?” Kamila mendelik. Dia menyadari kalau ada yang tidak biasa. Matanya mulai menoleh ke sana sini. “Kakakmu enggak ada.” “Kok, bisa?” tanya Kamila heran. “Bisa, dong. Aku dan Kak Barra yang ngatur. Jadi, nikmati kebebasan tanpa diawasi buat hari ini. Gimana? Kamu mau pergi ke suatu tempat?” “Sama Kakak?” Kamila bertanya dengan ragu. Dia melihat Dzaky yang mengenakan kemeja hitam pendek. Mana mungkin dia pergi dengan pemuda itu. “Kenapa? Kita cuma jalan, lho. Bukan kencan.” “Siapa juga yang mau kencan sama Kakak.” Kamila mencibir. “Serius, deh, Ki. Kalian enggak pacaran?” tanya pemuda yang duduk di samping Dzaky. Dia mengenalnya karena pernah berada di kelas yang sama. “Penasaran banget, ya, sama kami?” Dzaky sengaja memancing keingintahuan semua orang. Kamila memutar bola mata. Dia bergidik saat beberapa pasang mata mengerah padanya dan Dzaky. Ini semua karena pemuda itu. Kamila tidak tahu apa yang direncanakan oleh Dzaky saat ini. Kenapa dia harus memancing perhatian begitu. Yang pasti, dia tidak menyukai situasi yang terjadi sekarang. Dia belum pernah menjadi pusat perhatian karena hal-hal yang tidak penting semacam percintaan. Sebagai pelampiasan, Kamila menoleh pada Dzaky yang malah melemparkan senyuman manis. Gadis itu membesarkan mata. Bisa-bisanya Dzaky bersikap seperti itu. Kalau sampai terlibat masalah, dia akan membuat perhitungan. Setelah menyeret dirinya ke acara ini tanpa Zaina, sekarang Dzaky malah mau menimbulkan masalah baru. Awas saja jika mengatakan sesuatu yang aneh. Semua orang jelas sekali tertarik dengan apa yang akan Dzaky katakan. Mereka memajukan kepala agar bisa mendengar kalimat Dzaky dengan lebih jelas. Kamila berpaling dari Dzaky dan memandangi piring-piring di atas meja yang penuh dengan berbagai hidangan. Pikirannya kosong. “Kalian maunya aku jawab apa?” tanya Dzaky sok misterius. “Kabar baik bakal lebih seru. Iya, kan?” celetuk seorang gadis yang duduk di depan Dzaky. Kamila sungguh tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Kenapa Dzaky tidak menyelesaikan masalah ini dengan cepat dan segera pergi dari sini. “Iya, Kak. Kalian pacaran, kan?” timpal yang lain. “Mana mungkin aku pacaran dengan Kak Dzaky,” kata Kamila tegas. Dia tidak memedulikan tatapan Dzaky yang tajam. Salah siapa mengulur waktu dan membuatnya berada di situasi yang tidak nyaman ini. Sekarang, para mahasiswa itu mulai berbisik-bisik. Kamila melirik Dzaky yang masih menatap tajam padanya. Dalam hati, dia bersorak penuh kemenangan. Dari tadi, selalu Dzaky yang memimpin keadaan. Saat ini, giliran dia yang bertindak. Enak saja meremehkan seorang adik tingkat sepertinya. “Kamu lupa kalau aku baru saja nembak kamu?” Mata Kamila membesar. Dia sepenuhnya menoleh pada Dzaky. “Dan kamu bilang kalau kamu suka aku. Iya, kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN