Bab 43: Si Menyebalkan

1801 Kata
“Kenapa Kakak harus ngomong aneh-aneh kayak gitu?” protes Kamila. “Aku, kan, cuma bercanda. Mereka juga terhibur. Apa yang salah?” “Apa yang salah? Aku enggak tahu kalau Kakak orangnya kayak gini.” Dzaky mengerjap. Dia tidak begitu nyaman saat Kamila jelas-jelas melihat dirinya dari atas ke bawah. Pemuda itu berdecap. Belum ada yang mengatakan hal buruk mengenai dia selama ini. Dia mahasiswa yang cukup populer di kampus. Bagaimana bisa Kamila justru merasa keberatan karena terlibat dengannya? Mengingat bagaimana polosnya Kamila, Dzaky bisa menerima penghinaan dari gadis itu. Toh, memang dia yang memancing keadaan. Jujur saja, Barra tidak memintanya membawa Kamila ke acara. Dia justru menginterupsikan Dzaky untuk mengantar Kamila pulang. Namun, penampilan Kamila akan sangat disayangkan kalau dibawa pulang. Jadi, Dzaky berinisiatif membawanya ke tempat ini. Ini kesempatan yang sangat langka melihat Kamila mau berdandan begitu. Untuk sesaat, Dzaky terpesona pada paras cantik Kamila yang menggoda. Dia menjadi sedikit serakah karena ingin melihat wajah itu lebih lama. Mengenai masalah lainnya, dia akan menyelesaikan nanti. “Apa maksud kamu dengan kayak gini?” tuntut Dzaky. Nyali Kamila tiba-tiba melayang entah ke mana. Dia menundukkan kepala. “Aku enggak punya maksud apa-apa.” Kamila menghela napas. “Apa Zaina benaran pergi sama Kak Barra?” tanyanya masih ingin memastikan. “Apa aku harus bilang itu di ruang penyiaran kampus? Biar semua orang tahu kalau mereka pergi bareng. Gimana? Ide brilian, kan?” “Apa Kakak memang selalu begini?” “Kalau sekali lagi kamu bilang kayak gitu, aku benaran bakal ke ruang penyiaran dan bilang apa yang kamu katakan sebagai jawaban.” “Kekanakan!” Kamila memutar bola mata, lalu berjalan cepat untuk meninggalkan Dzaky yang masih sibuk meneriakkan makian dalam hati. Belum ada orang yang berani mengatakan Dzaky kekanakan selain Barra dan Khafi. Itu pun sudah sangat lama berlalu. Dia sungguh tidak bisa menerima Kamila mengatainya begitu padahal sang gadis berusia dua tahun lebih muda. Pantas saja dia cocok berteman dengan Zaina. Mereka sama-sama menyebalkan. Meski begitu, Dzaky cukup terhibur hari ini. Dia bisa menikmati suasana yang menyenangkan berkat Kamila. Baru saja mengenal Kamila sebentar, dia sudah mengalami banyak hal baru dalam hidup. Rasanya kisah mereka tidak akan berhenti sampai di sini saja. Pria berkemeja hitam memperhatikan Kamila yang setengah berlari. Dia tidak tahu mengapa gadis itu seakan risi berdekatan dengannya. Apa Kamila tidak tahu berapa banyak mahasiswi yang ingin berkenalan dan mengajaknya berkencan? Kalau mereka menyaksikan kejadian harus ini, semua pasti iri. Dengan senyum lebar yang menghias bibir, Dzaky menyusul langkah Kamila. Ketika mereka hampir sejajar, Kamila berjalan semakin cepat. Dzaky mengikuti. Kamila berjalan cepat. Dzaky mengikuti. Begitu terus sampai beberapa kali. Sikap Dzaky membuat gadis itu menyerah dan menoleh sambil berkacak pinggang. Kedua mata jernih Kamila menatap Dzaky. Wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda persahabatan sedikit pun. Tidak terpengaruh, Dzaky justru melangkah mendekat. Hal itu memaksa Kamila mundur. Sang gadis baru saja akan mengatakan sesuatu yang mengganjal di hati, tetapi urung karena telepon selulernya berbunyi. Nama Zaina yang super baik muncul di layar. Dia menoleh sebentar pada pemuda di depannya, lalu mengangkat panggilan. Suara bising langsung menyapa indra pendengar sang gadis. Refleks, dia menjauhkan benda pipih itu sambil memejamkan mata. Dia memandangi layar telepon seluler. Panggilan masih berlangsung. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Zaina dari seberang sana. Suara bising sudah mulai berkurang. Kamila menghela napas, kemudian melirik Dzaky yang tersenyum tanpa dosa. Mana mungkin dia baik-baik saja setelah apa yang baru dialami. “Kenapa kamu enggak tanggung jawab banget? Bukannya kamu sudah buat keputusan? Kenapa malah ninggalin aku di tengah jalan?” “Kak Dzaky masih sama kamu?” “Menurutmu?” Kamila berjalan menjauhi Dzaky, tetapi pria itu mengikuti. “Bisakah Kakak enggak ngikuti aku? Kakak pulang saja duluan, aku bisa naik taksi.” “Aku yang bawa kamu ke sini, jadi aku juga yang bakal ngantar kamu pulang.” “Jangan bercanda. Kenapa kakak harus ngantar aku? Aku rasa, Kakak juga enggak nyaman ada di dekatku. Iya, kan?” “Jadi, kamu enggak ngerasa nyaman kalau kita jalan bareng kayak gini?” “Menurut Kakak? Apa Kakak enggak sadar berapa banyak orang yang lagi merhatiin kita?” Kamila menyapu sekitar. Beberapa orang menatap secara terang-terangan. Sementara yang lain hanya mengintip atau melirik saat dia dan Dzaky tidak menoleh. Kekacauan ini sungguh mengganggu Kamila. Sepertinya keluarga Zaina memang tidak ada yang beres. Kamila tidak mengerti kenapa sang sahabat bisa bertahan memiliki dua orang kakak yang aneh. Pantas saja Zaina begitu bergantung pada Barra. Mungkin karena kedua kakaknya yang tidak bisa bersikap normal begitu. Kamila kembali melangkah. Dia mengangkat tangan ketika Dzaky berniat mengikuti. Mata gadis itu melotot saat Dzaky tetap berjalan mendekat. Kenapa dia harus berurusan dengan si pembuat masalah? Dia benar-benar tidak ingin terlibat dengan gosip apa pun di kampus. Keinginan berpacaran memang pernah terlintas dalam benak Kamila, tetapi bukan dengan pemuda seperti Dzaky. Dia membayangkan seseorang yang pengertian dan cerdas. Bukan yang suka mencari perhatian dan masalah. Kalau berita ini sampai menyebar, apa kakaknya akan membereskan? Mengingat bagaimana cara Dzaky berkata mengenai bagaimana bisa dia membawanya, Kamila yakin kalau sang kakak mudah ditaklukkan oleh Dzaky. Atau Barra? Apa pun itu, sikap Dzaky saat ini membuatnya tidak nyaman. Tadi sudah cukup mengesalkan ketika Dzaky membual di dalam. Kenapa masih harus mengikuti dan menjadi pusat perhatian lagi di luar? “Apa kakakku ganggu kamu?” Suara Zaina terdengar lagi dari seberang sana. “Gimana bisa kamu bertahan di antara pria aneh yang ngelilingi kamu? Aku salut banget sama kamu karena enggak stres.” “Siapa bilang aku enggak stres? Mereka semua memang gila.” “Kalau aku jadi kamu, aku mungkin juga bakal gila. Apa kamu enggak bisa ngusir dia? Kami jadi perhatian orang sekampus gara-gara datang bareng.” “Sori, ya. Kamu jadi dapat masalah gara-gara aku. Kasih handphone-nya sama dia.” Dzaky mengerutkan kening saat Kamila mengulurkan telepon seluler padanya. Meski begitu, dia tetap menerima. Dia menghela napas saat melihat nama yang terlihat di layar. Harusnya dia bisa menebak siapa sang penelepon saat Kamila terus melirik. Kenapa Barra tidak bisa menjaga adiknya dengan benar. “Kenapa? Mau protes?” “Tentu saja. Sebaiknya Kakak biarkan Kamila pergi atau aku bakal lapor Kak Khafi kalau Kakak buat masalah di kampus.” “Kamu ngancam kakakmu sendiri?” “Iya. Kenapa?” Zaina berhenti sejenak. “Jangan ganggu Kamila.” “Jangan ikut campur. Ke mana Kak Barra pergi?” “Kenapa Kakak mau tahu? Kalian pasti sudah ngerencanain ini, kan?” “Kenapa? Kamu juga nikmatin, kan? Enggak usah pura-pura. Aku tutup teleponnya.” Tanpa menunggu jawaban dari Zaina, Dzaky menekan ikon berwarna merah, lalu menyerahkan telepon seluler pada Kamila. Sekarang, Kamila menatap Dzaky yang tetap menyunggingkan senyum. Pemuda itu sungguh tidak tahu situasi yang mereka hadapi. Apa sebenarnya dia pemuda yang suka mencari masalah? Ditatap begitu, Dzaky semakin melebarkan senyum. Entah mengapa, melihat tingkah Kamila yang seperti itu begitu menyenangkan. Dia mulai menyukai ekspresi wajah Kamila yang berubah-ubah. Ini pertama kalinya dia merasakan. Mungkin karena ini juga pertama kali dia berinisiatif mengganggu gadis selain Zaina. Melukis membuat Dzaky fokus pada tujuan. Dalam kepalanya tidak pernah terlintas akan mendekati seorang gadis atau bahkan menggodanya seperti ini. Ada sensasi aneh setiap kali Kamila menatapnya dengan mata lebar. Ada yang menggelitik dan membuat kedua sudut bibirnya terus terangkat. “Kakak enggak bakal pergi?” Sekali lagi, Zaina memandang sekeliling. “Ini sudah keterlaluan. Aku enggak mau terlibat masalah sama Kakak?” “Jadi, kamu mau terlibat sama cowok lain?” “Aku enggak mau terlibat sama cowok mana pun. Jadi ....” Zaina menatap tajam Dzaky. “Kenapa juga aku harus jelasin ini sama Kakak? Memangnya siapa Kakak?” “Aku? Kamu enggak sadar siapa aku?” “Ah, tentu saja. Kakak si pengganggu yang suka buat onar dan menyebalkan.” “Aku enggak tahu kalau kamu bisa ngomong ketus kayak gitu.” “Aku juga enggak tahu kalau kakak nyebelin kayak gini.” Sepertinya akan sulit mendapatkan perhatian dari Kamila. Gadis itu keras kepala dan tidak suka diganggu. Dzaky bisa merasakan aura kuat yang mengelilingi Kamila. Gadis itu pintar mempertahankan diri. Hanya saja, Dzaky bukan orang yang mudah dikalahkan. Dia selalu bertekad saat menginginkan sesuatu. Dzaky mengerutkan kening ketika menyadari satu hal. Dia menginginkan Kamila. Untuk apa? Kenapa dia tertarik pada sahabat sang adik? Ini terasa semakin aneh. Awalnya, dia hanya ingin bersenang-senang dan mengerjai Kamila. Kenapa sekarang dia jadi mau terus bersama gadis itu. “Sampai kapan Kakak bakal ngikuti aku?” tanya Kamila kesal. Kali ini, dia tidak lagi menyembunyikan ekspresi. Dia tidak tahan diikuti oleh berpasang-pasang mata. Sudah cukup buruk dianggap berpacaran oleh semua orang. Ditambah pacarnya adalah seseorang yang tidak tahu malu seperti Dzaky. Kamila akan membuat perhitungan dengan sang sahabat. Andai saja Zaina tidak pergi tiba-tiba, dia tidak akan berada di sini bersama Dzaky begini. Percuma sama menyesali itu sekarang. Toh, semua sudah terjadi. Kini, dia harus segera menghindari Dzaky agar tidak terus menerima tatapan penuh keingintahuan dari semua orang. Mereka seakan bisa melubangi seluruh tubuhnya dengan mata seperti itu. Kenapa mereka suka sekali mencampuri urusan orang lain. Sudut mata Kamila melirik Dzaky yang masih setia menampilkan senyuman. Rasanya dia ingin sekali melemparkan apa pun ke wajah tampan itu. Dia tidak terkenal sampai semua orang ingin tahu mengenai dirinya. Jadi, mungkin mereka menyukai Dzaky. Apa Dzaky memang sangat berpengaruh? Bisa jadi. Dzaky dari jurusan seni, tetapi mahasiswa di jurusan Kamila nyaris semua mengenalnya. Bukankah itu berarti Dzaky sangat terkenal. Kamila jadi penasaran apa yang membuat Dzaky begitu dikenal. Tidak mungkin kalau hanya karena ketampanannya, bukan? Pasti ada alasan lain. “Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?” Dzaky sudah tidak tahan dengan tatapan menilai yang diterimanya dari Kamila. “Aku cuma penasaran, apa Kakak sangat terkenal?” tanya Kamila tanpa basa-basi. Pertanyaan itu membuat Dzaky tertawa. “Kamu enggak tahu gimana terkenalnya aku? Zaina enggak pernah cerita soal aku?” “Cerita, sih, tapi ....” “Dia pasti cuma cerita hal-hal jelek. Iya, kan?” Kamila tidak menjawab. “Dasar adik enggak berbakti. Sesekali dia harus dikasih pelajaran.” “Apa yang bakal Kakak lakuin sama dia?” selidik Kamila. “Kenapa? Kamu mau ngadu sama Zaina?” Dzaky menyilangkan tangan di d**a. Sejujurnya, Kamila tidak bermaksud begitu. Dia menghela napas, lalu menatap Dzaky sambil tersenyum. Kekakuannya membuat Dzaky mundur sambil melepaskan tangan. Kening pria itu berkerut. Firasat sang pemuda mengatakan ada yang tidak beres. Tatapan Kamila sungguh mengganggu dan membuatnya gelisah. “Gimana kalau aku ikutan?” “Ikutan apa?” Suasana semakin tidak nyaman. Dzaky masih belum mengerti apa yang diinginkan oleh gadis di hadapannya itu. “Bukannya Kakak mau kasih pelajaran sama Zaina?” Mendengar itu, Dzaky tersenyum miring sambil menelengkan kepala. “Kamu punya dendam apa sama dia?” “Kejadian hari ini, dia ikut bertanggung jawab,” ujar Kamila penuh semangat. “Oke. Kayaknya kamu mitra yang cukup andal. Ayo, kita susun rencana.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN