“Kakak yakin enggak apa-apa ngelakuin ini? Gimana kalau Kak Barra tahu?”
“Kamu sudah nanyain itu dari tadi. Enggak bosan?” balas Dzaky sebal. Dia memandangi Kamila yang memperhatikan pergerakan Zaina. “Dia, kan, cuma ketemu sama Daniel dan makan bareng. Kenapa kamu berlebihan gitu?”
“Tapi kita nipu dia. Gimana kalau dia marah?” Dzaky mendengkus.
“Bukannya kamu mau ngasih dia pelajaran.”
“Iya, tapi ....”
Kamila tidak melanjutkan kalimatnya. Dia tidak bermaksud memberi pelajaran yang seperti ini pada Zaina. Sang sahabat tidak menyukai Daniel dan Dzaky malah memintanya membuat janji dengan gadis itu. Entah ini ide bagus atau buruk. Sejak tadi, Kamila berdoa agar Barra tidak mendadak datang.
Kemudian, Kamila memikirkan sesuatu. Dia menoleh pada Dzaky yang menyilangkan kaki sambil tersenyum lebar. Gadis itu benar-benar tidak bisa menebak apa yang kini dipikirkan oleh pemuda tersebut. Sepertinya Dzaky memiliki sisi lain yang sulit untuk ditebak dan Kamila tidak bermaksud mencari tahu.
Setelah Zaina selesai makan, Kamila akan meminta maaf karena setuju pada rencana Dzaky. Harusnya sejak awal dia mencegah masalah ini timbul. Kenapa dia mengkhianati sahabatnya demi pemuda tidak dikenal seperti Dzaky. Mereka baru mulai mengobrol dan dia sudah kehilangan akal.
“Pertunjukan dimulai,” gumam Dzaky. Dia menyembunyikan wajahnya dengan buku menu. Kamila menatap tak mengerti.
Merasa penasaran, Kamila mengikuti arah pandang Dzaky. Kedua mata gadis itu membola begitu melihat Barra yang terlihat memasuki kafe. Wajah Barra tidak terlihat bersahabat ketika berjalan menghampiri Zaina dengan langkah panjang. Kamila bisa merasakan aura si sekitarnya menjadi gelap.
“Kakak ngasih tahu Kak Barra soal ini?”
“Tentu saja. Kita mau kasih pelajaran Zaina, kan?”
“Iya. Tapi kenapa ngelibatin Kak Barra? Bukannya Kakak bilang kita cuma perlu ngundang Daniel buat makan? Kenapa sekarang ada Kak Barra?”
“Makan sama Daniel itu bukan masalah besar buat Zaina. Dia masih bisa terima. Tapi, kalau dia kena teguran dari Kak Barra, itu baru seru,” jelas Dzaky.
Mengapa Kamila merasa kalau apa yang dilakukannya sekarang adalah sebuah kesalahan? Apa dia perlu memberi tahu Barra kalau ini bukan kemauan Zaina, melainkan rencana yang disusun oleh Dzaky. Tentu saja dia tidak akan lari dari tanggung jawab. Dia akan mengakui kesalahan ini.
“Bukankah pertunjukan bagus?” tanya Dzaky dengan senyum penuh kemenangan. Namun, dia lantas berdeham sambil mengerjap untuk beberapa saat. Tatapan Barra sungguh bisa memotong apa pun. Dia pasti tidak akan dilepaskan dengan mudah.
“Sepertinya Kak Barra sudah tahu kalau ini perbuatan Kakak,” ujar Kamila saat melihat ekspresi Dzaky yang tiba-tiba berubah.
“Sebaiknya kita pergi dari sini sebelum dapat masalah.”
“Kenapa aku harus ikut Kakak? Aku enggak salah.” Dzaky menatap tajam Kamila. “Kenapa Kakak lihat aku kayak gitu?”
“Karena kamu enggak bakal sadar kalau enggak dipelototi. Kamu pikir Barra bakal diam begitu tahu kamu kerja sama sama aku?”
Ucapan Dzaky benar. Biar bagaimana pun, apa yang kini terjadi juga akibat perbuatan Kamila. Mungkin pemuda itu benar, dia sebaiknya pergi. Untuk sementara, biarkan Barra mengambil alih dan menyelesaikan permasalahan yang ditimbulkan oleh calon kakak iparnya. Benar-benar situasi yang tidak menguntungkan.
Dengan sedikit enggan, Kamila mengikuti langkah Dzaky menjauh dari kafe. Dia masih bisa melihat Zaina yang saat ini terus menatap Barra. Semoga saja hubungan mereka tidak memburuk. Zaina mencoba menciptakan kenangan baru yang lebih baik sebelum Barra pergi. Kamila sudah mengacaukan hal itu dalam sekejap.
***
Begitu melihat foto yang dikirimkan oleh Dzaky, Barra nyaris melempar map yang baru saja ditandatanganinya. Dia menghela napas, lalu memejamkan mata untuk menenangkan diri. Sayang, teori itu tidak berhasil diterapkan. Kalau masih saja kesulitan mengendalikan perasaan, dia bisa melakukan hal di luar batas.
Tanpa menunda lagi, Barra pergi begitu saja. Dia meninggalkan semua dokumen yang harus dikerjakan. Siapa yang peduli pada hal itu saat hatinya tengah terbakar. Meski berusaha untuk tenang dan tidak terburu-buru, dia tetap menjalankan mobil dengan cepat. Dia ingin segera sampai ke tempat Zaina.
Di sana, Barra mengepalkan tangan melihat Zaina yang tertawa bersama Daniel. Rasanya dia ingin melempar apa pun yang ada di dekatnya. Demi menjaga reputasi, dia berdiri cukup lama di luar kafe untuk menenangkan diri. Dia tidak boleh terlihat menyedihkan di depan rivalnya.
Dengan langkah yang lebar, Barra mendekati meja Zaina. Kalau menurutku kata hati, dia pasti sudah berlari. Namun, dia tidak ingin memperlihatkan kekesalannya. Jadi, pria itu menghampiri Zaina sambil tersenyum. Dia bisa menangkap keterkejutan Zaina saat menyadari kehadirannya. Mereka bertatapan beberapa saat.
Kemudian, Barra beralih pada Daniel yang tersenyum sinis. Dia sangat mengerti kalau pemuda itu merasa berada di atas awan karena berhasil mengajak Zaina makan bersama. Pelipis Barra berdenyut-denyut. Ini pasti bukan sebuah kebetulan saja. Ada orang usil yang sengaja ingin membuatnya marah.
Curiga dengan sesuatu, Barra menyapu seluruh isi kafe. Benar saja. Dia melihat sosok Kamila dan Dzaky yang duduk bersama di sebuah meja. Melihat tidak tingkah Kamila, pria itu yakin sekali kalau Dzaky yang merencanakan ini. Entah apa tujuan sang kakak dengan melakukan ini.
Itu tidak penting sekarang. Sebelum membuat perhitungan dengan Dzaky, Barra akan mengurus Zaina terlebih dahulu. Jadi, dia duduk di antara Zaina dan Daniel tanpa mengatakan apa-apa. Dia mengeluarkan senyum andalan untuk menutupi semua perasaan yang bercampur aduk di hati.
“Ini bahkan belum jam makan siang dan kalian sudah ada di sini?” Barra menatap tajam kedua orang yang ada di kanan kirinya.
“Enggak perlu nunggu jam makan buat makan bersama, kan?” timpal Daniel.
Zaina yang merasakan ada hawa yang kurang menyenangkan, memutuskan untuk angkat bicara. Dalam hal ini, dia juga dijebak. Dia tidak tahu kalau akan ada Daniel di sini. Ketika sedang berada di rumah, dia mendapatkan pesan dari Kamila yang memintanya untuk datang dan menemani makan.
Sang gadis sendiri tidak yakin apa alasan Kamila melakukan ini. Sahabatnya itu tahu benar kalau dia tidak menyukai Daniel. Dia juga tidak bermaksud memberikan harapan palsu pada si pemuda cerdas. Kalau mau jujur, dan dia lumayan kesal dengan perbuatan Kamila.
Belum lagi Barra yang mendadak muncul dan merusak suasana. Terus terang, Zaina merasa sangat terlindungi dengan kehadiran Barra. Dia sama sekali tidak nyaman saat hanya berdua dengan Daniel. Apa lagi pemuda itu terus berbicara padanya. Sementara dia tidak mengerti apa pun.
“Kenapa Kakak ada di sini?”
“Kenapa kamu selalu menanyakan hal yang sama saat kita bertemu?” balas Barra.
“Karena Kakak selalu muncul tiba-tiba. Kali ini apa alasan Kakak?”
“Bukannya kita punya janji hari ini?” Barra memandangi Zaina yang melirik Daniel.
“Tapi Kakak bilang kita bakal pergi setelah jam makan siang, kan?”
“Aku berubah pikiran. Jadi, aku menyusul kamu ke sini.” Barra menoleh pada Daniel. “Aku harap aku tidak mengganggu acara kalian,” ucapnya, sengaja memainkan mata ke arah sang rival.
“Kakak sangat tahu persis keadaannya.” Giliran Daniel yang menoleh pada Zaina. “Apa kita perlu mengganti waktu makan kita di lain hari?” tanyanya penuh harap.
“Aku ... kirim pesan saja nanti.” Zaina tersenyum kikuk. “Ayo, pergi,” katanya pada Barra. Pria itu menanggapi dengan senyuman lebar.
“Kalau begitu kami permisi. Nikmati makan siangnya. Kalau kamu merasa kesepian, kamu bisa mengundang temanmu yang lain,” ucap Barra.
Sebenarnya Daniel masih ingin mengatakan banyak hal pada Barra, tetapi melihat Zaina yang beranjak dari kursi, dia urungkan niat itu. Dia sedikit kesal saat melihat Zaina menarik tangan Barra keluar dari kafe. Seakan keberadaannya di sana tidak terlihat. Kalau saja dia lebih berani, semua ini tidak akan terjadi.
Ketika menerima pesan dari Kamila mengenai makan bersama ini, Daniel sangat senang. Dia semakin bahagia begitu melihat Zaina yang sudah duduk di kursi kafe. Setelah menunggu Kamila cukup lama, dia sadar kalau ada yang tidak beres. Meski belum mengerti bagaimana situasinya, dia tahu kalau Kamila tidak akan datang.
Sebagai jawaban, Daniel malah harus menyaksikan kedekatan Zaina dan Barra lagi. Sepertinya memang ada yang sengaja menciptakan situasi ini. Dia ragu kalau orang itu adalah Kamila. Jadi, dugaannya ada orang yang memengaruhi Kamila untuk mengirimkan pesan. Siapa orang tersebut?
Sementara di luar kafe, Zaina masih terus menarik tangan Barra. Dia tahu kalau pria itu pasti akan mengatakan hal-hal aneh kalau terlalu lama berada di depan Daniel. Ketika merasa Barra tidak melakukan pemberontakan, dia menoleh. Ternyata Barra hanya tersenyum sambil memandanginya.
“Apa yang lucu sampai Kakak terus tersenyum kayak gitu?”
“Banyak. Ngomong-ngomong, kapan kamu akan melepaskan tanganku? Semua orang melihat kita sejak tadi. Bagaimana kalau mereka berpikir macam-macam?”
Perkataan Barra refleks membuat Zaina melepaskan tangan. Matanya melirik ke semua sudut. Beberapa orang memang melihat mereka dengan tatapan ingin tahu. Dia lantas menghela napas, lalu menatap tajam Barra yang masih saja menampilkan senyuman menyebalkan itu.
“Dari mana Kakak tahu aku ada di sini?”
“Bisakah kamu menanyakan hal lain saat kita bertemu? Kamu sudah tahu jawabannya, tapi tetap bertanya. Aku terlalu lelah untuk menjawab.”
“Oke. Aku ganti pertanyaannya. Apa Kakak sengaja datang karena tahu aku makan sama Daniel?” Zaina mendelik saat Barra malah mengedipkan mata. “Enggak usah banyak alasan. Siapa yang ngasih tahu Kakak kalau kami makan di sini?”
“Menurutmu?” Zaina terdiam. Mungkinkah Kamila?
“Sebenarnya ada apa antara temanmu Kamila itu dengan Dzaky?”
“Kamila dan Kak Dzaky? Kenapa Kakak tiba-tiba tanya soal mereka?”
“Aku kemarin menyuruh Dzaky mengantar pulang Kamila, tapi Dzaky justru membawa gadis itu ke acara makan kalian. Sekarang, dia ada di kafe itu dengan temanmu.” Zaina menoleh ke kafe yang sudah cukup jauh dari tempatnya.
“Mereka juga ada di kafe itu? Kakak yakin?” Barra mengangguk pasti. “Aneh banget. Kenapa mereka berduaan di kafe? Aku bahkan enggak lihat mereka.”
“Karena kamu asyik bersama cowok itu, sampai tidak menyadari keadaan.”
Kalimat Barra yang penuh penekanan itu membuat Zaina menyipitkan mata. Dia hampir mengira kalau Barra sedang cemburu andai saja tidak tahu tang sebenarnya. Meski begitu, dia senang karena Barra masih merasa keberatan saat dia berdekatan dengan orang lain. Itu berarti dia masih diperhatikan. Benar, bukan?
“Kakak lagi cemburu?” goda Zaina. Dia mencoba untuk bercanda agar Barra tidak menyudutkan dirinya. Namun, apa yang dikatakan Barra sungguh di luar dugaan.
“Aku memang cemburu. Bisa-bisanya kamu makan dengan pria lain dan sangat menikmatinya,” kata Barra sambil menatap lurus Zaina.
“Wah! Akting Kakak bagus banget.” Zaina bertepuk tangan. Padahal jantungnya hampir melompat keluar karena kalimat yang diucapkan oleh Barra barusan.
Di sisi lain, Barra tergoda untuk berteriak kalau dia tidak sedang bercanda. Dia sangat serius dengan ucapannya tadi. Kedekatan Zaina dan Daniel membuat hatinya terbakar api cemburu. Andai tidak menahan diri, dia pasti sudah melayangkan tinju pada Daniel. Terutama karena dia tahu kalau pemuda itu menyukai Zaina.
Meski tahu ini hanya akal-akalan Dzaky, tetap saja Barra merasa sangat marah. Dia tidak boleh memberikan peluang sedikit pun pada Daniel untuk mendekati Zaina. Pesona Daniel cukup mematikan. Bukan karena dia merasa kalah dari Daniel. Hanya saja dia tidak suka cara Daniel menatap Zaina dengan lembut.
Ingin sekali merengkuh Zaina ke dalam pelukan saat melihat senyum manisnya. Barra hampir saja melakukan apa yang ada di pikirannya itu andai bunyi telepon seluler tidak mengganggu. Dia tidak menyadari bagaimana cara Zaina menatapnya sekarang. Sang gadis menundukkan kepala begitu Barra menjauh untuk menerima panggilan. Siapa yang menelepon sampai Barra tidak bisa menerima panggilan di depan Zaina?