Bab 45: Hadiah Termanis

1782 Kata
“Kita mau ngapain?” Zaina memandangi sekumpulan orang yang mengerumuni sebuah toko. Dia menoleh pada Barra sambil mengerutkan kening. Setelah mengacaukan acara makan bersama Daniel, pria itu membawanya ke sebuah pusat perbelanjaan. Hal itu akan terlihat normal andai Barra langsung menyuruhnya belanja. Namun, apa tujuan Barra datang ke toko di hadapan mereka? Dilihat dari nama toko dan logo, itu adalah sebuah toko kue. Sekali lagi, Zaina menoleh pada Barra yang malah menunjuk toko dengan dagu. Zaina masih belum mengerti apa maksud Barra. Pria tersebut tidak meminta dirinya untuk mengantre dan membeli kue, bukan? Suasana di sini ramai sekali. Dia tidak akan tahan berdiri di antara kerumunan orang yang rela menunggu entah apa. “Kakak mau aku ngapain?” “Kamu lupa dengan sesuatu yang kamu inginkan?” tanya Barra sambil memandangi Zaina. Dia menghela napas saat gadis itu terdiam. “Bukannya kamu mau mencoba brownies panggang terenak? Ini tempatnya.” “Ya, ampun, Kak. Kalau mau beli bisa via online, kan? Kenapa harus ke sini buat desak-desakan kayak gini. Buang waktu dan energi tahu?” Sang gadis mundur selangkah saat Barra mendekatkan kepala. Dia menunduk sebentar sebelum kemudian mendongak penuh keberanian. Perbuatan Zaina membuat Barra tertawa. Dia meraih tangan gadis itu, lalu menariknya untuk mengantre bersama puluhan orang. “Aku hanya mengabulkan salah satu keinginan kamu,” ujar Barra saat Zaina masih saja memperhatikan wajah pria yang tidak menoleh padanya. “Maksud Kakak?” Kali ini, Barra memutar badan agar menghadap Zaina sepenuhnya. “Kamu yang mau aku temani mengantre, bukan? Setiap kali kamu mengajak aku mengantre begini, aku selalu beralasan sibuk. Sekarang, aku menuruti keinginanmu. Apa kamu tidak merasa tersentuh sedikit pun?” Tentu saja Zaina sangat tersentuh. Dia tidak tahu kalau Barra mengingat kalimatnya. Itu sudah cukup lama. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Barra akan mengabulkannya hari ini. Mengapa saat dia sudah mengetahui rencana masa depan Barra, pria itu justru menghujaninya dengan perhatian. Berada dalam kebahagiaan semu seperti ini membuat Zaina takut. Mungkinkah Barra sengaja membuatnya senang sebagai salam perpisahan sebelum dia memulai hidup baru dengan wanita yang dicintai. Untuk ke sekian kali, gadis itu kembali masuk dalam perangkapnya sendiri. Bagaimana bisa dia terus terjatuh dalam perasaannya? Seharusnya Zaina tetap mempertahankan rencana. Kenapa dia selalu gagal membuang keinginannya untuk berdekatan  dengan Barra? Ketika dia mulai merelakan pria itu, Barra terus saja muncul dan mengacau. Tidak bisakah Barra melihat usahanya untuk menjauh? “Maju, Zai. Malah melamun.” Barra menepuk pundak Zaina dengan tangan kanannya. Sementara tangan kiri pria itu masih memegang tangan sang gadis. “Awas saja kalau kuenya enggak enak. Aku bakal minta ganti rugi sepuluh kali lipat.” “Kenapa hanya sepuluh? Kenapa tidak sekalian seratus?” “Oke. Seratus kali lipat. Jangan nyesal, ya. Kakak yang minta.” “Apa pun buat kamu.” Zaina menoleh. Dia langsung mengalihkan pandangan begitu tahu Barra tengah menatapnya sambil tersenyum. “Kakak bakal terus gandeng aku? Aku mulai pegal, nih.” Zaina berusaha menarik tangannya, tetapi ditahan oleh Barra. “Jangan dilepas. Hari ini ada diskon untuk kue ungkapan cinta.” Wajah Zaina membeku. Kali ini, dia benar-benar menoleh pada Barra yang dengan santainya mengedipkan sebelah mata. Apa maksud ucapan Barra barusan coba? Memang kenapa kalau ada diskon untuk kue ungkapan cinta? Toh, Barra tidak mungkin membelikan kue itu untuk dirinya. Seolah tidak memedulikan ekspresi Zaina, Barra mendorong bahu gadis itu. Mereka maju satu langkah. Antrean di depan mereka masih ada sekitar lima belas baris. Barra tidak peduli. Dia sangat menikmati kebersamaan dengan Zaina. Meski begitu, dia tidak mau menanggapi apa pun yang kini menari-nari di pikiran sang gadis. Demi mendapatkan informasi mengenai toko kue yang dikunjungi, Barra menyebar seluruh orangnya. Dia menginginkan hasil yang akurat. Sebelum mengajak Zaina ke sini, dia sudah terlebih dulu berkunjung. Rasa brownies yang ditawarkan memang luar biasa. Dia yakin sekali kalau Zaina akan menyukai. Memilih hari ini juga merupakan rencana Barra. Dia tahu jika sekarang ada promosi brownies ungkapan cinta. Meski tidak akan mengakui perasaannya secara terang-terangan, dia tetap ingin memberi petunjuk pada Zaina. Dia tidak berharap banyak. Zaina sangat polos dan tidak berpengalaman. Mungkin dia tidak akan mengerti maksud Barra mengatakan kalimat barusan. “Kak, aku ....” Kalimat Zaina terpotong saat ada seseorang yang menabraknya. Dia terlempar ke depan dan jatuh dalam dekapan Barra. Seseorang meminta maaf dan Barra mengatakan sesuatu yang tidak bisa didengar olehnya. Saat ini, dia terlalu sibuk mengatur debaran jantungnya. Dengan jarak sedekat ini, Barra pasti bisa mendengar. Untuk menjaga wajah, Zaina segera menarik diri. Dia tidak ingin Barra memergokinya yang berdebar-debar atau pria itu akan mulai menyebalkan. Hari ini terlalu indah untuk dirusak. Mereka baru saja menikmati kebersamaan dan Zaina tidak mau merusak suasana. Jadi, dia harus lebih berhati-hati. “Dia pintar sekali memilih waktu,” gumam Barra entah pada siapa. “Kamu baik-baik saja? Kenapa diam saja sejak tadi?” “Aku enggak apa-apa, kok.” “Benarkah? Kamu sedikit pendiam. Sudah tidak sabar dengan kuenya, ya?” Barra lagi-lagi membuat jantung Zaina melompat karena senyuman manisnya. “Kenapa hari ini Kakak banyak tersenyum? Aku jadi merinding.” “Merinding atau terpesona?” Barra menaik-turunkan alis. Zaina memutar bola mata. “Enggak usah ngarep,” ujar Zaina ketus. Barra terkikik pelan. Dia tidak ingin dianggap tidak normal karena terbahak di depan umum. “Sebaiknya kamu berdiri dengan benar. Sebentar lagi giliran kita.” Zaina tidak menjawab. Dia memperhatikan dua orang yang ada di depannya. Mereka semua saling bergandengan. Sama seperti yang dia lakukan dengan Barra. Walaupun begitu, dia merasa ada yang mengganjal di hati. Sikap Barra persis dengan kedua pria di hadapannya, tetapi tidak dengan perasaan pria itu. Jika ada yang melihat perlakuan Barra pada Zaina, mereka mungkin dikira sebagai pasangan. Cara Barra memperlakukannya saat ini memang lebih mirip seorang pacar ketimbang kakak. Lihatlah bagaimana Barra dengan santai merengkuh bahu Zaina. Gadis itu bahkan sulit menenangkan diri karena sikap Barra. Sejak kapan Barra merangkul, bukannya menggandeng? Zaina terlalu sibuk dengan pikirannya sampai tidak menyadari hal itu. Seperti sekarang, dia tahu-tahu sudah berada di depan deretan kue yang menggiurkan. Seorang pelayan toko tersenyum, tetapi Zaina masih tetap diam. “Zaina. Kamu melamun lagi?” Zaina menoleh saat merasakan sebuah tangan mengelus pipinya. Dia mendongak pada Barra yang tersenyum, lalu menghela napas. “Jadi, mau ambil yang ini, Mas?” tanya si pelayan toko. Zaina memperhatikan kue yang ditunjukkan. Dia mengerutkan kening karena kue itu berbentuk hati. “Kakak pesan kue yang itu?” “Kue terakhir. Kita sangat beruntung. Bagaimana? Apa kamu senang?” Zaina mengerjap tak mengerti. Dia masih belum bisa mencerna perkataan Barra. “Mau dikasih nama, Mas?” Si pelayan toko kembali bertanya. “Barra Zaina,” kata Barra tanpa bertanya pada Zaina. Kedua mata Zaina melebar saat melihat si pelayan toko menuliskan namanya dan Barra di atas kue berbentuk hati. Dia tidak bisa menerima perlakuan seperti ini. Kenapa Barra tega sekali? Kalau Barra begini, dia bisa berharap lagi. Padahal dia sudah mulai menyerah, meski belum bisa merelakan. “Kita duduk di sana.” Barra menunjuk sepasang kursi di sudut toko yang kosong, lalu menggandeng tangan Zaina ke tempat itu. Di sampingnya, Zaina hanya diam. Ketika sampai di tempat tujuan, Barra mendudukkan Zaina yang belum juga bereaksi. “Sampai kapan kamu akan terus begitu?” tanya Barra sambil mengacak rambut Zaina. “Jangan ngerusak tatanan rambutku.” “Apa yang kamu maksud dengan tatanan? Kamu hanya menggunakan bando.” “Iya dan Kakak sudah ngerusak rambutku.” Zaina sibuk melepas bando dan menyisir rambutnya dengan tangan. Dia kemudian mengenakan kembali bandonya. “Kenapa harus memakai bando seperti itu?” Barra terang-terangan menunjuk bando motif bunga yang dipakai oleh Zaina. “Ini lagi tren banget. Enggak usah komentar kalau enggak ngerti apa-apa.” “Aku hanya berpikir kalau itu ... cocok buat kamu.” Barra bertopang dagu sambil menatap Zaina. “Kamu jadi lebih cantik,” ucapnya. Pujian yang keluar dari mulut Barra meruntuhkan semua pertahanan yang dibangun oleh Zaina. Dia bisa merasakan panas yang merambat ke seluruh wajah. Bahkan tidak tubuhnya juga memanas. Apa Barra harus memujinya saat ini? Dia sudah hampir jatuh dari tempat duduknya ketika melihat senyum Barra. Berbanding terbalik dengan Zaina, Barra merasa sangat puas karena berhasil membuat Zaina kikuk. Wajah Zaina yang memerah membuatnya semakin bersemangat untuk mengeluarkan kata-kata rayuan. Sesekali, dia juga ingin menunjukkan betapa memesona ya sosok Zaina. Zaina berdeham, lalu pura-pura memperhatikan kue yang ada di meja. Percuma saja. Begitu melihat namanya dan Barra yang terukir di atas kue, dia kembali berdebar. Dia ingin mengakui jika ini adalah hadiah termanis yang pernah diterimanya dari Barra. Namun, dia tidak akan mengakui hal itu. “Ini kue ungkapan cinta itu?” tanya Zaina tanpa berpikir. “Iya. Bagaimana? Mau mencoba?” “Mencoba apa?” Zaina menatap Barra tak mengerti. Pria itu tidak sedang mengajaknya berpacaran, bukan? Apa maksud Barra dengan “mau mencoba”? Bukan mencoba untuk berhubungan, bukan? Barra sudah punya calon istri. “Tentu saja mencoba kuenya. Ini brownies terlezat saat ini.” Mendengar itu, Zaina membulatkan mulut. Sepertinya dia berpikir terlalu jauh. Jelas-jelas Barra sudah memiliki gandengan, kenapa dia tidak sadar diri? Dia masih saja mengharapkan pria yang sudah menyerahkan hatinya pada wanita lain. Kata-kata Barra membuat Zaina tidak berpikir jernih. Ketika melihat pisau, garpu, dan piring kecil di samping kue, Zaina mulai membayangkan jika Barra menyuapinya. Betapa membahagiakannya hal itu. Lalu, Barra akan mengucapkan kata-kata manis sebagai ungkapan sayang. Bukankah semua akan menjadi kado terindah untuk ulang tahunnya? “Kamu tidak akan membuka mulut?” Zaina tersentak saat menyadari kalau Barra sedang menyodorkan sepotong kue padanya. “Apa yang Kakak lakuin sekarang?” tanya Zaina memandangi Barra dan kue bergantian. Dia melebarkan mata saat Barra hanya menanggapinya dengan senyum. “Aku memberikan potongan kue pertama untukmu, seperti biasa.” “Ini ulang tahunku. Kenapa malah Kakak yang potong kuenya?” “Soalnya kamu asyik melamun, jadi aku mewakili kamu untuk memotong kue. Aku bahkan mewakilimu untuk membuat permohonan.” “Mana bisa hal kayak gitu diwakilkan?” protes Zaina. “Lagian, memang Kakak tahu apa yang aku pengin?” “Apa yang tidak aku ketahui mengenai kamu. Tentu saja aku tahu keinginanmu.” “Apa coba?” Barra hanya menaikkan alis, lalu kembali menyodorkan kue pada Zaina. “Makan dulu. Tanganku sudah mulai pegal.” Tanpa diperintah dua kali, Zaina makan kue yang disodorkan oleh Barra. Dia mematung saat Barra membersihkan sisa kue yang mengotori sudut bibirnya. Haruskah Barra melakukan itu? “Kakak enggak takut kalau bakal ada yang cemburu lihat Kakak ngelakuin ini ke aku?” “Hanya ada satu orang yang akan cemburu padaku.” “Oh, ya? Siapa?” Zaina mencoba memancing Barra. “Tentu saja kamu. Siapa lagi?” Barra tertawa pelan. Dia menyantap kue yang sudah dipotong. Sementara Zaina tidak bisa bergerak. Barra sungguh keterlaluan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN