“Capeknya,” gumam Zaina sambil memijat kedua kakinya. Dia melirik Barra yang membawa berkantung-kantung belanjaan.
Setelah membuat Zaina merasa kesal, Barra sudah sepatutnya menerima pembalasan. Ini belum apa-apa. Dia bahkan belum menghabiskan separuh isi ATM pria itu. Seberapa banyak uang yang disimpan Barra di kartu sampai tidak ada habis-habisnya? Dia tidak pernah menyangka kalau Barra sangat kaya.
Selain kartu yang selalu Barra berikan pada Zaina setiap kali berbelanja, masih ada beberapa lagi di dompet pria itu. Zaina tahu karena pernah memeriksa dompet Barra berkali-kali. Hanya saja, dia tidak mengetahui berapa kekayaan Barra sebenarnya. Meski begitu, dia yakin kalau Barra memiliki banyak tabungan.
Melihat bagaimana Barra bekerja keras selama ini, tidak mengherankan jika dia mempunyai banyak aset. Belum lagi investasi, bangunan, dan kendaraan yang dimiliki oleh pria itu. Barra benar-benar kaya. Bahkan semua yang menempel di tubuhnya memberi tahu semua orang mengenai hal tersebut.
Seberapa kaya Barra sama sekali tidak penting bagi Zaina. Gadis itu memperhatikan wajah pria tampan di hadapannya. Dengan alis tebal dan mata tajam, Barra terlihat sangat manly. Zaina tidak bisa melihat jejak jerawat di paras mulus itu. Bagaimana bisa pria begitu memperhatikan perawatan?
“Sudah selesai meneliti?” tanya Barra. Dia sudah duduk di samping Zaina entah sejak kapan. Di kedua tangan pria itu sudah ada minuman botol. “Rasa jeruk kesukaanmu.”
Zaina menerima sebotol minuman yang diulurkan oleh Barra. Dia tersenyum, lalu menggumamkan terima kasih. Sekali teguk, dia menghabiskan hampir setengah isi botol. Membuat Barra membuka mulut untuk sesaat. Kebiasaan gadis itu tidak berubah sedikit pun setelah bertahun-tahun.
Sepertinya Zaina memang tidak bermaksud menjaga harga diri di depan Barra. Dia bahkan mengusap sisa air yang menetes di sudut bibir dengan punggung tangan. Barra tertawa menyaksikan sikap ceroboh sang gadis. Pria itu sudah berulang kali mengatakan kalau sebagai seorang gadis, seharusnya Zaina lebih lembut dan sopan.
“Sebenarnya seberapa kaya Kakak?”
“Kenapa? Mulai mau mengatur keuanganku?” Barra mengedipkan mata.
“Kenapa aku harus ngatur keuangan Kakak. Itu, kan, tugas istri Kakak.”
“Benar juga.” Barra mengusap dagu. “Masalahnya masih butuh waktu yang lama sebelum aku menikah. Apa untuk sementara kamu mau menjadi asisten keuangan?”
“Kakak capek banget sampai ngomongnya ngaco gitu?”
“Serius, Zai. Aku akan memberikan gaji tinggi buat kamu. Bagaimana?”
“Jangan mulai. Aku lagi enggak mood buat bercanda kayak gini. Cari saja orang lain. Aku sudah terlalu sibuk sampai enggak punya waktu buat ngatur keuangan Kakak.”
“Wah! Padahal ini bisa melatih kamu sebelum benar-benar menjadi seorang istri.”
“Aku masih terlalu muda buat mikirin pernikahan.”
“Aku pikir kamu mau menikah muda? Itu yang kamu katakan waktu itu, kan?”
Bibir Zaina mengerucut. Dia memang sempat memiliki keinginan itu. Namun, semua menjadi kacau saat tahu Barra akan menikah dua tahun lagi. Kalau harus menyaksikan Barra melangkah ke pelaminan, setidaknya saat itu dia sudah memiliki gandengan. Ini agar dia tidak begitu nelangsa di hari bahagia Barra.
Harus ada yang mendampingi Zaina di hari pernikahan tersebut. Entah bagaimana dia bisa melewati kejadian itu tanpa meneteskan air mata. Membayangkan saja sudah membuat dadanya sesak. Bagaimana jika dia langsung menyaksikannya? Dia meminta agar tidak sampai pingsan di tempat pesta.
“Memang. Apa Kakak bisa bantu aku?” Tiba-tiba sebuah ide jahil menghampiri kepala Zaina. Barra terlihat tertarik dengan ucapannya. “Mau bantu enggak?”
“Bantuan apa yang kamu butuhkan? Aku bisa membantu melakukan apa pun untukku. Katakan, kali ini kamu mau apa?”
“Cariin calon suami buat aku.” Barra sempat menaikkan alis saat mendengar permintaan aneh Zaina. Dia memandang gadis itu sambil menghela napas.
“Aku sudah menemukannya,” kata Barra serius. Sekarang giliran Zaina yang tercengang. Awalnya dia hanya bercanda. Apa Barra serius?
“Kenapa malah bengong? Aku serius dengan ucapanku.”
“Siapa calon yang sudah Kakak temukan?”
“Aku akan mengatakan saat waktunya tiba. Untuk saat ini, sebaiknya kamu fokus menyelesaikan kuliah dengan baik. Atau kamu tidak akan pernah bertemu dengan pria impianmu itu.” Barra menelengkan kepala sambil tersenyum lebar.
“Enggak lucu,” ujar Zaina. Dia memilih untuk menghabiskan minumannya dari pada harus melihat senyuman Barra yang meresahkan.
“Ayo, kita masih punya rencana lain.”
“Aku sudah capek banget. Memang kita mau ke mana lagi?”
“Memasukkan bola,” ujar Barra. Zaina melebarkan mata.
Untuk sesaat Zaina melupakan apa yang barusan dikatakan oleh Barra. Bermain adalah salah satu cara untuk menghilangkan rasa gelisah dan marah. Kali ini, Zaina akan mengalahkan Barra. Dia tidak akan membiarkan pria itu merasa menang lagi. Setiap mereka bicara, selalu Barra yang memegang kendali.
Barra yang sudah melemparkan banyak umpan merasa terganggu. Tidak satu pun dari ucapannya yang ditanggapi serius oleh Zaina. Seolah gadis itu sengaja menghindar setiap kali dia menyinggung mengenai perasaannya. Apa sebenarnya yang dipikirkan oleh gadisnya?
Ketika menyadari satu kemungkinan, Barra menatap Zaina yang tengah memperhatikan keramaian. Gadis itu tidak mungkin sudah mengetahui tentang perasaannya, bukan? Kalaupun Zaina tahu, bukankah semestinya malah senang? Kenapa Zaina seakan tidak menanggapi?
“Sekarang Kakak yang melamun. Ayo, katanya kita masih punya tujuan lain.” Barra tidak beranjak dari tempatnya. “Kenapa masih belum gerak?” tanya Zaina saat pria itu masih berdiri. Dia memiringkan kepala agar bisa melihat wajah Barra lebih jelas.
“Apa hatimu sudah berubah?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Barra. Zaina mengerjap. Apa maksud Barra menanyakan mengenai ini?
“Apa sebenarnya maksud Kakak?”
“Bukannya kamu punya seseorang yang kamu sukai. Kenapa hanya diam saja saat aku mengatakan aku sudah menemukan calon suami untukmu. Kamu bahkan memintaku untuk mencarikanmu jodoh.”
“Ah, itu ....”
Mana mungkin Zaina mengatakan kalau pria yang dia sukai akan menikah dalam dua tahun ke depan. Lebih tidak mungkin menyatakan jika orang yang disukainya adalah Barra. Gadis itu menggembungkan kedua pipi. Dia kembali ke posisi duduknya. Mendadak kedua kakinya lemas.
Benar juga. Zaina terlalu ceroboh. Meski begitu, dia tetap merasa sebal karena Barra ternyata sudah menyiapkan seseorang untuk dirinya. Apa dia sangat naif sampai harus dicarikan pasangan hidup. Ini mungkin seperti kebiasaan bagi Barra. Pria itu sudah terbiasa mengatur kehidupannya. Sekarang pun, Barra mengatur jodohnya.
Bukankah terlalu kejam untuk menentukan jodoh bagi Zaina, padahal gadis itu sudah menyukai Barra sejak lama? Apa sedikit pun Barra tidak pernah mempertimbangkan dirinya. Zaina sungguh ingin menolak perjodohan yang akan dilakukan oleh pria yang disukainya. Bolehkah dia mengaku saja?
“Dia ... kayaknya enggak suka sama aku,” kata Zaina sambil menundukkan kepala.
“Benarkah? Apa kamu sudah memastikannya?” Zaina mendongak. Perlukah dia melakukan apa yang disarankan oleh Barra. Bukankah satu-satunya cara yang tersisa adalah mengungkapkan perasaan pada pria itu?
“Kak Barra, sebenarnya aku ....”
“Baiklah. Sebaiknya lupakan saja mengenai pria itu. Bagaimana kalau kita main sekarang? Sebentar lagi ulang tahunmu, jadi jangan memikirkan hal yang menyedihkan. Setuju?” Barra mengangkat tangan kanannya. Bermaksud untuk ber-high five dengan Zaina, tetapi tidak ditanggapi.
“Kak, sebenarnya yang mau aku bilang adalah aku suka sama ....”
Rasanya Zaina ingin mengeluarkan emosi yang memenuhi d**a saat mendengar suara nada dering dari telepon genggam miliknya. Dia mendengkus, lalu bermaksud untuk meneruskan pembicaraan tanpa mengangkat panggilan. Sayang, deringan itu kembali membuyarkan konsentrasi.
“Angkat saja. Siapa tahu penting.”
Dalam hati, Barra tidak henti-hentinya mengucap syukur karena telah diselamatkan oleh sang penelepon. Siapa pun yang menghubungi Zaina saat ini, dia sangat berutang budi. Dia pastikan akan memberikan hadiah pada orang yang menelepon gadis itu. Si penelepon adalah penyelamatnya.
Semestinya Barra tidak memberikan saran yang menghancurkan semua rencana. Dia sudah bersusah payah menyusun satu demi satu tahap agar bisa sampai ke tahap ini. Kalau sampai ada yang diubah, pasti akan menimbulkan masalah. Bisa-bisa dia harus mengulang tahapan yang telah dilaluinya sampai sekarang.
Mana mungkin Barra membiarkan Zaina mengambil alih tugas yang harus dikerjakannya. Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh gadis itu. Terutama mengenai siapa yang mengungkapkan perasaan terlebih dahulu. Kalau pun harus terjadi lebih awal, dialah yang akan mengatakannya, bukan Zaina.
“Angkat saja,” ujar Barra ketika Zaina belum menggerakkan tangan. Dering telepon seluler terus merusak suasana di antara mereka.
Dengan wajah ditekuk, Zaina mengambil benda pipih dari dalam tas. Dia memperhatikan nama yang tertera di layar. Keningnya berkerut begitu menyadari siapa yang mengganggu. Sudut matanya melirik Barra yang mengangkat bahu.
“Kenapa Kak Khafi telepon aku?” tanya Zaina sambil memperlihatkan layar telepon seluler miliknya pada Barra.
“Kamu akan tahu setelah menerima panggilan darinya. Sebaiknya kamu segera mengangkat telepon itu. Seperti kata kamu, dia jarang-jarang menelepon. Mungkin ada yang sangat penting.”
Tidak mau terkena masalah karena mengabaikan telepon sang kakak, Zaina menggeser ikon hijau di layar.
“Kenapa, Kak?” Zaina langsung ke pokok bahasan.
“Salam dulu, Zai. Di mana sopan santunmu?”
“Iya, Kak. Assalamualaikum. Ada apa meneleponku?”
“Apa Barra sedang bersamamu?”
“Iya. Kak Barra tepat berada di sampingku. Kenapa?” Zaina sadar kalau ada yang tidak beres. “Kalau ada perlu sama Kak Barra kenapa enggak langsung telepon dia?”
“Kalau begitu, suruh dia menyalakan handphone-nya.”
Zaina menoleh pada Barra. “Kakak mematikan handphone?” Barra tidak menjawab. Dia hanya mengangkat telepon seluler miliknya yang berwarna hitam. Zaina menghela napas. “Jadi, ada perlu apa dengan Kak Barra?”
“Bilang padanya kalau sudah puas bermain-main, cepat kembali bekerja.”
“Baiklah. Itu saja?"
“Iya. Assalamualaikum.”
Sambungan telepon terputus. Zaina memandang layar telepon genggamnya yang menghitam. Rasanya ingin meremas benda pipih itu karena kebiasaan Khafi yang buruk. Sang kakak selalu mengakhiri panggilan setelah selesai bicara. Padahal dia belum menyelesaikan kalimatnya. Menyebalkan sekali.
“Kenapa Kakak matiin handphone?”
“Menurutmu aku akan tetap ada di sini kalau aku menghidupkan handphone?” Zaina tersenyum. “Kakakmu itu punya seribu alasan untuk menyuruhku kembali ke kantor. Padahal aku ingin bersantai sesekali.”
“Pergi sama aku Kakak sebut bersantai? Kita dari tadi gerak terus, lho. Aku saja capek banget. Aku enggak ngerti gimana santai versi Kakak.”
“Apa perlu dijelaskan lagi?” Barra mencondongkan tubuh pada Zaina.
“Tentu saja. Aku enggak ngerti, jadi Kakak harus jelasin sama aku.”
“Bukannya sudah jelas? Menghabiskan waktu denganmu membuatku merasa santai. Kamu tidak tahu itu?”
“Enggak usah tebar pesona. Aku enggak bakal tergoda.”
“Benarkah? Coba aku pastikan.” Tubuh Barra terus mendekat. Zaina membelalakkan mata saat pria itu mendadak menggenggam tangannya. Barra menariknya lebih dekat. “Aku bisa dengar jantung kamu berdebar keras,” ucap Barra. Zaina ingin sekali pingsan sekarang.