“Apa kamu tidak mempelajari apa pun selama bertahun-tahun ini?” Barra memandangi Zaina yang hanya meringis.
“Tapi ini memang susah banget, Kak. Kayaknya aku enggak bakat jadi pemain basket, deh,” ujar Zaina santai tanpa rasa bersalah.
“Bukannya kamu yang mau mencetak poin sebanyak mungkin. Di mana semangatmu saat itu? Tertelan oleh jin penjaga ring?”
“Ya, ampun, Kak. Lagian ini, kan, cuma permainan. Serius amat. Kita itu main buat ngilangin stres. Kalau main terlalu serius, bisa-bisa kita tambah stres.”
“Sudah pandai menjawab?” Zaina kembali meringis. “Apa aku perlu mencairkan otakmu yang membeku ini?”
Barra menempelkan bola ke kening Zaina dengan gerakan pelan. Dia tersenyum saat melihat kedua mata gadis itu tertutup rapat. Dengan kemampuan dasar yang dimiliki oleh Zaina, ditambah sikap cerobohnya, mencetak banyak poin adalah sebuah kemustahilan. Barra sudah lama menyadari hal ini.
Hanya saja, Barra sedikit berharap karena Zaina cukup rajin mengunjungi tempat bermain untuk memainkan permainan ini. Siapa sangka kalau hasilnya tetap saja sama. Zaina sama sekali tidak mengalami kemajuan. Kemampuannya bahkan mengalami kemunduran. Apa sebenarnya yang dilakukan Zaina saat bermain?
Ketidakmampuan Zaina bermain dengan baik membuat Barra curiga. Jangan-jangan Zaina memainkan permainan lain saat berkunjung ke sini. Apa dia membohongi Barra jika tengah berlatih melempar bola ke ring. Bagaimana Barra tidak curiga kalau Zaina tidak menghasilkan apa-apa selama hampir satu jam.
“Kamu hanya perlu konsentrasi. Di mana pikiranmu saat kamu melemparkan bola?”
“Aku juga sudah berusaha.” Zaina mengentakkan kaki sambil memberengut. “Gimana kalau kita main yang lain?”
“Memangnya ada yang bisa kamu lakukan selain ini?” Zaina memandang sekeliling. Ketika menemukan sesuatu yang menarik perhatian, dia menoleh pada Barra.
“Aku tahu apa yang bisa aku lakuin.”
“Aku meragukannya. Kamu selalu membuat keributan di mana pun. Kamu yakin kali ini bisa bermain dengan baik?”
“Kenapa aku ngerasa kayak dimarahi sama om-om, ya?” sindir Zaina. Barra mendelik.
“Aku memang om-om kalau kamu lupa. Aku sudah hampir tiga puluh dua.”
“Enggak usah dijelasin juga. Aku sudah tahu, kok.”
“Oh, ya?” Barra menyilangkan tangan di d**a. “Aku khawatir kamu melupakannya. Selalu ingat ini, usia kita terpaut jauh dan sampai kapan pun itu tidak bisa diubah.”
Perkataan Barra membuat Zaina merasa terusik. Dia membalas tatapan tajam pria itu. Memangnya kenapa jika usia mereka terpaut jauh? Sang gadis tidak peduli sedikit pun. Apa Barra mencoba memberi tahu bahwa mereka berasal dari generasi yang berbeda, sehingga tidak bisa dipersatukan dalam ikatan cinta?
Andai saja Barra tadi tidak menghentikan, Zaina pasti sudah mengakui perasaan. Keberanian yang tadinya muncul secara tiba-tiba, menghilang begitu saja begitu Barra memotong kalimat. Dia tidak tahu kapan akan memiliki kemampuan untuk mengatakan hal itu lagi.
Menyampaikan perasaan cinta membutuhkan momen yang tepat. Zaina merasa jika tadi waktunya sudah sangat cocok. Sayang, pengakuan yang tidak direncanakannya itu gagal di tengah jalan. Padahal sedikit lagi dia sudah mengeluarkan semua isi hati. Kenapa Barra harus menghentikan keberaniannya?
“Kakak mau bilang kalau aku masih kayak anak kecil?”
“Kamu berlebihan. Aku hanya ingin menyadarkan kamu kalau aku memang setua itu. Aku takut kamu lupa dan menganggapku sebagai temanmu.”
“Kakak enggak mau jadi temanku?” Zaina masih belum menyadari maksud Barra.
“Aku bisa menjadi apa saja buat kamu, Zai. Dan kamu hanya menganggapku sebagai seorang teman?” Ada rasa nyeri saat Barra menanyakan hal itu.
Kedua tangan Barra mengepal. Dia sadar betul jika Zaina memang sangat polos. Sulit sekali menyampaikan perasaan melalui kode-kode halus yang dia kirimkan. Gadis itu tetap menolak penjelasan apa pun darinya. Seakan mereka tidak akan pernah bisa bersama sebagai pasangan. Ada apa dengan Zaina?
Sungguh. Si pria tampan tidak mengerti jalan pikiran Zaina. Gadis itu berkata jika dia menyukainya, tetapi seakan menolak perhatian yang diberikan. Zaina tersenyum setiap kali dia mengatakan hal-hal romantis. Namun, kemudian memberengut di lain kesempatan. Dia tidak tahu kalau Zaina akan berubah menjadi orang lain yang tidak dikenalnya saat sedang jatuh cinta.
Rasanya kedekatan yang telah dibangun sejak lama tidak berguna sama sekali. Barra seakan tidak memahami Zaina sedikit pun. Apa gadis itu berusaha jual mahal? Apa dia ingin dikejar? Apa dia mau menguji keseriusan Barra? Kenapa dia bersikap seperti itu? Atau dia malu untuk mengakui perasaan?
Kepala Barra menggeleng keras. Beberapa saat lalu, Zaina bahkan berniat untuk mengungkapkan perasaan. Jadi, sepertinya ada alasan lain dibalik sikap tidak biasa Zaina. Barra harus segera menemukan hal itu untuk mencari solusi terbaik. Dia tidak mau sampai ada yang mengganjal setelah pergi meninggalkan Zaina di sini.
Semua tingkah Barra disaksikan oleh Zaina yang berdiri tepat di depan pria itu. Kalau mau jujur, dia juga ingin menganggap Barra lebih dar sekadar teman. Sayang, dia sudah mengetahui kebenaran mengenai rencana masa depan sang pria. Jadi, dia tidak mau menyia-nyiakan perasaannya.
Kalimat terakhir membuat Zaina tertawa dalam hati. Dia tidak yakin kalau itu adalah sebuah kebenaran. Pada kenyataannya, dia selalu mencuri kesempatan untuk menunjukkan perasaan pada Barra. Dia bahkan memberikan pelukan dan ciuman. Meski tidak berakhir seperti harapan, dia sudah cukup senang.
“Sebaiknya aku mengajarimu,” ucap Barra.
“Ngajarin apa?” Zaina masih belum fokus pada perkataan Barra.
“Tentu saja mengajarimu bagaimana cara memasukkan bolanya.”
Mengabaikan Zaina yang memandangi penuh tanya, Barra memutar tubuh gadis itu agar menghadap ring bola. Dia meletakkan bola di tangan Zaina, lalu membimbing kedua tangan sang gadis dengan tangannya. Meski jantungnya berdetak kencang saat ini, dia tidak peduli. Selama Zaina diam, dia tidak masalah.
Siapa sangka kalau harapan kecil Barra tidak terwujud. Kedua matanya membola saat Zaina menoleh secepat kilat. Gadis itu memiringkan kepala dan mengedip-ngedipkan mata. Sang pria mencoba sekuat tenaga agar tiba menelan ludah di hadapan Zaina saat melihat betapa manis pujaan hatinya.
Ternyata menahan perasaan sangat sulit dilakukan. Kejadian seperti sudah sering terjadi belakangan ini, tetapi Barra masih belum bisa mengatasi. Dia masih saja kesulitan mengendalikan diri begitu Zaina ingin mendekat. Apa lagi yang Zaina rencana kali ini? Gadis itu selalu saja mengejutkannya.
“Dari jarak sedekat ini, Kakak memang kelihatan tampan,” celetuk Zaina sambil tersenyum lebar. Dia berusaha menggapai pipi Barra, tetapi pria itu buru-buru menghindar. Hal tersebut membuat Zaina memberengut.
“Bersikaplah seperti gadis pada umumnya.”
“Memangnya apa yang sudah aku lakuin? Aku cuma mau pegang pipi Kakak.”
“Menurutmu itu tindakan yang sopan? Lihatlah sekelilingmu sebelum memutuskan suatu tindakan. Mengerti?’ Zaina semakin memajukan bibir. Dia menghela napas.
“Kakak bakal ngatur aku sampai kapan?” protes Zaina. Dia kembali mendekatkan wajah pada Barra. Pria itu mendorong dirinya sehingga jarak mereka cukup jauh.
“Apa kamu tidak mengerti ucapanku barusan?”
“Kenapa, sih? Kita bahkan sudah pelukan dan ciuman. Iya, kan?”
Sekarang, mata Barra benar-benar melebar. Dia melirik kanan kiri. Ada satu dua orang yang menoleh pada Zaina. Tidak bisakah Zaina berpikir sebelum bertindak? Sia-sia saja dia menjelaskan pada gadis itu. Sepertinya Zaina tidak mau mendengarkan nasihat apa pun lagi.
Baiklah jika Zaina mau bermain-main. Barra akan menanggapi dengan senang hati. Pria itu menarik Zaina dan membawanya pergi dari tempat bermain. Mereka berjalan cukup lama sebelum akhirnya berhenti. Kemudian, Barra meraih kedua pundak Zaina dan perlahan menyandarkan tubuh sang gadis ke tembok.
“Kamu mau bermain-main?” tanya Barra dengan senyum miring. Zaina bisa mendengar tanda bahaya yang meraung-raung di kepalanya. Tatapan pria itu membuat sang gadis merinding.
“Kakak mau apa?” Zaina berusaha melepaskan tangan Barra, tetapi tidak berhasil.
“Kenapa? Bukannya kita sudah berpelukan dan berciuman? Hal seperti ini tidak ada apa-apanya, kan?”
“Kakak mau nantang aku? Coba saja lakuin apa pun yang Kakak pikirkan. Aku enggak takut sama sekali,” kata Zaina. Dia sengaja meletakkan kedua tangannya di pinggang Barra dan berusaha mengabaikan debaran jantung yang menggila.
“Sebaiknya kamu tidak menyesali keputusanmu,” ujar Barra tajam.
Merasa ditantang, Barra mendekatkan wajahnya pada Zaina. Dia melirik bibir kemerahan gadis itu. Ini sudah sangat keterlaluan. Dia benar-benar ingin berhenti, tetapi tidak bisa. Seolah ada yang mendorongnya untuk meneruskan semua keinginan gila di kepala. Dia tidak sanggup menghentikan tindakannya.
Tepat sebelum menyentuh bibir yang didambakannya, Barra berhenti. Dia memejamkan mata sambil menelan ludah. Tindakannya kali ini tidak bisa dimaafkan. Entah bagaimana dia harus menebus kesalahannya. Di saat sibuk menata hati, dia merasakan sesuatu yang basah menempel di sudut bibirnya.
Begitu menyadari apa yang terjadi, Barra menjauh dari Zaina. Dia menatap tak percaya pada gadis di hadapannya. Meski hanya mengenai bibirnya sedikit, tindakan Zaina sudah kelewat batas. Bagaimana bisa Zaina melakukan hal seperti ini? Apa dia sungguh tidak bisa menahan diri?
Ini bukan waktu yang tepat untuk menyalahkan orang lain. Barralah yang membawa Zaina ke tempat ini. Dia juga yang menggoda gadis itu pertama kali. Jadi, kalau ada yang harus disalahkan, orang itu adalah dirinya sendiri. Dia jauh lebih dewasa, tetapi malah menjebak Zaina dalam posisi yang tidak pantas.
Dengan jantung yang masih berdebar kencang, Barra menatap tajam Zaina. Gadis itu sepertinya tidak begitu menyadari keadaan saat ini. Dia memang memandang Barra, tetapi fokusnya entah ke mana. Jelas sekali jika Zaina juga merasakan apa yang dia rasakan sekarang. Dia memijat pelipisnya yang berdenyut.
“Aku harus pergi sekarang,” ujar Barra. Zaina mendongak. Seolah baru sadar jika Barra ada di depannya.
“Tapi ....”
“Ada beberapa penjaga di sini. Belanjaanmu juga sudah ada di mobil. Aku akan menyuruh mereka untuk mengantarmu pulang.”
Hak terbaik yang harus Barra lakukan sekarang adalah menjauh dari Zaina. Setelah melihat keberanian gadis itu, dia semakin takut. Bukan pada Zaina, melainkan pada dirinya sendiri. Dia tidak bisa menjamin emosinya akan stabil selama sisa hari ini jika terus berada di dekat Zaina.
Begitu menerima perlakuan barusan, Barra jadi ingin bertindak lebih jauh. Dia tergoda untuk kembali memojokkan Zaina dan membalasnya. Perlukah dia menunjukkan betapa beraninya dia? Kemudian, dia sadar jika melakukan hal itu sekarang, semua akan menjadi lebih sulit untuk dikendalikan. Baik perasaan, maupun rencana yang telah dia susun selama ini.
Ada kabut yang menyelimuti kedua mata Zaina saat Barra mengatakan itu. Dia cukup tahu diri. Apa yang telah dia lakukan tadi pasti membuat pria itu tidak nyaman. Bagaimana lagi. Ketika Barra tiba-tiba berhenti, dia malah terdorong oleh keinginan untuk merasakan sensasi lain bersama sang pria.
Tidak ada maksud lain saat Zaina menempelkan bibirnya tadi. Dia hanya ingin meneruskan apa yang ditunda oleh Barra. Jika Barra hanya memiliki niat, maka dia sudah bertekad. Hanya saja, dia memang sedikit gegabah. Dia tidak memikirkan perasaan Barra dan bersenang-senang seorang diri.
“Kalau begitu, hubungi penjaga itu. Aku pulang sama dia saja.” Zaina ganti menatap tajam Barra yang tersentak dengan ucapannya itu.
“Zaina, maksudku adalah ....”
“Enggak perlu khawatir. Aku ngerti maksud Kak Barra.”
Tanpa memedulikan apa pun lagi, Zaina melangkah. Dia tidak mau menoleh dan melihat Barra lagi. Hatinya sakit luar biasa. Beginilah rasanya mencintai seseorang yang telah menyerahkan hati pada orang lain. Dia sungguh tidak bisa menahan diri. Air matanya mengalir begitu saja.
Di tempat lain, Barra mengulurkan tangan. Tadinya dia berniat mencegah kepergian Zaina. Lalu dia sadar kalau itu tidak perlu. Mereka perlu waktu untuk sendiri dan memikirkan kejadian barusan. Barra menghela napas. Apa dia terlalu pengecut?