Bab 48: Happy Birthday

1829 Kata
“Serius, Zai? Kamu nyium Kak Barra? Di bibir?” Kedua mata Kamila membesar. Dia memandang Zaina penuh perhitungan. Baru saja dia mendengar keinginan Zaina untuk melupakan Barra beberapa waktu lalu. Kemudian, tiba-tiba saja sang sahabat malah memberikan berita yang menggemparkan. Bagaimana bisa dia menerima hal ini? Jika Zaina berniat melepas Barra, harusnya dia tidak bertindak terlalu jauh. Bukankah melakukan hal itu sama saja dengan mengakui perasaannya pada Barra? Berciuman di pipi masih bisa dianggap wajar. Lain cerita kalau sasarannya adalah bibir. Memangnya ada saudara yang berbuat seperti itu? Bahkan kalau dekat sekalipun, tidak ada seorang adik yang melakukan ciuman di bibir pada kakaknya. Kamila benar-benar angkat tangan dengan keputusan Zaina. Sang sahabat sudah tidak bisa tertolong lagi. Harusnya dia bisa menjaga Zaina dengan lebih baik. Membiarkan Zaina bersama Barra selalu menimbulkan bahaya. “Itu ... Aku enggak bermaksud nyium Kak Barra. Cuma, situasi waktu itu lagi kacau.” “Maksud kamu, otakmu yang lagi kacau?” “Ya ... Kayaknya, sih, gitu,” ujar Zaina lemah, lalu menundukkan kepala. “Ya, ampun, Zai. Bisa enggak, sih, kamu ngontrol diri. Tindakan kamu makin enggak beres. Meluk sama nyium pipi masih bisa dimaafkan. Tapi ciuman di bibir? Yang benar saja. Kamu pasti kerasukan tadi.” “Itu juga enggak bisa dibilang ciuman di bibir, Mil.” “Oh, ya? Coba jelaskan.” Kamila menyilangkan tangan di d**a sambil menatap lurus sang sahabat yang menelan ludah. Bagaimana Zaina bisa menjelaskan hal ini pada Kamila. Dia bahkan tidak mengerti kenapa bisa bertindak memalukan begitu. Jelas-jelas dia tahu kalau Barra menyukai wanita lain dan sudah merencanakan pernikahan. Bisa-bisanya dia memberikan ciuman pada pria itu? Kamila benar, dia pasti kerasukan. Belum lagi reaksi Barra setelah gadis itu menciumnya. Zaina tidak bisa memastikan apa yang dipikirkan oleh Barra mengenai kejadian tersebut. Namun, jelas sekali kalau Barra merasa keberatan dengan tindakannya. Barra bahkan tidak mengatakan apa-apa. Dia meninggalkan Zaina dengan sejuta penyesalan di hati. Melihat langkah Barra yang tergesa-gesa saat pergi, Zaina tahu kalau pria itu terlalu kecewa pada sikapnya. Padahal mereka baru saja bersenang-senang. Kenapa Zaina merusak hari bahagianya? Apa lagi, dia akan merayakan ulang tahun yang dipersiapkan oleh Barra. Bagaimana kalau acaranya dibatalkan? Bukan itu yang terpenting saat ini. Zaina tidak tahu apakah dia bisa menghadapi Barra setelah kecelakaan di pusat perbelanjaan. Dia bahkan tidak berani melihat bayangannya di cermin. Dia juga tidak berani pulang ke rumah karena takut bertemu dengan Barra. Bagaimana dia harus bersikap? Tangan gadis berambut pendek mengepal. Di tengah kekacauan yang terjadi, dia mulai menyalahkan Barra. Andai saja Barra tidak bertindak jauh, dia juga tidak mungkin mencium pria itu. Siapa dulu coba yang menggoda? Barralah yang memojokkan dia ke dinding dan mendekatkan wajah padanya. Ketika Barra berhenti sambil mengarahkan pandangan ke bibirnya, tanpa pikir panjang Zaina memberikan kecupan ringan. Memang hanya sebentar dan menyentuh pinggiran bibir. Akan tetapi, tetap saja itu disebut sebagai ciuman. Dilihat dari sudut mana pun, kejadian di pusat perbelanjaan adalah sebuah kesalahan besar. Kalau sudah begini, Zaina tidak mungkin bisa melihat kedua mata Barra saat mereka berhadapan nanti. Padahal dia masih ingin menghabiskan waktu bersama Barra sebelum pria itu pergi. Setelah berciuman, apa dia mampu meminta sesuatu lagi pada Barra? Beranikah dia? “Aku cuma mengenai sudut bibirnya,” ujar Zaina sambil meringis. “Sedikit banget yang kena. Dan kejadiannya enggak separah itu.” “Kenapa kamu kayak kecewa gitu? Kamu enggak puas karena cuma kena bibirnya dikit. Kamu mau lebih dari itu?” desak Kamila menyudutkan. “Bukan gitu, Mil. Yang mau aku bilang, ciuman itu enggak separah pikiran kamu.” “Oh, ya? Terus, kenapa kamu malah lari ke sini buat cerita semua ini?” “Itu ...,” Zaina menghela napas. “Kayaknya aku memang sudah gila.” “Akhirnya kamu sadar? Terlambat, Zaina sayang. Kamu pikir sekarang semua itu masih bisa diperbaiki? Gimana kalau Kak Barra tanya soal alasanmu nyium dia? Kamu bakal jawab apa coba?” “Ya ... Aku bisa bilang kalau itu cuma tindakan refleks karena dia juga hampir nyium aku. Bisa diterima, kan, alasannya?” Kalau mau jujur, Kamila juga sedikit membenarkan perkataan Zaina. Kejadian ini tidak bisa dibilang sebagai kesalahan sang sahabat sepenuhnya. Barra juga ikut andil. Pria itu yang memancing terlebih dahulu. Untuk apa coba Barra menggoda Zaina dengan memojokkannya? Apa Barra tidak memikirkan akibat dari perbuatannya? Barra bahkan pergi begitu saja setelah berciuman. Kalau dia bertindak sebagai seorang kakak, harusnya dia menegur Zaina seketika itu juga. Bukan malah membiarkan masalah ini menjadi kabur begini. Kepergian menandakan kalau Barra juga menganggap Zaina bersalah, bukan? Terus terang, Kamila merasa kalau ini adalah kesalahan Barra. Belakangan ini, Barra banyak melakukan hal di luar dugaan. Kamila memang tidak begitu mengenal Barra, tetapi Zaina terus bercerita mengenai pria itu. Jadi, dia sedikit memahami karakter Barra. Dan sikap Barra memang mulai aneh. “Aku benaran enggak bisa ngomong apa-apa lagi sama kamu. “Gimana, dong, Mil? Kamu rasa, apa Kak Barra bakal tahu perasaanku sama dia?” “Jawabannya sudah jelas, kan?” Kamila mengangkat alis. “Jadi, kamu mau gimana sekarang?” lanjutnya penasaran. Zaina menggeleng lemah. “Enggak tahu, Mil. Aku bingung harus bersikap bagaimana kalau ketemu dia nanti. Menurut kamu, aku harus ngelakuin apa?” “Memang apa lagi yang bisa kamu lakuin. Bersikap kayak biasanya saja.” “Mana bisa. Setelah ngelihat wajah Kak Barra hari ini, rasanya aku enggak bakal bisa berhadapan sama dia dalam waktu dekat.” “Bukannya itu malah buat suasana canggung?” “Terus, gimana, dong, Mil? Masa aku pura-pura enggak terjadi apa-apa?” “Nah, pemikiran yang bagus. Itu yang harus kamu lakuin.” “Serius? Aku harus berpura-pura? Apa itu bakal nyelesain masalah?” “Enggak bisa dipastikan juga.” Kamila menghela napas. “Apa kamu enggak bisa nepati ucapan kamu di salon waktu itu?” Jawabannya sudah pasti ingat. Begitu melihat bayangan di cermin, Zaina bertekad untuk menjaga perilaku saat bersama Barra. Siapa sangka kalau pertahanan yang dia bangun bisa dihancurkan akibat satu perbuatan memalukan itu,. Sekarang, apa lagi yang tersisa dari rahasia hati seorang Zaina. Sudah bertahun-tahun Zaina menutupi perasaan pada Barra. Benarkah tindakannya barusan sudah membongkar semua rahasia? Zaina sungguh tidak bermaksud begitu. Tadinya dia hanya merasa tertantang untuk menyentuh bibir Barra. Dia tidak tahu kalau benar-benar akan melakukan hal tersebut. Hancur sudah. Apa Barra akan memutuskan hubungan dengan Zaina. Gadis itu sungguh tidak bisa membayangkan. Keadaan ini bisa membuat bara api yang ada di kepalanya berkobar kembali. Apa sebaiknya yang harus dia lakukan? Meminta maaf pada Barra? Apa dia masih memiliki muka untuk berhadapan dengan Barra? “Sudah aku bilang, kan. Kejadian itu enggak terduga. Aku saja kaget setelah sadar.” “Kamu kaget? Aku saja hampir gila karena cerita kamu. Menurutmu, Kak Barra bakal bereaksi kayak apa kalau kalian ketemu?” “Aku enggak berani bayangin. Apa ada kemungkinan dia bakal marah?” “Siapa yang tahu, kan?” “Sudah siap ngobrolnya?” Zaina langsung berdiri tegak begitu mendengar pertanyaan itu. Lebih tepatnya saat menangkap suara si penanya. Dia memandang Kamila yang juga terlihat syok. Sang gadis bahkan tidak cukup berani untuk membalikkan badan dan berhadapan dengan orang yang baru muncul tersebut. “Hai, Kak Barra.” Zaina mendelik saat Kamila melambaikan tangan. “Aku harap kalian sudah selesai. Aku harus membawa Zaina pergi.” “Oh, begitu? Bawa saja, Kak. Aku beruntung banget Kakak datang. Dia cerita panjang lebar hari ini. Aku enggak sanggup lagi dengar ceritanya.” Di depan Kamila, Zaina menatap tajam dirinya. Bukannya merasa bersalah atau tersudut, Kamila justru tersenyum lebar. Zaina akan membuat perhitungan dengan Kamila setelah suasana mulai membaik. Dia bahkan melupakan kejadian di kafe karena ingin mencurahkan perasaan pada Kamila. Bagaimana mungkin Kamila membalas niat baiknya seperti ini? Apa pun yang terjadi, Zaina tidak bisa menghindari Barra terus menerus. Semakin dia menjauh, Barra akan semakin mencurigai perasaannya. Cara terbaik untuk menutupi kesalahannya adalah dengan bersikap normal. Kalau dia uring-uringan, mungkin Barra akan langsung tahu kenyataannya. Jadi, demi bisa mendapatkan harga dirinya kembali, Zaina mengatur napas dan berbalik. Senyuman Barra yang langsung dia saksikan membuatnya memikirkan kejadian tak tadi. Dia menggelengkan kepala keras-keras. Tidak boleh begitu. Dia harus segera menghilangkan bayangan menggoda itu. “Kenapa Kakak nyusul ke sini?” tanya Zaina, berusaha bersikap santai dengan senyuman. Namun, begitu melihat Barra mendekat, dia menahan napas. “Kenapa? Tidak suka aku jemput? Apa aku harus pergi?” “Bukan. Maksudku, aku bisa pulang sendiri. Enggak harus dijemput,” kata Zaina setelah berhasil menguasai diri dengan cepat. Menghadapi Barra tidak boleh terlihat lemah. Atau dia akan dikalahkan lagi oleh pesona pria itu. “Aku tadi buru-buru pergi karena ada urusan.” Barra memberi penjelasan. “Harus segera kembali ke kantor,” lanjutnya. “Aku takut kamu akan menunggu di sana karena merajuk ditinggal. Jadi, aku memeriksa lagi.” “Memeriksa lagi?” tanya Zaina tidak mengerti. Barra hanya tersenyum. Dia menoleh pada Kamila yang terus memperhatikan mereka. “Aku harap dia tidak mengatakan hal-hal yang membuatmu terkena masalah,” ucap Barra pada Kamila. Meski tidak begitu memahami, Kamila tetap tersenyum. “Sudah biasa, Kak,” ujar Kamila sambil melirik Zaina. “Mau makan camilan dulu?” “Sebaiknya kami segera pulang. Ini sudah sore sekali.” Barra melihat ke arah jendela. Jam memang sudah menunjukkan pukul lima sore. Zaina tidak tahu kalau waktu bisa berlalu secepat ini. Rasanya dia baru saja tiba dan bercerita dengan menggebu-gebu pada Kamila. Kenapa Barra harus menjemputnya kemari. Gadis itu belum cukup siap untuk menghadapi sosok Barra yang semakin meresahkan hatinya. Barra beralih pada Zaina. Dia menelengkan kepala sambil mengedikkan dagu. Zaina mengangguk mengerti. Gadis itu berpamitan pada Kamila, lalu mengikuti langkah Barra yang lebar. Tidak ada pembicaraan selama mereka berjalan menuju mobil Barra yang terparkir di halaman rumah Kamila. Mata Zaina menyapu sekeliling. Dia tidak merasa heran saat tidak melihat orang yang mengantarnya ke sini. Barra pasti sudah memerintahkan orang itu pergi. Kali ini, apa yang Barra rencanakan. Setelah meninggalkannya sendirian dengan perasaan bercampur aduk, sekarang Barra muncul seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka. Apa hanya Zaina yang memikirkan kejadian tadi? “Kamu tidak mau pulang?” Zaina menoleh pada Barra yang berdiri di sisi mobil. “Mau. Ini juga mau naik.” Zaina bergegas menaiki mobil, duduk, dan memasang sabuk pengaman dengan cepat. Tidak berselang lama, Barra mengikuti jejaknya. “Mau mengatakan sesuatu?” tanya Barra. Membuat Zaina menoleh. “Ngomong apa? Kayaknya enggak ada yang perlu diomongin.” “Benarkah?” Barra mangut-mangut. “Tapi aku punya sesuatu yang mau aku katakan.” Sedikit ragu, Zaina menoleh pada Barra. “Mau ngomong apa?” Zaina sedikit terkejut saat Barra menyodorkan sebuah kotak mungil yang dibalut pita. Dia menoleh pada pria itu meminta penjelasan. “Hadiah ulang tahun,” ujar Barra. “Happy birthday.” “Ulang tahunku besok. Kenapa bilang happy birthday sekarang?” “Aku takut tiaka menjadi orang pertama yang mengucapkan. Jadi, aku mendahului semua orang.” Zaina tertawa mendengar alasan Zaina. “Mana ada yang kayak gitu,” kata Zaina. Dia bersiap membuka hadiahnya. “Itu hadiah ulang tahun. Jadi, bukanya besok. Jangan coba-coba membukanya dulu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN