Bab 49: Jangan Pergi

1755 Kata
Zaina meneliti penampilannya di cermin. Dia mengelus pipi dengan gerakan lamban, lalu mengembuskan napas panjang. Ketika tengah memikirkan kejadian kemarin, dia melihat bayangan sebuah kotak kecil. Dia menoleh untuk memperhatikan benda itu dengan lebih teliti. Apa sebenarnya isi dari kotak tersebut? Perasaan ingin tahu yang sangat tinggi kembali memenuhi hati. Kata-kata Barra saat memberikan hadiah itu terngiang di telinga. Sejujurnya, Zaina sudah berniat membuka kotak sejak tadi malam. Toh, sudah memasuki hari ulang tahunnya yang ke dua puluh. Jadi, tidak masalah kalau dia membukanya lebih awal. Meski begitu, di sisi lain, Zaina juga merasakan sebuah ganjalan. Setiap kali menyentuh kotak itu, dia akan berdebar-debar. Kemudian, pikirannya mulai berkelana ke mana-mana. Terkadang dia memikirkan hal buruk yang mungkin akan disaksikan setelah membuka benda pemberian Barra. Setelah mempertimbangkan segala kemungkinan, Zaina akhirnya menahan diri untuk tidak menyentuh kotak itu. Jika hatinya sudah sedikit tenang dan dapat diatur dengan baik, dia baru akan melihat. Setidaknya dia harus mempersiapkan keberanian tinggi agar tidak pingsan ketika mengetahui isi benda tersebut. Dia akan menekan rasa penasaran yang sudah sampai ke ubun-ubun. Dengan gerakan cepat, Zaina mengambil kotak yang terus menghantuinya dan meletakkan di laci. Akan lebih baik jika dia tidak melihat. Dengan begitu, keinginan untuk membuka menjadi berkurang. Benarkah? Tidak juga. Dia sudah menyimpan benda tersebut berulang kali. Disimpan, dikeluarkan lagi. Disimpan, dikeluarkan lagi. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya sejak kemarin. Lihat saja sekarang. Tangan Zaina sudah kembali membuka laci dan memperhatikan kotak tersebut. Dia mengelusnya pelan-pelan. Seakan takut kalau-kalau benda itu akan hancur. Matanya terpejam saat sebuah dorongan dalam hati terus memintanya melakukan apa yang dipikirkan oleh otak. Jantung Zaina berdetak kencang ketika tangannya berhasil membuka kotak pemberian Barra. Namun, matanya masih saja tertutup rapat. Dia menarik napas demi menjaga kestabilan kesehatan. Dengan perasaan tidak menentu, dia mulai menggerakkan mata. Dia tak pernah berhenti dibaca dalam hati. “Kamu ngapain, Zai?” Pertanyaan itu sungguh mengejutkan Zaina. Refleks, dia menutup laci dengan keras dan menoleh. Dzaky berdiri di ambang pintu sambil melirik letak tangan sang adik. Dia memperhatikan wajah Zaina yang tampak sedikit pucat. Tanpa mengatakan apa-apa, dia mendekati Zaina yang masih bertahan di posisi semula. “Kamu ... enggak apa-apa, kan?” tanya Dzaky. Dia melirik tangan Zaina yang masih berada di laci yang tadi ditutupnya. “Aku enggak apa-apa, kok. Cuma lagi mikirin sesuatu saja.” Zaina mencoba tersenyum, tetapi itu justru terlihat aneh di mata Dzaky. “Kayaknya enggak begitu. Ada apa di laci itu?” Cepat-cepat, Zaina melepaskan tangan dari laci. Dia memandang Dzaky yang memiringkan kepala untuk melihat tempat mencurigakan di belakang tubuh sang adik. “Ngapain Kakak ke sini? Bukannya kalian enggak bolehin aku keluar kamar hari ini?” “Memang iya. Jadi, aku bawa seseorang buat nemanin kamu biar kamu enggak bosan,” ujar Dzaky. Dia tersenyum lebar. Zaina mengangkat alis. “Siapa?” Dengan sangat tulus Zaina berdoa agar bukan Barra yang muncul dari pintu kamarnya. Dia menatap tajam Dzaky saat sosok yang dinanti tidak juga terlihat. Merasa ada yang salah, Dzaky mengikuti arah pandang adiknya. Kening pemuda itu berkerut ketika tidak melihat siapa pun di sana. “Sebenarnya siapa yang Kakak suruh datang? Apa dia tiba-tiba berubah pikiran?” “Mana mungkin. Aku ....” “Hai, Zai.” Sebuah suara memotong kalimat Dzaky. “Ngilang ke mana dulu, sih?” tanya Dzaky dengan pandangan tajam. “Tadi ada telepon, jadi aku angkat dulu sebentar,” jelas Kamila. Dia berjalan mendekati Dzaky yang terlihat tidak senang. “Kenapa ekspresi Kakak enggak enak banget dilihat? Zaina saja enggak marah.” “Kenapa aku ngerasa ada yang enggak beres?” sela Zaina mencoba menebak situasi yang terpampang di hadapannya. Kamila menoleh sambil tersenyum, lalu berkata dengan hati-hati, “Aku juga ngerasa ada yang enggak beres sama kamu. Kenapa enggak balas ucapan selamat ulang tahunku. Kamu enggak tiba-tiba jadi buta huruf, kan?” Mendengar protes dari Kamila membuat Zaina tertawa. Dia mendekati Kamila, lalu menarik tangan sang sahabat. Tanpa memedulikan tatapan Dzaky, dia mengajak Kamila duduk di atas tempat tidur. Saat tidak melihat tanda-tanda kalau kakaknya berniat pergi, dia menghela napas. “Kakak bakal jadi patung di situ?” Dzaky menoleh dan menatap kedua gadis dengan tajam, kemudian pergi begitu saja. Zaina bisa menyadari tatapan Kamila yang terus mengikuti langkah Dzaky. Keningnya kembali mengerut. Memang ada yang tidak beres. Sejak kapan Kamila memperhatikan seseorang selama itu? “Ada apa dengan kalian?” tanya Zaina tanpa basa-basi. “Maksud kamu?” Kamila segera mengalihkan pandangan dan menatap Zaina. “Kamu sama Kak Dzaky kelihatan aneh. Apa yang kalian sembunyikan?” “Kami enggak nyembunyiin apa-apa.” “Apa ....” Sikap waspada Kamila justru membuat Zaina semakin yakin kalau ada yang tidak beres. Senyum di wajah sahabatnya bahkan terlihat sangat aneh. Dia juga bisa menyaksikan bagaimana cara Dzaky menatap Kamila. Meski tidak begitu mengerti, dia tahu kalau ada yang disembunyikan oleh keduanya. Tidak akan mudah meminta Kamila mengatakan yang sebenarnya. Zaina paham betul itu. Lagi pula, dia juga tidak bermaksud mendesak Kamila untuk bercerita. Beban di kepalanya sudah cukup banyak, kenapa dia harus repot mengurusi permasalahan di antara sahabat dan kakaknya. Kalau Kamila bersedia, dia pasti akan menceritakan apa pun yang kini memenuhi hati. Sampai detik ini, fokus Zaina masih terletak pada benda kecil yang tersimpan di laci. Apa sebaiknya dia memberi tahu Kamila mengenai hal ini? Mungkin dia bisa meminta bantuan sang sahabat agar membukakan benda itu untuknya. Dengan begitu, dia tidak perlu merasa tertekan seperti ini. “Oke. Aku enggak bakal ngomong apa-apa soal kalian. Tapi, aku butuh bantuanmu.” “Bantuanku? Apa? Jangan minta tolong buat keluar kamar. Itu enggak bakal berhasil. Di luar sana, banyak orang yang berjaga.” “Aku tahu. Bukan itu yang mau aku omongin.” “Terus apa?” Zaina berdeham, lalu mendekatkan mulut ke telinga Kamila. “Kalian ngapain?” Zaina ingin sekali melontarkan kata-kata buruk begitu ada seseorang yang kembali mengganggu. Apa gunanya dia dikurung di kamar kalau selalu ada orang yang muncul? Dia menoleh dengan wajah mengeras untuk melihat siapa pengganggunya kali ini. Tunggu saja sampai dia mengeluarkan semua beban di d**a. Akan tetapi, begitu melihat siapa sosok yang berjalan mendekat, Zaina mengurungkan niat. Matanya melebar saat menyaksikan senyum lebar yang sangat meresahkannya sejak kemarin. Apa ini? Kenapa Barra bisa ada di sini sekarang? Dia melirik Kamila yang juga mengarahkan pandangan pada Barra. “Bisakah kamu meninggalkan kami berdua? Ada hal penting yang harus kami bicarakan,” ujar Barra pada Kamila. “Oh. Baiklah.” Kamila menepuk pundak Zaina. “Aku pergi dulu ke bawah. Nanti kita ngobrol lagi. Oke?” Zaina hanya mengangguk untuk menanggapi. Kedua sosok yang tertinggal saling diam untuk beberapa waktu. Zaina berdiri dan berjalan menuju jendela. Dia menatap halaman rumahnya yang terlihat dari dalam kamar. Gadis itu tidak ingin menoleh pada pria yang kini menatap lekat padanya. Jika menatap Barra, dia tidak akan mengendalikan diri. “Sepertinya aku tidak begitu diinginkan di sini,” ujar Barra ketika melihat Zaina justru memilih untuk memandang keluar jendela ketimbang menatapinya. “Kakak mau ngomong apa?” tanya Zaina tanpa bergerak sedikit pun dari posisinya. “Entahlah. Aku sendiri tidak tahu kenapa ingin sekali datang ke sini.” Sepi. Baik Zaina maupun Barra agaknya sengaja mengulur waktu agar bisa bersama lebih lama. Mereka bahkan tidak keberatan dengan kesenyapan yang mengelilingi. Sebaliknya, mereka justru tenggelam dalam pikiran masing-masing. “Kapan Kakak pergi?” “Dua hari lagi.” Ada sesak yang tiba-tiba singgah di d**a Barra. Zaina tahu itu. Meski Barra belum memberi tahu kapan perjalanan kerjanya dilakukan, Zaina sudah mendengarnya dari Hilya. Dia tidak mengerti mengapa Barra tidak menyampaikan berita ini lebih awal. Bukankah dia yang paling merasa keberatan dengan kepergian Barra? Apa Barra sungguh tidak peduli? Hari yang semestinya penuh kebahagiaan mendadak hampa. Zaina ingin sekali mendekat dan merengkuh Barra. Akan tetapi, kakinya sudah tidak dapat digerakkan lagi. Sesaat yang lalu, dia masih berpikir untuk menjaili pria itu. Ternyata, begitu mendekat, dia malah kehilangan semua kenekatan yang pernah dimilikinya. Sang gadis menghela napas. Dia mengalihkan mata ke sudut mana saja selain Barra. Menatap pria itu hanya akan membuatnya semakin tidak rela. Bagaimana jika dia menangis dan bersujud pada Barra agar jangan meninggalkannya. Terdengar konyol dan memalukan. Mana bisa dia melakukan hal tersebut? Jika belum mendengar mengenai rencana lamaran Barra, sekarang mungkin Zaina bisa melakukan hal itu. Dia tidak akan memedulikan harga diri atau martabat. Selama bisa menyampaikan pada Barra mengenai perasaannya, dia bisa mencoba berbagai cara. Sayang, kejadian itu sudah tentu tidak mungkin terjadi. Sudah ada wanita yang akan Barra lamar. Zaina harus tahu diri dan menjaga hatinya. Saat ini, hanya dia yang bisa menolong dirinya sendiri. Gadis itu memejamkan mata. Tidak mudah untuk berhadapan dengan Barra sejak ciuman di pusat perbelanjaan. Dia terus memikirkannya berulang kali. Berbeda dengan Barra. Menurut penglihatan Zaina, pria itu bahkan tidak lagi peduli dengan ciuman mereka. Barra bisa langsung berbicara seperti biasa setelahnya. Zaina memang terlalu tinggi harapan. Bisa-bisanya dia masih berharap setelah mendengar semua pembicaraan Barra dan Hilya. “Kamu mau menangis?” Tangan Barra terulur untuk menyentuh pipi Zaina, tetapi gadis itu mundur. Dia mendongak sambil berusaha tersenyum. “Apa Kakak masih peduli itu?” tanya Zaina tajam. Sekalian saja dia menumpahkan seluruh kekesalan di hati. “Maksudmu? Tentu saja aku peduli padamu. Memangnya kamu tidak bisa merasakan bagaimana perhatianku padamu selama ini?” “Perhatian?” Zaina tertawa sumbang. Pedih menusuk d**a. “Dulu, aku memang ngerasa kayak gitu. Tapi sekarang aku sudah bukan lagi gadis kecil. Aku enggak butuh perhatian yang kayak gitu.” “Apa maksud kamu dengan 'kayak gitu' yang kamu ucapkan itu?” Pertanyaan itu membuat Zaina menghela napas, lalu berkata dengan suara bergetar, “Apa Kakak tahu kalau sikap Kakak itu keterlaluan?” Kaki Barra melangkah mendekat, tetapi Zaina lagi-lagi mundur. Gadis itu tidak mau terjebak kembali. Dia sudah cukup berpengalaman untuk tidak memedulikan godaan Barra. Bagaimana pun bentuknya, dia harus menghindar. Menerima perhatian Barra lebih banyak hanya akan menyisakan kesedihan. Tidak berhenti, Barra justru semakin mendekat. Tingkah Barra membuat Zaina mendongak. Dia menatap tajam Barra yang kini sudah menghentikan langkahnya. Apa pria itu sengaja menakutinya? Dia tidak bisa percaya. Sejak kapan Barra hobi melakukan ini padanya? “Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud perkataanmu itu. Tapi, aku sedikit tersinggung. Ternyata perhatianku selama ini tidak berarti buat kamu.” “Apa aku bilang gitu?” “Lalu apa maksud perkataanmu tadi? Coba jelaskan agar aku tidak salah paham.” Tidak bisa. Zaina malah menunduk dalam-dalam. Dia berusaha setengah mati agar tidak menumpahkan air mata di sini. “Jangan pergi. Bisa?” Ketiga kata itu meluncur tanpa bisa dikendalikan oleh Zaina. Mata Barra melebar. Kenapa jadi begini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN