Bab 50: Jaga Aku Selamanya

1691 Kata
“Jangan pergi. Bisa?” Sungguh. Barra bisa melihat betapa gadisnya sangat berat mengatakan itu. Mata Zaina sudah mulai berkaca-kaca. Dalam keadaan seperti ini, dia malah kehilangan keberanian. Dia mundur beberapa langkah. Pembicaraan akan lebih baik jika mereka tidak begitu dekat satu sama lain. “Bukankah kamu sudah cukup dewasa? Kamu sendiri yang bilang kalau kamu bukan lagi gadis kecil yang selalu ingin aku temani.” “Jadi, Kakak pengin pergi ninggalin aku? Gitu?” “Zai, aku tidak bisa terus menjaga orang yang sudah dewasa seperti kamu, kan?” “Kenapa enggak bisa terus jaga aku?” Zaina memberanikan diri mendekati Barra. Kedua mata Zaina sudah memerah menahan air mata. Dia menunduk dalam di hadapan Barra dan membuat pria itu tergoda untuk merengkuhnya. Barra memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Melihat gadis mungilnya hampir meneteskan air mata membuat perasaan pria itu kalut. Mendadak otak dan tubuh Barra lumpuh. Lidahnya juga kelu sekali. Dia hanya bisa menatap Zaina yang menuntut jawaban darinya. Ini benar-benar tidak terduga. Ketika masuk ke kamar ini, dia tidak menyangka akan begini. Dia tidak bisa diam saja melihat Zaina yang nyaris membasahi kedua pipinya itu. Meski begitu, tidak ada yang Barra lakukan. Hanya matanya yang terus menatap Zaina. Dia bahkan tidak bergerak saat Zaina mengibaskan tangan di depan wajahnya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Mengatakan kejujuran dengan segala konsekuen yang dia tanggung? “Kak Barra!” seru si gadis kecil. “Kakak benar-benar bakal pergi ninggalin aku?” “Aku hanya bilang akan pergi mengurus bisnis, Zai. Kamu terlalu berlebihan. Lagi pula, kamu punya dua kakak di sini.” Akhirnya Barra bisa mulai mengendalikan diri. “Tapi ....” Zaina menghela napas. “Berapa lama Kakak pergi?” “Bukannya kamu sudah tahu jawabannya?” Barra menghela napas. “Aku hanya pergi sebentar, kenapa jadi sedih begitu?” “Kakak benaran enggak tahu kenapa aku bersedih?” Sudah pasti Barra tahu apa alasannya. Dia mengalihkan pandangan begitu menyadari Zaina menatap. Kalau terus melihat kedua mata Zaina, dia bisa goyah. Sekarang, dia lebih baik segera pergi dari tempat ini sebelum Zaina memengaruhinya lebih lama. Dia tidak bisa melihat Zaina bersedih begini. Menyebalkan sekali karena hati dan tubuhnya tidak bisa bekerja sama dengan baik. Barra memang berkeinginan pergi, tetapi hatinya ingin tetap di sini bersama Zaina. Jadi, dia berusaha untuk menata emosi agar tidak meledak-ledak. Butuh ketenangan luar biasa menghadapi Zaina yang kini berada di hadapannya. “Kenapa? Apa kamu merasa kehilangan ATM berjalanmu? Tenang saja, Khafi cukup kaya untuk memenuhi semua keinginanmu. Aku juga mau memikirkan masa depanku, Zai. Aku tidak mungkin terus berada di sampingmu, kan?” Malah kalimat itu yang keluar dari mulut Barra. Dia ingin memukul kepala atau mulutnya yang tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar. Keadaan sudah sangat kacau dan dia masih bisa melontarkan lawakan? Dia berharap Zaina tidak akan merasa keberatan dengan hal ini. “Maksud Kakak?” Ada yang lain dengan suara Zaina saat mengajukan pertanyaan. “Za, aku sudah cukup tua untuk tetap lajang. Aku juga mau menikah. Iya, kan?” Bukannya menyadari kesalahan, Barra justru semakin memperburuk keadaan. “Menikah? Memangnya aku pernah ngelarang Kakak buat menikah? Bukankah Kakak yang selalu ingin jaga aku?” “Oke. Dulu, aku memang berpikir begitu. Sekarang berbeda, Zai. Kamu sudah dewasa, jadi kamu tidak butuh penjaga lagi.” “Kakak pikir begitu? Oke. Pergi saja kalau gitu. Jangan cari aku kalau Kakak balik.” Usai berkata begitu, Zaina pergi tanpa menoleh lagi. Dia menyeka air mata yang mulai membasahi pipi, lalu melangkah semakin cepat. Tidak ada gunanya menoleh jika itu hanya akan membuat sedih. Rasa sesak di d**a dia abaikan. Mulai sekarang, dia akan berusaha mengusir rasa yang selama ini dipendam. “Kamu tidak tahu betapa aku ingin mengejarmu sekarang, Zai,” gumam Barra. Dia memandangi pintu cukup lama sebelum menyadari sesuatu. Dengan terburu-buru, Barra berjalan keluar kamar. Begitu melihat Zaina yang hendak menuruni tangga, dia meraih pergelangan tangan sang gadis. Matanya melebar begitu menyaksikan jejak air mata yang ada di kedua pipi Zaina. Gadis itu benar-benar menangis? Apa yang sudah dia lakukan? “Zai, aku ....” “Apa Kakak enggak bakal ngelepas tanganku?” Zaina melirik tangan yang dipegang oleh Barra. Pria itu berdeham, laku melepaskannya. “Sebaiknya kamu kembali ke kamar.” “Buat apa? Dengar omong kosong Kakak lagi? Enggak usah. Makasih.” “Bukan begitu. Bukannya kamu sedang ditahan di kamar?” Mata Zaina mengerjap berkali-kali. Dia tidak mengingat peringatan itu. Ini semua karena Barra yang mengacaukan pikirannya. Dengan mengentak-entakkan kaki, dia kembali ke kamar. Barra tersenyum, lalu mengikuti Zaina dalam diam. Sang gadis tidak peduli dengan tingkah Barra lagi. Niat hati ingin mengusir Barra karena sudah membuat Zaina kehabisan kata-kata. Ternyata tidak semudah itu menyelaraskan keinginan hati dan perbuatan. Dia harus lebih banyak belajar agar tidak mengecewakan dirinya sendiri. Lalu, apa yang bisa dia lakukan untuk mengusir Barra? “Apa Kakak juga bakal ketat sama aku sebelum Kakak pergi?” “Bisakah kamu menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami? Aku tidak mengerti kenapa hari ini gaya bicaramu sangat berbeda." “Oh, ya? Aku enggak ngerasa gitu. Kakak saja yang sensi.” Zaina menatap Barra sambil mengerutkan kening. “Sebaiknya Kakak pergi. Aku mau ngobrol sama Kamila.” “Kamu lebih suka mengobrol dengan dia dibandingkan denganku? Padahal aku yang mau pergi. Kamu malah memilih menghabiskan waktu bersama sahabatmu.” “Enggak usah lebay. Bukannya tadi Kakak yang bilang kalau cuma pergi sebentar? Kenapa sekarang kayak enggak rela gitu?” Barra mencium bau tidak enak. Pasti ada yang direncanakan oleh Zaina kalau dia tidak segera meninggalkan kamarnya. Demi menjaga keamanan dan keselamatan diri sendiri, dia pergi setelah melemparkan senyum pada sang gadis. Kalau menuruti kata hati, dia ingin tetap berada di ruangan yang sama dengan Zaina. Setelah pembicaraan yang menguras emosi, Barra berpikir untuk menenangkan diri. Zaina juga pasti memerlukan hal ini, bukan? Jadi, untuk sementara waktu dia akan memberikan kesempatan pada Zaina. Suasana yang dia rusak, harus dia perbaiki sendiri, bukan? Solusi terbaik adalah dia keluar dari kamar. Perasaan Zaina lega luar biasa. Sejujurnya, dia tidak berniat kabur atau apa. Saat mulai menangis, dia menjadi bingung. Untuk menghindari kekacauan, tidak ada pilihan selain melarikan diri. Dia tidak mau Barra melihatnya bersedih. Pria itu pasti akan mulai menyalahkan diri. “Kalian ngomongin apa, sih?” Kamila tahu-tahu sudah berdiri di depan Zaina. “Enggak bisa gitu datangnya dengan cara normal? Bikin kaget, tahu?” “Aku sudah bersikap senormal mungkin, tapi kayaknya kamu yang lagi enggak normal.” Zaina mendelik. “Apa yang buat kamu ngelamun gitu? Kak Barra bilang hal-hal aneh lagi?” Kamila menaikturunkan alis. “Enggak usah mikir yang aneh-aneh.” “Kenapa? Jangan bilang kalau kalian ciuman lagi?” “Kamu pikir aku bakal bertindak bodoh lagi?” “Ya ... mungkin saja. Aku enggak bisa nebak jalan pikiranmu, kan? Eh, tunggu.” Kedua tangan Kamila membingkai wajah Zaina. Dia tadi hanya menerka-nerka, tetapi begitu melihat buktinya, dia semakin percaya. Melihat bagaimana sembabnya paras cantik Zaina, dia sudah mulai bisa menebak alur yang baru saja berlangsung di kamar ini. Meski tidak begitu jelas, pasti itu adalah hal yang menyedihkan. Sang sahabat bukan orang yang mudah mengeluarkan air mata. Jadi, kalau Zaina sampai menangis, itu artinya dia terlalu sakit. Kali ini, apa yang telah Barra perbuat pada sahabatnya? Kenapa Barra terus saja menyakiti Zaina? Bukankah dia orang yang seharusnya menjaga Zaina? Kenapa malah terus melukai? Walau tahu kalau ada yang tidak beres, Kamila tidak ingin terburu-buru. Kalau dia gegabah, mungkin Zaina akan semakin tertekan dan bersedih. Dia bisa memberikan waktu untuk sang sahabat. Kalau sudah merasa tenang, Zaina yang akan mendatanginya sambil mengadu. Seperti biasa. “Kamu baik-baik saja?” tanya Kamila. Dia menurunkan tangannya dari wajah Zaina. “Entahlah. Aku enggak tahu harus bersikap gimana.” “Maksudmu?” Kening Kamila berkerut. “Kamu bertengkar sama Kak Barra?” tanyanya hati-hati. Dia melihat Zaina menghela napas panjang. “Bertengkar? Itu enggak bisa dibilang bertengkar.” “Terus, kenapa kamu nangis?” “Itu ...,” Zaina sedikit ragu. “Apa pendapat kamu kalau aku ngerebut Kak Barra?” “Apa?!” Kedua mata Kamila membola sempurna. “Aku, kan, cuma tanya. Mana mungkin aku ngelakuin itu.” “Kenapa aku ngerasa kalau kamu bilang yang sejujurnya? Dengar, Zai. Jangan bertindak bodoh. Bukannya kamu bakal malu-maluin?” “Tapi ... kayaknya aku enggak bakal bisa ngerelain Kak Barra buat orang lain.” “Apa ... kamu tadi nembak, terus dia nolak?” “Aku mana seberani itu?” Zaina mendesah. Kamila mangut-mangut. “Benar juga. Terus, apa yang kalian omongin?” Zaina mengerutkan bibir. Mengingat kejadian tadi, dia kembali dipenuhi emosi. Apa Barra sedikit pun tidak memahami perasaannya? Bagaimana bisa Barra memperlakukannya seperti ini. Mereka sudah dekat sejak kecil. Lalu, kenapa ketika Barra berniat menikah, dia tidak tahu apa-apa? Kenyataan itu membuat Zaina bertanya-tanya, apa dia memang tidak penting bagi Barra? Atau Barra masih menganggapnya sebagai anak kecil? Tidak satu pun alasan yang terdengar baik di telinga sang gadis. Dia tidak menyukai kedua alasan tadi. Benar-benar konyol. Apa Barra sungguh berpikir begitu? Lalu, kenapa Barra suka sekali menggoda dan membuat Zaina salah paham? Dulu, Zaina sanggup mengendalikan diri karena Barra tidak bersikap berlebihan. Saat Barra mulai bersikap lain, dia jadi kesulitan mengimbangi. Dalam beberapa kesempatan, dia kehilangan dirinya sendiri dan semakin berani. “Zaina!” Zaina mengaduh saat merasakan pukulan di lengan. “Kok, malah ngelamun. Aku tanya apa yang kalian omongin.” “Enggak ada yang istimewa. Kami cuma bahas soal kepergiannya.” “Kamu pikir aku percaya?” Kamila menatap lekat Zaina. Bukan tak ingin berbagi, Zaina hanya membutuhkan waktu sebentar lagi. Dia berusaha tersenyum pada Kamila. Sang sahabat terlihat tidak puas. Jadi, demi menjaga kedamaian, dia mengatupkan kedua tangan di depan d**a sambil mengedip-ngedipkan mata. Memahami situasi yang terjadi, Kamila membiarkan Zaina. Dia memperhatikan wajah sendu sang sahabat. Sejak tahu kalau Barra sudah merencanakan lamaran, Zaina lebih banyak diam. Sahabatnya itu juga tidak seceria dulu. Dia bisa melihat betapa kecewanya Zaina pada Barra. Jalan pikiran orang dewasa memang sulit ditebak. Kamila tahu kalau Barra suatu hari akan melukai hati Zaina. Perbedaan umur yang terlalu jauh adalah salah satu penyebab. Barra terlalu berhati-hati dan banyak pertimbangan. Sementara Zaina kekanakan dan ceroboh. Perpaduan sifat yang tergolong unik. Kamila banyak membaca novel, tetapi tetap tidak mengerti mengapa percintaan bisa sangat rumit. Dia bahkan tidak tahu kenapa seseorang tidak bisa mengungkapkan cinta padalah di hatinya mengakui itu. Baginya, cinta adalah suatu hal yang sulit untuk dipahami. “Sudahlah. Kamu sudah buka hadiah dari Kak Barra?” Zaina menggeleng. “Kenapa? Takut banget buka kado dari dia.” “Aku ngerasa ada yang enggak beres sama kado itu. Gimana kalau isinya bikin aku tambah kecewa sama Kak Barra?” “Gimana kalau justru sebaliknya?” Kamila mendekatkan diri pada Zaina. “Gimana kalau isinya sesuatu yang bagus dan bisa buat kamu bahagia?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN