Bab 26: Hadiah

1798 Kata
“Maksud Kakak apa?” “Hanya untuk persiapan. Kamu suka hadiah, tapi tidak suka merayakan ulang tahun. Bukankah tahun ini sangat spesial?” “Spesial? Apa bedanya tahun ini sama tahun sebelum-sebelumnya?” “Karena tahun depan mungkin aku tidak bisa menemanimu merayakan ulang tahun.” Ingin sekali mengatakan kalimat itu secara langsung pada Zaina, tetapi ditahan. Barra tidak mau Zaina mengetahui perasaannya terlalu cepat. Setidaknya tunggu sampai Zaina menyelesaikan kuliah. Bukan ingin membuat Zaina sedih atau menunggu. Dia hanya tidak ingin mengganggu belajar Zaina. Di depan sang pria, Zaina mengerutkan kening. Dia tidak mengerti mengapa Barra tiba-tiba ingin merencanakan ulang tahun untuknya. Padahal biasanya dia hanya merayakan dengan keluarga. Suasana pesta yang bising membuat gadis itu tidak nyaman. Dari dulu, dia tidak menyukai keramaian. Orang yang paling memahami Zaina adalah Barra. Lalu, mengapa sekarang Barra seolah mendorongnya untuk merayakan ulang tahun? Ada yang mencurigakan mengenai sikap Barra. Belakangan ini, pria itu juga lebih perhatian padanya. Meski menyukai perhatian dari Barra, dia tidak ingin terlena. Bisa jadi, Barra melakukan hal ini untuk membuat Zaina senang. Sebentar lagi Zaina melaksanakan ujian semester. Mungkin Barra hanya ingin membuatnya senang, agar dia bisa lebih konsentrasi belajar. Apa pun itu, sikap Barra malah semakin menggetarkan hati. Bagaimana kalau dia jatuh lebih dalam? “Bagaimana?” desak Barra. Zaina menghela napas. “Sikap kakak aneh. Apa ada yang Kakak sembunyiin?” “Kenapa malah bertanya begitu? Tahun ini, kamu berusia dua puluh tahun. Perayaan ulang tahunnya harus lebih spesial, kan? Kamu sudah kepala dua.” “Memang kenapa kalau aku sudah dua puluh tahun? Sudah tua gitu?” Barra tertawa. “Tua? Bagaimana bisa dia puluh tahun dikatakan tua? Kamu menyindirku?” Giliran Zaina yang tertawa. Dia sama sekali tidak pernah menganggap Barra tua. Wajah pria itu akan terlihat lebih muda kalau saja dia mau memakai pakaian yang lebih santai. Bukannya mengikuti gaya Khafi yang kaku. Padahal sesekali Barra berinisiatif mengenakan baju yang disukai oleh Zaina. Bukan bermaksud mengatakan kalau Zaina tidak menyukai penampilan Barra yang sekarang. Bagaimanapun gaya berpakaian Barra, dia selalu suka. Dia tidak pernah memandang pria itu dari bajunya. Baginya, Barra tetap memesona mengenakan apa saja. Jadi, tidak masalah Barra terlihat tua atau sebagainya. Hampir berusia tiga puluh dua bukanlah hambatan. Barra tetap memiliki pesonanya sendiri dan Zaina bisa melihat. Gadis itu tidak peduli dengan perbedaan umur mereka yang cukup jauh. Selama ini, hanya Barra yang sangat memahaminya. Dia tidak menginginkan pria lain. Barra sudah menjadi incarannya sejak lama. Meski begitu, Zaina tetap tidak tenang karena Barra bersikap berbeda padanya. Kalau Barra seperti itu, dia akan berpikiran aneh. Sebelumnya, Barra juga pernah melakukan hal di luar kebiasaan. Lalu, setelah itu dia menghilang beberapa hari. Mungkinkah kali ini juga sama? Ke mana Barra akan pergi? “Kakak mau pergi?” tanya Zaina sambil menahan ekspresi wajahnya. Dia tidak mau kalau Barra sampai tahu apa yang dirasakannya sekarang. “Kenapa bertanya begitu?” “Karena setiap kali Kakak melakukan hal aneh, Kakak akan menghilang setelahnya.” Barra diam sebentar, lalu menatap Zaina dalam. “Kali ini, kamu salah tebak. Aku hanya ingin menyenangkan kamu. Sebentar lagi kamu ujian. Aku akan membuatkan kejutan manis kalau kamu bisa mengerjakan soal-soal dengan baik. Bagaimana?” “Kakak pikir aku anak TK yang bisa dibujuk dengan hadiah?” “Hmmm, anggap saja begitu,” ujar Barra, lalu tertawa. Zaina langsung memukul lengan pria itu. “Stop anggap aku anak kecil. Aku sudah hampir dua puluh, lho. Sampai kapan Kakak bakal anggap aku anak kecil? Menyebalkan.” “Entahlah. Mungkin setelah kamu menikah,” kata Barra setengah menerawang. “Nikah? Kira-kira kapan aku bakal nikah?” “Kamu salah bertanya. Harusnya kamu tanya, siapa yang mau menikahiku.” Zaina mendelik pada Barra yang tertawa lagi. Meski mereka lebih sering saling ejek begitu, Zaina benar-benar menyukai momen seperti ini. Barra terlihat lebih menarik saat mengatakan hal-hal aneh padanya. Sesuatu yang hanya Barra lakukan pada dirinya. Barra tidak pernah bersikap begini pada siapa pun. Melihat tawa lepas Barra membuat Zaina menelan ludah. Dia ingin sekali menyentuh wajah pria tampan itu dan mengatakan semua isi hatinya. Bolehkah dia egois sekali ini saja? Dia sungguh ingin tahu reaksi Barra. Namun, dia lebih takut kalau mendapatkan penolakan dari pria yang disukainya. Dari yang Zaina dengar, patah hati karena ditolak bisa bertahan lama. Dia terlalu takut untuk merasakan semua itu. Jadi, lebih baik dia menahan diri saja sebentar lagi. Entah sampai kapan dia bisa menahan perasaan ini. Dia yakin kalau sebentar lagi Barra akan tahu yang sebenarnya. Ada berbagai cara untuk mengetahui perasaan Zaina. Kalau Barra memang sudah curiga ada pria yang dia sukai, pasti tidak akan sulit mencari kebenaran. Zaina sangat percaya hal itu. Kapan kira-kira Barra tahu isi hatinya? Semoga saja saat itu dia sudah cukup kuat untuk menerima kenyataan. “Pasti akan ada seseorang yang mau nikah sama aku.” “Ya, tunggu saja sepuluh tahun lagi. Mungkin akan ada orang khilaf yang melamarmu.” Barra menutup mulut untuk menahan tawa. Zaina menyipitkan mata. “Bukannya aku sudah tiga puluh tahun. Lama banget. Gimana kalau nikah muda saja? Dua atau tiga tahun lagi?” Mata Zaina mengedip-ngedip. Barra menelan ludah. Wajah manis Zaina memesona. Dia tergoda untuk mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Zaina, seperti biasa. Sungguh, dia sudah menahan diri sekuat mungkin, tetapi dia kalah dengan hati kecil. Karena sekarang tangannya sudah bergerak tanpa bisa dicegah. Merasakan halusnya kulit pipi Zaina sudah seperti candu bagi Barra. Dia mengelus bagian itu untuk beberapa saat. Kedua matanya fokus pada wajah cantik Zaina yang sudah memerah. Siapa peduli. Dia hanya ingin menikmati momen kebersamaan bersama Zaina sebelum pergi. Rasanya tidak rela meninggalkan Zaina yang begitu manis. Dia mulai meragukan keputusannya untuk pergi. Sanggupkah dia bertahan selama itu? Bagaimana kalau dia justru tergoda untuk menangkap Zaina dan menggenggam erat tangan gadis itu selamanya. Dia sangat yakin bisa melakukan itu. Di depan Barra, sang gadis sudah merasa sesak. Jantungnya berdetak sangat cepat. Dia bisa merasakan kalau wajahnya sangat panas saat ini. Dia ingin menjauh agar tangan Barra bisa terlepas. Akan tetapi, dia hanya bisa mematung di tempat, tidak sanggup untuk menghindari kelembutan yang diterima. “Kamu sungguh ingin menikah di usia itu?” tanya Barra tiba-tiba. Dia masih mengusap pipi Zaina. Perasaannya sudah mulai membuncah. Bisakah kali ini dia menahan diri? “Kenapa? Kakak mau menikahi aku?” “Kamu mau?” Pertanyaan itu membuat dua insan saling berpandangan cukup lama. Sekarang, jantung Zaina pasti akan melompat keluar. Rasanya ingin melompat ke dalam pelukan Barra sekarang juga. Dia tahu kalau Barra mungkin saja tidak serius dengan ucapannya, tetapi tetap saja dia merasa melayang. Itu adalah hal yang sangat diimpikan oleh Zaina. Dia membayangkannya berkali-kali. Betapa tampannya Barra dalam setelan jas saat pernikahan. Pasti akan sangat membahagiakan kalau saja Barra bisa mendampingi di pelaminan. Mungkinkah mimpi gadis itu bisa menjadi kenyataan? Mengingat bagaimana sikap Barra, mimpi itu terasa jauh. Zaina bahkan tidak berani menanyakan apakah Barra benar-benar punya seseorang dalam hati. Meski Barra sudah mengatakan kalau dia menyukai orang lain, Zaina tidak pernah berhenti berharap agar pria itu kembali padanya. “Kakak mau melamarmu?” “Kamu mau?” Barra sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama. Zaina menelan ludah. Dia hampir tidak bernapas saat melihat senyum Barra yang menggoda. “Sudahlah. Aku malas ngomong sama Kakak.” Zaina tidak mau terhanyut lagi dalam pesona Barra yang memabukkan. Pada akhirnya, dia yang akan terluka. “Kenapa? Aku calon suami yang potensial. Kamu tidak tahu berapa banyak orang tua yang memimpikan seorang menantu sepertiku.” “Oh, ya? Terlalu percaya diri,” cibir Zaina. Padahal dalam hati dia sangat menginginkan Barra datang untuk melamar. Tentu saja tidak sekarang. “Kepercayaan diri itu perlu. Kamu tahu, kan?” “Iya, iya. Tapi, Kakak enggak suka sama aku, jadi mana mungkin kita nikah.” “Siapa bilang kalau aku tidak menyukai kamu?” Sekali lagi, Barra membuat Zaina menghela napas. Pria itu pandai sekali bermain kata. Kalau saja Zaina tidak mengenal Barra, dia pasti sudah tersipu sekarang. Sayang, dia sudah sangat tahu watak Barra yang suka menggombal. Jadi, dia tidak akan tertipu lagi dengan permainan yang Barra ciptakan. Meski Zaina senang mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Barra itu, dia tidak boleh terlena. Dia tidak mau dikecewakan lagi seperti sebelumnya. Cukup sekali dia terjatuh dalam perangkap Barra. Kali ini, dia harus berhati-hati. Tampaknya Barra sedang merencanakan sesuatu. Gadis itu curiga kalau Barra benar-benar akan mengejutkan dirinya saat ulang tahun nanti. Kalau Zaina merespons perkataan Barra, selanjutnya pasti akan seperti kasus 'kencan' yang mengecewakan. Hal terbaik yang bisa dia lakukan adalah menahan diri agar perasaannya tidak merusak keadaan. Mengapa Barra justru banyak menggoda dengan kata-kata yang dia harapkan? Ini bencana. Baru saja hendak protes, Zaina mengurungkan niatnya itu. Dia menoleh dan mendapati Hilya yang tengah berjalan ke arah Barra. Gadis itu hanya bisa diam saat Hilya duduk di antara dirinya dan Barra. Sudut matanya melirik Barra yang ternyata sedang melihat dia, bahkan sambil tersenyum lebar. Apa yang sebenarnya Barra rencanakan? Pria itu jelas merencanakan sesuatu untuk dirinya, tetapi dia tidak memiliki pandangan apa pun. Perlukah dia bertanya pada Hilya atau Khafi. Mungkin mereka tahu apa yang direncanakan oleh Barra. Namun, dia tidak yakin kalau akan mendapatkan jawaban yang memuaskan. “Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Hilya, lalu duduk di dekat Barra. “Aku hanya bertanya pada Zaina mengenai pernikahan.” Mata Zaina membelalak. Bagaimana bisa Barra mengatakan hal seperti itu pada Hilya? Apa dia sama sekali tidak memikirkan dampak dari kalimat yang diucapkannya? “Pernikahan? Bukankah masih terlalu dini membahas mengenai hal itu?” “Zaina mau menikah muda, Nek.” Mulut Zaina yang sudah terbuka dan siap menjawab kembali tertutup. Dia ternganga mendengar kalimat Barra selanjutnya. “Benarkah, Zai?” tanya Hilya pada Zaina. “Ah, Nek. Itu ... Sebenarnya ... aku ....” “Apa kamu benar-benar sudah memiliki seseorang yang dicintai?” “Kenapa Nenek bertanya begitu? Kak Barra bilang sesuatu?” “Sebenarnya Nenek tidak melarang keinginan itu. Tapi, apa kamu sudah siap menikah di usia muda? Nenek bertanya karena mengkhawatirkanmu.” “Aku tahu, Nek. Aku cuma ....” Zaina menoleh pada Barra yang sibuk bermain dengan telepon selulernya. “cuma asal ngomong. Habis Kak Barra aneh-aneh nanyanya.” “Kenapa jadi aku yang salah,” ujar Barra tanpa mengalihkan pandangan. “Tapi aku serius soal perkataanku tadi. Pikirkan baik-baik, apa yang kamu inginkan.” Sejujurnya, Zaina tidak mengerti apa yang Barra maksud. Apa tepatnya yang harus dia pikirkan? Hadiah ulang tahunnya yang ke dua puluh? Atau lamaran dan pernikahan? Atau tentang pernyataan cinta yang tidak terlihat nyata? Zaina sungguh ingin menanyakan semua itu, tetapi lidahnya terlalu kelu untuk berbicara. Sang gadis hanya bisa memperhatikan Barra yang masih sibuk menggerakkan tangan di atas layar telepon seluler. Dia menggabungkan pipi. Mengapa jatuh cinta pada Barra bisa seberat ini. Dia tidak menginginkan hadiah apa pun dari Barra. Cukup memberinya cinta yang dia impikan. Itu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN