“Apa maksud kamu? Kamu benar-benar berniat untuk pergi?”
“Kenapa? Hanya pergi dua tahun, kan?” Barra tampak tidak peduli. Khafi menatapnya tak mengerti. Sahabatnya itu sedikit berbeda hari ini.
“Kamu mau melarikan diri?”
“Tolong gunakan kalimat yang baik. Aku? Melarikan diri? Dari apa? Dari siapa?”
Khafi juga tidak yakin dengan alasan yang dimiliki Barra. Yang pasti, ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang sahabat. Belakangan ini, dia sudah memperhatikan sikap Barra yang aneh. Kawan yang terkenal dengan tingkat kesabaran tinggi itu bahkan mengamuk di kantor. Tentu ada yang tidak beres.
Kalau menurut perkiraan Khafi, Barra sedang menyukai seseorang. Akan tetapi, kisah mereka tidak berjalan sesuai dengan keinginan. Itu sebabnya, Barra merasa marah dan sekarang malah ingin pergi. Meski begitu, dia belum bisa menarik kesimpulan dari permasalahan yang dihadapi Barra.
Melihat wajah Barra yang tidak bersemangat, kepergian kali ini kemungkinan ada hubungannya dengan orang tersebut. Khafi sangat penasaran, wanita seperti apa yang bisa membuat kesabaran seorang Barra diuji? Setahu Khafi, sebesar apa pun kemarahan Barra, sang sahabat belum pernah sampai membanting sesuatu.
Kalau begitu, bukankah seharusnya Barra sangat mencintai wanita itu? Lalu, kenapa malah mau melarikan diri? Jika memang suka dan tidak berjalan lancar, dia harus memperbaiki keadaan. Bukan malah pergi. Bagaimana kalau wanita yang disukainya justru lari saat dia pergi.
Ini bukan perjalanan bisnis biasa. Rencana untuk membuka cabang baru merupakan impian Khafi dan Barra sejak lama. Mereka memang menginginkan kesuksesan di tempat tujuan. Namun, mengirim Barra ke sana rasanya terlalu berlebih-lebihan. Apa lagi setidaknya butuh waktu satu sampai dua tahun untuk menetap.
“Kalau ada masalah, sebaiknya diselesaikan, bukan dihindari. Aku tidak tahu kalau kamu sangat pengecut.”
“Jangan mengatakan omong kosong. Aku hanya ingin berganti suasana. Terlalu lama bersamamu membuatku bosan.”
“Yang benar saja. Memangnya aku tidak bosan?” Khafi mencibir. “Berapa lama kamu berencana pergi?” tanyanya serius.
“Aku belum yakin. Mungkin dua tahun sudah cukup.”
“Dua tahun? Bukankah itu terlalu lama? Kamu sudah merencanakan hal ini sebelumnya?” Barra menggeleng. Khafi menghela napas.
“Setidaknya aku akan kembali merasakan perjuangan membangun sebuah perusahaan. Jadi, aku benar-benar ingin pergi.”
Keseriusan tampak jelas di kedua mata Barra. Jika sang sahabat ingin pergi, Khafi tidak akan menghalangi. Hanya saja, dia tidak mau Barra menyesali keputusannya sekarang. Bagi orang-orang tertentu, dua tahun adalah waktu yang sangat lama. Apa Barra sungguh menginginkan hal ini?
Khafi memperhatikan Barra yang sibuk membaca berkas mengenai perusahaan baru mereka. Antusias Barra saat membuka setiap lembarnya membuat Khafi mengernyit. Dia sangat mengerti perasaan Barra. Ketika jatuh cinta ada banyak hal tidak masuk akal yang akan kita alami.
Dulu, Khafi hanya orang kaku yang tidak suka membuka diri pada orang-orang di sekitarnya. Namun, setelah bertemu dengan Arisha banyak hal yang berubah. Barra juga begitu. Ketika menyadari ada orang yang disukai, tanpa sadar dia mulai menjadi pribadi lain. Sesuatu yang biasanya hanya bisa dilihat oleh orang lain.
Itulah yang kini Khafi lihat pada diri Barra. Dia cukup yakin dengan pandangannya ini. Barra tidak harus menghindar. Yang dia butuhkan adalah menghadapi kenyataan. Semakin dia melarikan diri, semakin sakit hatinya. Begitu yang Khafi rasakan saat menolak perasaan cintanya pada Arisha pertama kali.
“Bagaimana dengan Zaina?”
“Zaina?” ulang Barra linglung. Begitu mendengar nama sang pujaan hati, semua rencana yang dia susun, hancur berkeping-keping.
“Dia sudah terbiasa dengan kehadiranmu. Kalau kamu tiba-tiba pergi, bukankah dia akan sangat sedih. Bagaimana kamu akan menjelaskan padanya?”
“Aku ....”
Barra belum memikirkan sampai sejauh itu. Dia hanya ingin memberi sedikit ruang pada Zaina dan dirinya. Mungkin setelah berpisah, Zaina akan menyadari perasaannya. Dia tidak ingin terlalu berharap pada gadis itu. Bagaimana jika cinta Zaina hanya rasa kagum sesaat karena kebersamaan mereka selama ini?
Bagi gadis belia seperti Zaina, jatuh cinta adalah salah satu bumbu masa remaja mereka. Itu merupakan proses menuju kedewasaan. Di umur itu, tidak banyak yang menganggap cinta sebagai sebuah anugerah. Barra hanya tidak ingin Zaina salah menilai apa yang dia rasakan pada dirinya.
Jika itu terjadi, bukankah kedua belah pihak akan terluka. Barra tidak masalah kalau sampai terluka atau patah hati. Namun, apa jadinya kalau hal itu terjadi pada Zaina? Dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Jadi, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya dia menghindari sementara waktu.
Dua tahun kemudian, Zaina sudah menyelesaikan kuliahnya. Akan lebih mudah untuk menghadapi wanita yang telah dewasa dibandingkan dengan Zaina yang sekarang. Barra bukannya menganggap Zaina masih kekanakan. Dalam beberapa kesempatan, Zaina memang belum bisa bersikap dewasa. Akan tetapi, dia bisa menempatkan diri dengan cukup baik.
Meninggalkan Zaina dua tahun mungkin bisa membawa kebaikan. Begitulah menurut Barra. Pria itu tidak mau perasaannya memengaruhi belajar Zaina. Masa depan Zaina akan menjadi taruhan kalau dia melangkah ke jalan yang salah. Zaina mungkin tidak berpikir sampai sejauh ini. Barra tidak menyalahkan. Dia tahu betul kalau Zaina masih labil dan perlu bimbingan.
“Bisakah kamu merahasiakan ini dulu? Lagi pula, masih dua bulan. Aku sendiri yang akan berpamitan padanya,” ujar Barra. Khafi mengangguk paham. Dia menepuk pundak Barra beberapa kali.
“Maaf kalau Zaina terlalu membebani kamu."
“Mana mungkin. Dia sekarang sudah mulai susah diatur. Aku rasa, dia sudah cukup dewasa. Dia tidak membutuhkanku lagi.”
“Kamu mengatakan hal itu tanpa berpikir? Apa kamu tidak tahu bagaimana posisimu di hati Zaina? Hanya kamu yang dia dengar dan turuti. Dia lebih cocok menjadi adikmu dari pada adikku.”
Adik? Sebutan itu lagi-lagi mengingatkan Barra mengenai posisinya. Khafi benar sekali. Selama ini, dia berperan sebagai kakak. Bagaimana bisa dia mengubahnya dengan status lain? Rasanya sangat egois, tetapi cinta memang begitu, bukan? Terkadang kita hanya memikirkan perasaan kita tanpa melihat nasib orang lain.
Bukannya tidak tahu kalau Zaina memang sangat penurut pada Barra. Pria itu sadar betul akan hal ini. Karenanya, meninggalkan Zaina sekarang bisa menjadi latihan untuk mereka, terutama si gadis. Entahlah. Sejujurnya, Barra belum terlalu yakin dengan keputusannya. Dia mendapat ide ini setelah mendengar pembicaraan Khafi.
Melihat harapan besar di kedua mata Zaina, Barra menjadi merasa bersalah. Dia telah membuat gadis yang belum genap berusia dua puluh tahun kasmaran. Padahal ada begitu banyak pria yang lebih baik di sekeliling Zaina. Bagaimana bisa dia membuat Zaina menderita bersama pria tua?
“Dia akan baik-baik saja. Dia punya teman yang baik. Suatu saat nanti, dia juga akan mendapatkan pria yang baik.”
“Kamu benar. Tapi, di mana dia bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari pada kamu,” kata Khafi sambil memandang Barra. Barra yang diajak bicara mematung di tempat. Mengapa dia merasa seperti sedang diinterogasi.
“Jangan bercanda. Kami lebih sering berdebat dari pada berdamai.”
“Benar juga. Lagi pula, seleramu pasti tidak sedangkal itu. Bagaimana mungkin kamu jatuh cinta pada gadis kekanakan dan keras kepala seperti Zaina.”
“Aku tidak pernah berpendapat begitu. Zaina gadis yang sangat baik.” Khafi tertawa.
“Tidak perlu membelanya terus, Bar. Aku tahu betul bagaimana sikap adikku meski kami jarang bertemu.” Khafi menghela napas. “Maaf, aku tidak bermaksud membebanimu dengan kata-kata itu.”
“Maaf? Arisha pasti sangat berpengaruh dalam hidupmu. Iya, kan?”
“Cinta bisa mengubah banyak hal, termasuk kebiasaan kita.”
“Aku percaya itu. Aku sudah melihat cukup bukti.”
“Bukankah kamu juga begitu.” Khafi berusaha memancing.
“Aku? Memangnya aku kenapa?”
“Aku belum pernah melihatmu begitu emosional. Aku penasaran dengan siapa kamu menyerahkan hatimu itu. Dia pasti wanita yang sangat hebat sampai bisa membabat habis kesabaran seorang Barra.”
“Kamu berlebihan,” ucap Barra. Dia mengingat kejadian saat mengamuk di kantor. Harusnya dia memang pulang. Bukan malah mencari masalah di perusahaan.
“Siapa pun dia, dia sangat beruntung karena sudah mendapatkan hatimu.”
“Apa menurutmu cinta sejati benar-benar ada?”
“Tentu saja. Aku dan Arisha contohnya.”
Barra memutar bola mata. Harusnya dia tahu kalau Khafi akan memberikan jawaban yang menyebalkan. Sudah tahu kalau tingkat kesombongan sang sahabat setinggi langit, dia malah main-main. Tidak ada gunanya menanyakan masalah percintaan pada Khafi. Buang waktu dan tenaga.
Untuk orang sedingin Khafi, jatuh cinta adalah hal yang baru. Setahu Barra, Khafi dan Arisha sama-sama cinta pertama. Mereka kini bersama dan mematahkan pendapat sebagian orang kalau cinta pertama tidak akan pernah berakhir bahagia. Apa Barra juga bisa menyusul langkah Khafi?
Selama hampir tiga puluh dua tahun, Barra hanya pernah jatuh cinta sekali. Tentu saja hatinya tidak pernah berubah. Dia selalu menyukai Zaina. Jadi, sudah sewajarnya dia sangat memedulikan gadis itu. Bagaimana bisa dia membiarkan Zaina berada dalam kesedihan karena dirinya?
“Aku serius, Khaf. Jangan main-main.”
“Aku serius, Bar. Memangnya kami tidak terlihat seperti pasangan sejati?”
“Oke, oke. Aku mengerti. Jangan sampai membuatku muntah di sini.”
“Perhatikan kata-katamu. Jangan mengatakan hal jorok di depanku.”
“Kamu benar-benar tidak tertolong lagi. Aku heran kenapa Arisha sangat menyukaimu. Apa aku harus membuatnya menyesal?”
“Jangan bicara sembarangan. Lagi pula, kita sedang membicarakan masalahmu. Kamu sengaja mengalihkan topik pembicaraan.”
“Apa sejelas itu?” tanya Barra sambil tersenyum lebar.
“Lihat bayanganmu di cermin. Di kening ini pasti akan ada tulisan 'aku sedang jatuh cinta'. Sana, cari cermin dulu,” kata Khafi sambil mendorong tubuh Barra.
“Kamu terlalu pintar untuk dibohongi.” Barra menghela napas. “Aku akui kalau aku memang sedang jatuh cinta. Tapi, aku rasa sekarang bukan waktu yang tepat.”
Benar. Tidak ada gunanya menyembunyikan rahasia seperti ini dari Khafi. Jika rasa penasaran memenuhi hatinya, dia bisa melakukan apa pun. Jadi, sebelum dia mencari tahu sendiri, lebih baik Barra mengaku. Kalau sudah begini, kemungkinan besar Khafi akan membiarkannya berlalu.
Memiliki sahabat jenius seperti Khafi merupakan anugerah sekaligus musibah bagi Barra. Tentu saja musibah dalam artian sikap Khafi yang terkadang suka seenaknya. Sejak dulu, Khafi tidak pernah memiliki teman lain selain dirinya. Khafi mempunyai sedikit masalah saat harus menjalin hubungan dengan orang baru.
Hal itu tidak membuat Barra mundur atau menjauh dari Khafi. Apa lagi dia sangat tahu mengapa sang sahabat bisa begitu. Dulu, Khafi juga orang yang penuh senyum dan kehangatan. Lalu, kematian kedua orang tuanya merenggut semua. Dia menjadi pribadi yang tertutup dan sulit didekati, bahkan sengaja tidak menghubungi teman-teman di masa lalunya.
“Aku tidak akan mendebatmu kalau kamu sudah memutuskan begitu. Tapi kamu harus ingat. Terkadang wanita lebih berharap kita berjuang untuknya. Bukan malah pergi. Bagaimana kalau saat kamu pergi, dia didekati oleh pria lain?”
“Bukankah jodoh tidak akan ke mana?”
“Oke. Apa pun keputusanmu, akan aku dukung,” kata Khafi sambil tersenyum tipis. Barra membalas dengan senyum lebar. Kata-kata Khafi sedikit mengkhawatirkan.