Bab 24: Kencan

1710 Kata
“Senang sudah berhasil main-main sama aku?” tanya Zaina. Dia melebarkan mata. “Kenapa? Bukannya kamu suka sate di tempat ini?” “Kakak sengaja ngelakuin ini, kan?” “Melakukan apa?” Barra menyandarkan tubuh ke badan kursi. Ketika mengajak Zaina untuk “berkencan”, Barra merasa sangat gugup. Dia tidak mengerti kenapa bisa mengatakan hal aneh seperti itu. Pasti ada setan yang mendorongnya untuk melakukan kesalahan. Untung saja dia bisa menguasai diri dengan cepat, sehingga tidak ketahuan. Barra tertawa dalam hati. Dia mulai menyalahkan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia bertindak kelewat batas? Ekspresi Zaina saat mendengar hal itu sangat sulit dijelaskan. Dia bisa melihat betapa merahnya wajah sang gadis. Tubuh Zaina juga menegang, bahkan sampai tidak bisa mengatakan apa-apa. Belum apa-apa, Zaina sudah terbawa perasaan. Mungkin karena dia seorang gadis belia. Dia mudah dipengaruhi, terutama oleh orang yang disukainya. Mengingat kenyataan itu, dia ingin sekali melompat tinggi. Semoga saja dia bisa menjaga hati dan tindakannya. Dia tidak ingin membuat Zaina lari ketakutan. Menyukai pria yang jauh lebih tua bukan hal mudah. Begitu juga saat suka pada gadis yang masih belum tumbuh dewasa. Bukan hanya setahun dua tahun, mereka terpaut hampir dua belas tahun. Apa Zaina nanti bisa menerima semua yang ada pada dirinya. Banyak hal yang belum Zaina ketahui mengenai dia. “Lain kali, jangan bercanda kayak tadi,” kata Zaina serius. Tangan Barra yang semula hendak memasukkan sate ke mulut berhenti. Dia mengingat ekspresi Zaina saat mengajak berkencan. Pria itu berharap Zaina tidak menyadari kalau dia sebenarnya serius dengan gurauan tersebut. Dia terlalu pengecut untuk mengakui perasaan. Hati kecilnya tidak mengizinkan untuk jujur sekarang. Berusaha tidak terganggu, Barra kembali memasukkan sate yang tadi sempat tertunda. Dia mengamati Zaina yang menunduk sambil menikmati makanan kesukaannya. Gadis itu tampaknya masih belum bisa menerima gurauan mengenai kencan. Apa mungkin Zaina berharap mereka benar-benar berkencan? “Mau nonton bioskop atau taman ria?” tawar Barra sambil bertopang dagu. Zaina mendelik padanya dan membuat pria itu tertawa. “Kenapa?” “Kakak bakal lanjut?” “Lanjut apa? Memang apa yang aku lakukan. Aku hanya ingin membuatmu senang.” “Makasih. Tapi enggak perlu. Aku lagi malas main.” “Kamu? Malas main? Aku rasa sebentar lagi akan ada masalah.” “Kakak ngomong apa?” tanya Zaina pada Barra yang kini tengah tersenyum miring. Pasti ada yang tidak beres. “Enggak usah senyum kayak gitu.” “Sebenarnya apa yang membuatmu marah?” “Siapa bilang aku marah. Aku cuma kesal.” “Karena aku tidak benar-benar mengajakmu kencan?” “Apa? Mimpi saja!” Sekali lagi, jantung Barra berdebar melampaui kebiasaan. Dia cepat-cepat berdeham, lalu minum air putih. Berdekatan dengan Zaina setelah tahu perasaan gadis itu membawa pengaruh besar. Tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Dia harus s segera menata hati agar bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Jika terus begini, Barra akan mengalami kesulitan sendiri. Dia tidak mungkin bisa menghindari pertemuan dengan Zaina, mengingat dia memang selalu berkunjung ke rumah Hilya. Belum lagi dia dipercaya untuk membantu gadis itu memperoleh nilai cukup dalam ujian semester nanti. Ada banyak hal yang harus Barra lakukan untuk Zaina. Kalau dipikirkan lagi, semua kegiatannya selalu berkaitan dengan si gadis berambut pendek. Zaina sudah terlanjur mendominasi kehidupannya. Dia tidak bisa menyangkal. Kalau dia tiba-tiba menjauh, bukankah malah akan menimbulkan kecurigaan? Kedua mata Barra terus saja mengawasi Zaina yang terlihat lebih menarik dari biasa. Mengapa Zaina justru semakin menggoda begitu? Pria itu menggeleng berkali-kali. Dia sungguh telah diracuni oleh cinta. Apa jatuh cinta memang seperti ini? Dia ingin mendekati Zaina, tetapi terlalu takut jika terjatuh semakin dalam. “Kakak ... benaran tahu siapa orang yang aku sukai?” tanya Zaina ragu. Dia memberanikan diri untuk mengangkat kepala. Sejak mendapati kalau Barra tidak serius mengajak kencan, Zaina merasa ingin meledak. Kalau bisa sedikit berani, dia pasti sudah menghadiahi Barra dengan beberapa bogem. Rasanya wajah tampan pria itu perlu diberi polesan agar tidak digunakan untuk menggoda gadis polos. Jujur saja, Zaina bagai melayang ke awan. Diajak berkencan oleh Barra adalah sesuatu yang sangat dia inginkan. Namun, dia malah dikecewakan karena ajakan itu hanya sebuah lelucon. Tega sekali Barra membuatnya berharap seperti ini. Padahal dia sudah keburu berbunga-bunga. Sekarang, bahkan menikmati sate kesukaan tidak berguna. Hati Zaina masih terasa sesak karena dipermainkan oleh pria yang disukainya. Dia berharap semoga wajahnya tidak terlalu kentara. Kalau Barra sampai mengetahui apa yang dia sembunyikan, mau diletak di mana harga dirinya? “Kenapa? Kamu meragukan kemampuanku dalam mencari informasi?” “Jadi, siapa orang yang aku sukai?” “Apa harus aku katakan? Kamu yakin? Tidak mau mengakuinya sendiri?” “Kakak enggak tahu siapa dia, kan?” “Kamu salah. Aku sudah sangat yakin dengan informasi ini.” Barra mencoba peruntungan. Dia menyandarkan badan ke kursi, lalu menyilangkan kedua tangan di d**a, menunggu reaksi Zaina. Di hadapan Barra, Zaina meneliti wajah tampannya. Gadis itu sama sekali tidak dapat membaca apa pun. Zaina tertawa dalam hati. Sepertinya Barra benar. Zaina tidak tahu apa-apa tentang si pria. Mereka memang dekat, tetapi Zaina tidak pernah bisa menebak jalan pikiran pria dewasa di depannya. “Aku tetap enggak percaya,” ujar Zaina berkeras. “Coba katakan apa alasanmu.” Barra tidak mau kalah. “Karena aku enggak pernah suka sama pria mana pun. Aku cuma mau ngerjain Kakak. Jadi, sudah pasti Kakak lagi bohong.” “Benarkah? Aku tidak berpikir begitu.” “Bukannya tadi Kakak ngeraguin perasaanku sama dia? Kenapa sekarang malah dukung dia? Kakak plin-plan.” “Aku bukannya plin-plan. Aku hanya tidak ingin kamu salah mengartikan perasaanmu sama dia. Itu saja.” “Jujur saja. Kakak lagi nipu aku, kan?” Zaina menyipitkan mata. Meski hatinya berdebar kencang karena bertatapan dengan Barra, dia harus tetap terlihat berani. Dia mengerutkan kening saat mendengar Barra mendengkus. “Bagaimana kalau kamu jujur juga. Kenapa kamu menyukai pria itu?” Keberanian yang baru saja muncul, hilang dalam sekejap. Zaina kembali menjauhkan diri dari Barra yang kini mengetuk-ngetuk meja sambil tersenyum lebar. Kali ini pun, tampaknya dia akan kalah. Mungkin dia memang tidak akan pernah menang dari orang yang telah menjaganya dari kecil itu. Apa ini namanya hukuman? Zaina menyukai pria yang sudah mengorbankan banyak hal. Terlebih lagi, Barra tidak memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Kalau dia tetap berkeras, bukankah dia tang akan tersakiti? Bagaimanapun cinta bertepuk sebelah tangan itu amat menyiksa. Ingin rasanya berteriak pada Barra mengenai apa yang dia pikirkan saat ini. Zaina sungguh bisa merasakan hatinya yang sebentar lagi akan meledak karena Barra. Pria itu benar-benar sulit ditebak. Entah benar atau tidak apa yang dikatakan mengenai pria yang dia sukai. Orang yang tahu tentang perasaan Zaina hanya dua, Kamila dan Arisha. Mereka jelas tidak akan membocorkan rahasia itu. Jadi, mana mungkin Barra mengetahui kalau dia menyuka pria itu. Kesimpulannya, Barra hanya mengarang cerita agar dia mengaku. Gadis berhidung mancung tersenyum sinis. Dia tidak akan pernah membiarkan Barra tahu yang sebenarnya. Lain ceritanya kalau Barra yang menyatakan cinta terlebih dahulu. Pikiran Zaina mulai menari-nari, membayangkan Barra yang memberikan kejutan di taman penuh bunga. Lalu, pria itu menyodorkan seikat bunga mawar sambil melamar. Betapa indahnya hari yang dilatari suasana sejuk. Bukankah itu pemandangan yang sempurna? “Apa yang kamu tertawakan?” Barra menempelkan gelas berisi jus jeruk ke pipi Zaina. Membuat gadis itu langsung tersadar. “Aku sedang bicara panjang lebar dan kamu tidak mendengarkan sama sekali?” “Kakak lagi ngomong? Aku pikir Kakak lagi konsentrasi makan.” Zaina meringis. “Memang apa yang Kakak omongin?” Barra menghela napas. “Lupakan saja. Aku malas kalau harus mengulang dari awal. Memang kamu pikir aku punya waktu sebanyak itu?” “Maksud Kakak?” Zaina melirik piring dan gelas milik Barra yang sudah kosong. Lalu, dia beralih ke piringnya yang masih menyisakan dua tusuk sate. “Cepatlah. Aku berencana mengajak wanita yang aku sukai untuk berkencan malam ini,” ucap Barra santai. Dia tidak menyadari kalau Zaina membelalak karena pandangan pria itu sudah tertuju pada layar telepon seluler. Jalan pikiran Barra benar-benar sulit dipahami. Dia baru saja membuat seorang gadis mengkhayalkan dirinya. Bahkan dia juga mengajak gadis itu berkencan, meski hanya bercanda. Lalu, sekarang dia malah merencanakan kencan sesungguhnya dengan wanita lain. Bukankah hal ini sedikit keterlaluan? Di depan si pria, Zaina mengerucutkan bibir sambil bergumam tidak jelas. Dia menghabiskan dua tusuk sate dalam sekejap. Siapa peduli kalau ada konsekuensi yang harus ditanggung karena itu. Alhasil, dia malah tersedak dan harus dibantu oleh Barra agar tidak berakibat fatal. “Apa kamu anak kecil? Kenapa bisa tersedak begitu?” ujar Barra setelah Zaina menghabiskan dua gelas besar air putih. Dia memperhatikan wajah Zaina yang memerah karena kejadian itu. “Kamu baik-baik saja?” “Benaran khawatir sama aku?” tanya Zaina dengan wajah ditekuk. Barra menghela napas. Sepertinya Zaina tidak semenderita itu. “Aku hanya khawatir kalau terjadi sesuatu sama kamu. Bagaimana aku harus menjelaskan pada Nenek dan Khafi.” “Cuma karena itu?” “Memang apa alasan lain? Apa sebenarnya yang dipikirkan oleh otak kecilmu?” “Entahlah. Aku juga enggak tahu. Aku ngerasa kalau jodohku mungkin adalah orang yang jauh banget. Kira-kira kapan aku bakal nerima cinta dia.” “Jangan berpikir aneh-aneh. Bukannya kamu sudah menyukai seseorang?” Mata Zaina melirik tajam Barra yang menatapnya tanpa rasa bersalah. Seolah apa yang baru saja dia katakan adalah hal lumrah. Mengapa Barra suka sekali membuatnya terbang ke langit, lalu mengh7empaskan sampai dasar bumi. Bukankah itu sangat menyakitkan? Lihatlah ekspresi Barra yang menyunggingkan senyum itu. Zaina berniat untuk menutup wajah Barra agar tidak bisa tebar pesona ke sembarang orang. Gadis itu mengembuskan napas panjang. Pasti akan sulit sekali berada di posisi ini. Dia menginginkan Barra. Namun di waktu bersamaan, dia juga tidak mau terluka karena menyukai seseorang yang suka pada orang lain. Ini seperti memakan buah simalakama. Maju terlalu takut. Mundur terlalu pengecut. Zaina tidak menyangka akan mengalami masa seperti ini. Masa di mana dia sulit menemukan jalan keluar terbaik. Bisakah dia menyelesaikan permasalahan ini dengan cepat? Dia tidak bisa menjawab dengan baik, tetapi .... “Apa yang kamu pikirkan? Jangan melamun dan tersenyum bodoh seperti barusan.” “Kakak ganggu lagi,” kata Zaina sambil menekuk wajah. “Aku rasa kamu lebih cocok disebut bocah. Iya, kan?” “Serius? Kakak mau terus?” “Ide bagus. Kebetulan aku sedang sangat senang. Wanita yang aku sukai, akhirnya bisa membalas perasaanku. Bukankah itu berita bagus?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN