Mengapa Zaina terus mendapatkan kejutan belakangan ini. Pertama, dia tahu kalau Barra menyukai seseorang. Kedua, dia ketahuan Arisha. Ketiga, sekarang giliran dia yang kepergok oleh Barra. Semua itu tampak sederhana, tetapi sangat meresahkan. Dia sungguh tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
Kalimat panjang Barra terekam dalam kepala Zaina. Biasanya, dia sulit memahami apa pun. Lalu, kenapa sekarang dia malah bisa mencerna kata-kata Barra dengan sangat baik? Dia bahkan kesulitan untuk membalas tatapan Barra. Rasanya jantung gadis itu bisa meledak sewaktu-waktu.
Tidak ada pilihan lain. Zaina menoleh pada Kamila. Matanya melebar saat tidak menemukan sang teman. Dia celingukan untuk mencari sosok Kamila. Kapan sahabatnya itu pergi? Mengapa dia tidak menyadarinya? Mengapa Kamila sangat tidak setia kawan di saat genting seperti ini?
“Bagaimana? Kamu mau mengakuinya sendiri atau aku yang mengatakannya?” Zaina memejamkan mata. Kedua pilihan itu sangat sulit untuk dilakukan.
“Kakak benaran sudah tahu?” tanya Zaina meyakinkan.
“Kenapa? Kamu tidak percaya? Mau sebuah bukti? Kamu yakin ingin mendengar jawabannya dariku?” Barra tersenyum miring.
“Sudahlah. Kakak pasti bohong. Aku malas.” Zaina kembali mencari keberadaan Kamila. Sang sahabat tidak terlihat di mana pun. Ke mana perginya Kamila?
“Tidak usah mencari Kamila. Dia sudah pulang dengan kakaknya,” ujar Barra. Dia memperhatikan tingkah Zaina yang terus bergerak-gerak di tempatnya berdiri.
Sudah Barra duga kalau akan seperti ini. Kalau sekarang dia mengaku, Zaina mungkin akan sulit mengontrol diri. Jadi, sebaiknya dia tidak membuat kekacauan itu dam menanggung kerugian. Ini kali kedua dia merasa terbang ke awan. Apa dia akan terjatuh lagi seperti saat kejadian malam itu?
Lihatlah bagaimana gelisahnya Zaina sekarang. Barra menghela napas melihat tingkah Zaina yang berlebihan. Pria itu bahkan tidak mengatakan apa-apa padanya. Kenapa Zaina bisa bersikap begitu? Apa ada hal lain yang tidak Barra ketahui? Apa itu? Apa Zaina menyembunyikan sesuatu yang lain?
Untuk memastikan kebenaran, Barra memperhatikan Zaina yang terus bergerak-gerak di tempatnya berdiri saat ini. Dia menutupi wajah dengan tangan. Sepertinya dia tidak bisa berterus terang dalam waktu dekat. Apa sebaiknya dia memendam hal ini sampai akhir? Dia akan segera kembali sesuai dengan keinginannya.
“Kenapa aku enggak sadar?” gumam Zaina. Barra memutar bola mata.
“Kamu terlalu sibuk dengan pikiran kamu. Entah apa yang kamu pikirkan.”
“Coba tebak? Apa yang aku pikirkan?” Zaina menaik-turunkan alis. Mendadak, dia ingin menggoda Barra untuk melihat reaksi pria itu.
“Bukankah itu mudah? Kamu sedang memikirkan pria yang kamu sukai itu, kan?” Giliran Barra yang menaik-turunkan alis sambil menyeringai.
“Kakak pikir bisa baca pikiranku semudah itu?” Zaina masih belum menyadari betapa berbahayanya perkataan itu.
“Bukankah kamu menyukai ....”
“Kenapa Kakak ada di sini?” Zaina memotong ucapan Barra. Dia tidak ingin mendengar apa pun yang ingin Barra katakan.
Aneh memang. Zaina tidak benar-benar tahu apa yang akan dikatakan oleh Barra. Akan tetapi, jantungnya sudah hampir meledak di dalam sana. Dia berdebar menanti perkataan pria itu. Lalu, kenapa dia harus menghentikan Barra? Bukankah akan lebih baik jika dia mendengar apa yang akan Barra katakan?
Tidak seperti sekarang. Zaina mulai menyesali tindakannya yang gegabah. Mengapa dia mengatakan pada Daniel kalau orang yang disukainya adalah Barra? Padahal dia bisa saja mencari alasan lain untuk menolak. Kenapa juga dia membawa-bawa Barra dalam permasalahan ini?
Kalau sudah begini, bagaimana cara Zaina menyelesaikan. Dia tidak bisa berpikir dengan benar saat ini. Rasanya semua jalan keluar sudah ditutup rapat. Dapatkah dia menemukan pintu lain yang akan membawanya kepada ketenangan? Dia meragukan hal itu. Semua sudah terjadi. Tidak ada gunanya menyesal.
“Kamu sengaja mengalihkan pembicaraan?”
“Aku cuma lagi malas bahas soal apa pun yang bersangkutan sama suka menyukai.”
“Kamu yakin? Mungkin aku bisa memberikan beberapa saran yang akan membantu,” tawar Barra dengan senyum di bibir.
“Enggak perlu. Kenapa aku butuh bantuan Kakak?” Barra mengangkat bahu. “Lagi pula, aku enggak butuh.”
“Benarkah? Sama sekali tidak peduli?”
“Apa aku harus peduli?” Zaina berusaha bersikap tenang. Dia berpikir positif.
Barra belum ada di sana saat Zaina mengakui perasaannya. Kalimat itu bagaikan rumus sulit yang terus dia ucapkan dalam hati. Dia benar-benar mengharapkan hal itu bisa terjadi. Hatinya masih belum mempunyai persiapan. Bagaimana bisa dia mengaku di hadapan Barra?
Ditambah lagi, sikap Barra sedikit mencurigakan. Apa benar pria itu sudah mendengar ucapannya tadi? Hatinya kembali dipenuhi berbagai pertanyaan. Dia tidak bisa mengendalikan diri lebih lama. Apa yang sebaiknya dia lakukan? Membicarakan hal ini akan sangat menyesakkan.
Takut-takut, Zaina melirik Barra melalui sudut mata. Dia membelalak saat menyadari Barra sangat dekat dengannya. Untuk menjaga jantungnya tetap sehat, dia memutuskan untuk mundur. Dalam suasana hati seperti ini, akan lebih bagus kalau dia tidak terlibat dengan Barra.
Kalau bersikeras, Zaina mungkin benar-benar akan ketahuan. Dia tidak tahu kalau pria yang kini sedang memperhatikan juga berusaha keras untuk mengontrol detak jantungnya. Kelakuannya yang cukup berani tadi hanya demi menstabilkan hatinya yang bergejolak. Dia tidak bisa diam saja setelah mendengar ucapan Zaina.
Jalan yang ingin diambil oleh Barra belum terlihat. Dia masih merasa ragu mau mengambil arah yang mana. Maju atau mundur memiliki risiko masing-masing. Apa dia akan bisa menemukan jalan yang mengeluarkan dari perasaan tidak tenang begini. Dia tidak mau terus menerus gelisah karena memendam rasa.
“Mau aku beri saran?”
“Jangan berani bilang apa pun. Aku enggak mau dengar.”
“Tapi kamu harus mendengarkan apa yang aku katakan ini,” ujar Barra berkeras. Dia menatap Zaina dalam-dalam. “Jangan salah menilai perasaan kamu sendiri.”
“Maksud Kakak?” Zaina mengerutkan kening, merasa aneh dengan perkataan Barra.
“Coba kamu pikirkan, apa yang kamu rasakan itu memang benar? Atau kamu hanya tidak ingin jauh dari dia? Atau kamu hanya membutuhkan dia untuk sesuatu?”
“Memang enggak sama? Bukannya kalau suka sama orang berarti kita enggak mau jauh dari dia dan kita memang butuh dia. Apa aku salah?”
“Cinta itu memiliki arti yang lebih luas. Cinta itu tentang hati, Zai. Jadi, kamu harus hati-hati saat memutuskan menyukai siapa.”
“Kenapa kedengarannya sangat sulit. Bukannya cinta itu bisa timbul tanpa disadari? Dari yang Kakak bilang, kenapa aku ngerasa kalau Kakak perlu rencana buat jatuh cinta sama orang lain.”
Kata-kata gadis belia menusuk hati Barra. Dia tidak menyangka kalau akan mendengar kalimat itu dari Zaina. Seseorang yang bahkan tidak pernah dia anggap tumbuh dewasa. Ternyata penilaiannya salah. Zaina bisa berpikir begitu. Bukankah artinya dia sudah cukup memahami kehidupan.
Kedua mata Barra memperhatikan Zaina yang kini mengangkat dagu. Dia sedikit kecewa karena Zaina tidak lagi merasa terintimidasi dengan kehadirannya. Bukankah tadi Zaina terlihat kecil di hadapannya? Kenapa sekarang dia berani menantangnya? Benar-benar menakjubkan. Dia hampir tidak memercayai kalau gadis yang berdiri di depannya adalah Zaina yang selama dia sukai.
Entah dari mana Zaina belajar memilih kalimat seperti itu. Barra penasaran. Apa dia lengah memperhatikan Zaina sehingga si gadis mempelajari sesuatu dari orang lain? Mungkinkah Daniel yang memengaruhi? Dia tidak berpikir kalau Kamila akan mengatakan hal sebijak itu.
“Kamu dapat kata-kata itu dari mana?”
“Kenapa? Kakak enggak percaya sama aku?” Mata Zaina menyipit.
“Kamu memang sedikit berbeda. Siapa yang memengaruhi kamu? Orang yang kamu sukai itu?” goda Barra sambil tersenyum lebar.
“Jangan bilang begitu. Orang yang aku sukai memang bijak banget. Aku banyak belajar dari dia. Memang kenapa kalau dia bawa pengaruh baik buat aku?”
Pertanyaan itu membuat Barra bungkam. Dia mematung di tempatnya berdiri, tidak percaya dengan apa yang didengar. Benarkah dia telah memengaruhi Zaina? Dia mulai mengingat-ingat, apa dia pernah mengatakan kalimat semacam tadi pada gadis itu. Kata-kata yang didengarnya memang terdengar familier.
Kemudian, Barra mengingat sesuatu. Dia ingat dari mana kalimat itu berasal. Sebuah buku yang dia baca. Saat itu, dia memang sempat mendiskusikan masalah ini dengan Zaina. Tidak disangka kalau Zaina masih mengingat kalimat yang dia sukai dalam buku tersebut. Tanpa sadar, dia tersenyum senang.
Kalau Zaina mengingat, bukankah berarti Barra memang memiliki keistimewaan di hatinya? Apa Zaina sungguh menyukai Barra? Pria tampan menghela napas. Dia masih belum bisa percaya dengan kenyataan itu. Bagaimana mungkin Zaina juga menyimpan rasa padanya?
Perasaan bersalah perlahan menenggelamkan Barra. Dia senang sekali karena Zaina ternyata menyukainya juga. Namun, dia mengkhawatirkan masa depan hubungan mereka. Bagaimana dia menghadapi Khafi jika hal ini sampai terbongkar? Apa dia pantas bagi gadis belia itu?
“Tidak masalah. Wajar kalau orang yang kamu sukai memberi pengaruh pada kamu. Aku senang karena dia tidak memengaruhi kamu menjadi orang yang buruk.”
“Kakak lagi ngejek aku?”
“Kamu salah paham. Aku ini sedang memuji kamu.”
“Apa? Yang benar saja? Apa aku sebodoh itu di mata Kakak?”
“Aku tidak pernah bilang begitu? Memangnya kapan aku bilang kamu bodoh?”
Tidak pernah. Barra tidak pernah memilih kata-kata kasar saat berbicara dengan Zaina. Seolah dia berhati-hati agar Zaina tidak terpengaruh oleh dirinya. Sesulit apa pun mengendalikan Zaina, dia berusaha sabar dan tidak meluapkan emosi. Sesuatu yang sangat Zaina kagumi dari sosok pria itu.
Kekaguman yang terus terpupuk membuat Zaina lebih menyukai Barra. Dia juga semakin bergantung pada pria itu. Awalnya dia tidak menyadari. Sekarang, dia sangat sadar kalau semua hak yang dilakukannya mengarah pada pria bernama Barra. Dia selalu mempertimbangkan tanggapan Barra di atas siapa pun.
Terus terang, hal itu sempat mengusik Zaina. Dia tidak pernah menyangka kalau akan sampai pada titik di mana semua terasa indah. Sang gadis tahu kalau Barra sangat disiplin, jadi tanpa sadar dia mengikuti. Semua hal tentang Barra begitu menyilaukan. Dia bahkan tidak mampu berdiri di samping atau belakangnya.
“Tidak pernah, kan?” desak Barra. Zaina menghela napas.
“Iya, iya. Enggak pernah. Aku salah.”
“Jadi, kamu akan tetap menyukai pria itu?” tanya Barra hati-hati. “Maksudku, kamu benar-benar menyukai dia? Apa menurut kamu dia cocok untuk gadis seperti kamu?”
“Kenapa Kakak banyak bicara hari ini. Aku sudah bilang, kan, kalau aku lagi malas bahas soal suka menyukai. Jangan harap aku bakal mengaku sama Kakak.”
“Soal siapa pria yang kamu sukai?” Zaina mengangguk berkali-kali. Barra mencibir.
Sekarang, Barra berpikir kalau Zaina memang kurang pintar dalam berbagai hal. Setelah mengakui perasaan pada orang lain, apa Zaina tidak bermaksud menyatakan padanya? Haruskah dia juga melakukan hal yang sama? Apa tetap diam bisa menyelesaikan permasalahan?
Jawabannya tentu saja tidak. Masalah itu harus dihadapi agar bisa diselesaikan. Kalau terus sembunyi, mereka akan tetap terjebak dalam kegelapan. Barra tidak mau hal itu terjadi. Meski begitu, sisi lain dari dirinya khawatir jika dia melangkah maju dan menghadapi rasa cintanya pada gadis itu.
“Mau aku ajak ke suatu tempat?”
“Ke mana? Kakak enggak akan bawa aku ke tempat yang ngeri, kan?”
“Tentu saja tidak. Bagaimana? Mau pergi enggak?”
“Boleh. Tapi, untuk apa kita pergi kali ini?”
“Berkencan. Mau?”