Pria berjas rapi itu menghela napas berkali-kali. Tadinya, dia berpikir untuk menjauh dari Zaina setelah apa yang terjadi semalam. Namun, dia tidak bisa menahan diri. Jadi di sinilah dia sekarang. Dia mencari-cari Zaina. Hari ini Zaina tidak ada kuliah, katanya dia ingin ke perpustakaan untuk meminjam buku.
Jujur saja, Barra tidak terlalu mempercayai alasan yang diajukan oleh Zaina. Dia tahu betul kalau Zaina sama sekali tidak suka berada di tempat sepi semacam perpustakaan. Jadi, pasti ada yang sedang direncanakan oleh gadis itu. Barra benar-benar penasaran dengan rencana Zaina kali ini.
Begitu melihat Zaina dari jauh, Barra berjalan cepat ke arahnya. Langkahnya tertahan saat melihat ada Daniel di depan Zaina. Apa Zaina sengaja datang ke kampus untuk bertemu Daniel? Tidak. Zaina bilang kalau dia menyukai seorang pria. Rasanya Daniel bukan orang yang Zaina sukai.
Agar tidak ketahuan, Barra berjalan pelan. Dia mengamati bagaimana Daniel berusaha menarik perhatian Zaina. Sesuatu yang tidak disukai oleh Barra. Setelah merasa cukup mengintai, dia berniat untuk menghampiri Zaina, tetapi kalimat buang dilontarkan gadis itu menghentikannya.
“Ya. Aku suka sama Kak Barra,” ujar Zaina sambil menatap Daniel.
Pengakuan Zaina itu membuat Barra mematung. Dia tidak mengerti kenapa Zaina masih saja bermain-main. Apa dia mengatakan kebohongan untuk menghindari Daniel? Tanpa sadar, kedua sudut bibirnya terangkat. Meski tidak benar-benar menyukainya, dia tidak merasa keberatan.
Kali ini, Barra menyukai sikap Zaina yang tegas. Walaupun yang dikatakan oleh gadis itu adalah suatu kebohongan, dia tetap menunjukkan wajah serius. Barra benar-benar salut dengan apa yang dia lakukan. Bisa-bisanya Zaina melibatkan dia dalam permasalahan seperti ini.
“Kamu serius? Kamu benaran suka sama Kak Barra?” Suara Daniel kembali terdengar. Barra memasang telinga.
“Apa aku harus bersumpah biar kamu percaya?” tanya Zaina menantang. Barra tersenyum lebar mendengar ucapan itu. “Oke. Aku bersumpah kalau aku suka sama Kak Barra. Puas?”
Di tempatnya berdiri, Daniel terdiam. Dia sudah menyangka akan mendapatkan jawaban seperti ini. Tetap saja, dia merasa sedih saat tahu Zaina benar-benar menyukai penjaganya sejak kecil. Padahal dia sudah bisa menebak hal ini saat memperhatikan Ziana selama dua tahun belakangan.
Hanya ada Barra di mata Zaina. Daniel tahu betul itu. Dia juga bisa merasakan kalau Barra menyukai Zaina, tetapi entah kenapa Barra mengukur waktu. Insting sebagai seorang pria sangat kuat. Mungkin Daniel perlu membuktikan pendapatnya. Dengan begitu, dia mungkin saja akan puas.
“Apa enggak bakal sulit? Dia jauh lebih tua dari kita,” kata Daniel. Zaina memejamkan mata, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia sungguh tidak menyangka kalau Daniel punya sisi yang ini.
“Kamu lagi ngeraguin siapa? Aku atau Kak Barra?”
“Kalian berdua. Aku enggak yakin kalau kisah kalian bakal berjalan baik.”
Kalimat yang keluar dari mulut Daniel sudah sangat keterlaluan. Siapa dia berhak menilai kehidupan orang lain. Zaina pikir, Daniel bukan orang yang seperti itu. Ternyata dia sudah tertipu dengan penampilan Daniel yang terlihat kalem dan bersahabat. Nyatanya, dia seperti serigala berbulu domba.
Di tempat lain, Barra sudah mengepalkan kedua tangan. Dia ingin sekali menghampiri Daniel dan memberikan pelajaran. Namun, dia sadar di mana sedang berada sekarang. Tidak mungkin seorang yang terkenal dengan kesabarannya mengamuk mahasiswa di kampus. Mau diletak mana wajah tampannya?
Kepala Barra terus memikirkan cara bagaimana menyikapi pengakuan Zaina. Dia senang? Tentu saja. Akhirnya dia tahu siapa pria yang disukai oleh sang gadis. Meski begitu, ada sisi lain yang membuatnya bersedih. Ternyata bukan hanya dia yang memendam perasaan. Zaina juga melakukan itu.
Kemudian, Barra mulai bertanya-tanya. Pantaskah dia mendapatkan cinta Zaina? Setelah semua yang mereka alami bersama, bisakah dia mengharapkan kebersamaan dengan Zaina? Apa itu terlalu serakah? Apa dia tidak boleh menatap masa depan bersama gadis yang disukainya?
“Aku enggak perlu penilaian dari kamu. Ini hidupku kenapa aku harus peduli dengan ucapan kamu? Memang siapa kamu?”
“Aku Daniel. Orang yang suka sama kamu,” ucap Daniel. Pengakuan itu sempat membuat Zaina menahan napas sebentar.
“Daniel, aku rasa kamu terlalu percaya diri.”
“Aku memang begitu. Selama kamu masih sendiri, aku masih boleh mengejarmu, kan?” Daniel tersenyum miring. Zaina mengembuskan napas berat.
“Bisa enggak berhenti di sini saja? Kamu sudah melewati batas.”
Daniel tersenyum. “Benarkah? Aku cuma bilang apa yang aku rasakan. Di mana yang melewati batas coba? Enggak ada.”
“Jangan kayak gini, Daniel. Aku lumayan suka sama kamu. Kita bisa berteman, kan?”
“Tentu saja.” Daniel kembali tersenyum. “Aku harap, kamu enggak bakal berbalik ke aku,” lanjutnya sambil menatap Zaina.
“Aku bukan orang yang gampang terpengaruh.”
“Apa kalian sadar kalau masih ada aku di sini?” sela Kamila.
Menyaksikan drama di antara Zaina dan Daniel barusan membuatnya ingin muntah. Daniel termasuk pemuda yang nekat. Sementara Zaina terlalu baik pada semua orang. Kamila berpikir kalau Zaina tidak akan mau berdekatan dengan pria itu setelah semua yang dia katakan tadi.
Siapa sangka kalau Zaina malah menerima uluran tangan persahabatan yang ditawarkan oleh Daniel. Kamila tidak tahu harus senang atau sedih dengan kenyataan ini. Kalau mau jujur, Zaina lebih masuk akal jika bersama Daniel. Barra terlalu jauh untuk dijangkau. Kamila tidak ingin sang sahabat terluka.
Seolah bisa mendengar semuanya, Barra tiba-tiba muncul. Kedua bola mata Kamila membulat sempurna. Dia melirik Zaina yang masih asyik mengobrol dengan Daniel. Bukankah tadi mereka berdebat? Kenapa sekarang malah bertukar cerita seperti itu? Kamila sungguh tidak mengerti.
Meski begitu, pemikiran itu tidak penting sekarang. Yang paling mendesak adalah bagaimana cara memberi tahu Zaina kalau Barra tengah melangkah mendekat. Ketika melihat Barra yang menggeleng pelan, dia tahu kalau dia harus diam. Dia berdoa semoga kali ini Barra masih bisa mengampuni Zaina.
“Bukankah kamu bilang mau pinjam buku di perpustakaan. Kenapa malah di sini?”
Zaina menoleh dengan cepat ke arah sumber suara. Dia mundur dua langkah saat menyadari kehadiran Barra. Sejak kapan Barra berdiri di sana? Apa dia sempat mendengar pembicaraan Zaina dengan Daniel tadi? Semoga saja tidak. Dia masih belum siap untuk menghadapi Barra.
“Kapan Kakak datang?”
“Kenapa? Kamu pikir akan bisa bebas kali ini?” Barra menyeringai. “Halo, Daniel. Kita ketemu lagi.” Dia mengamati Daniel sebentar.
“Halo. Sepertinya aku harus pergi,” ujar Daniel. Dia menoleh pada Zaina sebentar, lalu menatap Barra. “Aku permisi, Kak.”
Hanya anggukan yang menjawab. Barra terlalu malas untuk menanggapi ucapan Daniel setelah mendengar semua omong kosongnya tadi. Dengan kepribadian seperti itu, bisa-bisanya Daniel bermimpi kalau Zaina akan terpengaruh. Merayu gadis keras kepala semacam Zaina perlu taktik khusus.
Barra mencibir dirinya sendiri. Dia juga tidak tahu bagaimana cara merayu Zaina. Merayu dalam artian pada seorang gadis. Membujuk Zaina sebagai adik jauh lebih mudah. Pria itu menggeleng keras. Bisa-bisanya dia berpikir untuk melakukan hal memalukan begitu pada Zaina.
Merayu gadis yang sekarang ada di hadapannya sangat sulit dibayangkan. Barra tidak pernah membayangkan akan itu pada Zaina. Dia menghela napas. Selama ini, dia terbiasa melontarkan rayuan pada gadis-gadis. Namun, jika sudah berhadapan dengan Zaina, dia malah menciut.
Rasanya semua keberanian yang Barra miliki menghilang begitu Zaina muncul. Tentu saja dalam hal percintaan seperti ini. Dia terlalu gugup untuk menghadapi gadis cantik itu. Apa lagi setelah mendengar pengakuan Zaina tadi. Entah bagaimana dia bisa menyembunyikan diri. Bisakah dia bersikap seperti biasa pada Zaina?
“Sejak kapan Kakak berdiri di sana?” tanya Zaina dengan wajah waswas.
Kemunculan Barra yang tiba-tiba menimbulkan pertanyaan dalam hati Zaina. Dia sungguh tidak ingin ketahuan dengan cara seperti barusan. Dia berusaha menyembunyikan perasaan selama beberapa tahun. Bagaimana Barra bisa menangkapnya dengan begitu mudah. Bukankah ini memalukan?
Mata Zaina melirik Barra yang tengah berpaling, menatap kepergian Daniel. Dia mengerutkan kening saat menyadari jika Barra berkali-kali menghela napas. Tampaknya ada yang mengganggu pikiran pria itu. Apa yang dipikirkan oleh Barra? Dia tidak sedang mencerna ucapan Zaina tadi, bukan?
Hati gadis berambut pendek mulai sesak. Dia memejamkan mata, lalu menoleh pada Kamila yang ternyata tengah menatapnya. Ragu-ragu, dia mengedikkan dagu pada Barra yang belum mengatakan apa pun. Kamila mengangkat bahu, membuat Zaina menghela napas karena menemukan jalan buntu.
“Dia tidak sedang merayu kamu, kan?” Barra tidak memedulikan pertanyaan Zaina.
“Kenapa? Kakak mau melaporkan hal ini pada Kak Khafi?” Mendengar itu, Barra menoleh. Dia mendekatkan wajah pada Zaina dan membuat gadis itu semakin mundur sampai menempel di dinding.
“Apa aku harus melakukannya? Ini pertama kalinya kamu dirayu di depan mataku.” Barra menunjuk kedua matanya dengan jari telunjuk dan tengah. Senyum pria itu entah bagaimana bisa membuat Zaina merinding.
“Kakak ngancam aku?”
Kalimat andalan itu keluar dari mulut Zaina. Barra menyeringai. Dia meletakkan tangan ke tembok dan semakin mendekatkan diri pada Zaina. Sesuatu yang menyebabkan sang gadis melebarkan mata. Meski begitu, dia tidak memiliki keberanian untuk menatap Barra. Pandangannya tertuju ke lantai.
Diintimidasi seperti ini oleh Barra setelah mengakui perasaan membuat nyali Zaina ciut. Dia tidak berani berkedip karena takut Barra akan mengetahui kegugupannya. Jadi, dia menahan sekuat tenaga agar tidak terlihat gugup. Tindakan yang bodoh. Perbuatannya sekarang sudah menyiratkan semua hal itu.
Wajah Zaina bahkan sudah merah padam. Jujur saja, pemandangan itu membuat Barra ingin bersorak gembira untuk merayakan kemenangan. Dia tidak tahu kalau menggoda Zaina sebagai seorang gadis akan sangat menyenangkan. Mungkin dia harus lebih sering melakukan ini untuk menghibur diri.
“Wah! Sepertinya kamu tidak suka dengan tindakan ini.” Barra mundur beberapa langkah. Dia memandangi Zaina yang sibuk merapikan rambutnya yang sama sekali tidak berantakan. Senyum pria itu mengembang.
“Kakak nguping?” Zaina bertanya lagi.
“Hello. Kamu pikir kenapa aku harus menguping? Aku bisa mencari tahu apa pun mengenai kamu. Kenapa harus repot-repot menguping? Aku tidak selonggar itu."
“Terus, kenapa Kakak tiba-tiba muncul?”
“Aku hanya penasaran dengan pemuda bernama Daniel itu. Sepertinya dua cukup menyukaimu. Kamu tidak berencana membalas perasaannya?”
Ada sebuah hantaman keras yang mengenai hati Zaina. Dia berusaha menolak Daniel demi Barra, kenapa Barra justru berkata seperti itu? Apa Barra tidak tahu betapa sulit mengatakan kalimat penolakan pada Daniel? Dia bahkan masih belum bisa menenangkan diri karena melihat wajah mendung temannya tadi.
Sekarang, Barra malah membuat lelucon yang sangat menyebalkan. Kalau diizinkan, Zaina ingin sekali memberikan satu atau dua bogem mentah pada pria yang ada di depannya. Apa lagi ketika melihat senyuman lebar Barra. Seolah dia sudah mengatakan hal yang paling membahagiakan bagi dirinya.
“Tahu apa Kakak tentang perasaanku?”
“Aku tahu semuanya. Kamu meragukanku?” Senyuman masih menghias wajah Barra. Zaina mengembuskan napas sambil memalingkan muka.
“Mana mungkin. Kakak enggak tahu apa-apa.”
“Maksud kamu tentang pria yang kamu sukai?” Zaina menoleh dengan cepat. Dia menahan napas menunggu kalimat Barra selanjutnya. “Aku baru saja tahu mengenai siapa pria yang kamu suka itu? Kamu mau aku mengatakannya agar kamu percaya? Aku tahu apa pun yang kamu sembunyikan.”