“Jadi, Kak Arisha sudah tahu?” tanya Kamila setelah mendengarkan cerita sang sahabat. Zaina mengangguk lemah. “Terus, dia bilang apa?”
“Dia bilang jangan terlalu terbebani dengan masalah ini.” Zaina menghela napas. “Mana mungkin aku enggak terbebani. Apa lagi setelah tahu Kak Barra suka sama cewek lain. Aku patah hati.”
“Mungkin maksud kakakmu, jangan terlalu memikirkan perasaanmu sama Kak Barra. Kamu, kan, masih muda. Mungkin dia enggak mau kamu keganggu karena masalah cinta-cintaan. Kakak iparmu ketularan sama Kak Khafi.”
“Sepertinya iya. Tapi, dia memang pintar menebak jalan pikiran orang lain. Apa penulis memang kayak gitu?”
“Enggak semua penulis juga, Zai. Enggak semua penulis seteliti dia. Dari yang aku dengar, dia biasa memperhatikan sikap seseorang buat dijadikan tokoh di ceritanya. Itu benaran, ya?”
Zaina mengangguk. Begulah yang dia tahu. Arisha selalu berhati-hati dalam menentukan tokoh di cerita yang akan ditulisnya. Dia rela memalukan riset lebih lama demi hasil yang baik. Dan novel yang dia tulis memang tidak pernah mengecewakan. Itu sebabnya dia punya banyak penggemar.
Masalahnya bukan itu sekarang. Zaina hanya merasa tidak leluasa karena Arisha mengetahui perasaannya pada Barra. Sang kakak ipar memang tidak menekan atau memintanya untuk menjauhi pria itu. Namun, dia seakan mendapat kesan begitu. Atau dia yang terlalu sensitif menanggapi kalimat Arisha.
Entahlah. Zaina tidak begitu yakin dengan apa yang dia rasakan. Mengingat perdebatan dengan Barra semalam, dia mengerucutkan bibir. Kira-kira apa yang membuat Barra bersikap begitu. Apa gurauan yang dia katakan memang keterlaluan. Kalaupun iya, Barra tidak perlu berlebihan, bukan?
Kelakuan Barra benar-benar sulit diterima oleh Zaina. Pria itu menjadi sedikit menyebalkan. Yang lebih membuat si gadis sebal adalah kenyataan kalau dia masih tetap suka meski Barra menunjukkan sisi lain dirinya. Dia pasti sudah terlalu lama berada di dekat Barra sampai bisa menerima semua sifat sang pria dewasa.
“Apa menurut kamu sikap Kak Barra enggak berlebihan?”
“Kamu juga mikir gitu?” Zaina mulai bersemangat. Dia duduk tegak. “Menurut kamu, kenapa dia ngomong kayak gitu?”
“Aku juga enggak yakin, sih. Kenapa kamu enggak tanya sama kakak iparmu. Dia pintar menebak jalan pikiran orang lain, kan? Siapa tahu dia bisa baca hati Kak Barra.”
“Aku sudah tanya soal kemungkinan Kak Barra suka sama aku,” ujar Zaina dengan suara lemah. Dia kembali bersandar di kursi.
“Dia bilang apa?” tanya Kamila. Senyumnya terbit saat melihat ada harapan.
“Dia bilang Kak Barra orang yang pintar nyembunyiin perasaannya.”
Mendengar penjelasan Zaina, Kamila ikut-ikutan menyandar di kursi. Dia melipat kedua tangan di d**a sambil memejamkan mata. Sejauh yang dia tahu, Barra memang memiliki sisi seperti itu. Barra seakan bisa memendam apa pun dengan sangat baik. Seolah dia memang tercipta dengan bakat tersebut.
Merasa iba dengan sang sahabat, Kamila melirik Zaina diam-diam. Dia tidak mengerti kenapa kisah cinta Zaina sangat rumit. Padahal dia menyukai seseorang yang sudah lama dekat dengannya. Dalam keadaan normal, seharusnya mereka memiliki harapan besar untuk bersama. Bukan seperti keadaan Zaina dan Barra saat ini.
Akan tetapi, ketimpangan umur antara Zaina dan Barra memang cukup jauh. Perasaan yang timbul mungkin akan terasa aneh. Begitulah risiko saat terlalu dekat dengan lawan jenis. Saat salah satunya jatuh cinta, hubungan mereka akan menjadi sangat rumit dan sulit untuk diurai.
Ternyata cinta yang seperti itu cukup mengesalkan. Bahkan bagi yang menyaksikan. Kamila tahu kalau Zaina akan sulit lepas dari bayang-bayang seorang Barra. Gadis belia itu begitu dalam menyukai Barra. Bagaimana bisa dia mengikhlaskan saat Barra nantinya pergi dengan wanita lain.
“Kenapa kamu enggak tanya langsung saja?”
“Maksud kamu?” tanya Zaina tidak mengerti. Dia menatap Kamila bingung.
“Tanya langsung sama Kak Barra, dia suka kamu apa enggak.”
“Kamu masih waras? Jelas-jelas dia sudah bilang kalau dia suka sama seseorang. Kenapa aku harus mempermalukan diri dengan pertanyaan gila seperti itu?”
Tidak. Bagaimana bisa Zaina menanyakan hal seperti itu pada Barra. Dia terlalu takut untuk menerima kenyataan jika Barra menyukai seseorang. Apa tidak cukup tersiksa karena menyukai Barra selama bertahun-tahun? Dia tidak akan menambah siksaannya dengan mempermalukan diri di hadapan Barra.
“Tapi enggak berarti dia enggak suka sama kamu, kan?” Kamila bersikeras.
“Kok, kalimat kamu kedengaran enggak enak, ya? Kamu mau bilang kalau Kak Barra itu cowok mata keranjang? Begitu?”
“Aku enggak bilang gitu. Gimana kalau dia sebenarnya suka sama kamu, tapi kamu enggak tahu. Bisa saja, kan, orang yang dia sukai itu kamu.”
“Jangan mulai lagi, deh, Mil. Kamu tahu kalau itu enggak mungkin terjadi.”
“Kenapa enggak?” Zaina mendelik, mencoba memberi peringatan pada Kamila yang menurutnya sudah melantur. “Kalian sudah lama saling kenal dan dekat. Kamu saja suka sama dia. Jadi, mungkin saja dia juga suka sama kamu. Masuk akal, kan?”
“Kamila,” ujar Zaina mengingatkan.
“Oke. Aku enggak bakal nerusin ini. Tapi, kamu benaran enggak mau coba tanya langsung sama dia? Cepat atau lambat kamu tetap bakal tahu, kan?”
“Iya, sih. Tapi aku belum siap buat kalah.”
“Bukannya kamu sudah patah hati? Kenapa sekarang malah takut kalah? Kalau kamu sudah patah hati, itu sama saja dengan kamu sudah ngerasa kalah. Iya, kan?”
Kalimat Kamila terdengar masuk akal. Kenapa Zaina tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Dia hanya memikirkan patah hati dan tidak pernah merasa benar-benar kalah. Padahal kedua hal itu sebenarnya saling berkaitan. Atau mungkin malah mempunyai arti yang sama?
Dalam hati, Zaina mulai menyalahkan Barra. Kenapa pria itu tidak berterus terang saja mengenai wanita yang disukainya? Kenapa harus main tebak-tebakan? Apa dia sengaja ingin mengacaukan kehidupannya? Bukankah Barra terkadang sangat kekanakan dan usil minta ampun? Bisa saja kali ini juga begitu.
Apa mungkin Barra berbohong mengenai adanya wanita yang dia sukai? Apa wanita itu sebenarnya tidak ada? Mungkinkah Barra hanya mengarang cerita untuk membuat Zaina gelisah dan mengakui perasaannya? Bukankah itu terdengar konyol? Mana mungkin Barra yang dewasa bisa bersikap begitu.
Zaina tidak tahu lagi apa yang dipikirkannya sekarang. Tampaknya dia terlalu terobsesi pada Barra sehingga berpikir banyak. Dia ingin sekali melemparkan kesalahan pada seseorang, tetapi pada siapa. Orang yang paling bertanggung jawab terhadap apa yang dia akan sekarang adalah dirinya sendiri. Bukan orang lain.
“Eh, Mil. Apa memang ada kemungkinan kalau Kak Barra itu suka sama aku?” Kamila menepuk dahi. Dia menyesal karena sudah memberikan harapan kosong pada Zaina. Seharusnya dia tidak memprovokasi sang sahabat.
“Gimana kalau kita bahas yang lainnya dulu?”
“Seperti apa?”
“Seperti cowok yang sekarang lagi jalan ke arah kita.” Kamila mengarahkan dagunya ke satu arah. Zaina ikut menoleh. Ada Daniel yang melambai sambil tersenyum. Gadis berambut pendek itu memutar bola mata. Masalah baru.
Dalam sekejap, Zaina mulai bosan dengan senyuman Daniel. Dia tidak bermaksud besar kepala atau apa. Hanya saja, setelah Kamila mengatakan kemungkinan kalau Daniel menyukainya, dia menjadi gelisah. Dia merasa terganggu karena disukai oleh orang lain selain Barra.
Memang, cinta tidak bisa ditebak. Namun, menyadari ada orang yang menyukai kita padahal kita tidak menyukainya akan sangat menyiksa. Zaina tahu betul bagaimana harus memendam cinta yang bertepuk sebelah tangan. Rasa itu bahkan tidak bisa menghilang setelah orang yang kita sukai berubah.
Meski belum ada kejelasan mengenai perasaan Daniel, Zaina tidak ingin memberikan kesempatan. Dia sudah menyukai Barra sejak lama dan tidak berencana berpindah haluan. Setidaknya bukan dalam waktu dekat ini. Lagi pula, Daniel tidak masuk dalam kriteria cowok yang dia suka.
Kedengarannya sedikit kejam. Padahal dari yang Zaina dengar, Daniel seakan tidak memiliki kekurangan. Dia memiliki semua hal yang diinginkan oleh setiap gadis. Dengan otak cerdas dan wajah menawan, tidak akan ada yang menolak. Belum lagi dia berasal dari kalangan atas. Sikapnya juga baik. Kurang apa lagi coba?
Mungkin Daniel memang sesempurna itu, tetapi Zaina benar-benar tidak peduli. Dia bisa menerimanya sebagai teman, tidak lebih. Hatinya sudah diserahkan pada Barra. Walaupun Barra belum tentu membalas cintanya, dia tidak peduli. Yang dia pedulikan hanya bagaimana agar Barra bisa membuka diri dan memandangnya sebagai seorang wanita dewasa. Bukan anak kecil yang manja.
“Hai, Zaina. Lagi apa?”
Daniel tersenyum lebar, bahkan setelah berhenti tepat di depan Zaina. Kelakuan pemuda itu membuat Zaina memijat pelipis. Kepalanya mulai berdenyut-denyut. Apa dia perlu melakukan sesuatu agar Daniel menjauh? Dia tidak bisa membiarkan Daniel mengungkapkan perasaan pada dirinya.
Lagi-lagi Zaina mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti kebenarannya. Namun, dia juga tidak bisa menanyakan mengenai hal ini pada Daniel, bukan? Dia menghela napas, berharap kalau pria yang kini berdiri di depannya itu sadar diri. Dia tidak mengerti mengapa Daniel berani melangkah ke arahnya.
Apa Barra menyaksikan kejadian ini? Tanpa sadar, pandangan Zaina menyisir ke semua sudut. Barra tidak terlihat di mana pun. Apa pria itu masih merasa kesal dengan kejadian semalam. Barra bahkan tidak mengirimkan pesan sejak tadi malam. Zaina sungguh gelisah karena Barra mengabaikannya.
“Zaina,” panggil Daniel lagi. Zaina mengerjap.
“Oh, maaf. Aku sedikit tidak fokus.” Zaina mencoba mencari alasan. Daniel mengernyitkan kening.
“Kamu sakit? Kamu baik-baik saja?” tanya Daniel sambil memperhatikan Zaina.
“Aku enggak apa-apa. Cuma agak enggak enak badan saja.” Dalam hati, Zaina meminta maaf karena mengeluarkan kebohongan. Inilah yang dia khawatirkan saat berhadapan dengan seorang pria seperti Daniel.
“Benarkah? Aku bisa antar kamu kalau memang enggak enak badan.”
“Enggak perlu, Niel. Lagi pula, aku sama Kamila. Jadi, kamu enggak perlu sungkan gitu.” Zaina berdeham. Dia kembali mengutuk dirinya dalam hati.
“Aku sudah bilang kalau hari ini kita enggak bisa nerusin buat tugas, kan?” sela Kamila. Dia menatap Daniel agar pemuda itu bisa beralih padanya.
“Aku tahu. Aku tadi kebetulan lihat kamu sana Zaina. Jadi, aku sapa. Gitu saja. Aku enggak bermaksud buat ngajak buat tugas.”
“Baguslah. Suasana hatiku lagi mendung. Aku enggak minat buat belajar hari ini,” kata Zaina sambil mengerucutkan bibir.
Sikap Zaina terlihat imut di mata Daniel. Pemuda cerdas itu memperhatikan Zaina yang tengah mengerucutkan bibir. Ingin sekali mengabadikan momen ini dengan kamera atau rekaman. Akan tetapi, dia menahan diri. Kalau dia terlalu gegabah, Zaina mungkin malah merasa terbebani.
“Boleh aku tanya sesuatu, Zai?” Zaina menoleh dan mendapati wajah Daniel yang tampak serius. Dia berharap semoga apa pun yang akan dikatakan oleh Daniel bukanlah hal buruk. Kalau Daniel berani berkata yang tidak-tidak, dia akan langsung menjauh tanpa perlu berbasa-basi.
“Ngomong saja. Aku bakal dengar,” ujar Zaina, berusaha tersenyum.
“Janji dulu kalau kamu enggak akan marah.”
“Memangnya aku anak kecil. Cepat katakan, aku mau pergi.” Kening Zaina mengerut saat Daniel terdiam cukup lama. “Kenapa? Apa kamu batal bertanya?’
“Eh, bukan gitu. Aku ....” Daniel menghela napas. “Zaina, apa kamu lagi suka sama seseorang?” tanyanya berusaha kuat. Kerutan di kening Zaina semakin banyak.
Dalam sekejap, Zaina tergoda untuk mengatakan yang sebenarnya pada Daniel. Bolehkan dia membocorkan rahasia terbesar dalam hidup. Itu pun pada orang yang tidak begitu dia kenal. Bijaklah keputusan ini.
“Ya. Aku memang suka sama seseorang. Salah. Sebenarnya aku jatuh cinta.”
“Dengan Kak Barra?” Bukankah ini sedikit keterlaluan.
“Ya. Aku suka sama Kak Barra.”