Pertanyaan Arisha bagai sambaran petir. Zaina masih tertegun di tempat. Dia belum tahu bagaimana harus menanggapi sang kakak ipar. Tebakan Arisha yang tepat sasaran membuat Zaina tidak bisa berpikir dengan baik. Dia mencoba untuk menemukan kalimat yang pas untuk menjelaskan mengenai perasaannya, tetapi tidak berhasil. Semua menguap begitu saja di udara.
Badan Zaina bergetar saat Arisha menyentuh pundaknya. Dia mendongak dan mendapati bahwa kakak iparnya itu tengah tersenyum. Tidak seperti yang dia duga. Dia pikir, Arisha akan protes karena memiliki perasaan yang tidak pantas pada Barra. Senyum yang menghiasi wajah Arisha memberikan ketenangan pada Zaina.
Meski belum mengetahui bagaimana cara menjelaskan pada Arisha, Zaina tidak lagi tertekan. Dia tahu kalau Arisha akan memberikan masukan yang baik. Itulah yang selalu Arisha lakukan ketika dia mencurahkan permasalahan pada sang kakak ipar. Semoga kali ini juga akan sama.
“Tebakan Kakak benar, kan?” tanya Arisha memastikan. Dia sudah bisa melihat gelagat itu dari mata Zaina, tetapi tetap ingin mendengar langsung dari mulut adik iparnya. “Tenang saja. Jangan merasa terbebani.”
“Apa aku terlalu jelas?” Zaina balik bertanya. Dia sungguh merasa khawatir kalau-kalau Barra akan mengetahui perasaan yang dipendamnya.
“Sejujurnya, kamu lumayan mudah untuk ditebak,” ujar Arisha jujur.
“Benarkah? Apa itu artinya Kak Barra juga tahu tentang ini?”
“Entahlah. Kakak tidak yakin. Dia ... cukup pintar menyembunyikan perasaan.”
“Dia memang ahli bersembunyi. Apa enggak ada harapan sedikit saja buat aku?”
Arisha tersenyum, lalu mengusap lengan Zaina. “Semua bisa saja terjadi, Zai. Kita tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi di masa depan, kan?”
“Tapi, Kak Barra bilang kalau dia suka sama seseorang.”
“Kamu tahu siapa orang itu?” Zaina menggeleng. Sekali lagi, Arisha tersenyum. “Jangan terlalu dipikirkan. Cinta memang selalu membuat bingung. Wajar kalau kamu merasa seperti ini. Boleh Kakak beri saran?”
“Tentu saja. Kenapa harus tanya gitu?”
“Karena ini masalah yang sangat sensitif. Kakak tidak mau kamu salah paham dengan saran Kakak ini.”
Kening gadis berambut pendek mengerut. Dia memandangi Arisha yang kini menggenggam tangannya kembali. Apa pun yang akan dikatakan oleh sang kakak ipar tentu bukan hal baik. Pasti sesuatu yang kemungkinan besar tidak dia sukai. Belum apa-apa, dia sudah merasa kecewa.
Sejak dulu, saran dari Arisha selalu membuat Zaina lebih baik. Bagaimana kalau kali ini tidak begitu? Tatapan kakak iparnya itu menunjukkan hal yang berlawanan dengan keinginan di hati. Ada yang meronta-ronta dalam d**a saat melihat Arisha yang terus menunjukkan senyuman.
Berusaha menahan diri, Zaina menantikan kalimat yang akan keluar dari mulut Arisha. Dia sungguh tidak sabar dengan apa yang akan didengarnya. Meski merasakan getaran aneh, dia tetap mencoba untuk tenang. Arisha tidak mungkin menjerumuskan dia dalam permasalahan. Dia sangat yakin dengan hal itu.
“Jadi, apa saran Kakak?”
“Jangan memikirkan masalah ini.” Jawaban Arisha membuat Zaina diam. “Kamu masih sangat muda, Zai. Jadi, tidak perlu merasa terbebani dengan masalah percintaan seperti ini. Lagi pula, Kak Barra sangat dekat denganmu, kan?”
“Justru karena Kak Barra sangat dekat. Aku takut kalau dia pergi suatu hari nanti. Bagaimana kalau dia nikah sama orang lain? Apa aku bisa terima itu?”
“Semua hal sudah ada yang menentukan, Zai. Kamu tahu itu, kan? Begitu juga dengan jodoh. Allah sudah mengatur siapa yang akan menjadi pasangan masa depan kita. Jadi, kenapa kamu harus khawatir.”
“Aku cuma ....”
“Tidak apa-apa, Zai. Di usia kamu ini, sangat lumrah mengalami hal seperti itu. Kamu akan merasakan kekhawatiran yang berlebihan.” Arisha kini menggenggam kedua tangan Zaina. “Jangan sampai hal ini memengaruhi belajarmu. Kalau Kak Barra memang jodoh kamu, dia akan kembali.”
“Aku tahu itu. Sepertinya aku memang terlalu berlebihan. Makasih, ya, Kak, karena sudah ngingetin aku buat enggak terbebani dengan cinta.”
“Kakak senang kamu mengerti maksud Kakak. Tenang saja, kalau sudah saatnya, kamu akan menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang sekarang memenuhi kepalamu.” Arisha melirik kepala Zaina sambil mengedipkan mata.
“Kakak pintar sekali mengamati.”
“Kamu lupa kalau kakak iparmu ini seorang penulis? Kakak sudah terlalu sering memperhatikan perilaku orang lain. Wajar kalau Kakak bisa menebak jalan pikiran seseorang. Iya, kan?”
Pertanyaan Arisha membuat Zaina tertawa. Gadis cantik itu sempat melupakan kenyataan tersebut. Dia tidak menduga bahwa Arisha bisa mencermati seseorang dengan sangat mudah. Mungkin pengalamannya memang sudah banyak, jadi dia tidak kesulitan memahami pikiran orang lain.
Tetap saja. Rasanya luar biasa bisa memiliki seseorang seperti Arisha. Zaina benar-benar sangat bersyukur. Wanita berjilbab itu tidak menghakiminya karena menyukai Barra. Sebaliknya, dia memberikan sebuah jalan yang menunjukkan cahaya. Dia merasa ucapan terima kasih tidak akan cukup.
Setelah lama merasakan kegelisahan karena cinta yang tidak jelas, Zaina kini lebih mengerti. Bahwa mencintai seseorang bukanlah beban. Dia seharusnya tidak tenggelam dengan pemikiran aneh tentang Barra. Tampaknya dia memang belum bisa disebut sebagai wanita dewasa.
“Omong-omong, aku suka sama novel terbaru Kakak. Apa Kakak bisa bocorin ending-nya sama aku? Aku penasaran banget.”
“Jangan harap. Kakak sedang merencanakan ending yang berbeda.” Zaina menyipit. Dia melihat ada kilat aneh di kedua mata Arisha.
“Aku tahu kalau semua cerita Kakak pasti happing ending. Tapi aku tetap penasaran.”
Dan pembicaraan mengenai novel itu mengalir begitu saja. Zaina seakan lupa dengan permasalahan yang tadi sempat mencekiknya. Bersama Arisha, dia menemukan ketenangan yang tidak didapatkan dari siapa pun. Kini, dia bahkan tidak mengingat Barra sama sekali. Menakjubkan, bukan?
***
“Wajah kenapa kusut begitu?” tanya Khafi saat melihat Barra melintas.
Tidak ingin terlibat adu mulut dengan Khafi, Barra berniat untuk kabur. Perasaannya juga sedang tidak bagus saat ini. Kalau tetap di sini, dia mungkin akan kalap. Ditambah dengan kehadiran sahabat kakunya itu. Dia bisa menghancurkan apa saja sekarang dan itu bukan hal yang bagus.
Kaki Barra sudah hampir melangkah saat dia melihat Hilya muncul. Ini bukan pertanda baik. Wanita sepuh itu pasti akan menahan Barra dengan berbagai alasan. Seperti biasa, si pria pengertian tidak bisa menolak ajakan wanita tersebut. Jadi, dia hanya bisa menghela napas, berharap tidak meledak dalam waktu dekat.
Seperti dugaan Barra, Hilya memintanya untuk duduk dan mengobrol sebentar. Tidak ada hal seperti itu. Sebentar menurut Hilya bisa sampai tengah malam, bahkan mungkin lebih. Meski begitu, Barra menuruti keinginan si nenek. Dengan sedikit enggan, dia duduk di hadapan Khafi yang diam-diam tersenyum.
Kalau saja Hilya tidak ada di sana, sudah bisa dipastikan akan terjadi perang di ruang keluarga. Barra tidak suka saat terlihat seperti ini di depan Khafi. Sayang, keinginan sang nenek adalah sebuah perintah di telinga Barra. Dia tidak bisa mengabaikan wanita itu meski hanya sekejap.
“Barra sepertinya sedang buru-buru, Nek. Sebaiknya jangan menahannya terlalu lama,” ujar Khafi dengan wajah yang menyebalkan. Barra mendelik padanya.
“Benarkah? Apa kamu punya rencana lain?”
“Tidak, Nek. Aku hanya sedikit mengantuk. Belakangan ini, pekerjaan kantor sangat banyak. Jadi, aku kurang istirahat.” Khafi mendengkus saat mendengar alasan tidak masuk akal yang disampaikan oleh sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.
“Wajar kalau kantor sibuk. Kita sedang mempersiapkan pembukaan cabang baru. Apa kamu lupa kalau aku juga bekerja sangat keras?”
“Wah! Aku tidak tahu kalau kamu bisa mengeluh. Aku pikir tuan sempurna seperti kamu tidak memiliki batas,” sindir Barra.
Kedua pria di ruangan itu saling tatap. Hilya yang duduk di antara mereka tergelak. Dia sudah sangat sering melihat perdebatan mereka. Meski begitu, dia sangat tahu kalau mereka sebenarnya saling menyayangi. Barralah yang biasanya akan mengalah saat mereka mulai berdebat.
Hilya tidak pernah mengerti bagaimana Barra bisa sangat sabar berada di dekat Zaina dan Khafi. Kedua cucunya itu sulit sekali dikendalikan. Hanya Barra yang bisa menghadapi mereka dengan otak tetap dingin. Dia rasa, sang pria penyabar pasti masih berpikir mengenai utang budi. Padahal dia tidak perlu begitu.
Sudah terlalu banyak hal yang diselesaikan oleh Barra. Dia menutupi semua kekurangan yang dimiliki oleh cucu-cucunya. Sikap dewasa yang dia punya sangat membantu Hilya bertahun-tahun ini. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika Barra tidak ada di sisinya. Mungkin dia sudah terbaring di rumah sakit.
“Kapan kalian akan menghentikan sikap kekanakan kalian ini?”
“Nenek, yang kekanakan itu Barra. Nenek tahu itu, bukan?”
“Benarkah? Nenek lihat justru sebaliknya. Dia yang paling dewasa di antara cucu-cucu Nenek.” Barra tersenyum lebar saat mendapat pembelaan.
“Nenek pasti sudah dibutakan oleh rayuan Barra.”
“Makanya, sesekali kamu juga harus merayu Nenek. Bagaimana? Masa cuma Arisha yang kamu gombalin,” goda Hilya. Khafi memandangnya tak percaya. Memang kapan dia merayu Arisha coba?
Sejak menikah, Khafi memang sedikit berubah. Namun, dia tidak pernah berhasil mengeluarkan rayuan yang disebutkan oleh Hilya. Dia belum pandai berbasa-basi seperti orang kasmaran pada umumnya. Lagi pula, sang istri tidak butuh semua itu. Selama mereka saling cinta, yang lain tidak berguna lagi.
Cukup Arisha saja yang mengatakan kalimat-kalimat aneh. Khafi tidak perlu ikut-ikutan. Sebagai penulis profesional, istrinya lebih pantas mendapat julukan pujangga atau perahu ulung. Dia bukan apa-apa dibandingkan dengan Arisha. Jadi, untuk apa dia berubah hanya demi menyenangkan sang istri.
Bukan berarti Khafi tidak mau melakukan sesuatu untuk Arisha. Dia lebih suka mengekspresikan cinta dengan perbuatan, bukan perkataan. Baginya, perbuatan lebih jelas menjelaskan bagaimana rasa sayang kita pada pasangan. Bukankah itu pendapat yang benar?
“Jangan bilang kalau kamu masih sekaku itu pada Arisha.” Hilya melebarkan mata saat Khafi hanya diam. Sementara Barra sudah terkikik di tempat.
“Ayolah, Nek. Mana mungkin seorang Khafi bisa mengeluarkan sebuah rayuan. Aku merasa kasihan pada Arisha karena bertemu dengan pria kaku seperti dia.”
“Jangan sembarangan bicara. Kamu belum tahu rasanya jatuh cinta, bukan? Teruslah tenggelam dalam dunia kesendirianmu. Kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaan bahagia saat menatap orang yang kamu sukai.”
Salah besar. Barra tahu betul bagaimana rasanya. Bahkan dia sudah mengalami hal itu sebelum Khafi bertemu dengan Arisha. Hanya saja, tidak ada yang tahu bagaimana dia berusaha menyembunyikan diri. Dia sangat lihai bersembunyi sampai-sampai tidak ada yang menyadari hatinya telah berlabuh.
Melihat Barra yang terdiam, Hilya mendelik pada cucu tertuanya. Wanita itu tahu kalau Khafi sangat berbakat membuat orang-orang di sekitarnya menderita. Namun, menyadari kalau kali ini ada yang berbeda dalam diri Barra, dia ingin menghentikan Khafi yang tertawa.
“Bukankah kamu yang membuatnya terkurung di rumah ini? Dia sampai lupa caranya menikmati hidup.” Ucapan Hilya menohok hati Khafi.
“Aku hanya bercanda, Nek. Lagi pula, Barra juga tidak marah.”
“Dia diam bukan berarti tidak marah, Khaf. Kapan kamu akan memahami sahabatmu sendiri?” protes Hilya sambil memandangi Barra yang mulai tersenyum.
“Nenek berlebihan. Aku sangat menikmati hidup. Berkat Khafi, aku punya kesempatan untuk melakukan hal-hal yang aku sukai.”
“Siapa yang sedang kamu sogok di sini?” Barra tertawa mendengar pertanyaan Khafi.
“Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat. Bagaimana kalau Nenek mengeluarkan kue yang enak malam ini?”
“Sudah pasti.”
Malam ini, Barra mencoba melupakan Zaina. Dia tidak ingin tertekan terlalu lama.