“Orang yang aku sukai itu adalah ... Kakak.”
Jantung Barra hampir meledak saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut Zaina. Matanya melebar dan tidak berkedip sama sekali. Bagaimana bisa Zaina mengatakan hal itu dengan sangat mudah. Bahkan di situasi yang tidak begitu tepat seperti sekarang. Apa Zaina tidak berpikir panjang?
Tidak tahukah Zaina bahwa pernyataan itu bisa mengubah dunianya? Di mana pikiran Zaina saat tanpa berdosa mengakui perasaannya? Di sampingnya, Barra mencengkeram pinggiran sofa sambil menahan napas. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Zaina memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
Akan tetapi, detik selanjutnya Barra dikejutkan dengan tawa Zaina yang memenuhi ruangan. Kening Barra mengerut melihat Zaina yang terpingkal-pingkal sambil memegangi perut. Apa yang baru saja terjadi? Mengapa Zaina justru tertawa dalam keadaan seperti ini? Bukankah seharusnya dia bersikap malu-malu?
“Mukanya biasa saja, Kak,” ujar Zaina di sela tawanya. Barra menatapnya tak mengerti. Apa maksud Zaina berkata begitu?
Kemudian, Barra menyadari sesuatu. Dia mengeluarkan napas panjang yang tadi sempat ditahan. Merasakan panas di seluruh wajah, dia berpaling sambil menelan ludah. Bisa-bisanya dia masuk ke dalam jebakan yang dibuat oleh Zaina. Dia pasti terlalu berharap Zaina membalas perasaannya sampai terjebak begini.
Sangat memalukan. Zaina pasti merasa hal ini lucu. Gadis itu terus tertawa tanpa memedulikan perasaan Barra. Namun, Barra cukup bersyukur dengan kelakuan Zaina. Dengan begitu, Zaina tidak akan menyadari bagaimana kekecewaan menghampiri Barra sekarang.
Kepala Barra menggeleng beberapa kali. Bagaimana bisa dia berpikir kalau Zaina juga menyukainya. Meski begitu, Zaina semestinya tidak bercanda dengan hal seperti ini. Barra sudah terlanjur terbawa perasaan dan ternyata semua palsu. Rasanya seperti dijatuhkan dari ketinggian. Sakit luar biasa.
“Kamu pikir itu lucu?” tanya Barra dengan wajah serius. Seketika, Zaina menutup mulut rapat-rapat. Dia tidak bermaksud bercanda seperti itu, tetapi begitu sadar sudah membuka rahasia, dia tidak memiliki jalan lain selain ini.
“Aku cuma ... cuma ....”
“Cuma apa? Kita sedang belajar dan kamu bercanda seperti itu. Apa itu pantas dilakukan? Zaina, kamu benar-benar keterlaluan.”
“Aku, kan, cuma bercanda. Kenapa Kakak marah gitu?”
“Karena aku pikir kamu benar-benar punya masalah dan butuh bantuan. Tapi, kelihatannya kamu malah bermain-main. Apa kamu senang karena berhasil melucu?”
“Maaf,” ucap Zaina sambil menangkupkan kedua tangan. “Aku enggak bermaksud gitu. Aku enggak nyangka kalau Kakak khawatir sama aku.”
“Kamu tidak tahu?” Barra menghela napas. “Kalau mau bercanda, pilih bahan candaan yang lebih baik. Jangan bawa-bawa hubungan kita. Mengerti?”
Kata-kata Barra menancap ke dalam hati Zaina, membuat sebuah lubang yang menganga. Dia menatap Barra tak percaya. Apa maksud ucapan Barra? Zaina sungguh tidak memahami apa penyebab Barra marah padanya. Dia memang bersalah, tetapi apa perlu sekeras ini untuk menegur?
Mengapa Barra harus mengeluarkan kalimat yang menyakitkan seperti itu? Seakan hubungan mereka tidak mungkin berakhir lebih dari kakak dan adik. Barra seolah menegaskan kalau mereka tidak akan pernah bisa menyukai satu sama lain. Kenyataan itu membuat kedua mata Zaina memanas.
Bagaimana bisa Barra menyakiti Zaina begini? Zaina tidak membayangkan kalau Barra bisa setega ini padanya? Apa hubungan mereka memang tidak memiliki harapan sedikit pun? Apa hanya Zaina yang merasa kecewa di sini? Tidak bisakah Barra menanggapi candaannya dengan lebih santai?
Biasanya Barra akan mengimbangi gurauan Zaina. Kenapa kali ini bisa berbeda? Apa karena Barra sudah mempunyai orang yang disukai, jadi tidak suka saat Zaina bermain-main dengan perasaannya? Benarkah begitu? Zaina mengerutkan bibir menyadari betapa posisinya tidak lebih berharga dari wanita yang disukai Barra.
“Kenapa Kakak kejam banget?”
“Aku kejam? Aku kejam di bagian mana, Zai? Kamu yang bermain-main, kenapa aku yang sepertinya sedang disalahkan?”
“Oke. Aku minta maaf. Seharusnya aku enggak main-main waktu belajar. Kakak sudah mau kesini, padahal lagi sibuk banget. Seharusnya aku ngehargai itu. Maaf.”
Mata Barra terpejam. Dia tidak bermaksud begitu. Dia hanya tidak suka Ziana bermain-main dengan perasaan orang lain, termasuk dengan dirinya. Kenapa sekarang Zaina malah merajuk begitu? Bagaimana cara Barra menjelaskan pada Zaina kalau ini suatu kesalahpahaman?
“Sepertinya kamu butuh istirahat,” kata Barra setelah berdeham. Sebaiknya dia pergi untuk menenangkan diri atau dia akan mengatakan hal-hal aneh lainnya.
“Kakak sudah mau pergi? Aku, kan, sudah minta maaf.”
“Ini bukan soal permintaan maaf, Zai. Aku hanya ... hanya ada sesuatu yang harus aku lakukan sekarang. Baca bukumu dulu. Besok kita akan lanjutkan.”
“Kakak marah?” Zaina memiringkan kepala sambil menatap Barra.
“Tidak.” Barra mencoba tertawa. “Aku pulang dulu.”
Baru saja Barra beranjak dari sofa, Arisha muncul. Wanita itu mendekati Barra dan Zaina. Di tangannya ada sekantung camilan. Dia tersenyum lebar sambil mengucapkan salam pada Zaina. Tanpa memedulikan apa yang tengah terjadi di antara kedua orang itu, Arisha meletakkan kantung yang dibawanya di meja.
“Aku tahu kalau Zaina sedang belajar, jadi aku membawakan beberapa camilan,” ucap Arisha ceria. Kemudian, dia menyadari kalau ada yang tidak beres.
Kedua mata Arisha memperhatikan Zaina dan Barra. Dia yakin kalau keduanya sedang membicarakan hal yang penting. Apa ini? Apa seharusnya dia tidak datang? Atau dia menyelamatkan kedua orang itu dari sesuatu yang tidak semestinya terjadi? Arisha tersenyum kikuk pada Barra yang berdiri cukup dekat darinya.
Untuk memastikan keadaan, Arisha menoleh pada Zaina yang tertawa tanpa suara. Ada perasaan mengganjal di hari Arisha. Meski begitu, kakinya tidak dapat beranjak dari tempat. Dia mengerjap, lalu berdeham untuk menormalkan atmosfer di sekitarnya. Semoga saja dia tidak muncul di saat yang salah.
“Apa aku mengganggu?” tanya Arisha tidak enak. “Aku akan ....”
“Tidak, Sha. Kamu tidak mengganggu sama sekali. Lagi pula, kami sudah selesai belajar. Aku baru saja akan pulang,” jelas Barra.
“Benarkah? Tapi sepertinya ....”
“Aku duluan. Assalamualaikum.” Barra pergi, bahkan sebelum Arisha dan Zaina menjawab salamnya. Arisha mengerutkan kening. Dia duduk di dekat Zaina.
“Apa aku menyela pembicaraan penting kalian?” Arisha masih merasa tidak enak dengan kedatangannya yang cukup mendadak.
“Enggak, Kak. Seperti kata Kak Barra, kami sudah selesai belajar.”
Baik Zaina maupun Barra sudah berkata kalau tidak ada yang salah. Akan tetapi, Arisha tetap merasa ada yang tidak benar. Dia memandangi Zaina yang membolak-balik buku tebalnya. Gadis itu jelas tidak memperhatikan apa yang tertulis di dalam buku. Dia hanya membalikkan setiap halaman tanpa minat membaca.
Arisha menoleh ke arah Barra pergi. Tidak ada bayangan pria itu lagi. Kenapa perasaan Arisha benar-benar tidak tenang? Dia menarik napas, lalu kembali menatap Zaina yang masih sibuk dengan bukunya. Tangannya menyenggol lengan Zaina dan membuat sang adik ipar mendongak.
“Ada apa? Kalian bertengkar lagi?”
“Biasalah. Kak Barra lagi sensi,” ujar Zaina. Dia menyandarkan tubuh ke sofa. “Kakak sendiri atau dengan Kak Khafi?”
“Menurut kamu?” Zaina tertawa. Mana mungkin Khafi membiarkan Arisha keluar rumah seorang diri di malam hari. Arisha menggenggam tangan Zaina. “Kamu bisa cerita sama Kakak kalau memang ada masalah. Seperti biasa.”
Zaina menghela napas. Dia tersenyum pada Arisha. Senang rasanya mendapat dukungan lewat genggaman tangan seperti itu. Kehadiran Arisha mengobati sedikit rasa sakit karena ucapan Barra tadi. Sentuhan lembut tangan Arisha membuatnya tenang dan merasa ditemani.
Ketulusan yang ditunjukkan oleh Arisha menggoyahkan hati Zaina. Dia memang sedang ingin berbagi dengan seseorang. Arisha orang yang sangat bisa dipercaya. Kakak iparnya itu tidak mungkin membongkar rahasia yang dia bicarakan. Memang ada kemungkinan Arisha akan ditanyai oleh Khafi, tetapi Khafi tidak pernah memaksa Arisha melakukan sesuatu yang tidak disukainya.
Terkadang Zaina iri melihat hubungan Khafi dan Arisha. Keduanya memiliki kepribadian yang bertolak belakang, tetapi bisa saling merangkul. Mereka sudah melalui banyak cobaan sebelum benar-benar damai seperti saat ini. Zaina juga ingin seperti mereka, bisa bahagia setelah melewati ujian cinta.
“Kapan Kakak sadar kalau Kakak suka sama Kak Khafi?” tanya Zaina antusias. Arisha tampak berpikir. Dia tersenyum saat mengingat perjumpaan pertamanya dengan Khafi. Pertemuan yang akan dia ingat selamanya.
“Kakak sepertinya sudah menyukai kakakmu saat pertemuan pertama kami.”
“Benarkah? Cinta pada pandangan pertama?” Arisha mengangguk. “Wah! Keren. Aku enggak nyangka Kakak bisa jatuh cinta pada orang asing, terutama orang seperti Kak Khafi. Memangnya Kakak enggak ngerasa aneh gitu sama Kak Khafi?”
“Aneh? Mana mungkin. Kakakmu itu sangat memesona. Kamu tahu itu, kan?”
Harus Zaina akui, apa yang dikatakan oleh Arisha memang benar. Meski memiliki wajah sedatar tembok dan sikap yang kaku, banyak yang terpesona oleh Khafi. Tentu saja, siapa yang tidak akan tergoda oleh paras tampan Khafi. Belum lagi kecerdasan dan ketajamannya dalam menilai sesuatu.
Banyak wanita yang tergila-gila pada Khafi. Zaina sudah melihat beberapa dari mereka nekat mendekati Khafi yang luar biasa dingin. Setelah diberi ketegasan dari Khafi, mereka biasanya akan mundur teratur. Meski begitu, masih banyak yang memberikan perhatian pada sang kakak.
Setumpuk hadiah memenuhi ruangan Khafi. Sesuatu yang sangat Khafi benci selama bertahun-tahun. Dia tidak akan menerima semua hadiah itu andai sang pemberi langsung menyerahkan pada dirinya. Kalau sudah dikirimkan ke rumah atau kantor, tidak ada pilihan selain menerima, bukan?
Biasanya, Khafi akan memberikan semua hadiah itu kepada para asisten rumah tangga. Kalau memang belum juga cukup, dia akan menyuruh mereka untuk membagikan pada orang-orang. Dia tidak suka melihat tumpukan hadiah yang menurutnya mengganggu penglihatan itu.
“Apa rasanya jatuh cinta sama orang kayak Kak Khafi?”
“Luar biasa. Tidak mudah menyukai pria yang disukai banyak wanita. Apa lagi orangnya sedingin kakakmu. Stok kesabaran kita harus banyak.”
“Pasti capek banget ngadepin orang kayak Kak Khafi, kan?”
“Capek? Mungkin. Itu konsekuensi karena suka sama orang sekaku dia.” Arisha terkikik pelan setelah berkata begitu. Zaina ikut tertawa.
“Pernah enggak Kakak kepingin nyerah karena capek?”
“Sebenarnya bukan karena capek. Mungkin lebih karena Kakak merasa tidak pantas bersama dengan kakakmu, jadi Kakak ingin menyerah.”
“Kakak ngerasa enggak pantas buat Kak Khafi?” Arisha mengangguk. “Mana mungkin. Kakak sekeren ini. Mana mungkin enggak pantas buat Kak Khafi. Adanya juga Kak Khafi yang beruntung dapat Kak Arisha.”
“Kakakmu juga bilang begitu.”
“Oh, ya? Aku enggak tahu kalau Kak Khafi orangnya romantis.” Arisha tersenyum.
“Jadi, kamu sedang menyukai seseorang?” tembak Arisha. Zaina membeku di tempat. Dia tidak menyangka kalau akan mendapat serangan dari kakak iparnya. Dia belum siap untuk mengakui perasaannya pada Arisha.
“Aku lagi patah hati karena orang yang aku sukai suka sama orang lain.”
“Kamu menyukai Kak Barra?”
Kali ini, Zaina benar-benar membeku. Dia mendongak dan melihat senyum Arisha yang lebar. Apa dia sejelas itu? Kalau Arisha bisa melihat perasaan sukanya pada Barra, Mungkinkah orang lain juga bisa menyadari? Bagaimana kalau Barra tahu? Atau yang lebih buruk, bagaimana kalau Khafi mengetahui hal ini? Zaina belum siap untuk mempertanggungjawabkan rasa cintanya pada Barra. Apa yang harus dia lakukan?