“Jadi, apa akuntansi keuangan itu?” tanya Barra. Zaina menghela napas.
Belajar dengan Barra terasa semakin menyebalkan. Barra itu lebih tegas dari guru mana pun yang pernah mengajar Zaina. Seharusnya Barra menjadi pengajar saja. Mungkin semua muridnya akan sangat ketakutan. Atau sebaliknya? Barra punya banyak cara untuk membuat muridnya mudah memahami materi.
Itu sebabnya Zaina lebih suka mendengarkan keterangan dari Barra. Setidaknya begitulah yang dulu Zaina rasakan. Barra lebih sabar saat menerangkan sesuatu. Sekarang, Zaina mulai menyesali karena terlalu banyak tergantung pada Barra. Jika nanti Barra pergi, bisakah dia menahan diri?
Cepat atau lambat, Zaina harus merelakan Barra pergi, bukan? Dia sadar betul kalau Barra tidak akan bisa menemani selamanya. Menyadari bahwa pria itu akan pergi suatu saat nanti, membuatnya sedikit bersedih. Entah bagaimana dia bisa melepaskan Barra dari kesehariannya.
“Aduh!” jerit Zaina saat merasakan sentilan di kening. Dia menatap Barra sambil menggembungkan pipi. Kebiasaan Barra itu sangat mengganggu. “Bisa enggak, enggak usah nyentil kening gitu. Sakit, tahu?”
“Makanya konsentrasi. Masih belum cukup melamunnya hari ini? Ini waktunya belajar. Fokus! Pikirannya jangan ke mana-mana.”
“Iya, iya. Apa tadi pertanyaannya?”
Barra memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut, lalu menghela napas. Dia harus mempunyai kesabaran tingkat tinggi saat berhadapan dengan Zaina seperti ini. Kalau tidak, bisa-bisa dia naik darah. Zaina sungguh menguji kelapangan dadanya setiap kali bertemu. Meski begitu, dia menyukai momen kebersamaan dengan gadis itu.
Belakangan ini, Zaina lebih banyak melamun. Sudah berkali-kali Barra memergoki Zaina sedang tidak berkonsentrasi pada sekeliling. Barra sangsi kalau Zaina terus memikirkan pria yang disukainya. Apa Zaina memiliki masalah lain? Biasanya, Zaina menceritakan semua hal pada Barra. Kenapa sekarang gadis itu seakan punya banyak rahasia yang disembunyikan?
Mungkin karena Zaina sudah merasa dewasa. Dia merasa perlu melindungi beberapa hal dari orang lain, termasuk Barra. Mengapa kenyataan itu justru membuat Barra kehilangan? Biasanya dia merasa bosan dengan semua keluhan Zaina. Namun, sekarang dia malah merindukan cerita si gadis.
“Kenapa ganti Kakak yang ngelamun?” Zaina menepuk keras pundak Barra. Yang dipukul memejamkan mata sambil menggumam tidak jelas.
“Oke. Jadi apa akuntansi keuangan itu?” Barra berusaha menutupi kekesalannya. Lagi-lagi, dia memilih untuk mengalah.
“Simpel saja, kan? Akuntansi keuangan itu adalah ilmu akuntansi yang menjelaskan tentang keuangan. Benar, enggak?” Jawaban Zaina membuat Barra mengelus d**a. Barra tidak mengerti bagaimana Zaina bisa sesantai ini saat ujian sudah di depan mata. Zaina tidak pernah bisa serius memikirkan pelajaran.
“Zaina. Jawab dengan benar. Jangan main-main.”
“Aku serius, Kak. Memangnya apa arti akuntansi keuangan?”
“Zaina, akuntansi keuangan itu adalah semua proses yang berujung pada penyusunan laporan keuangan yang berhubungan dengan perusahaan secara keseluruhan. Nantinya laporan itu akan digunakan, baik secara internal maupun eksternal perusahaan.”
“Nah, intinya sama saja, kan?”
“Oke. Anggap saja begitu. Tapi, kamu tahu perbedaan aktiva dan pasiva, kan?”
“Tahu, dong. Aktiva itu harta kita. Kalau pasiva itu utang kita. Iya, kan?”
Walaupun jawaban yang diberikan oleh Zaina benar, tetapi penyampaiannya tidak tepat. Semestinya Zaina lebih pintar memilih kata untuk menjelaskan sesuatu. Bagaimana kalau pertanyaan ini muncul dalam ujian? Memangnya dia akan menuliskan jawaban seperti itu? Tidak, bukan?
Ini sudah sangat sering terjadi. Jika untuk pembelajaran, tidak masalah menggunakan kalimat tidak baku. Lain lagi kalau sudah berhadapan dengan kertas ujian. Seorang pelajar harus memilih kata-kata baku yang umum digunakan dalam dunia pendidikan. Itu aturan yang harus ditaati oleh para murid.
“Bisa tidak kalimatnya lebih bagus sedikit?”
“Memangnya aku salah. Jawabanku benar, kan?”
“Benar, tapi cara penyampaiannya kurang tepat. Harusnya kamu jawab, aktiva itu adalah semua aset atau harta yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Sementara pasiva adalah utang atau kewajiban yang harus dibayar oleh perusahaan.”
“Maksudku memang itu.”
“Seharusnya kamu mengambil kursus bahasa Indonesia. Kamu kesulitan menyusun kalimat yang benar,” ujar Barra serius. Bukannya merasa tersinggung atau apa, Zaina malah tertawa mendengar ucapan Barra. Membuat Barra gondok. Sia-sia dia mengkhawatirkan Zaina. Gadis itu bahkan tidak peduli dengan sarannya.
“Kakak pasti bercanda. Aku sudah pintar banget, lho, pakai bahasa Indonesia. Cuma memang enggak baku, sih. Masa iya aku harus ngomong kayak Kak Khafi yang kaku itu. Yang benar saja.” Zaina kembali tertawa.
“Maksudku kamu harus bisa menyesuaikan. Kapan harus menggunakan bahasa baku dan kapan bisa berbicara santai. Kamu sebenarnya mengerti atau tidak dengan apa yang aku katakan ini?”
Menyadari jika Barra sedang berbicara serius, Zaina mengerucutkan bibir. Dia menunduk sambil mengangguk patuh. Kalau dia melawan, Barra bisa memberikan ceramah panjang. Jadi, kalau dia mau menyelamatkan telinganya dari petuah Barra, dia harus menyerah sekarang.
Sepertinya Barra mengetahui kelakuan Zaina itu. Beginilah kalau terlalu lama bergaul dengan Zaina. Gadis itu sudah hafal dengan kebiasaannya selama ini. Terkadang Barra tidak suka karena mudah ditebak oleh Zaina. Akan tetapi, dia juga senang karena Zaina bisa mengingat sikap-sikapnya.
Terlepas dari semuanya, Barra semakin sulit mengendalikan diri di depan Zaina. Beruntung dia masih cukup pandai menyimpan perasaan. Dia berharap tidak akan hilang kendali saat melihat wajah menggemaskan Zaina, seperti sekarang. Padahal semestinya dia marah atau mengomeli Zaina. Bukannya malah terpesona dengan sikap Zaina yang menganggap ucapan Barra merupakan omong kosong.
“Iya. Aku ngerti. Tapi, susah banget buat nyusun kalimat yang benar. Gimana, dong?”
“Makanya biasakan bicara dengan benar.” Zaina bergidik mendengar saran Barra. “Kenapa? Apa yang salah?”
“Enggak ada yang salah. Aku saja yang berlebihan. Aku bakal lebih hati-hati waktu jawab pertanyaan ujian. Kakak puas?”
“Lumayan. Sepertinya kamu mulai mengerti maksudku.”
“Tentu saja. Kapan aku enggak ngerti maksud Kakak?”
“Kamu sedang bercanda? Sejak kapan kamu bisa memahamiku?” sindir Barra. Meski begitu, dalam hati dia mengakui kalau Zaina yang paling mengerti kebiasaannya.
“Terserah Kakak,” kata Zaina sambil memberengut. Dia membuka buku tebal berjudul 'Akuntansi Keuangan'. Tangannya mulai menelusuri kata demi kata, tetapi dia tidak bisa mencerna apa pun yang tertulis di sana.
Bagaimana Zaina bisa memahami kalimat yang dibacanya kalau dia memikirkan hal lain? Pertanyaan Barra membuat dia berpikir, benarkah dia tidak memahami Barra? Padahal mereka sudah lama bersama. Bersama dalam artian sering bertemu dan berinteraksi. Mereka menghabiskan banyak waktu berdua.
Lebih dari siapa pun, Zaina paling banyak menghabiskan waktu bersama dengan Barra. Bahkan dia tidak sedekat ini dengan Hilya, sang nenek. Apa lagi dengan kedua kakaknya, Khafi dan Dzaky. Intinya Barra adalah orang yang sangat dekat dengannya. Barra tidak akan bisa dibandingkan dengan siapa pun.
Sulit rasanya mencari orang yang setara dengan Barra. Semua keputusan dalam hidup Zaina, selalu berhubungan dengan pria itu. Zaina tidak pernah membuat keputusan tanpa mempertimbangkan pendapat Barra. Barra adalah orang yang sangat penting bagi Zaina.
“Apa kamu punya masalah?”
Akhirnya pertanyaan itu meluncur dari mulut Barra. Melihat cara Zaina menggerakkan tangannya di atas buku, dia tahu kalau gadis itu tidak serius membaca. Kalau tebakannya benar, Zaina kemungkinan sedang memikirkan permasalahan yang dihadapinya. Entah apa. Sepertinya sangat mengganggu.
Mungkinkah Zaina memikirkan pria yang disukainya lagi? Siapa sebenarnya pria itu? Melihat bagaimana cara Zaina selalu memikirkan, hubungan mereka tidak berjalan baik. Mungkinkah ada yang menghalangi cinta mereka? Seperti juga cintanya yang terhalang oleh keraguan?
Barra menghela napas. Mengapa dia jadi memikirkan perasaannya? Sekarang dia sedang membahas permasalahan Zaina. Dia harus bisa menyingkirkan pikiran itu agar bisa membujuk Zaina menceritakan masalahnya. Penting sekali membuat Zaina terbuka padanya. Salah satunya agar Zaina bisa lebih berkonsentrasi pada ujian.
“Masalah? Entahlah. Aku enggak yakin kalau ini disebut masalah.” Zaina berbicara sambil setengah menerawang. Dia menengadahkan wajah ke langit-langit ruang belajar. Dia merasa ada yang hilang dalam dirinya saat ini.
“Maksud kamu?”
“Apa suka sama orang memang semenyiksa ini?” gumam Zaina. Barra mengerutkan kening. Dia tidak mengerti mengapa Zaina memilih kata menyiksa untuk menghubungkan dengan perasaan sukanya.
“Orang yang kamu sukai tidak menyukai kamu?” tanya Barra memberanikan diri. Zaina mengangkat bahu. Dia menoleh pada Barra.
“Aku enggak pernah tahu kalau jatuh cinta bisa seberat ini,” kata Zaina. Dia menatap Barra yang mengalihkan mata begitu mereka bertemu pandang.
Dalam keadaan seperti ini, Barra tidak sanggup melihat mata Zaina. Kalau dia tergoda, bisa jadi masalah besar. Dia mulai menyesal karena mengajukan pertanyaan sensitif seperti tadi. Dia lupa kalau dia sedang mendorong dirinya ke dalam lautan yang bergelombang. Padahal dia tidak ingin tenggelam.
Mencampuri urusan Zaina yang satu ini bisa menimbulkan kesalahan. Harusnya Barra menyadari hal ini sejak awal. Kenapa juga dia berpura-pura bersimpati pada Zaina? Kenapa dia tidak membiarkan saja Zaina terhanyut sendiri dengan perasaannya pada pria itu? Barra menggeleng keras. Dia tidak bisa merelakan hal itu.
Jika Zaina sampai tenggelam seorang diri, bagaimana Barra bisa menghadapi dirinya sendiri? Jadi, apa yang sebaiknya Barra lakukan? Berpura-pura simpati, padahal dia sangat tidak rela membiarkan Zaina memikirkan pria lain? Memangnya dia bisa menahan kecemburuan yang mungkin akal muncul nanti?
Cemburu? Barra mencibir. Apa dia bahkan berhak merasakan perasaan itu? Bagaimana bisa dia cemburu pada gadis belia seperti Zaina? Dia mulai menenangkan diri. Dia harus mempersiapkan hati dengan apa pun yang akan Zaina ceritakan. Zaina tampaknya ingin berbagi sesuatu.
“Apa Kakak juga ngerasa kalau jatuh cinta itu sangat rumit?”
“Rumit? Cinta itu memang perasaan yang sangat rumit, Zai. Banyak orang yang tidak bisa memahami kenapa cinta bisa menyapanya.”
“Benarkah? Aku ngerasa kalau aku seperti bakal meledak setiap kali ketemu sama cowok yang aku suka. Rasanya ....” Zaina berhenti, lalu menatap Barra yang tengah memperhatikan layar telepon seluler. “Rasanya kayak aku bakal meleleh.”
“Meleleh?” tanya Barra tidak mengerti. Dia masih menyibukkan diri dengan telepon genggamnya untuk menghindari Zaina. “Kenapa kamu merasa meleleh?”
“Karena dia terlalu terang,” ujar Zaina pelan. “Aku bukan siapa-siapa dibandingkan dia. Rasanya hampir enggak mungkin aku bisa jatuh cinta sama dia.”
“Kenapa? Bukannya cinta tidak bisa memilih di mana akan berlabuh?” Barra memejamkan mata. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu pada seorang gadis seperti Zaina. Dia mengangkat kepala dan terkejut saat melihat Zaina yang tengah menatapnya dalam.
“Andai dia lebih biasa. Aku pasti enggak bakal tertekan. Iya, kan?” Barra mengerjap mendapatkan pertanyaan seperti itu.
“Coba bilang sejujurnya, siapa pria yang kamu sukai?” tanya Barra, berusaha menjaga agar suaranya tidak terdengar bergetar.
“Kakak benaran pengin tahu?” Barra mengangguk yakin. “Orang yang aku sukai itu adalah ... Kakak.”