Bab 17: Siapa Dia?

1808 Kata
Mata Barra masih meneliti wajah Zaina yang tengah menatapnya. Mereka saling memandang untuk waktu yang cukup lama. Barra mencoba menyelami arti dari setiap kata yang dikatakan oleh Zaina. Sementara gadis itu ingin mencari tahu mengenai kemungkinan wanita yang dicintai oleh Barra. Orang yang pertama mengalihkan pandangan adalah Barra. Bukan karena tidak tahan melawan tatapan Zaina, melainkan ada karyawan yang mengetuk pintu. Barra menghela napas, lalu mempersilakan sang pekerja masuk. Seorang wanita cantik menyapa Zaina sambil tersenyum. Dia seakan tidak terganggu dengan kehadiran Zaina di kantor Barra. “Ada beberapa berkas yang harus diperiksa, Pak,” ujar si karyawan wanita. “Letakkan saja di atas meja. Saya akan periksa. Laporan untuk bulan ini harus selesai besok,” kata Barra tegas. Sang karyawan mengangguk mengerti. “Saya permisi, Pak.” Giliran Barra yang mengangguk. Zaina masih memperhatikan karyawan wanita yang kini tengah menuju pintu. Pekerja itu masih sempat melemparkan senyuman sebelum keluar. Zaina membalas dengan sedikit canggung, bingung harus bereaksi bagaimana. Dia sibuk mengagumi keterampilan wanita itu dalam berdandan. Kecantikan wanita dewasa memang berbeda. Mereka berhias, tetapi tidak terlihat menor atau berlebihan. Mungkin Zaina perlu mempelajari hal ini. Di mana sebaiknya dia berguru untuk bersolek. Perlukah dia mendatangi salon untuk belajar tampil menarik di depan Barra? Merasa cukup meneliti, Zaina beralih pada Barra yang kini sibuk membuka-buka berkas. Dia membaca sekilas, lalu menutup kembali semua file itu. Zaina mengangkat bahu. Karena Barra tidak mengatakan apa-apa lagi, dia duduk di sofa. Dia belum berminat untuk pergi dari kantor Barra. “Kamu akan terus berada di sini?” tanya Barra. Dia meraih sebuah map, lalu ikut duduk Zaina di sofa. Zaina tersenyum lebar. “Anggap saja aku enggak ada. Kerja saja kayak biasa. Aku lagi pengin santai di sini.” “Kamu mau bersantai di sini? Serius?” “Kenapa? Kakak mau ngusir aku dari sini?” Barra tahu kalau tidak ada gunanya mengusir Zaina dari kantor. Gadis itu tidak akan pernah mau menuruti perintahnya. Dia tahu jika ada yang sedang Zaina cari di ruangannya, entah apa. Sejak tadi, mata Zaina terus meneliti setiap sudut tempat. Apa tepatnya yang sedang dicari oleh Zaina di ruangan ini? Meski mata Barra mengarah pada map yang dipegang, tetapi pikirannya mengelana ke mana-mana. Kalimat Zaina tadi ada yang terasa aneh. Bukankah Zaina sempat menyebutkan kalau dia datang untuk menemukan seorang penyelundup? Barra tidak mengerti apa yang dimaksud penyelundup oleh Zaina. Tentu bukan orang yang benar-benar menyelundup ke kantornya, bukan? Pasti ada makna lain yang dimaksud oleh Zaina. Apa itu? Barra menatap Zaina melalui map. Gadis itu sedang asyik membaca sesuatu di telepon genggam miliknya. Sesekali dia tersenyum, lalu tertawa. Barra menghela napas melihat kelakuan Zaina yang mengalihkan semua perhatiannya. Jika Zaina tetap berada di sini, Barra akan kesulitan. Dia tidak mungkin bisa berkonsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaan. Terutama saat melihat senyuman manis Zaina. Bagaimana bisa dia mengalihkan matanya dari wajah cantik itu? Dia bahkan tidak bisa berpaling meskipun banyak berkas yang harus diperiksa. “Kakak lagi mikirin apa?” Barra tersentak saat merasakan lengannya ditepuk keras. Dia menoleh dan mendapati Zaina yang menelengkan kepala. “Memang berkasnya susah banget buat dipahami? Kakak sudah lumayan lama lihat map itu.” “Kamu tidak mengerti apa-apa soal pekerjaan, jadi sebaiknya lakukan apa pun yang kamu inginkan. Tidak usah mengganggu pekerjaanku.” “Tapi Kakak itu dari tadi cuma bengong. Aku sampai takut kalau Kakak kesambet.” “Iya. Kesambet sama kamu. Kamu setannya.” “Enak saja. Cantik gini dibilang setan.” “Kamu merasa cantik?” tanya Barra sambil meneliti wajah Zaina. Semua orang setuju kalau Zaina memang memiliki paras yang sangat cantik. Dengan wajah oval dan mata bulat yang memesona. Ditambah bibir tipis dan mungil, hidung bangir serta kulit sehalus sutra. Setiap orang yang melihat Zaina akan mengatakan kalau gadis itu luar biasa ayu. Begitu juga dengan Barra. Matanya masih sangat sehat untuk membedakan wajah seseorang. Sejak dulu, dia sudah menyadari betapa cantiknya seorang Zaina. Terlebih dia melihat Zaina yang tumbuh dari waktu ke waktu. Tidak ada yang lebih memperhatikan Zaina melebihi Barra sendiri. Kenyataan itu sedikit memberi tamparan pada Barra. Dia tidak ingat kapan dirinya mulai menganggap Zaina sebagai seorang gadis yang layak untuk dicintai. Mengingat hal tersebut, rasanya sedikit tidak pantas ketika dia mengarahkan rasa cinta untuk Zaina. Bagaimana bisa dia menganggap Zaina sebagai wanita dewasa? Bertahun-tahun menggaungkan hubungan adik dan kakak, Barra merasa perasaannya salah. Dia seharusnya tetap menganggap Zaina sebagai adik kecil yang butuh penjagaan. Namun, dia malah terjebak dalam perasaan rumit seperti ini. Bagaimana bisa dia bertanggung jawab pada Khafi nanti? “Kakak melamun lagi?” Zaina sekarang memukul lengan Barra sampai pria itu mengaduh. Barra mendelik pada Zaina yang membesarkan mata. “Bisa tidak sedikit lembut. Apa kamu suka menganiaya seseorang?” “Habis Kakak melamun saja dari tadi. Kakak mikirin apa, sih? Mikirin cewek, ya?” Zaina menarik-turunkan alis sambil tersenyum lebar. Betapa sekarang Barra ingin sekali mencubit kedua pipi Zaina yang menggemaskan itu. “Apa otakmu itu hanya berisi hal-hal tidak berguna? Aku sedang bekerja. Apa ada waktu untuk memikirkan hal lain? Memangnya aku ini kamu, yang bisa memikirkan pria asing padahal sedang ada acara penting.” “Kakak nyindir aku?” “Kamu merasa tersindir?” Barra balik bertanya. Zaina menggeser duduknya untuk mendekati Barra. Menyadari hal itu, Barra ikut bergeser. “Lagian, ya. Aku enggak mikirin pria asing, kok. Aku mikirin cowok yang aku suka.” “Apa kamu sekarang dalam keadaan yang cocok untuk menyukai seseorang?” “Kenapa? Bukannya cinta itu enggak bisa ditebak, ya? Memangnya kita bisa gitu milih kapan bisa jatuh cinta? Enggak bisa, kan?” “Tapi kita bisa mengendalikan perasaan, Zaina.” “Jadi, Kakak lagi ngendalikan perasaan Kakak?” tanya Zaina penasaran. Ini mungkin waktu yang tepat untuk memancing pembicaraan mengenai wanita yang disukai oleh Barra. Dia harus memanfaatkan peluang ini sebaik mungkin. Tampaknya Barra tidak begitu nyaman dengan pembicaraan ini. Entah karena tidak ingin membicarakan topik ini. Atau karena masih jam kerja, jadi dia tidak mau membahas mengenai urusan pribadi. Zaina sendiri tidak begitu yakin apa alasan Barra berekspresi seperti itu. Barra bahkan berdeham beberapa kali, lalu kembali memperhatikan map tanpa menanggapi ucapan Zaina. Membuat Zaina menggembungkan pipi sambil menatap tak percaya pada Barra. Padahal dia sudah berusaha mengawali pembicaraan mengenai wanita yang disukai oleh Barra. Susah payah Zaina mengupayakan agar bisa mengunjungi kantor Barra, dia harus mendapatkan sesuatu. Setidaknya dia bisa menemukan petunjuk mengenai wanita yang disukai oleh Barra. Dia sudah mengamati seisi kantor dan tidak ada yang mencurigakan. Mungkin Barra menyimpan rapat semua hal yang berhubungan dengan wanita tersebut. Kalau saja Barra meninggalkan kantor barang sebentar, Zaina akan punya waktu untuk menggeledah tempat ini. Namun, kelihatannya Barra tidak berminat untuk melakukan itu. Jadi, dia harus menemukan cara lain agar bisa mendapatkan keinginannya. Bagaimana dia mengusahakannya? “Kayaknya aku benar. Iya, kan?” Zaina masih terus berusaha. “Kamu akan terus menggangguku?” “Ya, ampun, Kak. Kenapa sensitif gitu? Kakak nyembunyiin foto dia di kantor ini, kan?” Tadinya Zaina hanya ingin bermain-main, tetapi melihat keterkejutan di wajah Barra, dia semakin penasaran. Jadi, dugaannya tidak salah. Barra memang menyimpan informasi mengenai wanita itu di sini. Bagaimana ini? Apa yang harus dia lakukan agar Barra bisa menunjukkan fotonya? Kecil sekali kemungkinan kalau Barra akan melakukan hal itu. Dia terlihat berusaha keras untuk menyembunyikan kenyataan jika dia menyukai seseorang. Bahkan tidak ada yang membicarakan mengenai hal ini di rumah. Tidak Khafi ataupun Hilya. Padahal mereka sering sekali membahas mengenai jodoh Barra yang tak kunjung tiba. Mengapa Barra seolah menutupinya dari semua orang? Mungkinkah Barra jatuh hati pada orang yang tidak pantas? Zaina membelalakkan mata. Barra tidak menyukai istri orang, bukan? Itu buruk sekali. Zaina tidak tahu dari mana pikiran itu berasal. Akan tetapi, membayangkan hal seperti itu mungkin saja terjadi, membuatnya merasa bersedih. Benarkah Barra menyukai wanita yang dimiliki oleh pria lain? Betapa mirisnya kenyataan itu. Di sisi lain, ada Zaina yang terus mengharapkan cinta dari Barra. Di sisi lain, Barra justru melabuhkan cintanya pada orang yang salah. Bukankah itu terdengar seperti kisah ironi yang mengharukan? “Serius? Kakak nyembunyiin foto dia di sini? Di kantor? Di mana?” Dengan gerakan cepat, Zaina berdiri dan langsung meluncur ke arah meja Barra. Dia sudah menduga kalau ada sesuatu di laci pria itu. Ketika tangannya sudah hampir membuka laci, Barra menghentikan. Sebal, dia menatap Barra dengan tatapan protes. Padahal tinggal selangkah menuju keberhasilan. Tidak mau kalah dengan Zaina, Barra melotot. Dia berusaha memindahkan tangan Zaina dari laci mejanya. Kalau Zaina sampai melihat apa yang ada di dalam sana, habislah riwayatnya. Dia sudah cukup lama menyimpan semua foto Zaina. Apa yang akan dia katakan saat Zaina menyadari perasaannya? Sebelum terlambat, Barra harus menjauhkan Zaina dari laci itu. Akan lebih baik jika Zaina segera pergi dari kantor. Terlalu lama berada di sini bisa mengacaukan keadaan. Barra bisa-bisa kehilangan akal karena tingkah konyol Zaina yang penasaran. Dia harus menemukan cara untuk mengusir Zaina. “Jangan berani-berani membukanya. Itu bukan wilayah yang bisa kamu lihat.” “Oh, ya? Kenapa? Kakak benaran nyimpan foto dia? Di laci itu?” “Kalau kamu sangat penasaran, kamu bisa mengatakan dulu siapa pria yang kamu sukai. Bagaimana?” Zaina mengerucutkan bibir mendengar penawaran yang tidak menguntungkan itu. Mana mungkin dia membongkar rahasia di hadapan Barra. “Kenapa Kakak enggak bilang duluan?” “Kamu sedang tawar menawar denganku?” Lagi-lagi, Zaina memberengut. Dia malas kalau sudah mulai berdebat seperti ini dengan Barra. Ujung-ujungnya, dia akan kalah. Karena tidak berhasil membuka laci, Zaina kembali duduk di sofa. Barra memastikan sudah mengunci tempat rahasianya sebelum mendekati Zaina. Pria itu kelihatan sekali tidak ingin membicarakan mengenai apa yang disembunyikan di laci. Membuat Zaina dongkol setengah mati. Zaina menyilangkan kedua tangan di d**a sambil terus memandangi Barra yang sok sibuk dengan map. Dia mencibir. Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh Barra untuk memeriksa sebuah dokumen? Apa laporan yang dibuat oleh karyawannya memiliki begitu banyak kesalahan sampai Barra terus membolak-balik map? Ada yang tidak beres di sini. Zaina tahu betul itu. Barra memang tidak ingin membahas mengenai wanita yang disukainya sekarang. Kalau sudah begitu, Zaina akan mengalami kesulitan. Apa lagi kalau dia sampai memaksa Barra. Bisa-bisa Barra malah membuat jebakan untuknya. Bisa gawat kalau malah dia yang terperangkap dalam permainan Barra. “Ya, sudahlah. Aku malas ngomong sama Kakak. Kasihan banget, sih, sama cewek yang Kakak sukai. Dia pasti menderita karena disukai sama Kakak.” “Yang benar saja. Apa kamu tahu berapa banyak wanita yang mau menjadi kekasihku?” tanya Barra congkak. Zaina mendengkus. Tentu saja dia tahu kalau banyak yang menyukai sosok Barra. “Terserahlah. Aku enggak peduli. Lagian kita sama-sama enggak mau bilang. Impas, kan? Aku harap Kakak enggak terlalu penasaran sama cowok yang aku sukai.” “Tidak sama sekali. Toh, aku akan segera tahu.” “Coba saja. Aku mau lihat apa Kakak bisa ngelakuin itu.” Zaina juga penasaran, apa yang akan Barra lakukan saat tahu yang sebenarnya. Apa dia akan marah? Atau justru menerima perasaan Zaina?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN