“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Khafi saat melihat Zaina datang bersama Arisha. Dia menyipitkan mata sambil memperhatikan sang adik dari kepala ke kaki.
“Ayolah, Kak. Ini kunjungan pertamaku, lho. Enggak ada sambutan atau apa gitu?” Zaina berusaha bersikap tak acuh.
Jika Zaina meladeni sikap kaku Khafi, dia akan berada dalam masalah. Terus terang saja, kalau tidak ada Arisha di antara mereka, dia sudah lari sejak tadi. Meski Khafi adalah kakak kandungnya, dia selalu merasakan aura mengerikan saat bersama dengan sang kakak. Dan itu membuatnya tidak tenang.
Mata Zaina mengitari ruangan luas milik Khafi. Ada sebuah foto besar di belakang kursi kebesaran Khafi, foto keluarga besar mereka. Di mejanya, ada foto pernikahan Khafi dan Arisha. Di samping meja, ada lemari besar yang berisi berbagai piala dan piagam penghargaan yang diraih oleh perusahaan.
Kantor Khafi sangat rapi. Bahkan letak semua benda tertata sangat simetris. Tidak mengherankan bagi Zaina. Dia sudah tahu kalau Khafi selalu menyukai kesempurnaan. Bukan hal aneh jika melihat segalanya terlihat begitu lurus. Kalau Zaina berada lama di sini, dia bisa mati bosan.
“Khas Kak Khafi,” ujar Zaina sambil mangut-mangut. “Aku boleh tur keliling kantor?”
“Kamu tidak benar-benar ingin melakukannya, bukan?” Zaina menggembungkan pipi, lalu melirik Arisha sambil mengedip-ngedipkan mata.
“Biarkan saja, Mas. Lagi pula, Zaina, kan, hanya melihat-lihat. Dia tidak akan membuat kekacauan. Kenapa Mas terlalu khawatir?”
“Kamu yakin? Ini Zaina, Arisha,” kata Khafi memastikan. Seolah Arisha tidak sadar kalau yang sedang mereka bicarakan adalah Zaina.
Mendengar nada bicara Khafi yang menyebalkan, Zaina memutar bola mata. Tentu saja, dia melakukannya dengan membelakangi Khafi. Dia tidak mau mengambil risiko membuat sang kakak berang sebelum dia menikmati tur keliling perusahaan. Setidaknya dia harus menunggu sebentar lagi.
Pandangan Zaina menembus kaca jendela kantor Khafi. Semua orang terlihat sibuk bekerja. Dia mulai menebak-nebak, di mana keberadaan Barra. Kalau menurut perkiraan Zaina, letak kantor Barra tidak akan jauh dari tempatnya berada saat ini. Mungkin dia perlu berjalan sebentar untuk menemukan Barra.
Dengan wajah semringah, Zaina menoleh pada Khafi yang masih memasang ekspresi sedatar tembok. Dia berusaha tidak memedulikan apa yang kini dipikirkan oleh sang kakak. Sebelum Khafi melarang ini itu, sebaiknya dia menggunakan kesempatan untuk segera kabur dari ruangan tersebut.
“Makasih, ya, Kak. Aku bakal hati-hati.” Usai berkata begitu, Zaina bermaksud untuk membuka pintu kantor Khafi.
“Siapa bilang kamu sudah boleh pergi?” Zaina menoleh. Dia melirik Arisha sambil memberengut. Khafi mendelik. “Jangan memanfaatkan kakak ipar kamu.”
“Mas,” panggil Arisha sambil mengelus lengan Khafi. Pria itu menghela napas.
“Sudahlah. Tidak ada gunanya melarang kamu. Ingat, kalau kamu membuat kekacauan, jangan harap Kakak akan memaafkan.”
“Siap, Bos. Aku akan berhati-hati. Sangat berhati-hati.”
“Sudah seharusnya.” Zaina sudah setengah melangkah saat Khafi memanggilnya lagi. “Kamu tidak berencana menemui Barra, bukan?” Zaina menoleh.
“Aku sudah di sini. Masa enggak boleh ketemu Kak Barra juga? Aku pergi. Bye bye.”
Sebelum Khafi menceramahi panjang lebar, Zaina sudah menutup pintu. Dia tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi di dalam kantor sang kakak. Senyumnya mengembang saat melintasi semua pekerja Khafi yang tersenyum ramah. Sepertinya mereka mengenal siapa dia. Baguslah. Itu akan lebih mudah baginya.
Jujur saja, Zaina tidak pernah membayangkan kalau suasana perusahaan Khafi bisa setenang ini. Dia tahu kalau ini adalah jam kerja. Akan tetapi, tidak sesibuk yang dia lihat sekarang. Semua orang seolah tidak memiliki waktu bersantai. Apa memang begini cara kerja di kantor sang kakak. Sungguh mengerikan.
Bahkan tidak terlihat orang yang bergosip sambil menikmati secangkir kopi atau teh. Tadi Zaina memang sempat melihat ada seorang karyawan wanita yang tengah tertawa dengan rekannya, tetapi begitu melihat dia, mereka langsung kembali bekerja. Apa mereka khawatir dia akan mengadu. Yang benar saja.
Merasa bosan melihat semua karyawan Khafi yang bekerja, Zaina mulai bergerak mencari kantor Barra. Dia melihat sebuah ruangan di ujung. Tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Dia melihat seorang petugas kebersihan yang tengah duduk setelah membersihkan lantai. Sasaran tepat.
“Di mana kantor Barra?” tanya Zaina pada si petugas kebersihan. Pria yang masih terlihat muda itu mendongak kaget. Dia gelagapan melihat Zaina yang menyilangkan tangan di d**a. “Enggak usah takut. Aku, kan, cuma tanya, di mana ruangan Barra?”
“Maksudnya Pak Barra yang ....”
“Iya, iya. Pak Barra yang itu. Di mana ruangannya?” Zaina sudah tidak sabar.
“Pak Barra ... Dia ... Ruangannya ....”
“Siapa yang sedang kamu takuti?”
Tubuh Zaina langsung memutar begitu mendengar suara Barra. Dia melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Tidak dipedulikannya kalau ada berpasang-pasang mata yang melihat tingkahnya itu. Dengan cepat, dia berjalan ke arah Barra yang kini menghela napas panjang.
Untuk berjaga-jaga, Zaina melihat ke belakang tubuh Barra. Tidak ada yang mengikuti pria itu. Kening Zaina berkerut. Padahal dia berharap, setidaknya ada satu atau dua orang yang membuntuti Barra. Dengan begitu, dia bisa melihat bagaimana penampilan wanita yang bekerja dengan Barra saat ini.
Kalau begini, Zaina tidak akan bisa menemukan apa-apa. Bagaimana kalau wanita yang disukai Barra tidak muncul? Padahal dia ingin tahu bagaimana penampilan wanita yang berhasil menarik perhatian Barra. Mungkin sebaiknya dia mengikuti Barra ke kantornya. Mungkin akan ada petunjuk di sana.
“Kakak enggak lagi sibuk?” tanya Zaina, masih dengan senyum lebar.
“Ini masih jam kerja. Tentu saja aku sangat sibuk.” Barra memperhatikan penampilan Zaina. Hari ini, Zaina tampak manis dengan blouse panjang kotak-kotak yang dipadukan dengan rompi pendek berwarna putih. Sepasang sneakers setia menemani kedua kakinya yang panjang. Harus Barra akui, Zaina semakin pintar memilih baju.
“Aku mau ke kantor Kakak,” ucap Zaina tanpa memedulikan pendapat orang-orang yang mendengar perkataannya. Barra mendelik.
Untuk menghindari hal-hal yang lebih memalukan, Barra menarik tangan Zaina. Dia menggerakkan tangan kepada semua orang yang merasa penasaran, menyuruh mereka kembali bekerja. Tanpa perlu diminta lagi, para karyawan itu beraktivitas seperti semula. Seakan tidak melihat kejadian barusan.
Dengan tawa tertahan, Zaina mengacungkan ibu jarinya pada Barra. Pria itu melotot, tetapi tidak membuat Zaina takut. Sebaliknya, Zaina malah menutup mulut untuk menahan tawanya yang hendak meledak. Dia tidak mengerti bagaimana bisa semua karyawan terlihat takut pada Barra.
Di mana letak kesangaran Barra? Barra bahkan tidak memiliki wajah berkarisma. Dia tidak cocok disebut sebagai bos. Begitu setidaknya yang Zaina pikirkan. Barra terlihat sangat santai untuk ukuran seorang atasan. Bagaimana bisa semua menurut padanya ketika dia hanya menggerakkan telunjuk? Luar biasa.
“Wah! Kenapa aku ngerasa kalau Kakak sangat ditakuti di kantor?”
“Semua orang takut padaku, kecuali kamu.”
“Memangnya apa yang bisa ditakuti dari Kakak?” Zaina memandangi Barra dari atas sampai bawah, berulang kali. Kecuali sepasang jas yang membuat Barra tampak bersinar, tidak ada yang menakutkan pada diri seorang Barra.
“Kenapa kamu ada di sini?” selidik Barra. Zaina mengangkat bahu.
“Cuma berkunjung. Kebetulan aku lihat Kak Arisha waktu mau ke sini. Aku lagi bosan, jadi aku ikut ke sini.” Zaina memperhatikan jalanan dari jendela kantor Barra. “Pemandangan dari sini cukup bagus, ya,” ujarnya.
“Jujurlah. Apa yang sedang kamu lakukan di kantor kakakmu?”
“Aku sudah bilang, kan, kalau aku bosan.”
“Kamu bolos kuliah?” tanya Barra sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
“Enggak. Aku sudah selesai. Bukannya Kakak yang paling tahu jadwalku?”
Benar. Zaina memang tidak ada kelas lagi sekarang. Barra tahu betul itu. Lalu, kenapa gadis itu justru berada di perusahaan? Apa yang sebenarnya tengah dia rencanakan? Tidak mungkin Zaina melakukan hal ini tanpa alasan. Barra mengusap dagu, mencoba menduga apa yang tengah Zaina pikirkan.
Nihil. Barra tidak bisa menebak apa pun. Tidak ada alasan yang masuk akal untuk menerangkan keberadaan Zaina di sini. Mungkin Zaina memang sedang bosan dan kebetulan bertemu dengan Arisha, lalu berakhir di tempat ini. Apa yang perlu Barra khawatirkan? Zaina tidak melakukan apa-apa, bukan?
Meskipun begitu, Barra merasa ada yang tidak beres. Dia memperhatikan Zaina yang melihat-lihat kantornya. Zaina mengangkat sebuah foto yang dia letakkan di atas meja, foto keluarganya. Dia bersyukur karena tidak meletakkan foto Zaina di tempat yang terlihat. Matanya melirik laci yang berisi penuh gambar-gambar Zaina.
Apa pun yang terjadi, Zaina tidak boleh melihat laci itu. Kalau sampai ketahuan, Barra tidak tahu apa yang harus dikatakan. Menyimpan foto-foto Zaina dalam berbagai pose merupakan hiburan tersendiri bagi Barra. Dia selalu melihat-lihat wajah Zaina saat merasa bosan ataupun terlalu lelah bekerja.
Semua ekspresi Zaina yang ceria saat tertawa lepas mampu mengurangi beban pikiran Barra. Itu sebabnya dia memiliki banyak koleksi foto Zaina. Dia tidak peduli apa yang orang lain pikirkan saat mengetahui hal ini. Yang dia pedulikan, jangan sampai Zaina tahu mengenai kebiasaannya itu.
“Oke. Aku tahu kalau kamu tidak ada jadwal siang ini. Tapi, kenapa kamu ada di sini?”
“Aku sudah bilang, kan, aku kebetulan ada di rumah Kak Khafi dan lihat Kak Arisha mau ke sini. Terus, aku ikut. Gitu saja. Kenapa, sih? Enggak suka aku ada di sini?”
“Lumayan. Kamu berpotensi mengganggu pekerjaan kami.”
“Kami?” tanya Zaina tak mengerti. “Siapa yang Kakak maksud dengan kami?”
“Tentu saja aku dan para pegawai di sini. Kamu sadar tidak kalau kehadiran orang asing bisa memengaruhi pekerjaan mereka?”
“Oh, ya? Aku enggak berpikir gitu. Mereka tetap kerja waktu aku lewat di dekat mereka. Serius! Mereka itu penurut banget. Enggak ada karyawan yang berani bergosip atau bersantai. Kakakku memang keren.”
“Tentu saja. Kamu pikir kami main-main di kantor?”
“Oke, deh. Aku percaya kalau Kakak pasti bos yang hebat.”
Ketika Zaina berjalan ke arah mejanya, Barra mengikuti dengan cepat. Dia segera duduk di kursi begitu tangan Zaina akan menjangkau foto keluarganya. Zaina mengerutkan kening melihat tingkah Barra. Namun, dia tidak berkomentar apa-apa. Dia hanya mencibir saat melihat Barra bersandar sambil menyilangkan kedua tangan di d**a, persis seperti bos besar yang punya kekuasaan.
Melihat sisi lain dari seorang Barra membuat Zaina menyadari sesuatu. Selama ini, dia hanya mengenal Barra sebagai penjaga. Dia tidak pernah benar-benar memahami orang seperti apa Barra di luar itu. Semua karyawannya menatap penuh sopan. Artinya, Barra sangat disegani di sini.
Itulah sisi yang tidak bisa Zaina lihat selama ini. Dia hanya bergaul dengan penjaga yang terus mengatur kehidupannya. Dia tidak melihat sisi lain pada diri Barra. Ternyata, dia tidak begitu mengenal Barra seperti dugaannya. Barra memiliki banyak sifat yang mungkin tidak dia tunjukkan pada Zaina. Tiba-tiba, Zaina ingin lebih mengenal Barra yang kini berada di hadapannya.
“Kenapa melihatku seperti itu? Apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Enggak ada. Aku cuma penasaran, kenapa para karyawan Kakak itu bisa sebegitu takut dan menurut pada Kakak. Padahal penampilan Kakak biasa saja.”
“Hanya kamu yang berani berkata seperti itu padaku. Sebaiknya jaga sikap kamu selama kamu ada di perusahaan kakakmu.”
“Kenapa? Apa aku bakal kena masalah kalau enggak nurutin Kakak?”
“Siapa yang tahu. Mungkin saja.” Barra menaikkan alisnya. “Jadi, apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan di sini?”
“Aku mau nangkap penyelundup.”
“Penyelundup? Penyelundup apa?”
“Penyelundup yang berani mencuri hati Kak Barra dariku.”