Bab 15: Merenung

1813 Kata
Wajah cantik Zaina masih menyita perhatian Barra. Dia masih belum bisa melupakan kejadian di dapur kemarin. Momen yang hanya berlangsung beberapa menit itu mampu memengaruhi seluruh hari Barra. Entah sudah berapa kali dia melamun di sela-sela pekerjaannya. Kalau Khafi sampai tahu, dia bisa kena masalah. Beruntung sekali Khafi belum muncul untuk bertemu dengan Barra. Dari dalam kantor, Barra memperhatikan semua karyawannya yang sibuk bekerja. Tidak ada tanda-tanda kalau mereka melihat ke arah tempat kerjanya. Memangnya mereka punya banyak waktu untuk melakukan semua itu? Jika kedapatan tidak tertib di saat jam kerja, Khafi bisa memberikan sanksi tegas. Akan sangat beruntung kalau dia tidak sampai tahap pemecatan. Barra harus berterima kasih karena Arisha bisa sedikit memberi rem pada kekejaman Khafi. Jadi, banyak karyawan yang bisa diselamatkan. Mengenai nama-nama dosen yang dicurigai sebagai pria yang disukai oleh Zaina, Barra sudah mendapat kepastian. Tidak satu pun dari mereka memiliki kesempatan itu. Artinya orang yang Zaina sukai bukan mereka. Lantas, siapa pria yang dimaksud Zaina? Siapa pria dewasa yang mungkin berada di sekeliling Zaina tanpa Barra sadari? Dia harus segera memeras otak. Hari ini Barra tidak mungkin membolos lagi atau Khafi benar-benar akan curiga. Mungkin malam dia baru bisa melihat Zaina kembali. Bukan untuk bersenang-senang tentunya, melainkan untuk melanjutkan sesi latihan soal persiapan ujian semester. Barra sungguh tidak mengerti bagaimana bisa gadis itu tidak memahami apa pun dari tahun ke tahun. Demi membuat Zaina memahami semua mata kuliah, Barra harus rela mencari berbagai metode yang paling mudah. Dia sedikit menyesal karena menyarankan Zaina mengambil jurusan akuntansi. Kalau Zaina memilih jurusan yang disukainya, mungkin Barra tidak perlu serepot ini sekarang. Hanya saja, Zaina tidak pernah betul-betul memiliki sesuatu yang disukai. Dia suka menggambar, tetapi sekadarnya sadar. Gadis itu juga suka memasak, tetapi tidak pernah ingin menjadi koki atau menekuni dunia kuliner. Dia pun menyukai dunia fashion. Namun, lagi-lagi, untuk keseriusan ke arah sana tidak ada. Intinya, Zaina belum pernah menyukai sesuatu sampai ingin mengejar hal itu dalam hidup. Dia seakan sekadar memenuhi impian semua orang yang sekelilingnya. Seperti sekarang, dia kuliah karena Barra yang menentukan jurusan. Dia senang melihat kebanggaan Hilya dan Khafi saat membicarakan proses belajarnya. Itu saja. Zaina tidak b*******h pada apa pun. Barra berulang kali bertanya apa yang paling ingin Zaina kerjakan. Namun, Zaina belum pernah menjawab dengan serius. Itu sebabnya Barra mencoba mengarahkan. Zaina sempat tertarik pada dunia keuangan saat sekolah menengah atas, jadi Barra memutuskan untuk meminta Zaina memilih jurusan akuntansi. Ternyata Zaina masih sangat labil. Dia berubah-ubah setiap saat. Barra sampai bingung menghadapi keinginan gadis itu. Kalau dia terus berubah, masa depannya mungkin akan sedikit kacau. Barra harus menekannya agar dia bisa memutuskan hal yang tepat untuk tujuan hidup. “Apa yang kamu pikirkan?” Barra mendongak. Khafi sudah duduk di sofa. Sejak kapan dia ada di sana. “Aku sudah di sini cukup lama,” ucap Khafi saat melihat tatapan Barra padanya. Barra menghela napas. “Kenapa ke sini? Ada yang tidak beres?” “Apa aku tidak boleh berada di sini? Kenapa kamu seakan beranggapan kalau ini adalah wilayahmu dan tidak ada yang boleh datang?” “Kalau kamu datang untuk membuatku kesal, sebaiknya pergi. Aku sedang tidak ingin berdebat. Pikiranku sedang kacau.” “Kacau? Itu istilah yang cukup berat untuk seorang Barra. Ada apa? Masih memikirkan soal wanita yang kamu sukai itu?” “Berhentilah selagi bisa,” kata Barra mengingatkan. Dia sungguh tidak ingin membahas mengenai hal itu dengan Khafi. Setidaknya bukan sekarang. Khafi punya insting kuat terhadap adik-adiknya. Menceritakan mengenai orang yang disukai oleh Barra sama saja dengan mengaku kalau Barra menyukai Zaina. Barra belum ingin mengatakan hal itu pada sang sahabat. Belum saatnya Barra membongkar rahasia. Dia masih ingin bersembunyi sedikit lebih lama sebelum membuat pengakuan. Berdoa saja semoga Khafi tidak terus mendesak. Wajah saja jika pria itu ingin tahu mengenai percintaan Barra. Bukan apa-apa. Barra memang belum pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun. Jadi, aneh saja kalau tiba-tiba Barra suka pada seseorang. Pasti ada yang tidak beres. “Kenapa? Takut ketahuan siapa wanita yang kamu sukai itu?” ucap Khafi menantang. Barra mendengkus. Khafi tidak akan mudah menyerah. “Jangan menyesali apa pun.” Barra melirik ke luar ruangan. Suasana masih terkondisi dengan baik. “Aku tidak mau membahas mengenai hal itu sekarang.” “Sepertinya dugaanku benar. Aku mengenal wanita itu, bukan?” “Berhenti! Jangan mengatakan apa pun lagi. Kamu membuat suasana hatiku bertambah kacau. Sebaiknya kamu pergi saja kalau tidak ada yang lain.” “Kalau kamu bersikap seperti itu, aku akan semakin penasaran.” “Dan aku yang bertanggung jawab?” Khafi tersenyum sejenak. Membuat Barra memutar bola mata. “Sepertinya kamu tidak punya banyak harapan untuk mendapatkan wanita itu,” kata Khafi kejam. Barra menatap penuh permusuhan. Mendengar kenyataan seperti itu membuat Barra tertegun. Tampaknya dia memang tidak memiliki harapan untuk mendapatkan Zaina. Dia tidak punya keberanian untuk mengejar. Bahkan meski sedikit saja, dia hanya ingin memastikan jika Zaina bisa bahagia di mana pun dia berada. Meraih Zaina dan membiarkan gadis itu di sampingnya, terlihat tidak benar. Barra tidak bisa mengatakan mengapa, tetapi dia merasa akan sulit mewujudkan keinginannya tersebut. Apa lagi Zaina jelas sudah menyukai pria lain. Jika hati sudah memilih, mana bisa mengubahnya dengan begitu mudah? Benar. Zaina belum tentu berjodoh dengan pria yang disukainya. Perjalanan cinta Zaina masih begitu panjang mengingat usianya yang belum genap dua puluh tahun. Meski begitu, ini adalah cinta pertama Zaina. Sulit sekali mematahkan hati orang yang tengah dimabuk asmara. “Lihat wajahmu itu.” Khafi berdecap. “Jangan memikirkan apa pun yang akan kamu sesali. Kamu tidak akan bisa mendapatkan wanita itu kalau sikapmu seperti ini.” “Memangnya apa yang salah dengan sikapku? Sudahlah. Jangan ikut campur dalam masalahku. Pergi saja. Aku tidak membutuhkan saran dari orang seperti kamu.” “Yakin? Padahal aku mendapatkan wanita terlebih dulu dari pada kamu.” “Kamu hanya sedang beruntung dan Arisha sangat malang karena bertemu denganmu.” Khafi mendelik mendengar ucapan Barra yang menyinggung itu. “Jangan salahkan aku kalau kamu sampai tidak bisa mendapatkan wanita yang kamu sukai itu,” ujar Khafi serius. “Aku pastikan kamu akan melalui ujian berat.” Dia menambahkan sebelum pergi meninggalkan Barra seorang diri. “Tentu saja. Berat sekali mendapatkan cintaku kali ini,” gumam Barra. Dia menghela napas, lalu memandangi langit-langit kantor. Memikirkan sulitnya jalan yang akan ditempuh untuk mendapatkan Zaina membuat Barra memajukan bibir. Dia tidak yakin bisa menghilangkan perasaan Zaina pada pria yang disukai. Gadis itu terlihat begitu menyukai si pria misterius. Entah bagaimana tepatnya Zaina bisa jatuh cinta. Barra sangat penasaran. Bagaimana bisa Zaina jatuh ke tangan pria lain tanpa Barra sadari? Rasanya sangat menyebalkan melihat bagaimana cara Zaina tersenyum saat membayangkan pria itu di hadapannya. Dia jadi geram sendiri dan ingin berteriak pada si pria kurang ajar yang telah membuat Zaina jatuh cinta. Tidak tahukah pria itu kalau ada Barra yang terus menunggu Zaina selama bertahun-tahun? Mengapa justru dia yang akhirnya membuat Zaina jatuh hati? Bagaimana bisa? Apa alasannya? Kenapa Zaina bisa menyukai dirinya? Mengapa Zaina tidak menyukai Barra saja? Pikiran-pikiran itu membuat Barra tidak bisa mengontrol diri. Dia menggebrak meja sambil berteriak, tidak peduli kalau ada yang mendengar. Setidaknya dia butuh pelampiasan setelah menahan perasaan bertahun-tahun belahan ini. Bolehkah dia bersikap egois mulai sekarang? Dia ingin merebut Zaina. Bolehkah? *** “Kenapa lagi, sih?” Kamila bertopang dagu sambil memperhatikan Zaina yang terlihat tidak bersemangat sama sekali. “Enggak ada. Lagi enggak mood saja.” Zaina menghela napas lagi. “Kamu tahu enggak sudah berapa kali kamu kayak gitu?” tanya Kamila sambil menirukan gerakan Zaina yang terus menghela napas. Zaina terkikik sebentar. “Gaya kamu enggak enak banget dilihat,” ujar Zaina. “Itu yang mau aku bilang. Kamu enggak enak dilihat. Dari tadi cuma ngehela napas. Kayak yang punya banyak masalah sendiri tahu?” “Aku memang lagi banyak masalah, Mil. Wajar, dong, kalau penampilanku kayak gini.” “Paling juga masalah kamu enggak jauh-jauh dari Kak Barra. Iya, kan?” Sepertinya wajah Zaina memang sudah menjelaskan banyak hal. Seakan di kening lebarnya ada tulisan 'Masalahku adalah segala hal yang berhubungan dengan Barra'. Mau bagaimana lagi, dia sama sekali tidak menemukan titik terang mengenai wanita yang disukai oleh Barra. Dia tidak bisa menebak siapa orang itu. Memperhatikan Barra mungkin tidak akan berarti banyak. Zaina sangat yakin kalau Barra tidak bertemu dengan wanita mana pun. Dia mulai menebak-nebak Mungkinkah wanita yang disukai Barra adalah rekan kerjanya di kantor. Jika benar, kemungkinan besar Zaina akan kesulitan menyelidiki. Tidak ada yang akan mengizinkan Zaina mengunjungi kantor Khafi. Sampai detik ini, Zaina belum pernah sekali pun pergi ke tempat itu. Alasannya sangat sederhana, baik menurut Khafi maupun Barra, Zaina berpotensi menimbulkan keributan di suatu tempat. Jadi, akan lebih baik kalau gadis itu tidak muncul di kantor mereka. “Apa Kak Barra memang satu-satunya masalahku?” “Memangnya apa lagi? Kamu masih mikirin siapa yang dia sukai?” “Aku penasaran banget. Mungkin enggak, sih, kalau dia suka sama orang kantor?” “Aku juga mikir gitu. Coba kamu ingat-ingat. Dia enggak pernah berhubungan dengan wanita mana pun, kan? Orang yang sering dia temui selain kamu, ya orang-orang di kantornya. Benar enggak?” “Kamu juga mikir gitu? Jadi, aku perlu pergi ke kantor Kak Khafi?” “Memangnya kamu bisa ke sana?” tanya Kamila ragu. Bibir Zaina mengerucut mendengar pertanyaan itu. Tentu saja akan sulit mewujudkan keinginannya untuk mengunjungi kantor sang kakak. Meski begitu, Zaina harus menemukan cara pergi ke kantor Khafi. Dia tersenyum begitu menemukan sebuah cara. Namun, demi melancarkan usahanya, dia membutuhkan bantuan seseorang. Pertanyaan, bagaimana dia bisa membujuk orang itu agar mau membantunya lolos ke perusahaan sang kakak. “Kamu ketemu caranya?” Melihat cara Zaina tersenyum, Kamila merasa kalau sang sahabat sudah memiliki ide. Dia tidak yakin kalau itu akan berhasil. Khafi punya banyak cara untuk menggagalkan semua rencana. Begitu juga Barra. Sejujurnya, bagi Kamila, kedua pria itu sama-sama menakutkan. Ada berbagai senjata yang mereka sembunyikan. “Aku bakal minta bantuan Kak Arisha,” ujar Zaina sambil mengangguk-angguk. Kamila mendekat untuk mendengarkan rencana Zaina lebih lanjut. “Kamu yakin kakak iparmu bisa bantu?” “Kita lihat saja nanti,” kata Zaina. Dia menyilangkan tangan di d**a. “Sebentar lagi jam makan siang. Biasanya, Kak Arisha bakal ngantar makan siang ke kantor buat Kak Khafi. Aku harus bisa ikut dia kali ini.” Kamila mangut-mangut. Dia menepuk pundak Zaina untuk memberikan semangat. Perjuangan mendapatkan cinta orang dewasa seperti Barra memang tidak mudah. Kamila tidak berminat untuk menyukai pria yang umurnya bertaut lama. Dia ingin menjalankan kehidupan normal sebagai wanita yang bebas mencintai. Ya, meski entah kapan hal itu akan tercapai. “Good luck. Aku berdoa buat keberhasilan kamu.” “Harus, dong. Kamu, kan, sahabatku. Kalau gitu, aku pergi sekarang.” Baru saja Kamila hendak berpesan untuk berhati-hati, tetapi Zaina sudah pergi terlebih dahulu. Dia hanya bisa menghela napas sambil memperhatikan Zaina yang berlari tanpa menoleh ke belakang lagi. Tampaknya, Zaina sudah tidak tertolong lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN