Mata Zaina melirik Barra yang perlahan menjauh dari dapur setelah mendapat sebuah panggilan. Dia merasa lega sekaligus kecewa di saat bersamaan. Lega karena bisa lepas dari ketegangan yang diciptakan oleh tatapan memabukkan Barra. Namun, dia juga merasa kecewa karena mengharapkan hal lebih.
Pasti Zaina terlalu berpikir jauh. Sesaat lalu, dia hampir saja mengira kalau Barra akan memberikan ciuman padanya. Mereka sudah sangat dekat tadi. Nyaris tidak ada jarak di antara mereka. Lalu, sebuah deringan telepon mengganggu semua bayangan indah yang sudah terekam dalam kepala Zaina.
Ini benar-benar membuat Zaina berdebar. Dia masih harus memiliki d**a setelah Barra pergi. Jantungnya seakan mau pecah karena berdetak terlalu kencang. Gadis itu menghela napas sambil memejamkan mata. Kemudian, dia memperhatikan nasib kue yang hendak dikerjakan. Sepertinya kegiatan ini tidak akan menghilangkan stres yang dia rasakan beberapa saat lalu.
Demi menjaga hatinya tetap terkontrol, Zaina bermaksud meninggalkan dapur. Dia akan meminta para asisten rumah tangganya untuk membereskan semua kekacauan yang ditinggalkannya. Sekarang, dia harus cepat-cepat menghindari Barra. Sayang, saat hendak melangkah, Barra sudah muncul terlebih dahulu.
“Ya, Allah!” teriak Zaina, terkejut dengan kedatangan Barra.
Hampir saja Zaina terjerembap ke lantai kalau Barra tidak sigap menangkap tubuh kecil itu. Zaina melotot pada Barra yang kini tengah menopang dirinya agar tidak jatuh. Begitu menyadari bahwa posisinya cukup mengkhawatirkan, dia cepat-cepat berdiri tegak. Dia berdeham untuk menutupi perasaan aneh yang terus menyiksanya.
Suasana dapur entah bagaimana bisa berubah menjadi sangat panas. Dia mengipasi wajah dengan tangan. Lalu, mendelik lagi pada Barra sebelum akhirnya meninggalkan pria itu di dapur. Dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Kalau tetap di sana, dia akan kembali membayangkan yang tidak-tidak.
“Zaina!” panggil Barra, tetapi tidak dihiraukan oleh Zaina. “Katanya mau membuat kue. Kenapa malah ditinggal?”
“Malas. Kakak terusin saja kalau mau. Aku capek, mau mandi,” ujar Zaina tanpa menoleh. Dia terus melanjutkan langkah, tidak berminat untuk berbalik.
“Yakin? Aku makan saja, ya.” Barra berteriak.
“Terserah.”
Tidak peduli apa yang akan Barra lakukan pada kue yang ingin dihias. Zaina hanya perlu berendam dan menghilangkan semua bayangan aneh yang membuat jantungnya terus berdebar. Dia tidak bisa membiarkan Barra tahu mengenai hal ini. Bagaimana kalau Barra malah meledek dirinya.
Kejadian tadi sudah cukup membuat Zaina malu. Dia tidak mau menambahnya dengan terus berada di dekat Barra. Aura yang diciptakan pria itu semakin menarik dirinya. Dia tidak ingin tergoda dan malah terjerumus dalam kegalauan yang tidak berujung. Siapa yang akan bertanggung jawab nanti?
Saat ini, satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan hati Zaina hanya dia sendiri. Dia tidak bisa memercayai siapa pun untuk menjaga pertahanannya. Benteng yang dia bangun tampaknya mulai runtuh. Dia membutuhkan lebih banyak kekuatan untuk membangun kembali. Atau dia bisa tertangkap.
Sebenarnya apa yang tengah direncanakan oleh Barra? Mengapa dia tadi seakan membuka gerbang dan membiarkan Zaina masuk? Hampir saja Zaina terpengaruh dan terhanyut dalam godaan sesaat itu. Beruntung, Barra berhenti di waktu yang sangat tepat. Jadi, Zaina bisa mengendalikan diri.
***
Sementara di dapur, Barra mengatur napas berkali-kali. Dia memukuli kepalanya sendiri beberapa kali saat mengingat apa yang dia lakukan tadi. Sebenarnya apa yang ada dalam pikirannya ketika melakukan semua itu. Beruntung Zaina tidak terbuai dan membiarkan dia berada dalam penyesalan.
Hanya saja, Barra merasa ada yang salah. Entah pada dirinya atau pada diri Zaina. Rasanya kejadian tadi terasa mengganjal. Zaina jelas menyukai seorang pria, tetapi mengapa dia sempat terbuai dengan sentuhan Barra? Tunggu dulu! Gadis itu tidak sedang memikirkan pria yang disukainya saat bersama Barra, bukan?
Memikirkan kemungkinan itu membuat Barra mengepalkan tinju. Dia menggerebek meja, tidak terima dengan bayangan yang belum tentu kebenarannya. Namun, melihat wajah manis Zaina sedekat tadi sangat menggoda sisi lain dalam dirinya. Dia jadi sulit mengendalikan hatinya yang berdebar-debar.
“Sedang apa, Bar?” Barra menoleh dan mendapati Hilya yang sudah rapi setelah mandi. Barra tersenyum sambil menyugar rambut.
“Tadinya mau bantu Zaina bikin kue, tapi dia bilang dia capek. Jadi, gagal sudah makan kue malam ini,” ujar Barra berusaha menutupi debar aneh yang terus mengganggu. Dia melirik Hilya yang memperhatikan kue Zaina.
“Wah! Sayang sekali. Padahal kamu sangat lezat kalau buat kue. Tapi, ya, sudahlah. Sepertinya Zaina yang merengek minta ditemani. Kamu baru pulang kerja?”
“Iya, Nek. Kebetulan tadi langsung mampir ke sini.”
“Dan langsung kena todong sama Zaina?” tebak Hilya. Barra hanya meringis. “Seharusnya kamu tidak terlalu memanjakan Zaina. Lihat bagaimana dia bergantung padamu. Padahal dia sudah dewasa. Kamu juga tidak bisa menjaga dia selamanya. Iya, kan?” Barra lagi-lagi tersenyum.
“Tidak masalah, Nek. Hanya sebentar lagi.”
“Tetap saja. Kalau kamu terus begini, Zaina tidak akan pernah dewasa.” Kali ini, Barra tertawa. Zaina memang sulit untuk tumbuh menjadi sosok yang dewasa. Apa itu memang karena kesalahan Barra?
“Kalau mau jujur, kadang Zaina sudah mulai berpikir dewasa. Pelan-pelan saja, Nek. Aku yakin Zaina bisa tumbuh dengan sangat baik.”
“Harus, dong. Dia punya guru sepintar kamu. Dia juga harus bisa tumbuh sebaik kamu. Kalau tidak, berarti dia memang bebal.” Barra tertawa.
Di tempat yang tidak terlalu jauh, Zaina mengerucutkan bibir. Dia terus memikirkan pembicaraan antara Barra dan sang nenek. Ada kalimat yang mengganggu dan dia sangat ingin tahu apa maksudnya. Mengapa Barra berkata seperti itu? Mungkinkah ini pertanda kalau Barra akan berhenti menjaganya?
Kalimat itu sepertinya tidak begitu menyita perhatian Hilya. Buktinya Hilya tidak mempertanyakannya pada Barra. Lain dengan Zaina yang merasa ada arti tersirat dalam kata-kata itu. Apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Barra? Kenapa dia mengatakan hal seperti itu?
“Tidak masalah, Nek. Hanya sebentar lagi.”
Apa tepatnya maksud Barra dengan sebentar lagi? Apa Barra bermaksud untuk meninggalkannya dalam waktu dekat? Mengapa kalimat itu bisa terlontar dari mulut seorang Barra? Ada apa ini sebenarnya? Kenapa Zaina merasa kalau arti dari kata-kata itu tidak baik sama sekali?
Benarkah Barra akan pergi meninggalkan Zaina? Kenapa? Ke mana? Berapa lama? Kapan? Apa dia akan berpamitan pada Zaina? Apa dia akan pergi begitu saja? Mengapa dia harus pergi? Apa dia sudah merasa bisa menjaga Zaina? Kenapa dia tiba-tiba memutuskan untuk melepaskan tanggung jawabnya sebagai penjaga?
Tidak ada jawaban yang pasti untuk semua pertanyaan Zaina. Dia menghela napas, lalu berjalan gontai meninggalkan dapur. Kenapa juga dia tadi kembali ke tempat itu dan harus mendengar semua perkataan Barra? Harusnya dia tetap di kamar dan merenungkan mengenai perasaannya pada Barra.
***
“Itu, kan, cuma pendapat kamu, Zai,” ujar Kamila di ujung sana.
Setelah mendengar kenyataan kalau Barra akan meninggalkan dirinya, Zaina merasa tidak tenang. Jadi, untuk membuat perasaannya lebih baik, dia menghubungi Kamila dan menceritakan semua yang dia dengar. Tidak ada satu kalimat pun yang dia lupakan saat bercerita pada Kamila.
Seperti dugaannya, Kamila merasa kalau Zaina berlebihan. Menurut Kamila, Zaina hanya terlalu takut kehilangan sosok Barra dalam hidup. Jadi, kalimat sensitif seperti itu membuatnya gelisah. Padahal belum tentu Barra benar-benar pergi. Mungkin bukan itu yang dimaksudkan oleh Barra saat mengatakannya.
Apa pun itu, perasaan Zaina tidak bisa tenang. Kalimat Barra terus terulang di kepala dan menyiksa Zaina cukup lama. Dia sungguh ingin menanyakan mengenai hal ini pada Barra. Dia mau bertanya apa Barra memang akan pergi meninggalkannya? Rasanya sangat menakutkan membayangkan hal itu terjadi.
“Sudahlah, Zai. Jangan terus memikirkan hal ini. Kamu enggak bisa menyimpulkan sesuatu yang belum jelas, kan?” kata Kamila saat Zaina tidak menanggapi perkataannya. Dia menghela napas ketika Zaina tetap diam. “Zaina!”
“Iya. Aku dengar, kok.”
“Aku pikir kamu sudah tidur atau malah pergi cari Kak Barra lagi.”
“Memangnya aku segila itu? Aku lagi malas ketemu dia.”
“Malas ketemu, tapi terus bicara soal dia. Kamu yakin?”
Zaina menghela napas. Dia memang seperti itu. Mengatakan kalau dia sebal dengan Barra, tetapi terus membicarakan pria itu. Bilang ini itu mengenai Barra, tetapi tetap menurut saat Barra memerintahkan melakukan sesuatu. Berkata tidak mau bertemu, tetapi mengendap-endap untuk menyelidiki keberadaan Barra.
Entah Zaina yang kekanakan atau Barra yang sengaja mempermainkan. Yang pasti, Kamila sudah dibuat pusing dengan kelakuan Zaina yang selalu membicarakan omong kosong mengenai Barra yang begini dan Barra yang begitu. Dia tidak mengerti mengapa Zaina bisa begitu menyukai Barra.
Di sisi lain, Kamila juga sedikit geram dengan sikap Barra yang tidak jelas. Memang, dia berpendapat kalau Barra melakukan semua itu untuk menjaga Zaina. Tetap saja. Terkadang Barra memang menyebalkan. Dia seakan tidak mau kalau Zaina berpacaran dengan siapa pun.
Baiklah. Kamila bisa menganggapnya sebagai kekhawatiran seorang kakak. Dia juga mengalami hal yang sama dengan Zaina. Bedanya, dia diawasi oleh kakak kandungnya. Sementara Zaina dan Barra tidak memiliki hubungan darah apa pun. Barra hanya sahabat kakak Zaina. Tidak lebih.
Apa tepatnya alasan Barra melakukan semua itu belum bisa dipastikan. Kamila juga tidak ingin menduga-duga dan malah memberikan harapan palsu pada Zaina. Dia tahu bagaimana Zaina menyukai Barra. Kalau pada akhirnya Barra pergi, sahabatnya itu pasti akan sangat terluka.
“Apa menurut kamu dia akan benar-benar pergi? Maksudku, apa dia perlu meninggalkanku?” tanya Zaina takut-takut.
“Kamu tahu kalau cepat atau lambat dia bakal ngelakuin itu, kan? Kamu sudah cukup dewasa buat dijaga, Zai. Kita sudah tingkat empat. Mungkin sebentar lagi, kakak-kakak kita bakal ngerasa kalau kita sudah bisa dilepas. Iya, kan?”
“Tapi, dia bukan kakakku, Mil.”
“Aku tahu, Zai. Tapi, dia selalu bertindak seperti seorang kakak, kan?”
“Itu ....”
Meski sulit mengakui, Zaina tahu kalau apa yang Kamila katakan benar sekali. Barra memang selalu bersikap seperti seorang kakak baginya. Dia mengajarkan banyak hal pada Zaina. Dia juga menjaga Zaina dengan sangat baik. Memberikan batasan ini itu pada Zaina agar Zaina tidak terjerumus.
Dilihat dari sisi mana pun, perlakuan Barra memang tampak seperti kasih sayang kakak kepada adik. Dia melakukan apa pun agar Zaina bisa berhasil. Tidak pernah sekali pun tindakan Barra menunjukkan perasaan khusus. Ya, kecuali kejadian di dapur tadi. Apa itu terhitung perlakuan khusus?
Entahlah. Zaina tidak yakin. Dia hanya menikmati waktu-waktu itu. Perasaan yang sempat melayang kini harus kembali terjatuh. Dan semua karena kata-kata Barra yang, lagi-lagi, membuatnya ragu. Dia merasa kalau Barra sedang memainkan sesuatu di belakangnya.
“Itu apa? Apa ada yang terjadi di antara kalian?” Zaina diam. Dia memang belum bercerita mengenai kejadian mendebarkan di dapur tadi.
“Enggak ada. Aku cuma lagi sebal. Ya, sudahlah. Maaf ganggu waktu kamu.”
“Tumben tahu diri,” sindir Kamila. Zaina mencibir meski tahu Kamila tidak melihat.
“Iya, iya. Maaf sudah ganggu waktu berharga kamu.”
Tanpa menunggu jawaban dari Kamila, Zaina menutup panggilan begitu saja. Dia memejamkan mata. Bayangan Barra yang tersenyum lebar sungguh menggoda. Tangannya menggapai untuk meraih sosok itu, tetapi tidak bisa. Bahkan dalam khayalan pun, Barra sulit untuk diraih. Kenapa Zaina bisa berharap sejauh itu?