“Kamu bakal kayak gitu sampai kapan?”
Kamila sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan Zaina yang terus berjalan ke sana kemari sejak tadi. Dia baru saja tiba di rumah saat tiba-tiba Zaina muncul. Sahabatnya itu mengatakan kalau ada hal penting yang harus mereka bicarakan, tetapi ternyata dia hanya mondar-mandir tidak jelas.
Mendapat pertanyaan yang tidak disukai, Zaina hanya meletakkan telunjuk di bibir. Lalu, dia melanjutkan acara jalan-jalan tidak jelas, mengintai kamar Kamila yang berukuran empat kali empat. Sepertinya dia sama sekali tidak memedulikan tatapan Kamila yang sudah siap membakar apa pun.
Niat awal untuk membaca hilang sudah. Padahal Kamila sudah menandai beberapa buku yang akan disantap siang ini. Rencananya jadi berantakan karena kehadiran Zaina yang begitu mendadak. Belum lagi Zaina hanya membuatnya stres. Bagaimana tidak, Zaina terus menggumamkan kalimat tidak jelas sambil berjalan.
Setidaknya Zaina bisa menceritakan duduk permasalahan yang dia hadapi. Kalau hanya berjalan tidak keruan seperti itu, bagaimana Kamila bisa tahu apa yang dipikirkannya. Yang ada, Kamila malah ingin menarik Zaina keluar dari kamar, lalu memintanya pergi. Dia paling sebal kalau melihat orang membuatnya penasaran.
“Zaina!” teriak Kamila tak sabar. Zaina yang tengah bergumam berhenti, lalu menoleh padanya. Dia meringis. Sadar jika bersalah, dia duduk di dekat Kamila.
“Sori. Aku, kan, lagi mikir, Mil,” ujar Zaina sambil tersenyum lebar.
“Lagi mikir? Aku lihatnya kamu itu lagi mondar-mandir enggak jelas. Bikin orang tambah pusing tahu? Kamu mikirin apa coba?”
“Memangnya apa lagi yang bisa buat aku kayak gini?” Zaina bertanya, lalu menghela napas panjang. Dia menengadah ke langit-langit kamar.
“Kali ini apa yang dia bilang?”
Tidak ada hal lain yang bisa memengaruhi Zaina sebesar permasalahannya dengan Barra. Jadi, kalau ada yang membuatnya gelisah tidak menentu, itu pasti ada hubungannya dengan si penjaga. Begitulah yang bisa Kamila pelajari setelah hampir dua tahun mengenal sosok Zaina.
Ekspresi wajah Zaina yang berubah mendung saat Kamila bertanya menandakan ada hal tidak baik. Kamila tidak mengerti bagaimana Zaina bisa terus memikirkan Barra, padahal pria itu selalu memberikan harapan kosong. Sebenarnya bukan begitu. Zaina saja yang terlalu berharap pada Barra.
Jatuh cinta memang merepotkan. Kamila tidak tahu kalau Zaina bisa sangat setia pada Barra. Bukan hal mudah menyukai orang dalam kurun waktu lama. Ditambah dia harus menyembunyikan perasaannya. Apa lagi namanya kalau bukan hebat? Atau terlalu berani? Terlalu buang-buang waktu? Terlalu bodoh?
Entah mana yang cocok menggambarkan situasi Zaina saat ini. Kamila tidak berharap banyak. Dia hanya ingin Zaina bahagia setelah menemukan cintanya. Namun, tampaknya harapan itu akan sulit terwujud. Terutama karena sasaran cinta sang sahabat adalah orang yang sulit digapai.
“Dia enggak nembak kamu, kan?” tanya Kamila lagi.
“Kalau dia nembak aku, aku enggak bakal ada di sini. Kami mungkin sudah pergi berdua sekarang.” Zaina mengerutkan bibirnya sambil menunduk.
“Gitu saja sedih. Apa, sih, yang dia bilang sampai kamu terlihat stres?”
“Dia bilang dia suka sama seseorang.”
Akhirnya badai itu datang juga. Kamila tahu kalau hari seperti ini akan datang. Hanya soal menunggu waktu yang tepat. Dia memandangi Zaina yang masih tertunduk. Bagi pria dewasa semacam Barra, tidak mungkin dia terus sendiri. Barra tentu memiliki kehidupan percintaannya sendiri, bukan?
Lagi pula, Kamila sudah sering mengingatkan Zaina mengenai kemungkinan ini terjadi. Akan tetapi, yang namanya orang dimabuk cinta akan sulit diperingatkan. Kata-kata Kamila mungkin hanya sepintas lewat, lalu menguap bersama udara. Sekarang setelah Barra mengaku, apa yang akan Zaina lakukan?
“Jadi, kamu lagi patah hati ceritanya?”
“Itu sudah pasti. Bagaimana bisa aku enggak patah hati? Tapi, kalau mau jujur, dari pada mikir patah hatiku, aku lebih penasaran, Mil.” Zaina mengangkat kepala dan menatap Kamila dengan wajah penuh semangat.
“Penasaran sama apa?”
“Aku penasaran siapa wanita yang dia sukai.”
“Apa menurut kamu ada kemungkinan dia bohong?” Zaina menggeleng keras.
“Justru sebaliknya, Mil. Dia sangat jujur waktu bilang ada yang dia sukai. Aku enggak pernah lihat dia mengaku sejujur ini sebelumnya.”
“Jangan-jangan dia suka sama kamu, Zai,” goda Kamila. Kalimat itu bagai meteor yang siap menghancurkan tempat Zaina tinggal.
“Bisa enggak bercandanya yang asyik?”
“Habis kata kamu dia enggak pernah terlihat dekat sama wanita mana pun. Cuma kamu satu-satunya orang yang ada di dekat dia. Iya, kan?”
“Memang iya. Tapi mana mungkin dia suka sama aku. Kalau memang dia juga suka sama aku. Bukankah itu bakal lebih mudah buat dia? Dia tinggal bilang, kan?”
“Mungkin ada hal yang ganggu dia? Persahabatannya dengan kakakmu, misalnya.”
Kali ini, Zaina benar-benar memikirkan kemungkinan itu. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia. Meski Zaina tidak mau begitu saja memercayai pendapat Kamila, kalimatnya tetap mengganggu. Berapa persen kemungkinan Barra juga menyukai Zaina? Entahlah. Zaina tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Rasanya tidak mungkin kalau Barra juga menyimpan perasaan pada Zaina. Zaina bahkan tidak berani berharap sampai sejauh itu. Melihat bagaimana cara Barra menyampaikan mengenai sosok yang disukai, sepertinya orang itu sangat istimewa. Mana mungkin Zaina adalah orang yang sangat beruntung begitu.
Bisa melihat dan mencintai Barra dari jauh saja sudah lebih dari cukup. Namun, sebagai seorang pencinta, ada kalanya dia ingin melanggar batas dan mengejar cintanya. Sekali saja, dia ingin mengatakan isi hatinya pada Barra. Bisakah dia menerima kekalahan jika bukan dia pilihan Barra kelak?
“Jangan berpikir jauh, Mil. Kejadian kayak gitu terdengar drama banget.”
“Memangnya hidup kamu enggak drama gitu? Kalau aku enggak sedekat ini sama kamu, aku pasti sudah ngira kalau kamu lagi syuting drama.”
“Kamu ngaco, deh.”
“Iya. Gadis yang tiap hari diawasi dan punya penjaga over protektif kayak Kak Barra. Bukannya itu ciri khas drama? Dan akhirnya kalian bakal jadi pasangan.”
“Sudahlah. Pikiranmu sepertinya lagi kacau. Aku pulang saja.”
“Yakin? Aku pikir kamu bakal curhat lagi.”
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Zaina. Dia melambaikan tangan, lalu berjalan gontai keluar kamar Kamila. Sambil bergumam supaya tidak mengantarnya, dia terus menghela napas. Kepalanya sudah mengeluarkan asap panas sejak tadi. Bagaimana cara dia mendinginkan suasana itu?
Di belakang si gadis, Kamila hanya menggeleng berkali-kali. Dia tidak mengerti benar bagaimana keluarga Zaina mengatur kehidupan mereka. Rasanya ada begitu banyak rahasia yang tersimpan di setiap sudut rumah besar milik Hilya tersebut. Setiap Kamila ke sana, selalu ada yang mengusik dirinya.
Sikap keluarga Zaina baik pada Kamila. Bahkan sangat baik. Akan tetapi, Kamila bisa merasakan kalau ada sesuatu yang tidak biasa. Dia tidak ingin menduga-duga. Lalu pula, untuk apa dia memikirkan semua itu. Selama Zaina baik-baik saja, dia tidak memedulikan hal lain.
***
“Wah! Harum sekali. Sedang membuat apa?”
Zaina mendengkus saat mendengar suara itu. Dia berkutat di dapur membuat kue ini untuk melupakan pembicaraan dengan Barra. Namun, Barra malah muncul dengan santai di dapur sambil memperhatikan hasil karyanya. Apa pria itu begitu memiliki banyak waktu luang untuk mengganggu dirinya?
Pandangan Zaina beralih pada jam dinding yang ada di dapur. Sudah hampir jam lima sore. Pantas saja Barra sudah berada di rumah Hilya. Pakaian pria itu sudah berganti sepasang jas rapi. Zaina mulai tidak menyukai sikap Barra yang menganggap rumah Hilya sebagai rumahnya sendiri.
Dibandingkan menghabiskan waktu di rumahnya sendiri, Barra lebih sering terlihat di rumah Hilya. Dia tidak pernah merasa canggung meski berjam-jam berada di rumah itu. Kalau kata Zaina, Barra malah sudah menganggap rumah neneknya sebagai tempat tinggal. Dia mengerjakan semua hal di sana tanpa perlu izin.
Salah Hilya juga yang selalu membebaskan Barra keluar masuk. Terlebih lagi, Hilya percaya penuh pada Barra. Jadi, pria itu merasa bebas melakukan segalanya tanpa merasa enggan. Dia tidak butuh izin siapa pun untuk memasuki semua ruangan yang ada di dalam rumah ini.
“Kakak sudah mandi? Bukan. Kakak setidaknya sudah cuci tangan, kan?” tanya Zaina sambil berkacak pinggang ketika melihat Barra mencolek krim yang akan dia oleskan ke kue yang sudah disiapkan.
“Hmmm, tanganku bersih. Serius!” Barra memainkan sebelah matanya.
“Kakak tahu enggak kalau Kakak itu ganggu kegiatan aku?”
“Oh, ya? Ngomong-ngomong, krim ini kurang manis,” ujar Barra. Dia mencolek krim dengan telunjuk, lalu tanpa permisi menyuapi Zaina.
Mendapat perlakuan tiba-tiba dari Barra membuat Zaina geram. Meski begitu, dia tetap merasakan krim yang kini ada di mulutnya. Krim itu memang kurang manis. Dia menghela napas karena keterampilannya membuat krim belum sebaik Barra. Mau bagaimana lagi, dia tidak bisa menangkap semua penjelasan Barra dengan baik.
Benar sekali. Bahkan untuk urusan dapur, Barra yang mengajari Zaina. Apa pun yang bisa Zaina masak sampai hari ini, itu adalah hasil jerih payah Barra selama berbulan-bulan. Atau mungkin bertahun-tahun. Dulunya, Zaina tidak menyukai dapur. Menurutnya, memasak merupakan hal yang membosankan. Kemudian, Barra memaksanya melakukan pekerjaan rumah, termasuk aktivitas masak memasak.
Tidak mudah membujuk Zaina menyentuh berbagai pekerjaan rumah tangga di usia remaja. Namun, Barra meyakinkan Zaina kalau semua orang harus bisa merasakan kehidupan sehari-hari tanpa membedakan status. Meski berasal dari keluarga berada, Zaina semestinya mampu melakukan semua pekerjaan itu.
“Mau aku bantu buat hiasan?” tawar Barra.
“Enggak perlu. Lebih baik Kakak pergi saja. Mandi atau apa gitu. Enggak usah gangguin aku di sini. Bikin tambah pusing saja.”
“Justru aku di sini untuk menghilangkan semua keluhan yang kamu rasakan.” Barra merapikan dasinya yang sebenarnya tidak miring sama sekali.
“Lihat Kakak saja sudah buat aku sebal, tahu enggak?”
“Kenapa? Karena kamu penasaran tentang siapa orang yang aku suka?”
“Untuk apa coba aku mikirin itu? Aku enggak peduli siapa orang yang Kakak sukai. Memangnya itu penting buat aku?”
Ada sesak yang memenuhi hati Zaina saat mengatakan semua itu pada Zaina. Dia berusaha berkonsentrasi pada kue yang siap dihias. Untuk menyingkirkan gangguan dari kepala, dia menghela napas sambil memejamkan mata. Ketika sudah merasa cukup tenang, dia mulai mengambil krim berwarna putih.
Yang mengejutkan, saat Zaina bermaksud mengoleskan krim ke kue, dia merasakan sebuah tangan yang menggenggam. Ketika menoleh, dia mendapati wajah Barra yang berada begitu dekat dengan dirinya. Pria itu tidak melihat ke arahnya, melainkan ke arah kue yang tadi hendak dihias.
Untuk beberapa waktu, Zaina memperhatikan wajah Barra yang semakin tampan. Kapan lagi dia bisa melihat Barra dari jarak sedekat ini. Namun, ketika dia sedang asyik mengagumi hidung mancung di hadapannya, Barra menoleh. Mereka kini saling bertatapan. Dunia seakan berhenti untuk mereka.
Keterkejutan yang sempat Zaina tunjukkan membuat Barra kehilangan akal. Dia membelai sisi wajah Zaina dengan sangat pelan. Sentuhan itu membuat sekujur tubuh Zaina merinding. Meski mereka dekat, mereka belum pernah berada dalam situasi seperti saat ini. Jadi, dia tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Tangan Barra berlanjut menyelipkan beberapa anak rambut Zaina yang menutupi pipi. Pria itu bisa merasakan kalau tubuh Zaina menegang. Namun, dia tidak bisa menghentikan tangannya lagi. Seolah ada yang menjalankannya sendiri. Dia menikmati setiap kali Zaina mengerjakan mata.
Apa ini? Kenapa rasanya sangat menyenangkan? Bolehkah dia melakukan hal yang sedikit lebih jauh?