Bab 12: Patah Hati

1772 Kata
“Apa kamu penasaran?” Sebaiknya mulut itu dikunci rapat oleh Barra. Dia jelas tidak mau terlibat dalam masalah yang mungkin berakhir tidak seperti keinginannya. Lalu, mengapa dia repot-repot mengajukan pertanyaan yang bisa membuatnya terjatuh ke dalam lubang jebakan? Bukankah tadi dia sudah berhasil mengendalikan diri? Ke mana perginya Barra yang mampu menjaga hati selama bertahun-tahun? Apa dia sungguh semudah itu digoyahkan? Apa rasa penasaran mengenai pria yang disukai oleh Zaina begitu penting? Apa semua pertahanan yang dia bangun akan diruntuhkan oleh dirinya sendiri? Bukankah akan sia-sia jika Barra mengorbankan semua sekarang? Mengapa dia sulit sekali mengendalikan hatinya sebentar lagi? Apa dia masih belum mengerti kedudukan Zaina sekarang? Kalau Zaina tahu yang sebenarnya, apa itu akan baik bagi mereka berdua? Bisakah mereka mendapatkan kebahagiaan? “Kakak mau bertaruh?” tantang Zaina. Mata gadis cantik berkilat. Dia memandang Barra penuh perhitungan. Jika Barra berani jujur mengenai siapa orang yang disukai, dia juga akan melakukan hal yang sama. Namun, tampaknya Barra tidak semudah itu memberikan jawaban kepada Zaina. Zaina tahu pasti tatapan Barra mengatakan demikian. Pancingan yang diberikan oleh Barra hanya untuk menangkap ikan di sungai. Dia tidak benar-benar ingin memberi tahu yang sebenarnya pada Zaina. Sebaliknya, dia hanya menginginkan informasi mengenai pria yang disukai oleh gadis itu. Zaina tidak mengerti mengapa dia bisa menyukai seseorang yang egois seperti Barra. Dari dulu juga begitu. Barra selalu mendapatkan sesuatu darinya dengan sangat mudah. Zaina terus saja dirugikan. Pertahanan Zaina tidak sekuat itu. Dia mudah terpancing ketika Barra mengeluarkan jurus-jurus pamungkasnya. Jadi, dia harus berhati-hati kalau tidak mau ketahuan. “Aku memang menyukai seseorang,” ujar Barra sambil menatap lekat kedua mata Zaina. Jelas sekali tidak ada keraguan dalam kalimat itu. Entah mengapa mendengar langsung pernyataan itu dari mulut Barra membuat hati Zaina terasa teriris. Dia menurunkan kedua tangan dari meja, lalu mencengkeram rok yang dikenakannya. Dengan sekuat tenaga, dia berusaha menjaga air mukanya untuk tetap sama. Barra tidak boleh tahu apa yang dipikirkan oleh dirinya. “Benarkah? Siapa? Apa aku kenal?” “Kamu penasaran? Bagaimana kalau kita saling jujur sama? Aku mengatakan siapa wanita yang aku sukai dan kamu juga akan melakukan hal yang sama.” “Kakak ingin tahu siapa pria yang aku sukai?” “Pria?” ulang Barra sambil mengerutkan kening. Kata 'pria' yang disebutkan oleh Zaina memberikan keyakinan pada dirinya kalau pria yang disukai oleh Zaina sudah cukup dewasa. Jadi, benar? Zaina menyukai pria dewasa? “Benar. Apa aku enggak boleh sebut dia pria? Aku memang suka sama orang yang sudah dewasa. Enggak ada batasan buat orang yang lagi jatuh cinta, kan?” “Oke. Aku bisa mengerti itu. Jadi, siapa pria itu?” Wajah Barra yang tetap tenang membuat Zaina mengeratkan cengkeraman di kedua sisi roknya. Meski begitu, dia masih mencoba untuk bersikap tenang. Dia tidak boleh gegabah untuk bertindak. Jika tidak, bisa masuk ke dalam jebakan yang sudah dipersiapkan baik-baik oleh Barra. Atau Zaina bisa berpura-pura terjatuh, agar Barra juga melakukan hal yang sama. Bisakah dia bertaruh kali ini? Dia belum pernah menang saat bertaruh hal-hal penting bersama Barra. Pria itu punya banyak trik agar bisa mengalahkan Zaina. Gadis itu yakin kalau sekarang juga tidak akan berbeda jauh. Lihatlah bagaimana senyuman menghiasi wajah datar Barra sekarang. Di sana seolah tertulis 'katakan saja kalau kamu berani, kamu tidak akan bisa melakukannya'. Dia sangat percaya kalau Zaina tidak akan memberi tahu dengan mudah. Akan tetapi, dia tetap mencoba peruntungan untuk membongkar rahasia Zaina. “Kakak pikir aku bakal kasih tahu. Mimpi saja terus,” ejek Zaina. Dia menjulurkan lidah, lalu memasang wajah penuh permusuhan. “Wah! Kamu tidak akan menyesal. Bukankah kamu sangat penasaran mengenai orang yang aku sukai?” “Enggak sebesar rasa penasaran Kakak tentang pria yang aku sukai. Iya, kan?” Mau tidak mau, Barra harus mengakui perkataan Zaina. Tampaknya, memang dia yang lebih penasaran. Pengakuan Zaina yang sangat tiba-tiba begitu mengguncangkan dunia Barra. Dia benar-benar kesulitan mengendalikan diri dari apa pun yang berbau gadis itu. Ini buruk sekali. Barra hanya tidak menyangka kalau Zaina akhirnya bisa menyerahkan hati pada orang lain. Selama ini, Zaina hanya berada di sekitar Barra dan menuruti semua perintahnya. Akan aneh rasanya saat Zaina tak akan lagi memenuhi semua perintah yang Barra berikan. Sekarang saja, Zaina sudah mulai memberontak dan itu karena pria misterius yang membuat Barra tidak bisa berkutik. Lagi pula, mendapatkan jawaban dari satu pertanyaan itu juga sangat sulit. Sudah sejak semalam Barra melacak semua pria yang kemungkinan disukai oleh Zaina. Dia juga mengerahkan para penjaga untuk menyelidiki tersangkanya satu per satu. Sampai siang ini, belum ada informasi mengenai siapa sosok itu. Kalau dibolehkan, Barra ingin sekali melemparkan seisi meja di hadapannya. Dia belum pernah gagal untuk mendapatkan informasi mengenai apa pun yang berkaitan dengan Zaina. Jadi, mengapa kali ini dia justru merasa gelisah. Jika bisa sedikit tenang, dia mungkin akan mendapatkan apa diinginkannya. “Oke. Kita lihat berapa lama kamu akan menyembunyikan pria itu dariku,” kata Barra. “Oke. Aku tahu kalau Kakak bakal tahu cepat atau lambat. Aku harap kali ini aku enggak harus nunggu lama. Aku mungkin bakal bosan.” “Sepertinya kamu sengaja memberiku petunjuk?” “Petunjuk? Soal pria yang aku suka?” Barra mengangguk. “Aku enggak bermaksud gitu, tapi kalau Kakak ngerasa itu adalah petunjuk, aku enggak bakal menyalahkan. Seperti yang aku bilang tadi. Aku memang mau Kakak tahu siapa pria yang aku suka.” Kilatan di kedua mata Zaina semakin terang. Barra sampai harus berpaling untuk mengusir semua hal aneh yang mendadak menyerang dirinya. Dia tidak begitu mengerti apa yang tengah terjadi. Entah mengapa dia merasa kalau jawaban yang dia dapatkan nanti akan berakibat buruk baginya. “Teruslah bersikap seperti ini. Kamu bukan orang yang mudah goyah, bukan?” “Maksud Kakak apa?” “Kamu sudah jatuh hati pada pria itu, jadi kamu tidak mungkin beralih pada Daniel Daniel itu, bukan? Dia sepertinya suka padamu.” “Aku enggak peduli. Sejak awal, aku cuma anggap dia teman. Pria yang aku sukai enggak bisa dibandingkan dengan Daniel.” “Mengagumkan!” Barra bertepuk tangan. “Aku bisa melihat betapa kamu menyukai pria itu. Setidaknya, kamu bukan gadis yang suka selingkuh.” “Kakak benar-benar pilih kata itu?” “Kenapa? Aku mengatakan hal yang benar, bukan? Kamu gadis yang setia.” Zaina menghela napas. “Kalimat itu lebih indah di dengar,” ucapnya sambil tersenyum. “Omong-omong kamu tidak mau beralih pada Daniel saja? Dia punya segala hal yang diimpikan oleh wanita mana pun. Wajah tampan, otak cerdas, harta melimpah, dan yang terpenting, dia menyukaimu. Jarang-jarang ada orang yang menunjukkan kasih sayang secara terbuka seperti Daniel.” “Kakak lagi nyuruh aku pacaran? Wow! Sungguh keajaiban. Bukankah biasanya Kakak selalu ngelarang aku buat pacaran?” “Peraturan tetap sama. Tidak ada yang berubah, Zai. Aku tetap tidak mengizinkan kamu berpacaran dengan pria mana pun.” “Sudah aku duga. Kakak enggak bakal aduin ini sama Kak Khafi, kan?” “Kamu pikir aku melaporkan semua hasil pekerjaanku padanya?” “Memangnya enggak?” Pembicaraan ini mulai tidak menyenangkan. Seharusnya, sejak awal Barra tidak membicarakan hal ini dengan Zaina. Lagi pula, tidak ada gunanya berharap Zaina akan mengatakan semua secara suka rela. Barra hanya tidak menduga kalau Zaina bisa bersembunyi dengan sangat baik. Semua penjaga tidak ada yang menyadari hal itu. Zaina berhasil menyimpan rapat-rapat mengenai rahasianya. Itu membuktikan kalau dia sangat menyukai si pria. Dia bahkan berjuang agar tidak ada orang yang tahu. Lalu, mengapa dia ingin Barra mengetahui siapa pria yang disukainya? Tidak peduli apa pun itu, Barra sedikit lega karena sepertinya si pria belum mengetahui tentang perasaan Zaina. Dengan begitu, Zaina mungkin tidak akan bertindak terlalu jauh. Melihat sikap Zaina, Barra sangat yakin kalau gadis itu juga bukan orang yang bisa mengungkapkan perasaannya dengan mudah. Tunggu saja sampai kapan Zaina berhasil menyembunyikan pria itu? Barra juga bukannya orang yang mudah dikalahkan. Dia akan berjuang habis-habisan untuk membongkar kedok si pria. Ap pun yang terjadi, dia pasti bisa menemukan rahasia Zaina. Sama seperti sebelum-sebelumnya. *** Nyaris saja Zaina merasa akan ketahuan. Dia hampir saja membongkar rahasianya sendiri pada Barra. Ini karena Barra menyodorkan tawaran yang menggiurkan mengenai sosok yang disukainya. Sekarang, kekesalannya pada Barra semakin bertambah. Jadi, Barra sudah menyukai seseorang? Pandangan mata Barra tidak bisa menyembunyikan kenyataan itu dari Zaina. Zaina percaya dengan apa yang dilihatnya. Barra memang benar-benar telah menyukai seseorang. Entah Barra sudah mengungkapkannya atau belum. Mengenai pilihan ini, Zaina belum bisa memastikan. Fakta bahwa Barra telah melabuhkan hati pada seseorang membuat Zaina patah semangat. Sejak meninggalkan rumah makan, dia hanya melihat-lihat sosial media. Biasa itu adalah hal yang menyenangkan. Apa lagi jika ada komentar-komentar yang cukup menghibur. Namun, kali ini berbeda. Kepala Zaina kacau begitu mendengar pengakuan Barra. Sebelumnya, dia hanya menebak-nebak. Lain dengan sekarang. Barra sendiri yang mengaku kalau dia menyukai seseorang. Itu sudah lebih dari cukup. Zaina harus segera mempersiapkan diri agar tidak terjatuh terlalu dalam. Bukankah Zaina sudah mengetahui konsekuensi kalau Barra akhirnya menyukai seorang wanita? Kenapa sekarang dia merasa tidak rela melepas penjaganya itu? Rasanya berat memberikan Barra kebebasan untuk bersama wanita lain di saat dia masih berperang melawan patah hati. “Kamu di mana, Zai? Kalian ngomongin apa? Aku penasaran banget.” Sebuah pesan dari Kamila membuat Zaina menghela napas. Dia menggerakkan tangan, bermaksud untuk membalas pesan itu ketika tiba-tiba mobil berhenti. Merasa kalau belum sampai tujuan, Zaina mendongak. Dia menoleh pada Barra yang menatap lurus ke depan. “Kenapa Kakak mendadak berhenti?” “Kamu tidak lihat? Ada kucing lewat,” ujar Barra. Zaina melongo. Dia melihat ke arah yang sama dengan Barra. Seekor kucing memang sedang menyeberang jalan. Siapa yang membiarkan binatang imut itu menantang bahaya di jalanan seperti ini? “Kakak enggak bermaksud bawa dia juga, kan?” Bukan apa-apa. Saking sayangnya pada binatang, sudah tidak terhitung berapa banyak binatang yang sudah Barra tolong di jalanan. Dia tidak pandang bulu saat menyelamatkan hewan. Kalau merasa perlu, dia akan meminta bantuan orang lain. Bisa dibilang, Barra adalah penyayang nomor satu binatang. Anehnya, Barra bahkan tidak memiliki satu pun hewan peliharaan di rumah. Saat Zaina bertanya mengenai hal ini, dia bilang kalau binatang itu perlu kebebasan sesuai dengan habitatnya. Menurutnya, lebih baik membiarkan mereka tumbuh di lingkungannya atau di tangan orang yang lebih profesional. “Dia pakai kalung, Zai. Jadi, dia pasti punya majikan. Siapa yang menelantarkan kucing semanis itu? Benar-benar keterlaluan.” Komentar itu membuat Zaina menghela napas. Barra memperhatikan sampai sang kucing menepi dan meringkuk di sebuah teras pertokoan. Zaina bisa mendengar Barra mendengkus saat menyaksikan kelakuan kucing itu. Dia hampir yakin kalau Barra akan turun dan membawa kucingnya, tetapi ternyata tidak. “Kalau tidak bisa merawat sesuatu, sebaiknya lepaskan saja,” omel Barra setelah menginjak gas. Zaina hanya diam. Di saat seperti ini sebaiknya dia tidak berkomentar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN