Sudah lewat jam makan siang saat akhirnya Zaina keluar dari perpustakaan. Begitu melihat sosok gadis itu, Barra langsung mendekat. Dia tidak mau menunggu lebih lama lagi. Kalau dia terlambat, mungkin Zaina akan memutuskan untuk pergi ke tempat lain bersama kedua temannya.
“Mau makan siang bareng?”
Itu bukan pertanyaan dari Barra. Mendengar tawaran yang diberikan oleh Daniel, Barra melotot. Dia berjalan semakin cepat sebelum Zaina sempat merespons. Merasa ada yang tidak biasa dengan ekspresi Barra, Zaina mengerutkan kening. Dia melihat ke belakang Barra. Matanya melirik ke sana sini.
“Ikut aku sekarang,” perintah Barra.
“Kakak sudah selesai bicara dengan Bu Hanny?”
“Sudah. Ayo, pergi.” Sekali lagi, Barra menegaskan.
“Oke.” Zaina menoleh pada Daniel dan Kamila. “Kalian makan berdua saja. Tugasnya dilanjut besok, kan?”
“Iya. Besok saja. Hari ini sudah cukup,” ujar Daniel. Dia melirik Barra sebentar.
“Kami duluan, Kamila dan ... Daniel.” Barra mencoba tersenyum seperti biasa. Padahal hatinya sudah terbakar sejak tadi.
Tidak ada respons selain anggukan dari Kamila dan Daniel. Barra tidak terlalu memedulikan. Yang penting, Zaina sudah mengikutinya sekarang. Rencana yang telah dia susun, sudah berjalan setengahnya. Dia hanya perlu bertanya dan dia tidak bermaksud untuk melepaskan Zaina dengan mudah kali ini.
Selepas melihat kepergian Zaina, Daniel menoleh pada Kamila yang masih berdiri di tempatnya. Dia ingin menawarkan makan siang, tetapi ragu. Tanpa kehadiran Zaina, rasanya akan aneh kalau hanya berdua dengan Kamila. Jika dia membatalkan atau paling tidak memundurkan acara ini, apa Kamila akan tersinggung?
“Mau makan berdua saja?” tanya Daniel. Dia langsung memaki dalam hati karena mengajukan pertanyaan seperti itu pada Kamila.
“Enggak usah. Aku tahu kalau kamu sebenarnya cuma mau makan sama Zaina.”
“Bukan begitu. Aku cuma merasa agak aneh kalau makan berdua. Makanya tadi aku ajak kalian. Biar enggak aneh.”
“Iya. Aku ngerti. Kita makan lain kali saja kalau ada Zaina. Aku duluan.”
Daniel tersenyum canggung. Dia tidak begitu mengerti bagaimana cara berinteraksi dengan gadis. Anehnya, kenapa tadi saat berbicara dengan Zaina, terasa begitu menyenangkan. Dia tidak merasa bingung atau sejenisnya. Semua seolah mengalir secara alami dari dalam pikirannya.
Kalau mau jujur, Daniel memang tertarik pada Zaina. Ini juga kali pertama bagi dirinya. Biasanya, dia tidak akan mau memperhatikan hal lain selain pelajaran atau cita-cita di masa depan. Dia juga tidak pernah berpikir akan mengalami ini. Namun, bayang-bayang Zaina terus saja mengganggu.
Ketika akhirnya punya kesempatan untuk bersama Zaina, Daniel sangat bersyukur. Dia akan menggunakan waktu itu untuk mengejar Zaina. Tidak peduli jika dia akan diterima atau ditolak. Tetap harus ada perjuangan, bukan? Setidaknya dia sudah mengatakan mengenai perasaannya pada gadis itu. Selesai.
***
“Kita mau ke mana?” tanya Zaina saat mobil Barra sudah berjalan cukup lama.
“Kamu mau makan apa?”
“Hmmm, sate kambing?” Barra tertawa mendengar usulan Zaina.
Tidak pagi, siang, atau malam, Zaina selalu mengatakan menu itu. Dia pikir toko sate buka dua puluh empat jam. Saking sukanya dengan makanan yang satu ini, Barra yang semula tidak suka jadi ketularan suka. Bagus untuk Barra. Dia jadi tidak susah menyesuaikan diri saat diajak menikmati menu istimewa ala Zaina.
Di samping Barra, Zaina mengerucutkan bibir. Ekspresi Barra selalu sama ketika Zaina mengatakan menu favoritnya itu. Memangnya salah kalau dia menyukai sate kambing. Tekanan darah yang cenderung rendah membuatnya terbiasa memakan itu. Bukannya bosan, dia malah kebablasan.
Lagi pula, bagi Zaina, sate kambing adalah makanan paling enak sedunia. Entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu. Barra merasa kalau Zaina memang sedikit unik saat memilih hal-hal yang disukainya. Kalian akan tertawa begitu mendengar apa minuman favoritnya. Bahkan di usianya sekarang. Seleranya belum berubah.
“Dan kamu mau minum apa?”
“Air putih saja.” Jawaban itu kembali membuat tawa Barra meledak. Zaina mendelik. “Enggak usah ketawa terus kenapa? Kak Barra sendiri yang bilang kalau aku mau makan sate, minumnya harus air putih.”
“Ya masa kamu minumnya s**u cokelat?”
Betul sekali. s**u cokelat masih menjadi primadona di mata Zaina sampai saat ini. Tidak ada hari tanpa minuman itu. Di dalam lemari pendingin, selalu tersedia s**u cokelat dalam berbagai ukuran. Anehnya, Zaina bahkan tidak terlihat malu meminumnya di hadapan banyak orang.
Sungguh kenyataan yang patut diacungi jempol. Tidak banyak orang yang mau mengakui hal kekanakan seperti itu di depan umum. Ya, kecuali si pelaku belum merasa dirinya cukup dewasa. Seperti Zaina contohnya. Tentu saja pendapat itu hanya Barra simpan di dalam hati. Kalau Zaina sampai tahu, Barra bisa habis.
Perasaan Zaina sangat sensitif terhadap hal-hal seperti itu. Dia akan langsung meledak jika ada yang menganggapnya kekanak-kanakan. Padahal tingkah lakunya memang masih mencerminkan itu. Mulai dari selera makan sampai berpakaian. Dia masih belum bisa menyesuaikan diri.
Omong-omong soal pakaian. Hari ini Zaina cukup manis dengan kemeja putih yang diberi pita di leher. Paduan midi skirt bermotif kotak-kotak sangat cocok dengannya. Gadis itu menyempurnakan penampilannya dengan sneakers putih dan totebag warna senada. Kenapa Zaina jadi sangat berbeda?
“Penampilan kamu hari ini cukup bagus,” ujar Barra tanpa menoleh. Zaina tersenyum mendengar ada nada pujian dalam kalimat Barra. Dia senang karena pada akhirnya Barra menyadari penampilannya hari ini.
“Benarkah? Kamila bilang baju ini cocok banget buat aku. Gimana? Apa aku sudah terlihat dewasa sekarang?” Barra mendengkus mendengar pertanyaan itu.
“Kenapa kamu mau terlihat dewasa?”
“Biar Kakak enggak ngejek aku anak kecil lagi.”
“Memangnya mengganti cara berpakaian saja sudah membuat kamu terlihat dewasa? Yang benar saja. Tingkahmu bahkan tidak berubah sedikit pun.”
“Jadi, menurut Kakak, sia-sia saja aku berpakaian seperti ini?”
Menyadari ada alarm bahaya di kepala, Barra menepikan mobil dengan cepat. Kebetulan dia juga sudah sampai di tempat tujuan sebentar lagi. Dia menoleh pada Zaina yang sudah siap meledak. Kalau dia sampai memilih kata-kata yang salah, sudah bisa dipastikan kalau Zaina akan uring-uringan.
Hanya saja, Barra tidak merasa kalau apa yang dia katakan adalah sebuah kesalahan. Memangnya ada orang yang berubah dewasa hanya karena berganti baju? Tidak, bukan? Memang penampilan bisa diubah dengan hal itu, tetapi kedewasaan tidak diukur dari cara seseorang berpakaian saja.
Bagi Barra, kedewasaan harus tercermin dari sikapnya. Dan Zaina memang masih jauh dari semua itu. Dia tidak mengerti mengapa Zaina repot-repot mengubah diri. Toh, kalau orang yang disukainya tulus, dia akan menerima Zaina bersama kekurangan dan kelebihan. Pendapat ini tidak salah, bukan?
“Bukan begitu, Zai. Aku hanya mau berkata kalau kamu tidak perlu mengubah apa pun untuk menjadi dewasa. Kedewasaan muncul perlahan seiring waktu. Jadi, kenapa kamu tidak menunggu saatnya tiba nanti?”
“Dan kapan waktu itu datang?”
“Entahlah. Bisa minggu depan, bulan depan, tahun depan, atau bertahun-tahun yang akan datang. Tidak bisa dipastikan.”
“Itu terlalu lama. Bagaimana kalau orang yang aku sukai menemukan orang lain?” gumam Zaina sambil menunduk. Barra mengerutkan kening. Tampaknya Zaina benar-benar menyukai orang itu.
“Kalau dia memang menyukaimu, dia akan tetap menerima kamu, walaupun kamu belum dewasa,” ucap Barra, mencoba menenangkan keadaan.
“Enak banget Kakak bilang begitu. Buat gadis kayak aku, suka sama dia itu butuh keberanian. Mana mungkin aku bisa lepas dia dengan mudah.”
Zaina mengaduh saat merasakan sebuah ketukan di kepala. Dia mendongak dan menatap tajam si pelaku yang kini tersenyum lebar. Kemarahannya menguap begitu saja. Mana bisa dia mengeluarkan amarah pada pria manis di hadapannya itu. Hatinya benar-benar meleleh melihat senyuman si pria.
Kalau Barra terus bersikap seperti ini, Zaina akan semakin sulit mengontrol diri. Bisa-bisa Barra mengetahui perasaannya. Dia harus lebih berhati-hati. Kalau sampai Barra tahu apa yang dia rasakan, mau bagaimana dia menjelaskan. Setidaknya dia haus mempersiapkan mental dulu sebelum semua itu terjadi.
“Aku lapar. Kapan kita akan makan?” tanya Zaina mengalihkan pembicaraan. Barra menunjuk sebuah restoran di hadapan mereka. “Kenapa enggak bilang dari tadi?”
***
“Alhamdulillah kenyang,” ujar Zaina setelah menghabiskan sate terakhirnya. Dia melirik Barra yang sudah bersandar di kursi.
“Sudah kenyang?” tanya Barra. Zaina mengangguk. “Perlu porsi ketiga?”
“Enggak usah ngeledek. Aku, kan, lapar. Lagian, ini cuma sate. Mana kenyang kalau cuma satu porsi. Iya, kan?”
“Iya. Terserah apa kata kamu saja. Yakin tidak kurang?”
“Dibungkus saja bagaimana?”
“Dibungkus?” ulang Barra untuk memastikan.
“Iya. Untuk Nenek. Kita bungkus dua porsi.”
“Yang satu porsi buat Dzaky?” tanya Barra sambil menahan tawa. Zaina tidak menjawab. Dia hanya memandang piringnya yang sudah kosong.
“Kakak mau pesan atau enggak? Kalau enggak, kita pulang saja.”
“Iya, iya. Gitu saja marah. Katanya mau dewasa.” Zaina mendelik mendengar perkataan Barra yang terakhir.
Perut Barra terasa mulas karena menahan tawa. Padahal dia baru saja memakan satu porsi sate yang lezat. Sayang sekali kalau makanan itu sampai keluar lagi, bukan? Untuk mengurangi gejolak di perut, dia memanggil pelayan dan meminta dua bungkus sate seperti permintaan Zaina.
Tentu saja Barra tahu kalau maksud dua bungkus Zaina adalah untuk dirinya sendiri dan Hilya. Zaina tidak pernah membelikan apa pun untuk Dzaky karena pemuda itu jarang sekali menginjakkan kaki di rumah. Dia lebih suka menghabiskan waktu untuk melukis di ruangan terbuka. Entah di taman, pantai, atau bahkan pasar.
Dzaky suka mengamati kehidupan masyarakat di sekitar. Jadi, dia sering pergi mencari objek lukisan yang nyata. Baginya, melukiskan kejadian yang sesungguhnya akan lebih mengesankan. Hasilnya juga akan jauh lebih baik. Dia memiliki banyak lukisan bertema kegiatan harian seseorang atau kelompok.
“Aku boleh tanya sesuatu?” Zaina tiba-tiba bertanya.
“Tumben sekali kamu bertanya. Biasanya juga langsung bertanya.”
“Ih, Kak Barra. Aku, kan, serius. Boleh tanya enggak?”
“Boleh. Tanya apa saja juga boleh,” jawab Barra. “Lagi pula, kamu selalu bertanya padaku untuk semua hal. Kenapa sekarang jadi sungkan.” Dia mencoba menahan diri agar tidak mengatakan hal-hal aneh lagi sebelum mata Zaina benar-benar keluar.
“Apa yang mau kamu tanyakan?” tanya Barra serius.
“Sebagai orang yang sudah dewasa, apa yang Kakak lihat dari seorang wanita?”
“Hmmm, pertanyaannya sedikit sulit. Aku belum pernah memikirkan hal ini. Tapi, aku bukan orang yang hanya menyukai penampilan. Aku lebih tertarik pada hatinya.”
“Yang benar saja. Mana ada orang seperti Kakak. Semua pria selalu melihat penampilan dulu. Benar, kan?”
“Tidak semua pria begitu, Zai. Aku contohnya. Karena itu, aku sulit mendapatkan orang yang aku sukai.”
“Kakak suka sama seseorang?”
Ada rasa penasaran besar di kedua mata Zaina. Barra bisa melihatnya dengan sangat jelas. Akan tetapi, Barra tidak bermaksud untuk membongkar rahasia. Dia menghela napas, lalu kembali bersandar di kursi. Lebih baik dia menghindari pembahasan mengenai suka-sukaan ini. Atau dia bisa terjebak sendiri seperti sekarang.