Bab 10: Makan Kertas

1682 Kata
“Itu Bu Hanny, bukan?” tanya Kamila begitu Zaina kembali duduk di sampingnya. “Kamu kenal dia?” “Semua orang kenal dia, Zai. Ya ... kecuali kamu mungkin.” “Kamu juga kenal Bu Hanny?” tanya Zaina pada Daniel. “Tentu saja. Dia dosen termuda, terpintar, dan tercantik.” “Kamu kenal dia karena dia muda, pintar, dan cantik?” Daniel tampak berpikir sebentar. “Sebenarnya, dia juga sangat baik pada para mahasiswanya. Dia dosen yang sabar.” “Wah! Kelihatannya dia memang hebat,” ujar Zaina. Hatinya tercabik-cabik mendengar kenyataan itu. Mungkinkah tipe Barra adalah wanita dengan segudang kelebihan? Suasana hati Zaina berubah suram. Dia memandangi buku-buku yang terbuka di atas meja. Haruskah dia memakan setiap kertas yang ada di buku itu? Mungkin dengan begitu, dia bisa menjadi orang yang lebih pintar. Lantas, dia tertawa dalam hati. Bisa-bisanya dia memikirkan hal konyol di saat seperti ini. Masa depan hubungannya dengan Barra semakin jauh. Apa lagi yang lebih buruk dari itu? Zaina belum pernah melihat Barra benar-benar mendekati wanita. Biasanya dia hanya menggoda mereka untuk bersenang-senang. Tentu saja gurauan yang masih wajar dan memiliki batas. Dia tidak pernah mempermainkan wanita mana pun. Menurut Barra, wanita itu harus dilindungi. Dia bilang itu adalah pesan dari mendiang ibunya. Entah benar atau tidak, Zaina tidak pernah ingin tahu. Zaina hanya ingin diperlakukan spesial. Dia tidak mau disamakan dengan wanita mana pun. Dan selama ini, dia memang merasa istimewa. Karena hanya dia yang bisa memerintah Barra. Sesibuk apa pun, jika Zaina meminta Barra datang, pria itu akan menghampirinya. Kalaupun sedang tidak bisa ditinggalkan, Barra akan membuat janji lain. Semua momen itu terekam jelas di kepala Zaina. Apa dia salah memahami maksud Barra? Benarkah Barra hanya melakukan itu demi balas Budi pada keluarganya? “Tapi, sepertinya dia ke sini bukan untuk menemui Bu Hanny.” Daniel tiba-tiba berpendapat. Mendengar itu, Zaina mendongak dengan cepat. “Kenapa kamu bisa bilang gitu?” “Lihat saja pakaiannya. Kalau dia mau bertemu Bu Hanny harusnya dia berpenampilan rapi seperti biasa. Bukan malah memakai hoody seperti itu.” “Alasan yang cukup masuk akal. Lalu kenapa dia ada di sini?” “Untuk mengawasimu seperti biasa,” ujar Daniel tanpa ragu. Zaina mangut-mangut. Lalu, dia menyadari kalau ada sesuatu yang janggal. “Kamu tahu kalau dia selalu berpakaian rapi dan mengawasi aku?” “Semua orang juga tahu, Zai.” “Semua orang tahu? Maksud kamu apa?” “Kamu mau tahu gosip tentang kamu?” tanya Daniel sambil mencondongkan badan ke meja. Zaina dan Kamila juga melakukan hal yang sama. “Ada gosip soal aku?” bisik Zaina. Kamila terlihat ikut antusias di sampingnya. “Gadis dengan penjaga dua puluh empat jam,” kata Daniel lirih. “Kami sering melihat kamu diikuti oleh orang-orang berjas. Salah satunya pria tadi. Dia sepertinya pimpinannya.” Seandainya tidak ada larangan untuk tertawa di perpustakaan, tawa Zaina pasti sudah meledak. Dia sudah sangat sering mendengar julukan sejenis itu sejak bertahun-tahun lalu. Ada yang membicarakannya di belakang Zaina. Beberapa ada yang menanyakan langsung dan Zaina akan membenarkan berita mengenai dirinya. Memang begitu kenyataannya. Zaina memang dijaga dua puluh empat jam. Dia tidak tahu berapa tepatnya orang yang diutus oleh Barra atau Khafi. Namun, dia selalu melihat mereka di sekelilingnya. Apa dia nyaman dengan keadaan itu? Awalnya dia sebal setengah mati. Memangnya siapa yang suka diawasi sepanjang hari? Pernah sekali Zaina protes pada sang kakak, tetapi jawaban Khafi membuatnya langsung terdiam. Dia melakukan itu karena saat mengajukan keberatan pada Barra, Barra tidak pernah menanggapi. Merasa perlu untuk mencari dukungan, dia menemui Khafi dan meluapkan semua beban yang ingin dia keluarkan. “Bisakah mereka tetap menjagamu? Agar Kakak merasa tenang. Keamanan kamu adalah prioritas Kakak. Kakak harap kamu mengerti. Kakak akan berusaha untuk membuatnya tidak terlalu terlihat oleh orang lain.” Hati lemah Zaina mana mungkin bisa membantah ucapan seperti itu dari Khafi. Jarang sekali Khafi berbicara atau menegurnya. Lalu, dia ingin melakukan sesuatu untuk sang adik, haruskah Zaina menolak? Tidak. Mata sendu Khafi hari itu tidak pernah Zaina lupakan. Seakan jika Zaina menolak, Khafi akan hancur. Berusaha mengerti maksud sang kakak, Zaina membiarkan para penjaga itu mengawasinya setiap saat. Mungkin saja Barra sedikit trauma dengan insiden yang pernah hampir merenggut nyawa Zaina dan Dzaky. Itu sebabnya dia lebih protektif kepada adik-adiknya. Lagi pula, Dzaky juga tidak pernah mempermasalahkan adanya para penjaga. “Kamu bilang itu gosip? Itu memang benar. Kakakku punya alasan sendiri buat nyuruh orang-orang itu jaga aku.” “Tapi, pria tadi bukan kakakmu, kan?” “Memang bukan.” Zaina memilih kata yang tepat untuk menerangkan sosok Barra pada Daniel. “Dia itu ... apa, ya? Sahabat sekaligus tangan kanan kakakku.” “Benarkah? Dia teman kakakmu? Kenapa aku ngerasa kalau cara kamu ngomong ke dia enggak terlalu formal. Kalian kayak teman lama gitu. Aku pikir karena dia penjaga kamu.” Daniel memandang Zaina penuh minat. Tampaknya dia benar-benar penasaran dengan pemikiran gadis itu. “Kita mau ngobrol apa ngerjain tugas?” Pertanyaan Kamila membuat dua orang yang terlibat obrolan menoleh. Zaina tersenyum lebar, sementara Daniel menghela napas. “Mau ngerjain tugas, dong. Ekspresinya jangan gitu. Kamu makin menggemaskan kalau lagi marah,” ujar Zaina mencoba melucu, tetapi Kamila hanya memutar bola mata. Sudah tidak mempan dengan lelucon Zaina yang tidak lucu sama sekali. Meski merasa sedikit lega dengan kemungkinan yang didapatkan, Zaina masih belum tenang sepenuhnya. Dia menoleh ke arah Barra menghilang, berharap pria itu kembali dan menemuinya. Sayang, harapannya tidak pernah terwujud. Bahkan sampai dia merasa sangat bosan mengerjakan tugas. Pikiran Zaina mulai membayangkan hal-hal aneh mengenai Barra dan Hanny. Entah apa yang mereka berdua bicarakan. Zaina sangat penasaran. Benarkah Barra tidak berniat menemui Hanny? Benarkah dia hanya mengintainya seperti biasa? Lalu, kenapa dia harus mengajak Hanny keluar dan bicara? Pertanyaan demi pertanyaan semakin memenuhi kepala Zaina. Dia bisa merasakan kalau ada yang berkobar-kobar di sana. Sepertinya dia tidak akan mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan itu. Melihat bagaimana ekspresinya, Barra terlihat cukup mengenal Hanny. Adakah kemungkinan Hanny menyukai Barra? Bukan itu yang benar-benar membuat Zaina khawatir. Dia tidak peduli seberapa banyak wanita yang menyukai Barra. Yang dia takutkan adalah jika salah satu dari mereka ada yang disukai oleh Barra. Kalau itu sampai terjadi, entah bagaimana dia bisa bertahan melewati hari seorang diri. *** “Kenapa tiba-tiba mengajak keluar?” tanya Hanny begitu Barra berhenti tak jauh dari perpustakaan. Dia memperhatikan Barra yang duduk di bangku panjang. “Memangnya kamu mau dilihat oleh para mahasiswamu saat sedang mengobrol denganku?” Barra mencoba mencari alasan. “Memangnya kenapa? Kita hanya mengobrol, bukan?” “Memang. Sejujurnya, aku hanya ingin keluar dari ruangan sunyi itu.” “Kakak masih tidak menyukai perpustakaan?” “Perpustakaan sama aku itu bukan hal yang cocok.” Hanny tertawa kecil mendengar pengakuan Barra. Sejak melihat Barra presentasi di sebuah seminar kampus, dia sudah menautkan hati. Sayang, ketika dia mengutara cinta, Barra menolak dengan tegas. Tidak ada alasan khusus. Dia juga tidak berminat untuk mendengar alasan penolakan Barra. Bagi wanita penuh kharisma seperti Hanny, ditolak adalah perkara yang cukup memalukan. Dia tidak mau menjatuhkan harga dirinya lebih dalam dengan bertanya apa penyebab Barra menolak. Jika Barra tidak menerima cintanya, itu berarti Barra memang tidak menginginkannya. Begitu saja. Sejauh yang Hanny tahu, Barra memang belum pernah terdengar menjalin hubungan dengan siapa pun. Padahal Barra selalu baik pada wanita mana pun. Entah apa alasan Barra tidak memilih salah satu dari mereka sebagai pasangan. Mengingat usia Barra saat ini sudah melebihi kepala tiga. “Kakak mengawasi adik kecil kakak lagi?” tanya Hanny. Hatinya sedikit perih saat mengeluarkan kalimat itu. Sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi Hanny masih belum sepenuhnya melupakan Barra. Dia memang tipe wanita yang sekali jatuh cinta, akan sulit melepas. Bukan berarti dia memaksa sang pria untuk membalas cintanya. Dia hanya kesulitan mengontrol hati yang terlanjur terjatuh pada seseorang. Ketika sering melihat Barra di tahun belakangan ini, Hanny menyadari sesuatu. Barra selalu mengawasi seorang mahasiswi. Ketajaman penglihatan dan insting Hanny bisa mengetahui kalau Barra sebenarnya menyukai gadis itu, Zaina. Hanny sungguh tidak menyangka kalau Barra justru memilih gadis yang sangat belia. Jujur saja, Hanny awalnya tidak memercayai instingnya. Lalu, dia kerap memergoki Barra yang diam-diam menggertak mahasiswa yang berniat mendekati Zaina. Mungkin sebagian besar akan percaya pada Barra bahwa dia melakukan itu untuk menjaga konsentrasi Zaina belajar. Bukan berarti Hanny juga memercayai alasan Barra. Dia semakin yakin kalau Barra menyukai Zaina karena pria itu pernah menggumamkannya. Meski tidak jelas, pendengaran Hanny sangat tajam. Jadi, jelas sekali kalau Barra berusaha mengendalikan diri agar tidak mengganggu Zaina. “Ya, begitulah. Kamu tidak ada kelas?” “Sebentar lagi. Setengah jam lagi. Apa Kakak mau mengusirku?” Barra tertawa mendengar pertanyaan frontal itu. Dia selalu terkejut dengan sikap blak-blakan Hanny. Padahal wanita itu penuh kesempurnaan. “Apa aku orang yang seperti itu?” “Entahlah. Terkadang Kakak memang cukup menyebalkan.” Hanny membalas tersenyum beberapa mahasiswa yang menyapanya. “Sepertinya kamu masih sangat disukai di kampus,” ujar Barra saat melihat betapa banyak mahasiswa yang menganal Hanny. “Apa Kakak lupa kalau aku selalu menjadi idola di mana saja?” “Oh, ya? Baguslah.” Barra tersenyum lebar. Dia melirik pintu perpustakaan. Belum ada tanda-tanda kalau Zaina akan keluar dari tempat itu. “Kakak akan terus diam?” “Maksud kamu?” tanya Barra tanpa mengalihkan pandangan. “Kakak menyukai Zaina, kan?” Pertanyaan yang diajukan oleh Hanny membuat Barra menoleh dengan cepat. Dia tahu kalau tidak ada gunanya berbohong pada Hanny. Lagi pula, dia sangat paham betapa Hanny selalu pandai menyimpan rahasia. Namun, dia tidak berminat untuk menjawab pertanyaan seperti itu. “Pergilah. Kamu pasti harus mempersiapkan materi untuk kelasmu setengah jam lagi.” Sebagai gantinya, Barra berkata begitu. Hanny menghela napas. “Baiklah. Aku hanya mau berkata kalau menyukai seseorang yang memiliki rentan usia cukup jauh bukan hal mudah. Tapi, aku selalu mendukung Kakak. Saranku jangan terlalu lama memendam perasaan. Gadis belia lebih suka pada hal-hal yang dianggapnya manis." “Aku akan mengingatnya,” kata Barra. Dia menoleh sebentar pada Hanny sebelum kembali beralih ke pintu perpustakaan lagi. “Kalau begitu aku pergi. Jangan lupa untuk mengundangku ke pernikahan kalian.” Gurauan Hanny sukses membuat Barra membatu. Pernikahan? Dia kembali mengingat kata-kata Zaina mengenai pria yang dibayangkannya tadi malam. Dia saja yang sudah dewasa belum pernah sekali pun membayangkan akan menikah dengan siapa dan seperti apa. Kenapa Zaina malah mendahuluinya? Belum lagi Barra tidak mengetahui siapa pria misterius itu. Membuatnya dilanda frustrasi. Dia beranjak dari bangku dan berjalan cepat ke arah perpustakaan. Dari pada terlalu lama mencari sosok yang tidak dia ketahui, lebih baik dia bertanya langsung pada Zaina. Jika Zaina bungkam, dia akan mencari cara lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN