“Aku sudah mengirim pesan, kenapa masih menelepon?” tanya Barra kesal.
“Pekerjaan apa yang lebih penting dari pada meeting kita hari ini?”
“Aku sudah bilang kalau ada yang harus aku urus sendiri. Lagi pula ada Hadi yang sudah mengatur semua. Kamu tidak begitu memerlukanku hari ini.”
Hadi adalah sekretaris Khafi. Jujur saja, Khafi selalu mempertanyakan kualitas para pegawainya. Padahal Barra sudah sangat berhati-hati saat memilih mereka. Namun, ada saja yang tidak sesuai dengan keinginan sahabatnya itu. Tuan sempurna yang tidak bisa menoleransi kesalahan sedikit pun.
Siapa lagi yang akan menjadi tempat omelan Khafi kalau bukan Barra. Kalau ada yang tidak beres, Khafi akan langsung mencari Barra. Sesuatu yang paling membuat Barra tertekan. Dia sudah berusaha keras agar tidak terjadi kesalahan dalam setiap pekerjaan. Akan tetapi, selalu ada satu atau dua kekhilafan, bukan?
Pekerjaan yang menurut Barra masih bisa diperbaiki dan dimaafkan, belum tentu akan Khafi loloskan. Khafi tidak bisa membiarkan kesalahan sekecil apa pun. Dia menuntut semua karyawannya untuk bekerja dengan sempurna. Apa berhasil? Mana mungkin. Banyak karyawan yang harus mendapat imbas dari kemarahan Khafi. Bahkan ada yang langsung dipecat. Kalau Barra beruntung menemukan orang itu, dia masih bisa menyelamatkan. Kalau tidak, habislah kesempatan sang karyawan.
Tidak ada kesempurnaan di dunia ini. Memang, sebagai manusia, kita harus berusaha hidup sebaik mungkin. Akan tetapi, bukan berarti kita bisa memojokkan orang yang tidak terlahir pintar, cantik, atau kaya. Dunia seperti itulah yang dimiliki oleh Khafi. Karenanya, dia menginginkan pekerjaan sempurna.
Bertemu dengan Arisha membuat Khafi lebih terbuka dalam memandang kehidupan. Barra sangat bersyukur melihat perubahan sang sahabat. Meski kebiasaan Khafi belum sepenuhnya menghilang, dia tidak lagi terlalu perhitungan. Dia mulai belajar untuk memberikan kesempatan pada orang lain.
“Di mana kamu sekarang?”
“Kenapa? Kamu mau menyeretku ke ruang rapat?” Barra memijat pelipisnya yang mulai berdenyut-denyut.
“Sebenarnya ....” Khafi menggantung kalimatnya. “Lupakan saja. Kerjakan apa pun yang sedang kamu rencanakan. Aku mendoakan keberhasilanmu.”
“Wah! Aku sangat senang karena mendapatkan doa dari sahabatku tercinta.” Barra bisa mendengar Khafi mendengkus di seberang sana.
“Sebaiknya jangan melakukan hal-hal aneh. Kamu tahu kalau pada akhirnya aku akan mengetahui rencanamu.”
“Jangan membuatku merinding. Aku sibuk.”
Dengan cepat, Barra mengakhiri panggilan. Dia memperhatikan kelas yang diikuti oleh Zaina. Kegiatan belajar masih berlangsung di dalam sana. Sudah ada beberapa nama dosen di tangan Barra. Dia membolak-balik kertas itu sambil menimang-nimang, pria mana yang sudah membuat Zaina jatuh cinta.
Ada lima orang dosen yang menjadi sasaran penyelidikan Barra. Dia tidak mengerti kenapa nyaris semua pelajaran Zaina semester ini diajar oleh dosen yang masih muda. Umur mereka berkisar antara dua puluh tujuh sampai tiga puluh. Usia yang cukup muda untuk seorang pengajar jenius.
Sudah dua mata kuliah dan Barra belum menemukan apa-apa. Dia sudah menyelidiki dua dosen yang masuk hari ini. Keduanya tersingkir karena mereka ternyata sudah memiliki kekasih. Hanya sisa tiga orang dan Barra harus sabar menunggu kesempatan selanjutnya. Itu pun kalau dia bisa menahan diri.
Sejak mengetahui kalau Zaina menyukai seseorang, Barra kehilangan akal. Dia bahkan sudah memulai penyelidikan tadi malam. Pria itu nyaris tidak tidur karena penasaran. Dia mungkin akan menyesali tindakannya ini suatu hari nanti, tetapi dia tidak bisa diam saja setelah mendengar pengakuan dari Zaina.
Begitu melihat kelas Zaina selesai, Barra berjalan mendekat. Dia tidak peduli kalau ada beberapa mahasiswi yang mengagumi dirinya. Kalau biasanya dia akan melemparkan gurauan, kali ini tidak. Ada hal penting yang harus segera dia selesaikan sekarang dan tidak ada orang yang bisa menghalangi.
Pandangan Barra sudah menemukan keberadaan Zaina. Gadis itu sedang mendiskusikan entah apa dengan Kamila. Seperti biasa, mereka cekikikan tidak jelas. Barra tidak begitu mengerti mengapa para gadis itu bisa tertawa lepas untuk sesuatu yang bahkan tidak lucu sama sekali.
Ketika Barra berniat untuk melambaikan tangan dan memanggil nama Zaina, seorang mahasiswa mendekati gadis itu. Mata Barra membesar saat melihat pemuda itu duduk tepat di samping Zaina. Yang lebih menjengkelkan, Zaina seakan tidak terganggu dengan kehadiran pemuda yang tak dikenal oleh Barra tersebut.
“Mau mulai hari ini?” tanya pemuda itu. Kening Barra mengerut. Apa yang dimulai hari ini? Dia segera menyembunyikan diri untuk mendapatkan informasi lebih banyak.
“Boleh saja. Kita ke perpustakaan dulu?” Itu suara Zaina. “Kamu sudah catat, kan?”
“Kamu enggak buat catatan selama pelajaran?” Suara pemuda itu lagi.
“Aku ngantuk banget tadi, jadi enggak begitu dengar perkataan dosennya.”
Sudut bibir Barra terangkat mendengar hal itu. Pasti Zaina bosan lagi di kelas. Entah sudah berapa kali Barra mendapat laporan mengenai kebiasaan Zaina tertidur di kelas. Mungkin bukan tertidur, melainkan sengaja tidur. Sepertinya gadis itu mengabaikan peringatan dari Barra.
“Oh, ya, Daniel. Kamu mahasiswa terbaik selama empat semester ini, kan?” tanya Kamila. Barra mencoba melihat reaksi pemuda bernama Daniel itu. Ternyata Daniel cukup baik.
“Serius? Wah! Aku beruntung banget bisa sekelompok sama cowok terpintar kayak kamu.” Wajah Zaina berubah cerah begitu mendapati kenyataan itu.
Barra mencibir. “Dasar! Dia pasti senang karena bisa memanfaatkan kelebihan orang lain.”
“Kalian berlebihan,” ujar Daniel sambil mengusap tengkuk. Dia menoleh pada Zaina. “Hai, Zaina. Senang akhirnya bisa ngobrol sama kamu.”
“Kamu enggak salah ngomong? Apanya yang buat kamu senang? Kita cuma ngobrolin masalah tugas. Tapi, aku senang, sih. Ini pertama kalinya ada orang yang ngomong gitu ke aku.”
“Aku enggak nyangka kalau gaya bicara kamu cukup formal. Aku pikir kamu bakal bergue loe.” Zaina sedikit tercengang. Sejak dulu, dia memang tidak suka menggunakan gue-loe untuk percakapan sehari-hari.
Pertama-tama, Zaina ingin mengimbangi cara berbicara Barra. Pria itu menggunakan kalimat-kalimat yang sedikit formal. Jadi, meski kata-kata Zaina masih setengah gaul setengah formal, dia sudah cukup puas. Setidaknya dia tidak memilih bahasa yang terlalu kekinian ataupun lebay. Bisa jadi masalah nanti.
Kedua, sejak kecil, Zaina sudah terbiasa mendengar sebutan aku-kamu. Semua keluarganya tidak ada yang memilih bergue-loe. Jadi, telinganya telah merekam semua memori itu dan membentuk pribadi gadis itu menjadi seperti ini. Lagi pula, dia tidak mau mendapat masalah dengan bergue-loe, terutama di depan Khafi.
Ketiga, teman dan lingkungan bergaul Zaina juga tidak bergue-loe. Entah bagaimana dia selalu mendapat teman yang berbicara setengah formal. Tidak ada yang pernah-pernah mengikuti tren yang sedang hits. Padahal Zaina terus saja mengatakan kalau dia sangat update mengenai perkembangan zaman. Yang benar saja.
“Ini sudah lumayan santai, lho. Lebih baik begini, kan? Dari pada aku bilang 'Halo, Daniel, perkenalkan nama saya Zaina. Apakah saya bisa bertanya mengenai tugas kita'. Nah, lebih menakutkan, kan?”
Bukannya merasa aneh atau bingung dengan perkataan Zaina, Daniel malah tertawa. Zaina berkedip-kedip. Dia memandangi Daniel yang terlihat tidak biasa itu, lalu menoleh pada Kamila. Sang sahabat hanya mengangkat bahu. Dia tidak tahu kalau apa yang dia katakan adalah hal lucu. Memang lucunya di bagian mana? Dia penasaran.
Atau mungkin Daniel memang tipe orang yang mudah tertawa untuk hal apa pun. Bahkan untuk perkara tidak masuk akal seperti ini. Siapa sangka kalau orang sepintar Daniel bisa dihibur dengan sangat mudah. Zaina merasa senang bisa memikat pemuda tercerdas di kelasnya itu. Dia jadi tidak terlalu terbebani dengan tugasnya.
“Kenapa aku ngerasa kalau Daniel agak berlebihan?” bisik Kamila karena Daniel masih saja tertawa. Zaina menoleh pada sahabatnya itu.
“Oh, ya? Apa biasanya dia enggak seaneh ini?” Zaina balik berbisik.
“Yang aku tahu, dia itu orangnya agak pendiam dan enggak suka basa-basi.”
“Kamu yakin kalau kamu lagi ngomongin orang yang sama?”
“Tentu saja. Makanya aku kaget. Dia ... enggak lagi cari perhatian kamu, kan?”
“Kenapa juga aku harus perhatikan sama dia? Salah, apa untungnya kalau dia dapat perhatian dari aku? Pemilihan katamu pasti salah.”
“Kenapa enggak. Mungkin saja, kan, kalau dia suka sama kamu.”
“Apa?!”
Tawa Daniel berhenti begitu saja setelah mendengar teriakan Zaina. Merasa sedikit malu, Zaina mencoba tersenyum untuk menutupi perasaan itu. Dia mendelik pada Kamila yang malah cekikikan. Sepertinya Kamila berhasil mengerjainya. Kesal dengan gurauan Kamila yang tidak masuk akal, dia beranjak dan melangkah keluar dari kelas.
Tidak dipedulikannya panggilan dari Daniel di belakang. Zaina tetap berjalan dengan cepat ke arah perpustakaan. Di belakang mereka, Kamila menyusul dengan masih menahan tawa. Akhirnya dia bisa mendapatkan hiburan gratis lagi. Rasa-rasanya sudah lama dia tidak membuat Zaina kesal seperti tadi.
Meski begitu, melihat bagaimana cara Daniel mengejar Zaina sekarang, Kamila mengerutkan kening. Sejak kapan Daniel mau repot-repot melakukan itu? Dia adalah mahasiswa terpandai di kelas. Tidak perlu sebegitu peduli pada Zaina yang bahkan tidak menyimak pelajaran di kelas. Ada apa ini? Daniel tidak mungkin benar-benar menyukai Zaina, bukan?
Bayangan mengenai perasaan itu membuat Kamila berhenti dan menutup mulut. Dia terus memperhatikan Daniel yang sepertinya sedang berusaha berbicara dengan Zaina. Sementara Zaina tetap berjalan tanpa memedulikan perkataan Daniel. Kamila menarik napas, lalu menepuk keningnya sedikit keras. Apa Daniel akan terus mengejar Zaina?
Dari tempat yang cukup dekat, Barra menyaksikan semua itu. Dia meninju tembok yang ada di dekatnya saat melihat Daniel mencari cara untuk mendekati Zaina. Walaupun begitu, dia sedikit tenang. Setidaknya dia tahu kalau Zaina tidak tertarik pada Daniel. Dia yakin sekali dengan pendapatnya itu.
***
Barra masih mengintai Zaina sambil berpura-pura membaca buku. Untung saja dia punya koneksi yang cukup baik di kampus ini, jadi dia bisa masuk ke perpustakaan dengan mudah. Kalau tidak, mungkin dia harus menunggu Zaina di luar entah sampai berapa jam. Sekarang, dia bisa leluasa mendengar pembicaraan Zaina dan dua orang temannya.
Mata Barra terus berputar saat menyadari betapa konyol tindakannya saat ini. Sedari tadi, Zaina, Kamila, dan Daniel hanya membicarakan tugas mereka. Tidak ada hal penting yang bisa dia dapatkan dari mereka di sini. Mungkin sebaiknya dia mencari tahu mengenai dosen lain yang kemungkinan disukai oleh Zaina.
Tetap saja, Barra ingin berada di sini sambil memperhatikan Zaina yang tampak malas-malasan mengerjakan tugas. Daniel beberapa kali menunjukkan sebuah buku dengan penuh semangat, tetapi Zaina terus saja menerima dengan setengah hati. Barra bisa melihat kalau Zaina merasa sangat bosan. Gadis itu berulang kali menguap.
Sebenarnya apa yang membuat Zaina terjaga tadi malam? Mengapa pagi ini dia kehilangan semangat begitu? Bukankah semalam dia malah berkata dengan hati berbunga-bunga kalau ada yang sudah disukainya? Kenapa dia justru terlihat seperti orang yang tengah patah hati? Mungkinkah orang yang dia sukai tidak menyukainya?
Memikirkan kemungkinan itu membuat Barra tertawa dalam hati. Meski Zaina memang memiliki segala hal yang diimpikan para pria, dia tetap masih kekanakan. Tidak banyak pria yang menyukai tipe seperti itu. Ya, kecuali pria yang memang suka memanjakan pasangan. Sepertinya dirinya mungkin.
“Sedang apa Kakak di sini?”
Buku yang dipegang oleh Barra nyaris saja dilempar. Beruntung dia punya refleks yang cukup bagus. Jadi, dia bisa mengendalikan. Dia menatap tajam Zaina yang entah sejak kapan sudah berpindah duduk di depannya. Dia menoleh ke arah Kamila dan Daniel yang memperhatikannya. Kenapa bisa ketahuan begini? Memalukan!
Melihat Barra yang tampak tidak berminat untuk menceritakan alasannya ada di perpustakaan, Zaina bertopang dagu dengan meja sebagai alas. Penampilan Barra hari ini cukup mengejutkan. Dia tidak memakai jas atau kemeja. Dia malah memilih kaos putih yang dipadukan dengan hoody abu-abu tua. Terlihat lebih cerah dan muda.
Belum lagi jeans dan sneakers yang melengkapi penampilan Barra. Kalau saja Zaina tidak mengenal Barra, mungkin dia akan mengira pria itu adalah salah satu mahasiswa di kampus. Zaina tidak menyangka kalau wajah Barra bisa terlihat lebih muda. Bukankah Barra hanya mengubah cara berpakaiannya?
“Tidak usah pedulikan aku. Aku sedang menunggu seseorang. Sebaiknya kamu urus tugasmu. Sebentar lagi, orang yang aku tunggu akan datang. Aku ....”
“Halo, Kak Barra.” Barra menoleh. Dia belum pernah merasa selega ini melihat salah satu adik tingkatnya dulu di kampus. Wanita itu tersenyum lebar.
“Hai.” Otak Barra mencoba mengingat siapa nama wanita itu. “Hanny,” lanjutnya.
“Aku dengar kalau Kakak ....”
“Kita bicara di luar?” tawar Barra. Meski sedikit heran, Hanny mengikuti langkah panjang Barra. Dia sempat menoleh pada Zaina dan tersenyum sopan.
“Siapa yang mau mendapat senyuman seperti itu?” cibir Zaina. Dia menatap kepergian Barra dengan hati merana. Seketika, semangat yang beberapa waktu lalu sempat memenuhi dirinya, hilang. Dia lemas melihat kenyataan kalau Barra datang untuk bertemu wanita lain.