“Kakak benaran harus kerja hari ini?” tanya Zaina sambil memainkan dasi yang sudah terpasang rapi di kemeja sang suami. Setelah menimbulkan kegagalan semalam, Zaina malah terus bersikap manja. Sesuatu yang justru membuat Barra harus bertahan lebih keras. Bayangkan saja bagaimana tersiksanya dia tadi malam. Dia bahkan sangat takut memeluk Zaina karena khawatir tidak bisa menahan diri. Dalam keadaan seperti itu, Barra lebih senang kalau Zaina sedikit menjauh. Bukan malah bermanja-manja. Dia nyaris melewati batas jika Zaina tidak tidur tepat waktu. Nafsu yang menguasai diri manusia memang sungguh mengerikan. Ternyata menjadi pria idaman itu sangat sulit. Barra sungguh merasakannya. Sekarang, Zaina masih saja bersikap manis begitu dan membuat Barra ingin tetap di rumah. Sayang sekali dia ha

