“Kenapa kayaknya masak itu sudah banget?” keluh Zaina setelah melihat berbagai menu makanan yang ada di buku resep. Dia menoleh pada Mia yang menahan tawa. “Kamu ngetawain aku?” “Bukan, Zai. Aku cuma ngerasa lucu saja. Kamu benaran enggak bisa masak apa-apa?” selidik Mia sambil menatap wajah sang majikan. “Jangan remehkan aku, ya. Walaupun nilaiku dalam masak lauk zonk. Aku bisa membuat kue, lho,” ujar Zaina bangga. “Benarkah? Kalau begitu, ajari aku buat kue.” “Dan kamu bakal ngajarin aku masak semua menu ini?” “Ini, sih, gampang. Aku sudah pintar masak sejak SMP.” “Oh, ya? Sepertinya aku harus percaya sama kamu. Iya, kan?” Mia tertawa sekali lagi. Makan malam baru saja berlalu. Sebenarnya Zaina ingin menikmati waktu bersama Barra. Akan tetapi, pria itu mendapat telepon dan mengobr

